Syarah Shahih Muslim: Bab – Kasih Sayang Nabi ﷺ terhadap Umatnya#1
وبَرَكَاتُهُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا. بَابُ ذِكْرِ كَوْنِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمَ النَّبِيِّينَ. باب penyebutan Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai penutup para nabi.
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدٍ النَّاقِدُ وَحَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ حَوْلَهُ وَيَقُولُونَ: مَا رَأَيْنَا بُنْيَانًا أَحْسَنَ مِنْ هَذَا، إِلَّا هَذِهِ اللَّبِنَةَ (أي: موضع اللَّبِنَةِ)، فَأَكُونُ أَنَا تِلْكَ اللَّبِنَةَ»
Dengan sanadnya kepada أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ dari Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ beliau bersabda, “Perumpamaanku dengan para nabi yang lain seperti atau seperumpamaan seorang laki-laki yang membangun sebuah bangunan. Dia menata dengan bagus dan indah. Banyak orang yang mengelilingi bangunan tersebut dan berkomentar. Mereka berkomentar, ‘Kami belum pernah melihat bangunan seindah bangunan ini, kecuali ada yang kurang, yakni ada satu batu bata yang belum diisi.’ Akulah batu bata tersebut. Ini semuanya sudah bagus, tinggal satu. Nah, Nabilah yang menjadi perumpamaannya adalah batu bata sehingga lengkap sudah bangunan itu. Dan Nabilah yang menutup yang kosong tadi sehingga dia adalah penutup terakhir dari batu bata yang disusun untuk bangunan tersebut.
وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ وَذَكَرَ حَدِيثًا مِنْهُ قَالَ: قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ ابْتَنَى بُيُوتًا فَأَحْسَنَهَا بُنْيَانُهَا فَكَانَ عَلَى مَوْضِعِ لَبِنَةٍ. فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ فَتَعَجَّبُوا وَقَالُوا: أَلَا وَضَعْتَ هَاهُنَا لَبِنَةً فَيَتِمَّ بُنْيَانُكَ؟» قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَكُنْتُ أَنَا تِلْكَ اللَّبِنَةَ»
Dengan sanad kepada أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ dari Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan, “Perumpamaanku dengan nabi-nabi sebelumku seperti seseorang membangun bangunan rumah. Lalu dia menatanya dengan bagus, dengan indah dan sempurna, kecuali satu tempat batu bata di salah satu pojok dari pojok bangunan itu. Yakni maksudnya ada satu tempat batu batanya kosong yang lainnya sudah sempurna. Mulailah manusia mengelilingi bangunan tersebut dan mereka merasa terheran-heran dengan bangunan tersebut. Lantas mereka berkomentar, ‘Tidakkah engkau letakkan batu bata yang kosong ini? Isi batu bata kosong ini ya? Maka dengan demikian sempurnalah bangunanmu.’ Lalu Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, ‘Akulah batu bata yang kosong tadi yang harus mengisi posisi yang kosong tadi.’
وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَاهُ. فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ مِنْهُ، وَيَقُولُونَ: هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ؟ قَالَ: فَأَنَا تِلْكَ اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ»
Dengan sanadnya kepada أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ bahwasanya Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Perumpamaanku dengan para nabi sebelumku seperti seorang membangun sebuah bangunan. Dia menata dengan baik, dengan indah, kecuali hanya satu tempat batu bata dari sebuah pojok dari bangunan itu. Mulailah manusia mengelilingi bangunan tersebut dan mereka kagum dengan bangunan tersebut dan mereka mengomentari, ‘Kenapa tidak diletakkan atau tidak dipasang batu bata ini, ya? Kosong. Semuanya sudah bagus, tinggal ini satu jadi sedikit tidak indah.’ Akulah batu bata yang dimaksud itu. Aku adalah penutup para nabi, sebagaimana batu bata ini adalah penutup untuk menyempurnakan bangunan tadi yang kosong satu batu bata. Nabi juga adalah penutup. Nabi-nabi sebelumnya sudah diutus lalu Nabilah adalah penutup. Kalau seandainya bangunan sudah ditutup berarti tidak perlu lagi dipasang batu bata lagi. Tidak perlu lagi ada batu bata, tidak ada lagi nabi setelahnya.
