Syarah Shahih Muslim: Di Antara Keutamaan – Keutamaan Umar Radhiyallahu ta’ala ‘anhu #3
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.
Kembali kita melanjutkan hadis-hadis tentang keutamaan Umar. Hadis ke-6148:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو وَابْنِ الْمُنْكَدِرِ، سَمِعَا جَابِرًا يُخْبِرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (ح) وَحَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَاللَّفْظُ لَهُ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ وَعَمْرٍو، عَنْ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: دَخَلْتُ الْجَنَّةَ، فَرَأَيْتُ فِيهَا دَارًا أَوْ قَصْرًا، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا؟ فَقَالُوا: لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ. فَأَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَهُ، فَذَكَرْتُ غَيْرَتَكَ. فَبَكَى عُمَرُ وَقَالَ: أَي رَسُولَ اللَّهِ، أَوَعَلَيْكَ يُغَارُ؟
Dengan sanadnya kepada Jabir bin Abdillah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, dari Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ beliau bersabda: “دَخَلْتُ الْجَنَّةَ” (Aku bermimpi bahwasanya aku masuk surga). “فَرَأَيْتُ فِيهَا دَارًا أَوْ قَصْرًا” (Aku melihat di dalam surga itu sebuah rumah atau sebuah istana). “فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا؟” (Lalu aku bertanya, “Untuk siapa istana ini?”). “فَقَالُوا” (Para malaikat menjawab), “لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ” (Untuk Umar bin Khattab). “فَأَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَهُ” (Aku pengin masuk ke dalam istana itu). “فَذَكَرْتُ غَيْرَتَكَ” (Lalu aku ingat dengan kecemburuanmu). “فَبَكَى عُمَرُ” (Mendengar hal itu, Umar menangis). “وَقَالَ” (Lalu dia mengatakan), “أَي رَسُولَ اللَّهِ، أَوَعَلَيْكَ يُغَارُ؟” (Wahai Rasulullah, apakah patut seseorang cemburu kepadamu?).
وَحَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: بَيْنَمَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ رَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ، فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَانِبِ قَصْرٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ؟ فَقَالُوا: لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ. فَذَكَرْتُ غَيْرَةَ عُمَرَ فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا. قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: فَبَكَى عُمَرُ وَنَحْنُ جَمِيعًا فِي ذَلِكَ الْمَجْلِسِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَالَ عُمَرُ: بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَعَلَيْكَ أَغَارُ؟
Dengan sanadnya kepada Abu Hurairah رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ dari Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Beliau bersabda, “بَيْنَمَا أَنَا نَائِمٌ” (Ketika aku tidur), “إِذْ رَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ” (aku bermimpi tahu-tahunya aku berada di dalam surga). “فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَانِبِ قَصْرٍ” (Aku melihat ada seorang perempuan yang berwudu di samping sebuah istana). “فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا؟” (Lalu aku bertanya, “Untuk siapa istana ini?”). “فَقَالُوا” (Para malaikat menjawab), “لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ” (Untuk Umar Ibnu Khattab). “فَذَكَرْتُ غَيْرَةَ عُمَرَ فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا” (Lalu aku pun teringat dengan kecemburuan Umar. Maka aku pun pergi meninggalkan tempat itu). Lalu Abu Hurairah menceritakan, “فَبَكَى عُمَرُ” (Mendengar hal itu, Umar menangis). “وَنَحْنُ جَمِيعًا فِي ذَلِكَ الْمَجْلِسِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” (Dan kami semua di majelis itu bersama Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ). “ثُمَّ قَالَ عُمَرُ” (Lalu Umar mengatakan), “بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ” (Aku menebus dengan bapakku… Untuk apa aku tebus bapakku? Wahai Rasulullah). “أَعَلَيْكَ أَغَارُ؟” (Apakah pantas atau apakah mungkin aku cemburu terhadapmu?).
