Kajian Lanjutan Hadis Isti’dzan: Pelajaran dari Ketegasan Umar dan Adab Menjawab Panggilan
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَإِخْوَانِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ وَتَمَسَّكَ بِشَرِيعَتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ.
Kembali kita melanjutkan kajian kita dari hadis-hadis sahih Muslim dari kitab al-Adab, bab al-Isti’dzan. Hadis 5594.
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا بِشْرٌ – يَعْنِي ابْنَ مُفَضَّلٍ – قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ أَبَا مُوسَى أَتَى بَابَ عُمَرَ فَاسْتَأْذَنَ فَقَالَ عُمَرُ: وَاحِدَةٌ. ثُمَّ اسْتَأْذَنَ الثَّانِيَةَ فَقَالَ عُمَرُ: اثْنَتَانِ. ثُمَّ اسْتَأْذَنَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ عُمَرُ: ثَلَاثٌ. ثُمَّ انْصَرَفَ فَأَتْبَعَهُ فَرَدَّهُ فَقَالَ: إِنْ كَانَ هَذَا شَيْئًا حَفِظْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا وَإِلَّا جَعَلْتُكَ عِظَةً. قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: فَأَتَانَا فَقَالَ: أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الِاسْتِئْذَانُ ثَلَاثٌ؟ قَالَ: فَجَعَلُوا يَضْحَكُونَ. قَالَ: فَقُلْتُ: أَتَاكُمْ أَخُوكُمُ الْمُسْلِمُ قَدْ فَزِعَ وَتَضْحَكُونَ، انْطَلِقْ فَأَنَا شَرِيكُكَ فِي هَذِهِ الْعُقُوبَةِ. فَأَتَاهُ فَقَالَ: هَذَا أَبُو سَعِيدٍ.
Dengan sanadnya kepada Abi Musa, kepada, sanadnya ee sanadnya kepada Abi Said al-Khudri رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ, bahwasanya Abu Musa mendatangi Umar lalu meminta izin. Maka Umar mengatakan, “Satu.” Lalu Abu Musa meminta izin untuk kedua kalinya. Maka Umar mengatakan, “Dua.” Kemudian Abu Musa meminta izin yang ketiga kalinya. Lalu Umar mengatakan, “Tiga.” Setelah itu Abu Musa kembali, maka Umar mengikutinya dan menyuruhnya kembali ke rumahnya. Lalu Umar berkata, “Jika hal ini adalah sesuatu yang kamu hafal dari Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, maka carilah bukti atau saksi. Kalau tidak, aku akan benar-benar menjadikanmu sebuah pelajaran bagi orang lain.”
قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: Abu Said mengatakan, “Maka Abu Musa mendatangi kami seraya berkata, ‘Tidakkah kalian mengetahui bahwasanya Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Meminta izin itu adalah tiga kali”?'” Abu Said berkata, “Maka mereka pun, yakni kaum Anshar mendengar hal itu ketawa.” Abu Said berkata, “Maka aku pun berkata, ‘Saudara kalian semuslim mendatangi kalian dalam keadaan panik lalu kalian tertawa. Pergilah, aku akan menemanimu dalam hukuman yang sama atau hukuman tersebut.'” Maka Abu Musa mendatangi Umar, saya berkata, “Ini Abu Said.”
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي مَسْلَمَةَ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ خِرَاشٍ قَالَ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ الْجُرَيْرِيِّ وَسَعِيدِ بْنِ يَزِيدَ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي نَضْرَةَ بِمَعْنَى حَدِيثِ شُعْبَةَ عَنْ أَبِي مَسْلَمَةَ بِإِسْنَادِهِ.
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ قَالَ سَمِعْتُ عُبَيْدَ بْنَ عُمَيْرٍ يُخْبِرُ أَنَّ أَبَا مُوسَى اسْتَأْذَنَ عَلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ثَلَاثًا فَكَأَنَّهُ وَجَدَهُ مَشْغُولًا فَرَجَعَ فَقَالَ عُمَرُ: أَلَمْ أَسْمَعْ صَوْتَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ؟ ائْذَنُوا لَهُ. فَدُعِيَ لَهُ فَقَالَ: مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ؟ قَالَ: إِنَّا كُنَّا نُؤْمَرُ بِهَذَا. قَالَ: لَتُقِيمَنَّ عَلَى هَذَا بَيِّنَةً أَوْ لَأَفْعَلَنَّ وَلَأَفْعَلَنَّ. فَخَرَجَ فَانْطَلَقَ إِلَى مَجْلِسٍ مِنَ الْأَنْصَارِ فَقَالُوا: لَا يَشْهَدُ لَكَ عَلَى هَذَا إِلَّا أَصْغَرُنَا. فَقَامَ أَبُو سَعِيدٍ فَقَالَ: قَدْ كُنَّا نُؤْمَرُ بِهَذَا. فَقَالَ عُمَرُ: خَفِيَ عَلَيَّ هَذَا مِنْ أَمْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَلْهَانِي الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ.