Hadis yang terakhir, حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ قَالَ: حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى بْنُ سَعِيدٍ الْقَسْمَلِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَرْوَبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَكْمَلَهَا وَأَحْسَنَهَا إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ. فَجَعَلَ النَّاسُ يَدْخُلُونَهَا وَيَتَعَجَّبُونَ مِنْهَا وَيَقُولُونَ: لَوْلَا مَوْضِعُ هَذِهِ اللَّبِنَةِ؟ فَكُنْتُ أَنَا مَوْضِعَ تِلْكَ اللَّبِنَةِ جِئْتُ فَخَتَمْتُ الْأَنْبِيَاءَ»
Dengan sanad kepada جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Perumpamaanku dengan para nabi seperti seorang yang membangun sebuah rumah, dia sempurnakan, dia lengkapi, kecuali hanya satu batu bata. Mulailah manusia masuk ke rumah itu dan terheran-heran dengan rumah itu karena keindahannya. Dan mereka mengomentari, ‘Kalaulah tidak karena satu batu bata ini yang kosong, kurang jadinya.’ Maka ditutuplah ini supaya dia menjadi sempurna, lengkap. Lalu Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan, ‘Aku adalah tempat posisi batu bata yang kosong tadi dan aku datang dengan menutup para nabi.'”
Imam Nawawi mengatakan, «هَذِهِ الْأَحَادِيثُ فِيهَا فَضِيلَتُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنَّهُ خَاتَمُ النَّبِيِّينَ، وَجَوَازُ ضَرْبِ الْأَمْثَالِ فِي الْعِلْمِ وَغَيْرِهِ» Hadis-hadis yang disebutkan tadi menunjukkan akan keutamaan Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Karena kalau bangunan itu indah kecuali ada yang kurang, maka dengan adanya Nabi maka menjadi sempurnalah bangunan itu. Ini merupakan keutamaan posisi Nabi. Yang kedua, bahwasanya beliau adalah penutup para nabi (خَاتَمُ النَّبِيِّينَ). Yang ketiga, bolehnya membuat perumpamaan-perumpamaan di dalam ilmu dan yang lainnya (وَجَوَازُ ضَرْبِ الْأَمْثَالِ فِي الْعِلْمِ وَغَيْرِهِ).
بَابُ إِذَا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى رَحْمَةَ أُمَّةٍ قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا. Bab apabila Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menginginkan kasih sayang terhadap satu umat, maka Allah wafatkan nabinya sebelum umat itu. Jadi kalau seandai Allah ingin menyayangi satu umat, maka Allah wafatkan dulu nabinya sebelum umat itu. Kalau kita lihat sebelumnya yang ada adalah Allah binasakan umat itu sebelum nabinya diwafatkan, Nabi Nuh, umatnya atau kaumnya binasa, begitu seterusnya.
قَالَ مُسْلِمٌ: وَحَدَّثْتُ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ، وَمِمَّنْ رَوَى ذَلِكَ عَنْهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا بُرَيْدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَرَادَ رَحْمَةَ أُمَّةٍ مِنْ عِبَادِهِ قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا، فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَةَ أُمَّةٍ عَذَّبَهَا وَنَبِيُّهَا حَيٌّ، فَأَهْلَكَهَا وَهُوَ يَنْظُرُ، فَقَرَّ عَيْنَهُ بِهَلَاكِهَا حِينَ كَذَّبُوهُ وَعَصَوْا أَمْرَهُ»
Dengan sanadnya kepada أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ dari Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah عَزَّ وَجَلَّ apabila menginginkan rahmat terhadap satu umat dari hamba-hamba-Nya, maka Allah wafatkan nabinya sebelum umat itu. Yakni sebelum mereka meninggal dunia. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan nabi itu orang yang lebih dahulu dan yang lebih cepat meninggal dunia daripada mereka. Dan jika Allah berkehendak untuk membinasakan satu kaum, maka Dia akan mengazab mereka ketika nabi yang diutus kepada mereka itu masih hidup. Lalu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى binasakan mereka sementara nabi tersebut melihatnya, menyaksikannya. Maka Allah menyejukkan mata Nabi itu dengan kebinasaan kaumnya di saat mereka mendustakannya dan melanggar perintahnya.”
Imam Nawawi mencantumkan, «قَالَ الْقَاضِي: هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ أَحَادِيثِ الْمُنْقَطِعَةِ فِي مُسْلِمٍ، فَإِنَّهُ لَمْ يُسَمِّ الَّذِي حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ» Qadi Iyad mengatakan, “Ini adalah hadis salah satu dari hadis مُنْقَطِع (hadis yang sanadnya terputus) yang terdapat di dalam Shahih Muslim, karena dia tidak menyebutkan nama orang yang meriwayatkan dari أَبِي أُسَامَةَ.” Qadi Iyad mengatakan, «وَلَيْسَ هَذِهِ حَقِيقَةُ الْانْقِطَاعِ، وَإِنَّمَا هُوَ رِوَايَةُ مَجْهُولٍ» Imam Nawawi dia mengatakan, “Ini bukanlah keterputusan yang hakiki, akan tetapi ini adalah riwayat orang yang tidak dikenal.” «وَقَدْ وَقَعَ فِي حَوَاشِي بَعْضِ النُّسَخِ الْمُعْتَمَدَةِ، قَالَ الْجُلُودِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ الْأَرْيَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ بِهَذَا الْحَدِيثِ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ بِإِسْنَادِهِ» Dalam sebagian naskah yang dijadikan sebagai naskah yang diakui di catatan pinggirnya, Qadi al-Jaludi mengatakan, “حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ الْأَرْيَانِيُّ berkata: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ dengan sanad akan hadis ini dari أَبِي أُسَامَةَ dengan sanadnya.” Artinya Imam Nawawi menjelaskan bahwa tidak ada yang terputus sanadnya, ada riwayatnya.