Dari dua hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa, yang pertama: keutamaan Umar bin Khattab. Bahwasanya Umar memiliki keistimewaan. Di antaranya adalah dalam hadis ini, Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bermimpi di dalam surga. Mimpi Nabi adalah haq. Dia melihat bahwasanya ada sebuah istana dan itu adalah istananya Umar bin Khattab. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memasukkan kita semuanya ke dalam surga, menjauhkan kita dan melindungi kita dari api neraka.
Tayyib, keistimewaan yang lain:
حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ، وَحَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ، وَحَدَّثَنَا حَسَنٌ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، قَالَ عَبْدٌ: أَخْبَرَنِي، وَقَالَ حَسَنٌ: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: إِنَّ مُحَمَّدَ بْنَ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَاهُ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: اسْتَأْذَنَ عُمَرُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ نِسَاءٌ مِنْ قُرَيْشٍ يُكَلِّمْنَهُ وَيَسْتَكْثِرْنَهُ، عَالِيَةً أَصْوَاتُهُنَّ، فَلَمَّا اسْتَأْذَنَ عُمَرُ قُمْنَ يَبْتَدِرْنَ الْحِجَابَ، فَأَذِنَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضْحَكُ. فَقَالَ عُمَرُ: أَضْحَكَ اللَّهُ سِنَّكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَجِبْتُ مِنْ هَؤُلَاءِ اللَّاتِي كُنَّ عِنْدِي، فَلَمَّا سَمِعْنَ صَوْتَكَ ابْتَدَرْنَ الْحِجَابَ. قَالَ عُمَرُ: فَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يَهَبْنَ. ثُمَّ قَالَ عُمَرُ: أَيْ عَدُوَّاتِ أَنْفُسِهِنَّ، أَتَهَبْنَنِي وَلَا تَهَبْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قُلْنَ: نَعَمْ، أَنْتَ أَغْلَظُ وَأَفَظُّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ.
Dengan sanadnya kepada Sa’ad bin Abi Waqqas, dia mengatakan bahwa Umar minta izin—اسْتَأْذَنَ عُمَرُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Umar minta izin untuk ketemu dengan Rasulullah). “وَعِنْدَهُ نِسَاءٌ مِنْ قُرَيْشٍ” (Nabi memiliki tamu dari perempuan dari Quraisy). Jadi sekelompok wanita ada bersama Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. “يُكَلِّمْنَهُ وَيَسْتَكْثِرْنَهُ” (Mereka berbicara dengan Nabi dan banyak omongannya dengan Nabi ya). “عَالِيَةً أَصْوَاتُهُنَّ” (Suara mereka tinggi). Jadi mereka wanita-wanita ini berbicara dengan Nabi sering, banyak berbicara dengan Nabi atau bertanya sampai suara mereka ya, tinggi. “فَلَمَّا اسْتَأْذَنَ عُمَرُ قُمْنَ يَبْتَدِرْنَ الْحِجَابَ” (Ketika Umar sudah minta izin, mereka berdiri bergegas bersembunyi di belakang hijab). “فَأَذِنَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” (Rasulullah mengizinkan kepada Umar untuk masuk). Jadi ketika mereka wanita ini mendengar suara Umar, mereka langsung pergi bersembunyi di belakang tabir. Ketika Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengizinkan Umar itu masuk, ya mereka lari, ya. “وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضْحَكُ” (Melihat hal itu, Nabi tertawa). Datang Umar, perempuan ini lari semua. Ya. “فَقَالَ عُمَرُ” (Lalu Umar mengatakan), “أَضْحَكَ اللَّهُ سِنَّكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ” (Dia mengatakan, semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberimu senyuman, ya Rasulullah). “فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” (Rasulullah mengatakan), “عَجِبْتُ مِنْ هَؤُلَاءِ اللَّاتِي كُنَّ عِنْدِي” (Aku heran, ini perempuan-perempuan ini, heran kepada mereka di mana mereka tadinya ada bersamaku). “فَلَمَّا سَمِعْنَ صَوْتَكَ ابْتَدَرْنَ الْحِجَابَ” (Ketika mereka mendengar suaramu, mereka bergegas masuk apa… bersembunyi di belakang tabir). “قَالَ عُمَرُ” (Lalu Umar berkata), “فَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يَهَبْنَ” (Wahai Rasulullah, sebenarnya engkau lebih pantas mereka takuti, mereka segani). “ثُمَّ قَالَ عُمَرُ” (Lalu Umar mengatakan), “أَيْ عَدُوَّاتِ أَنْفُسِهِنَّ” (Wahai wanita-wanita yang menjadi musuh dirinya sendiri). “أَتَهَبْنَنِي وَلَا تَهَبْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟” (Apakah kalian merasa takut kepadaku dan tidak merasa takut kepada Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ?). “قُلْنَ: نَعَمْ” (Lalu mereka mengatakan, “Ya, benar”). “أَنْتَ أَغْلَظُ وَأَفَظُّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” (Karena kamu lebih kasar dan lebih keras daripada Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ). “قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” (Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda), “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ” (Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya), “مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ” (Tidaklah setan bertemu denganmu yang mana engkau sedang menempuh sebuah jalan kecuali setan memilih jalan yang lain berbeda dengan jalanmu). Jadi setan aja takut kepada Umar ya, apalagi yang lain. Tayyib.
Hadis ini di mana disebutkan bahwasanya wanita-wanita Quraisy bersama Rasulullah berbicara dan memperbanyak pembicaraan sehingga suatu, mereka, suara mereka tinggi. قَالَ الْعُلَمَاءُ: مَعْنَى يَسْتَكْثِرْنَهُ يَطْلُبْنَ كَثِيرًا مِنْ كَلَامِهِ وَجَوَابِهِ بِحَوَائِجِهِنَّ وَفَتَاوِيهِنَّ. Maksud mereka memperbanyak bersama Rasulullah maksudnya mereka banyak meminta dari pembicaraan Nabi. Jadi pokoknya Nabi banyak bicaralah, baik itu jawaban dari pertanyaan atau jawaban dari kebutuhan-kebutuhan mereka atau fatwa-fatwa yang mereka tanyakan kepada Rasulullah. Jadi wanita ini banyak bertanya dengan Rasulullah. Lalu Rasulullah ya menjawabnya banyak. “عَالِيَةً أَصْوَاتُهُنَّ” (Ucapan suara mereka tinggi-tinggi). قَالَ الْقَاضِي: يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ هَذَا قَبْلَ النَّهْيِ عَنْ رَفْعِ الصَّوْتِ فَوْقَ صَوْتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Boleh jadi ini dipahami bahwa kejadian ini sebelum turunnya larangan untuk mengangkat suara melebihi dari suara Nabi. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ” (Wahai orang yang beriman, janganlah engkau mengangkat suaramu di atas dari suara Nabi) – ini dalam surah Al-Hujurat. Wanita-wanita ini suaranya tinggi mengalahkan suara Nabi. Boleh jadi itu terjadi sebelum turunnya ayat larangan ini. أَوْ يَكُونُ الْمُرَادُ عُلُوَّ أَصْوَاتِهِنَّ إِنَّمَا كَانَ بِمَجْمُوعِهَا، لَا أَنَّ كَلَامَ وَاحِدَةٍ بِمُفْرَدِهَا يَعْلُو صَوْتَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Atau kemungkinan yang kedua, suara mereka itu menjadi tinggi disebabkan suara semuanya ini berbicara ini berbicara bicara sehingga suaranya itu terasa lebih tinggi daripada suara Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, bukan pembicara masing-masing. Satu orang suaranya tinggi