Dengan sanadnya kepada Ubaid bin Umair, bahwasanya Abu Musa minta izin kepada Umar tiga kali, yakni mendatangi rumah Umar minta izin tiga kali. فَكَأَنَّهُ وَجَدَهُ مَشْغُولًا. Seakan kayaknya dia menemukan Umar itu dalam keadaan sibuk. فَرَجَعَ. Dia kembali. فَقَالَ عُمَرُ: أَلَمْ أَسْمَعْ صَوْتَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ؟ Umar mengatakan, “Tidakkah kamu mendengar suara Abdullah bin Qais (yakni Abu Musa Asy’ari)?” ائْذَنُوا لَهُ. “Biarkan dia masuk.” فَدُعِيَ لَهُ. Lalu dipanggillah dia. فَقَالَ: مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ؟ Lalu Umar mengatakan, “Apa yang menjadikanmu apa? Apa yang menyebabkanmu melakukan apa yang ee yang telah kamu lakukan?” Yakni dia kembali. قَالَ: إِنَّا كُنَّا نُؤْمَرُ بِهَذَا. Abu Said ee Abu Musa dia mengatakan, “Kita diperintahkan untuk seperti ini.” قَالَ: Lalu Umar mengatakan, “لَتُقِيمَنَّ عَلَى هَذَا بَيِّنَةً أَوْ لَأَفْعَلَنَّ وَلَأَفْعَلَنَّ.” “Kamu harus mendatangkan bukti untuk ini atau pasti aku hukum kamu?” فَخَرَجَ فَانْطَلَقَ إِلَى مَجْلِسٍ مِنَ الْأَنْصَارِ. Lalu dia berangkat mendatangi majelisnya orang Ansar. فَقَالُوا: لَا يَشْهَدُ لَكَ عَلَى هَذَا إِلَّا أَصْغَرُنَا. Mereka mengatakan, orang yang di majelis, “Tidak ada yang akan memberikan kesaksian bagimu dalam perkara ini kecuali orang yang termuda dari kami.” فَقَامَ أَبُو سَعِيدٍ فَقَالَ: قَدْ كُنَّا نُؤْمَرُ بِهَذَا. Abu Said mengatakan, “Kita dahulu diperintahkan seperti ini.” Kalau sahabat mengatakan كُنَّا نُؤْمَرُ (kami diperintahkan), berarti yang memerintahkannya adalah Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ عُمَرُ: خَفِيَ عَلَيَّ هَذَا مِنْ أَمْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Umar mengatakan, “Tersembunyi dariku yang ini dari perkara Rasulullah.” Yakni saya tidak mengetahui adanya Rasulullah mengatakan ini, sementara para sahabat yang lain sampai anak kecil pun mengetahui, namun Umar tidak mengetahui. Ya. Apa kata Umar? “أَلْهَانِي الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ.” Eh, jual beli di pasar telah melalaikanku.
Dari dua hadis atau tiga hadis yang sudah kita baca, ungkapan di dalam hadis yang pertama: “وَإِلَّا لَأَجْعَلَنَّكَ عِظَةً أَوْ هَاتِ الْبَيِّنَةَ.” Yakni Umar meminta didatangkan bukti, kalau tidak engkau akan saya jadikan sebagai sebuah pelajaran bagi orang lain, yakni dihukum.
قَوْلُهُ: يَضْحَكُونَ. يَضْحَكُونَ يَعْنِي أَنَّ أَهْلَ الْمَجْلِسِ ضَحِكُوا تَعَجُّبًا مِنْ أَبِي مُوسَى وَهَيْبَتِهِ وَخَوْفِهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَعَ أَنَّهُمْ قَدْ أَمِنُوا أَنْ يَنَالَهُ عُقُوبَةٌ لِقُوَّةِ حُجَّتِهِ وَأَنَّهُمْ سَمِعُوا مَا أَنْكَرَهُ عُمَرُ.
Kenapa mereka tertawa? Sebab tertawanya mereka adalah keheranan mereka atas kepanikan Nabi Musa dan takutnya Abi Musa atas mendapatkan hukuman dari Umar, sementara mereka sungguh percaya atau sungguh merasa aman, merasa ee apa namanya? Merasa percaya bahwasanya Abu Musa itu tidak akan mendapatkan hukuman. Ya. Kenapa? Karena kuatnya hujah Abu Musa dan mereka juga mendengarkan apa yang diingkari oleh Umar itu. Jadi, “Ah, enggak mungkinlah gitu. Masa ini semua kita orang tahu Umar akan menghukuminya gitu. Enggak mungkin.” Tapi karena dia cemas, Abu Musa itu yang menyebabkan mereka itu merasa keheranan.
Lalu hadis yang terakhir, “أَلْهَانِي عَنْهُ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ.” Yakni maknanya التِّجَارَةُ وَالْمُعَامَلَةُ فِي الْأَسْوَاقِ. Perdagangan dan muamalah di pasar telah melalaikanku dari hadis ini. Yakni ini saya tidak dengar. Kenapa tidak dengar? Karena sibuk di pasar. Gitu ya.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ ح وَحَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ قَالَ حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ جَمِيعًا عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ فِي حَدِيثِ أَبِي عَاصِمٍ: أَلْهَانِي الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ. وَفِي حَدِيثِ النَّضْرِ قَالَ الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ: سَمِعْتُ النَّضْرَ يَقُولُ: الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ الْخُرُوجُ إِلَيْهَا لِلتِّجَارَةِ.
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ. (Ini hadis yang berbeda, bukan kelanjutan dari kisah Abu Musa)
حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْأَشْعَرِيُّ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: جَاءَ أَبُو مُوسَى إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، هَذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ قَيْسٍ. فَلَمْ يَأْذَنْ لَهُ. فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، هَذَا أَبُو مُوسَى. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، هَذَا الْأَشْعَرِيُّ. ثُمَّ انْصَرَفَ. فَقَالَ: رُدُّوا عَلَيَّ، رُدُّوا عَلَيَّ، رُدُّوا عَلَيَّ. فَجَاءَ فَقَالَ: يَا أَبَا مُوسَى، مَا رَدَّكَ؟ كُنَّا فِي شُغُلٍ. قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: الِاسْتِئْذَانُ ثَلَاثٌ، فَإِنْ أُذِنَ لَكَ وَإِلَّا فَارْجِعْ. قَالَ: لَتَأْتِيَنَّ عَلَى هَذَا بِبَيِّنَةٍ وَإِلَّا فَعَلْتُ وَفَعَلْتُ. فَذَهَبَ أَبُو مُوسَى.
Dengan sanadnya kepada Abi Burdah dari Abi Musa Asy’ari, dia mengatakan, “Abu Musa mendatangi Umar bin Khattab رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ.” Lalu dia mengatakan, “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، هَذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ قَيْسٍ.” Dia sebutkan namanya. Ya. Jadi ketika datang ucapan lalu disebutkan siapa nih? Ada orang. فَلَمْ يَأْذَنْ لَهُ. Belum diberikan izin. فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، هَذَا أَبُو مُوسَى. Ah, kuniahnya ya. “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، هَذَا الْأَشْعَرِيُّ.” Ya. Ini Asy’ari, yakni kabilahnya gitu disebutkan. ثُمَّ انْصَرَفَ. Karena tidak ada jawaban dari dalam, dia pulang. فَقَالَ: Lalu Umar mengatakan, “رُدُّوا عَلَيَّ، رُدُّوا عَلَيَّ، رُدُّوا عَلَيَّ.” “Balik, balik, ayo kejar, suruh dia balik lagi. Suruh dia balik lagi. Suruh balik.” فَجَاءَ فَقَالَ: Lalu dia datang. Lalu Umar mengatakan, “يَا أَبَا مُوسَى، مَا رَدَّكَ؟ كُنَّا فِي شُغُلٍ.” “Wahai Abu Musa, apa yang menyebabkanmu kembali? Kami lagi sibuk gitu ya.” قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: الِاسْتِئْذَانُ ثَلَاثٌ، فَإِنْ أُذِنَ لَكَ وَإِلَّا فَارْجِعْ. “Kami mendengar, saya mendengar Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengucapkan, ‘Minta izin itu tiga kali. Seandainya diizinkan masuk, kalau tidak kembali.'” قَالَ: لَتَأْتِيَنَّ عَلَى هَذَا بِبَيِّنَةٍ وَإِلَّا فَعَلْتُ وَفَعَلْتُ. فَذَهَبَ أَبُو مُوسَى. “Kamu harus mendatangkan ya, bukti terhadap apa yang kamu katakan ini. Kalau seandainya tidak bisa mendatangkan, maka saya akan lakukan ini dan ini kepadamu.” Lalu Abu Musa pergi ya, kepada kaum Anshar untuk meminta adanya saksi terhadap hadis itu.
