0%
Kembali ke Blog Syarah Sahih Muslim: Bab – Tentang Melantunkan Syair, Bait Syair yang Paling Benar, dan Celaan terhadap Syair

Syarah Sahih Muslim: Bab – Tentang Melantunkan Syair, Bait Syair yang Paling Benar, dan Celaan terhadap Syair

17/09/2025 143 kali dilihat 4 mnt baca

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ ٱلْأَنْبِيَاءِ وَٱلْمُرْسَلِينَ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kita kembali mempelajari Kitab Sahih Muslim, kali ini memasuki كِتَابُ الشِّعْرِ (Kitab tentang Syair).

 

بَابٌ فِي إِنْشَادِ الشِّعْرِ وَأَصْدَقِ كَلِمَةٍ وَذَمِّ الشِّعْرِ

 

(Bab tentang Melantunkan Syair, Bait Syair yang Paling Benar, dan Celaan terhadap Syair)

Diriwayatkan dari Syarid, ia berkata, “Pada suatu hari, aku membonceng Rasulullah ﷺ. Beliau bertanya, ‘هَلْ مَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ شَيْءٌ؟‘ (Apakah engkau menghafal sedikit dari syair Umayyah bin Abi ash-Shalt?). Aku menjawab, ‘Iya.’ Beliau bersabda, ‘هِيهْ‘ (Lantunkanlah). Lalu aku melantunkan satu bait. Beliau kembali berkata, ‘هِيهْ‘ (Tambah lagi). Kemudian aku melantunkan satu bait lagi. Beliau terus berkata, ‘هِيهْ‘ (Tambah lagi), hingga aku melantunkan seratus bait untuknya.”

Dalam riwayat lain ditambahkan bahwa Nabi ﷺ berkomentar tentang Umayyah, “إِنْ كَادَ لَيُسْلِمُ” (Sungguh, ia hampir saja masuk Islam). Dan dalam riwayat Ibnu Mahdi, beliau bersabda, “لَقَدْ كَادَ يُسْلِمُ فِي شِعْرِهِ” (Sungguh, ia hampir saja masuk Islam melalui syairnya), karena syair-syairnya mengandung nilai-nilai yang sejalan dengan tauhid.

Selanjutnya, diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا شَاعِرٌ كَلِمَةُ لَبِيدٍ: أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ

“Ucapan paling benar yang pernah diucapkan oleh seorang penyair adalah ucapan Labid: ‘Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil (fana).'”

Dalam hadis lain, diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا يَرِيهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا

“Sungguh, jika perut salah seorang di antara kalian penuh dengan nanah yang merusaknya, itu lebih baik daripada perutnya penuh dengan syair.”

Dan dalam hadis dari Abu Sa’id al-Khudri, disebutkan bahwa ketika mereka sedang berjalan, tampak seorang penyair sedang melantunkan syair. Rasulullah ﷺ pun bersabda, “خُذُوا الشَّيْطَانَ” (Tangkaplah setan itu), lalu beliau mengulangi hadis tentang perut yang penuh nanah lebih baik daripada penuh dengan syair.

 

Penjelasan Ulama

 

Maksud dari hadis-hadis tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Syair yang Baik Diperbolehkan: Nabi ﷺ menilai baik syair Umayyah dan meminta untuk terus dibacakan karena di dalamnya terdapat pengakuan akan keesaan Allah (الْإِقْرَارُ بِالْوَحْدَانِيَّةِ) dan hari kebangkitan (وَالْبَعْثِ). Ini menunjukkan bolehnya melantunkan dan mendengarkan syair yang tidak mengandung kekejian (فُحْش), baik itu syair dari masa jahiliah maupun setelahnya.
  2. Syair yang Tercela: Syair menjadi tercela dalam dua keadaan:
    • Jika mengandung unsur kekejian, vulgaritas, atau hal-hal buruk lainnya.
    • Jika syair tersebut, meskipun isinya tidak keji, menjadi dominan dalam kehidupan seseorang (غَالِبًا عَلَى الْإِنْسَانِ). Seseorang yang hari-harinya hanya diisi dengan syair atau nasyid sehingga melalaikannya dari membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu syar’i, dan berzikir kepada Allah, maka inilah yang dimaksud dalam hadis celaan tersebut. Adapun sedikit syair yang baik, maka menghafal dan mendengarkannya tidak mengapa.
  3. Makna Syair Labid: Makna kata بَاطِل (bathil) dalam syair Labid adalah الْفَانِي (al-fani), yaitu segala sesuatu selain Allah pada hakikatnya akan sirna, hancur, dan tidak abadi. Hadis ini juga menunjukkan keutamaan Labid bin Rabi’ah, yang merupakan seorang sahabat Nabi.
  4. Tafsir Hadis “Penuh Nanah”: Tafsiran yang menyatakan bahwa “syair” dalam hadis ini hanya merujuk pada syair yang mencela Nabi ﷺ adalah penafsiran yang keliru. Sebab, kaum muslimin sepakat bahwa satu kata pun yang mencela Nabi dapat menyebabkan kekufuran. Makna yang benar adalah celaan terhadap kondisi di mana syair telah menguasai hati seseorang hingga tidak ada lagi ruang untuk Al-Qur’an dan ilmu agama.

 

بَابُ تَحْرِيمِ اللَّعِبِ بِالنَّرْدَشِيرِ

 

(Bab Haramnya Bermain Dadu)

Diriwayatkan dari Buraidah, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِي لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ

“Barangsiapa bermain nardasyir (dadu), maka seakan-akan ia telah mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi.”

Hadis ini menjadi dasar bagi Imam asy-Syafi’i dan mayoritas ulama (الْجُمْهُور) yang mengharamkan permainan dadu. Adapun Abu Ishaq al-Marwazi dari kalangan Syafi’iyyah berpendapat hukumnya makruh, tidak sampai haram.

 

Hukum Bermain Catur (الشَّطْرَنْج)

 

  • Menurut mazhab Syafi’i, hukumnya makruh, tidak haram.
  • Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, hukumnya haram. Imam Malik bahkan berkata, “Catur lebih buruk daripada dadu dan lebih melalaikan dari kebaikan.” Mereka mengqiyaskannya dengan dadu.

Makna dari perumpamaan “mencelupkan tangan ke dalam daging dan darah babi” adalah untuk menunjukkan beratnya keharaman bermain dadu, sebagaimana haramnya memakan daging dan darah babi.

 

Permainan yang Melalaikan

 

Secara umum, permainan yang melalaikan tercakup dalam hadis:

كُلُّ شَيْءٍ يَلْهُو بِهِ ابْنُ آدَمَ فَهُوَ بَاطِلٌ

“Segala sesuatu yang dijadikan permainan oleh anak Adam adalah sia-sia (bathil).”

Kecuali empat hal yang dianggap sebagai kebenaran (haq):

  1. Berlatih memanah.
  2. Melatih kuda.
  3. Berenang.
  4. Bercanda mesra dengan istri.

Keempat aktivitas ini, meskipun menghabiskan waktu, tidak dianggap sia-sia karena mengandung manfaat. Adapun permainan lain yang hanya membuang waktu tanpa faedah, seperti catur, domino, dan permainan sejenisnya (termasuk yang ada di gawai), masuk dalam kategori bathil yang tercela.

وَاللهُ أَعْلَمُ. Mudah-mudahan bermanfaat.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

143