dari atas Rasulullah. Tidak. Tapi karena ini bicara, ini bicara, ini (bicara) sehingga suaranya menjadi lebih tinggi daripada suara Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Namun kalau dilihat masing-masing dari diri mereka tidak berbicara melebihi dari suara Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Ucapan di dalam hadis ini: “قُلْنَ: أَنْتَ أَغْلَظُ وَأَفَظُّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“. الْفَظُّ وَالْغَلِيظُ بِمَعْنًى وَاحِدٍ (Al-Fazhzhu dan Al-Ghalizh keras/kasar dia juga bermakna satu/mirip maknanya). وَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ شِدَّةِ الْخُلُقِ وَخُشُونَةِ الْجَانِبِ (Dia adalah ungkapan tentang akhlak yang kasar dan keras ya, sikap). قَالَ الْعُلَمَاءُ: وَلَيْسَتْ لَفْظَةُ «أَفْعَلَ» هُنَا لِلْمُفَاضَلَةِ (Ungkapan aghlazh dan afazhzh itu namanya wazan af’al. Jadi af’al ini bukanlah dalam makna mufadhalah/lebih membandingkan satu sifat dengan sifat yang lain). Ya. بَلْ هِيَ بِمَعْنَى: فَظٌّ غَلِيظٌ (Tapi dia bermakna keras dan kasar). Ya. Sebab kalau seandainya dibandingkan, “engkau lebih kasar daripada Rasulullah,” berarti Rasulullah juga kasar dong? Ya, sementara Rasulullah tidak pernah kasar. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan, “فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ” (Dengan rahmat Allah engkau berlemah lembut dengan mereka). “وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ” (Kalau seandainya engkau berkasar-kasar, berkeras hati, maka mereka akan lari dari sekitarmu). Ya, apakah Nabi pernah berkata kasar? Tidak. Kalau seandainya Nabi berkata kasar, kata Allah mereka ini akan lari darimu. وَقِيلَ لِلْمُفَاضَلَةِ (Ada yang mengatakan boleh jadi mufadhalah/perbandingan). لَكِنْ مِنْهُ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الْكُفَّارِ وَالْمُنَافِقِينَ (Akan tetapi sikap keras dan kasarnya Nabi itu adalah sikap kepada orang kafir dan orang munafikin). Tidak kepada orang-orang mukmin. كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ. Yakni Allah mengatakan, “Wahai Nabi, berjihadlah menghadapi orang kuffar dan munafikin dan bersikap tegas/keraslah dengan mereka.” وَكَانَ يَغْضَبُ وَيَغْلُظُ إِذَا انْتُهِكَتْ حُرُمَاتُ اللَّهِ تَعَالَى (Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ marah dan keras ketika larangan-larangan Allah itu dikerjakan, dilanggar). Ya, Wallahu a’lam.
وَفِي الْحَدِيثِ (Dalam hadis ini) فَضْلُ لِينِ الْجَانِبِ (keutamaan bersikap lemah lembut). وَالْحِلْمُ (sikap bijaksana). وَالرِّفْقُ (sikap lemah lembut). مَا لَمْ يَفُقْ مَقْصُودًا شَرْعِيًّا (Selama tidak mengalahkan maksud dari syari’, maksud yang bersifat syariah). Apa maksudnya? Kalau seandainya kita berlemah lembut dengan sikap melanggar syariat, akhirnya orang akan meremehkan syariat. Ini tidak tepat ya, tidak tepat. قَالَ تَعَالَى: وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ. Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepada nabi kita Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, yakni rendahkanlah sayapmu untuk orang mukmin. Yakni rangkul, dekat gitu ya. Allah mengatakan di surah Al-Imran, jika seandainya engkau berkata kasar dan keras hati maka pasti mereka akan lari darimu. وَقَالَ تَعَالَى: بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. Dengan orang mukmin ya, Nabi adalah orang yang berkasih sayang.