قَالَ عُمَرُ: إِنْ وَجَدَ بَيِّنَةً تَجِدُوهُ عِنْدَ الْمِنْبَرِ عَشِيَّةً، وَإِنْ لَمْ يَجِدْ بَيِّنَةً فَلَمْ تَجِدُوهُ. فَلَمَّا أَنْ جَاءَ بِالْعَشِيِّ وَجَدُوهُ. فَقَالَ عُمَرُ: يَا أَبَا مُوسَى، مَا تَقُولُ؟ أَقَدْ وَجَدْتَ؟ قَالَ: نَعَمْ، أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ. قَالَ: عَدْلٌ. قَالَ لِأُبَيٍّ: يَا أَبَا الطُّفَيْلِ، مَا يَقُولُ هَذَا؟ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، فَلَا تَكُونَنَّ عَذَابًا عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، إِنَّمَا سَمِعْتُ شَيْئًا فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَتَثَبَّتَ.
Dengan sanadnya kepada ee Umar, Umar mengatakan, “Umar mengatakan, ‘Jika dia mendapatkan bukti, maka kalian akan melihatnya di dekat mimbar malam ini. Kalau dia bisa mendatangkan bukti, kalian akan dapatkan dia dekat mimbar. Namun jika dia tidak mendapatkan bukti apapun, maka kalian tidak akan melihatnya.'” Ini ancaman yang berat nih. Kalau bisa dia mendatangkan, ah lagi dapek. Kalau enggak, hilangnya ya. فَلَمَّا أَنْ جَاءَ بِالْعَشِيِّ وَجَدُوهُ. Ketika malam datang, orang-orang pun melihatnya, yakni melihat Abu Musa. فَقَالَ عُمَرُ: يَا أَبَا مُوسَى، مَا تَقُولُ؟ أَقَدْ وَجَدْتَ؟ Umar mengatakan, “Wahai Abu Musa, apa yang kamu katakan? Apakah kamu sudah mendapatkan bukti?” “نَعَمْ، أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ.” “Ah, naam ya. Ubay bin Ka’ab, saya sudah dapatkan bukti ya. Ini Ubay bin Ka’ab sebagai buktinya, saksi.” Apa kata Umar? Umar قَالَ: عَدْلٌ. Ubay bin Ka’ab, ya sudah terpercaya, bisa diterima. قَالَ لِأُبَيٍّ: يَا أَبَا الطُّفَيْلِ، مَا يَقُولُ هَذَا؟ Lalu Umar mengatakan, “Wahai Abu Thufail, apa benar apa yang dikatakan oleh orang ini?” قَالَ: Lalu Ubay menjawab, “سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ.” “Aku mendengar Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengucapkan ini wahai Umar bin Khattab.” Lalu dia mengatakan, Ubay, “فَلَا تَكُونَنَّ عَذَابًا عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.” “Janganlah sekali-kali kamu menyiksa sahabat-sahabat Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.” قَالَ: Lalu Umar mengatakan, “سُبْحَانَ اللَّهِ.” Yakni سُبْحَانَ اللَّهِ (Maha Suci Allah). “إِنَّمَا سَمِعْتُ شَيْئًا فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَتَثَبَّتَ.” “Sesungguhnya aku hanya ingin ee kata Umar, ‘Sebenarnya aku mendengar sesuatu, yakni saya ada dengar juga kok. Aku pengin ingin membuktikan lebih kuat.'” Kalau saya, saya juga pernah dengar. Ah, ya. Tapi pengin memperkuat apa yang didengar dan apa yang dia dengar dari Abu Musa Asy’ari. Nah, dia pengin ada lagi yang membuktikan sehingga hadis itu menjadi kuat.
وَحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَبَانَ قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ هَاشِمٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ يَحْيَى بِهَذَا الْإِسْنَادِ. فَقَالَ لِأُبَيٍّ: يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، فَلَا تَكُنْ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ عَذَابًا عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ عُمَرُ: سُبْحَانَ اللَّهِ. وَلَمْ يَذْكُرْ مَا بَعْدَهُ.
Di dalam ee sanad yang lain dikatakan bahwasanya Umar mengatakan, “Wahai Abal Munzir, apakah engkau juga mendengar ini dari Rasulullah?” Dia mengatakan, “Iya.” Lalu dia mengatakan, yakni ya Ubay bin Ka’ab mengatakan, “Janganlah engkau wahai putra Khattab ya, menyiksa sahabat-sahabat Rasulullah.” Dan dalam riwayat ini tidak disebutkan berkata Umar, “سُبْحَانَ اللَّهِ” dan apa yang setelahnya.
Dari hadis yang kita pelajari ini, bahwa pertama Umar sangat tegas bagaimana hendaknya kita selektif di dalam meriwayatkan hadis Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
بَابُ كَرَاهَةِ قَوْلِ الْمُسْتَأْذِنِ: أَنَا، إِذَا قِيلَ: مَنْ هَذَا؟
Bab dimakruhkan atau tidak disukai ucapan orang yang datang yang minta izin, “Saya,” jika dari dalam bertanya, “Siapa ya?” Jadi kalau misalnya, “Assalamualaikum.” “Siapa tuh?” “Ambo.” “Ambo sia?” Ya, atau “Saya,” kan gitu ya. “Anak saya tuh,” “Awak,” katanya kan. “Awak sia?” Jadi tidak bagus untuk menjawabnya seperti itu, tapi apa? Sampaikan. Sama dengan HP jugalah, WA, “Assalamualaikum.” “Ini siapa nih?” “Saya,” katanya. Enggak tahu, kita enggak tahu siapa orang yang mau WA kita, kenapa dia tidak perkenalkan. “Assalamualaikum. Maaf nih, saya si fulan, fulan, fulan,” ya. Sehingga tahu, oh ya. Kadang-kadang kan atas, ada, ada memang secara umumlah antara nama yang muncul walaupun belum ada di simpanan apa, nama-nama di ee phonebook kita itu namanya tersimpan, tapi terkadang ada muncul nama. Tapi apakah sama atau tidak? Kita bisa pastikan. Kita sampaikan, “Nah, ini siapa?” Enggak apa-apa, ya. Tapi jangan dia menjawab, “Saya,” ya.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَوْتُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ هَذَا؟ فَقُلْتُ: أَنَا. قَالَ: فَخَرَجَ وَهُوَ يَقُولُ: أَنَا أَنَا.
Dengan sanadnya kepada Jabir Ibnu Abdillah رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ. Dia mengatakan, “Aku mendatangi Nabi, فَدَعَوْتُ (dan aku ya memanggil beliau, lalu aku manggil beliau).” فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “Saya datang ke, ke, ke Nabi lalu saya manggil, minta izin.” فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: Lalu Nabi mengatakan, “مَنْ هَذَا؟” (“Siapa ini?”). فَقُلْتُ: أَنَا. Jabir bin Abdillah mengatakan, “Saya.” قَالَ: فَخَرَجَ وَهُوَ يَقُولُ: أَنَا أَنَا. Lalu صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ keluar sambil mengatakan, “أَنَا أَنَا.” Ya, “Ambo, ambo. Saya, saya.” Yakni ungkapannya ini adalah mengungkapkan suatu hal yang tidak disukai, ya.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ – وَاللَّفْظُ لِأَبِي بَكْرٍ – قَالَ يَحْيَى: أَخْبَرَنَا. وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: اسْتَأْذَنْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَنْ هَذَا؟ فَقُلْتُ: أَنَا. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا أَنَا.
Jabir bin Abdillah mengatakan, “Untuk minta izin kepada Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, lalu beliau bertanya, ‘Siapa ini?’ Lalu saya menjawabnya, ‘Saya.’ Lalu Nabi mengatakan, ‘Saya, saya.'”
Imam Nawawi mengatakan, “Di riwayat ada tambahan, كَأَنَّهُ كَرِهَهَا.” (Seakan-akan Nabi tidak menyukai ungkapan itu).