Nah, dalam hadis di atas menunjukkan kepada kita bahwa apabila Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menginginkan kasih sayang kepada satu umat dari hamba-hamba-Nya, maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى wafatkan nabi mereka sebelum mewafatkan umat-umat tersebut. Sehingga nabi itu sebagai pendahulu, mendahului mereka. Tapi kalau seandainya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menginginkan untuk kebinasaan satu kaum, Allah azab mereka, Allah binasakan mereka, sementara nabi mereka melihat dan menyaksikan, yakni nabi mereka masih hidup. Nabi-nabi sebelumnya umatnya dibinasakan, mati semuanya dan nabinya masih hidup, sebagai bentuk juga penyejuk mata ketika umatnya mendustai nabi tersebut, sehingga penyejuk mata yakni obatlah untuk dia, obat untuk dia yang didakwahi. Coba kita lihat bagaimana dakwahnya Nabi Nuh عَلَيْهِ السَّلَامُ: «رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا * فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا» Wahai Rabbku, aku mendakwahi umatku siang dan malam, tidaklah menambah mereka kecuali mereka semakin lari. Kemudian didakwahi oleh Nabi Nuh عَلَيْهِ السَّلَامُ dengan cara terang-terangan, dengan cara sembunyi-sembunyi, dengan cara terang-terangan. Ya, berapa lama dakwahnya? 950 tahun. Kalau seandainya kita berdakwah 10 tahun, 20 tahun belum ada pengikut kita yang mengikuti kebenaran, ya tidak usah bersedih. Malah Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan, «عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ» (ditampakkan kepadaku umat-umat), «مِنْهُمُ النَّبِيُّ وَمَعَهُ الثَّلَاثَةُ إِلَى التِّسْعَةِ» (ada nabi di antara yang dilihat itu ada nabi bersamanya hanya 3 sampai 9 orang), «وَمِنْهُمْ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ» (ada nabi yang sama dia hanya seorang atau dua orang), «وَمِنْهُمُ النَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ» (ada juga nabi tidak bawa pengikut). Sukseskah Nabi ini menyampaikan dakwahnya? Sukses. Karena kesuksesan itu bukan dilihat kepada hasil, tapi dilihat kepada cara. Nabi sudah menyampaikan cara yang baik, cara yang benar. Adapun diterima atau tidak diterima itu kembali kepada kekuasaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: «إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ» Sesungguh engkau tidak bisa memberi hidayah kepada siapa yang engkau senangi. Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Jadi jangan bersedih dengan sedikitnya yang datang kajian, sedikitnya datang berdakwah. Jangan bersedih, ya kita apalah nilainya nabi yang diberi yang diberikan wahyu oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, bimbingan Allah, ada yang tidak punya pengikut.
Lalu diperlihatkan kepada Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «سَوَادُ الْأَعْظَمِ» (bayangan hitam yang banyak sekali). Nabi mengatakan, “Wah, ini mungkin umatku.” Ternyata dia adalah umatnya Nabi Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ. Lalu muncul lagi setelah itu bayang yang lebih banyak lagi. Lalu malaikat mengatakan, “Ini umatmu.” Di dalam umat itu ada 70.000 ribu orang yang masuk ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa azab. Lalu sahabat bertanya, “Siapa mereka?” Lalu dijawab oleh Nabi, «هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ» Mereka itu adalah orang yang tidak minta diruqyah. Mereka itu adalah orang yang tidak berobat dengan كَيّ (setrika panas). Mereka itu adalah orang yang tidak beranggapan sial karena melihat burung, melihat sesuatu. Mereka itu adalah orang yang bertawakal sempurna kepada Rabb mereka. Nah, kalau kita lihat Nabi kita Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, umat Nabi Muhammad dirahmati oleh Allah, ya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى wafatkan nabinya sebelum diwafatkan umatnya.
وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.
Mudah-mudahan bermanfaat.
صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