Kemudian dalam ungkapan hadis yang disebutkan oleh Nabi, “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ… مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ” (Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada/tidak pernah setan ketemu dengan engkau, atau tidaklah setan bertemu dengan engkau ya, yang engkau sedang meniti sebuah jalan atau sebuah lembah, kecuali setan itu akan menempuh lembah atau jalan yang tidak engkau tempuh). الْفَجُّ (Al-Fajj): الْفَجُّ هُوَ الطَّرِيقُ الْوَاسِعُ (Jalan yang luas). Ya, jalan yang luas. Jadi Umar berjalan di jalan yang luas tidak apa… tidak sanggup setan lewat di situ. Tapi cari jalan yang lain gitu. Kalau jalan sempit lah, enak, ini enggak, jalan luas masih bisa untuk lewat. وَقِيلَ: الْمَكَانُ الْمُنْخَرِقُ بَيْنَ الْجَبَلَيْنِ (Juga disebutkan fajj ini adalah lembah, antara jalan antara dua gunung ya, lembah).
وَهَذَا الْحَدِيثُ مَحْمُولٌ عَلَى ظَاهِرِهِ (Hadis ini sesuai dengan tekstualnya). أَنَّ الشَّيْطَانَ مَتَى رَأَى عُمَرَ سَالِكًا فَجًّا هَرَبَ هَيْبَةً مِنْ عُمَرَ (Yakni setan kapan dia melihat Umar sedang meniti sebuah jalan, dia lari ya karena takut kepada Umar). وَفَارَقَ ذَلِكَ الْفَجَّ (Dia tempuh oleh setan ini berbeda dengan jalan yang ditempuh oleh Umar). وَذَهَبَ فِي فَجٍّ آخَرَ (Lalu dia pergi ke lembah yang lain). لِشِدَّةِ خَوْفِهِ مِنْ عُمَرَ أَنْ يَفْعَلَ بِهِ (Karena mereka tak… saking takutnya dari sikap Umar). Ya. Jika Umar melakukan sesuatu kepadanya. قَالَ الْقَاضِي: وَيَحْتَمِلُ أَنَّهُ ضَرَبَهُ مَثَلًا لِبُعْدِ الشَّيْطَانِ وَإِغْوَائِهِ عَنْ عُمَرَ (Ada yang mengatakan boleh jadi ini memberikan perumpamaan jauhnya setan dan pembantu-pembantu setan/godaan setan dari Umar). Jadi gak ada yang bisa mendekati Umar. وَأَنَّ عُمَرَ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ سَالِكٌ طَرِيقَ السَّدَادِ (Bahwasanya Umar di seluruh kondisinya dia menempuh jalan yang benar ya). خِلَافَ مَا يَأْمُرُ بِهِ الشَّيْطَانُ (Berbeda dengan apa yang diperintah oleh setan). Setan berusaha untuk menyesatkan orang, tapi Umar… ketika setan lari sehingga gak mampu untuk menyesatkan orang, maka Umar selalu berada di atas kebenaran. وَالصَّحِيحُ الْأَوَّلُ (Yang sahih itu adalah pendapat yang pertama).
Nah, ini adalah keutamaan Umar yang luar biasa. Setan saja takut, ya. Dan banyak karamat-karamatnya Umar bin Khattab, ya. Ada orang yang di kepalanya banyak syubhat. Jadi di antara syubhatnya adalah dia minum khamar. Dia lihat kalau minum khamar ini asalkan banyak amal salehnya enggak apa-apa gitu. Lalu dipanggil Umar, lalu dipukuli oleh Umar kepalanya, ya. Sampai dia mengatakan, “Wahai Umar, sudah hilang nih apa yang ada di kepala ini. Sudah hilang semua syubhatnya sudah hilang.” Kata (orang itu), ya dipukul Umar, ya. Kita jangan mukul kepala orang ya nanti masuk penjara. Wallahu ta’ala (a’lam). Ini Umar luar biasa. Dan masih ada perkataan Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tentang keistimewaan Umar. Ya, keutamaan Umar ya. Sampai Nabi mengatakan, “Kalau seandainya masih ada nabi setelahku, maka yang akan menjadi nabi itu adalah Umar.” Ya, mudah-mudahan ini bisa kita pelajari nanti.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.