قَالَ الْعُلَمَاءُ: إِذَا اسْتَأْذَنَ فَقِيلَ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ أَوْ مَنْ هَذَا؟ كُرِهَ أَنْ يَقُولَ: أَنَا، لِهَذَا الْحَدِيثِ.
Ulama mengatakan, “Apabila seorang minta izin, datang dan minta izin untuk masuk, lalu ada dari dalam bertanya, ‘Siapa engkau?’ Ya, kalau kita, ‘Sia tu?’ atau ‘Man hadza?’ atau ‘Siapa ini?’ Makruh hukumnya, ya, tidak disukai dengan jawaban ‘Saya,’ berdasarkan hadis ini.”
وَلِأَنَّهُ لَمْ يَحْصُلْ بِقَوْلِهِ: أَنَا، فَائِدَةٌ وَلَا زِيَادَةٌ، بَلِ الْإِبْهَامُ بَاقٍ.
Kenapa? “Karena dengan jawaban ‘Saya’ tidak memberikan manfaat, ya, tidak ada penambahan nilai ketika masih aja, ya. Ketidaktahuan siapa yang di luar masih tetap tahu.” Ya.
بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ: فُلَانٌ، بِاسْمِهِ. وَإِنْ قَالَ: أَنَا فُلَانٌ، فَلَا بَأْسَ.
“Malahan yang sepantasnya dia mengucapkan si fulan dengan namanya. Kalau seandainya mengatakan, ‘Saya si fulan,’ ya itu tidak apa-apa.”
كَمَا قَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ حِينَ اسْتَأْذَنَتْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ هَذِهِ؟ فَقَالَتْ: أَنَا أُمُّ هَانِئٍ.
“Sebagaimana yang diucapkan oleh Ummi Hani ketika dia minta izin kepada Rasulullah. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan, ‘Siapa ini?’ Jadi dia datang minta izin kepada Nabi. ‘Ini siapa nih?’ Apalagi misalkan ketemu, ya, orang yang sudah tahu dengan kita sekarang nih, misalkan ibu-ibu pakai cadar. ‘Ah, kok sia?’ kan gitu. ‘Anak ambo,’ katanya. ‘Si ambo kok sia?’ Ya, enggak ada diucapkan namanya, ya. Ummu Hani dia mengatakan, ‘Saya Ummu Hani.’ Ya, ketika dikenal, ‘Oh iya.’ Oh, itu ternyata tetangga kita, kan kita tidak tahu, ya.”
وَلَا بَأْسَ بِقَوْلِهِ: أَنَا أَبُو فُلَانٍ، أَوِ الْقَاضِي فُلَانٌ، أَوِ الشَّيْخُ فُلَانٌ، إِذَا لَمْ يَحْصُلِ التَّعْرِيفُ بِاسْمِهِ لِخَفَائِهِ.
“Maka itu tidak apa-apa. Tidak apa dia mengucapkan, ‘Saya ini Abu Fulan,’ atau ‘Qadi fulan,’ ‘Syekh fulan,’ ya, jika belum bisa membedakan, belum dikenal dengan namanya karena kurang terkenal misalkan, ya, apalagi suara misalkan, ya. Kadang kan ada yang orang dengan suara kenal, ya, apalagi maaf orang yang ee tuna netra, ya. Saya Syekh ee Syekh Shalih As-Suhaimi, Syekh yang beliau enggak bisa lihat, ketika, ‘Assalamualaikum Syekh.’ ‘Oh, si Fulan.’ Ah, langsung dia ingat. Masya Allah, kuat sekali ingatannya. Ya, sementara kita langsung ngomong langsung hanya sekali atau dua kali gitu.”
وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ حَدِيثُ أُمِّ فُلَانٍ وَقَوْلُ أَبِي قَتَادَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ، وَالْأَحْسَنُ: أَنَا فُلَانٌ الْمَعْرُوفُ بِكَذَا. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
“Jadi berdasarkan inilah, ya, ee kita ucapkan hadis-hadis yang lainnya bahwa yang sebaiknya diucapkan, ‘Saya adalah fulan.’ ‘Abu Fulan,’ kadang-kadang kan, ‘Si itu Abu Fulan.’ Enggak tahu Abu Fulan siapa Abu Fulan, ya kan. Ada orang merubahnya dengan kuniah, sembunyikan dirinya, awak lebih kenal dengan namanya lagi, gitu kan. Nah, kalau misalkan terkenal dengan nama ketek, Pak, sudah dengan nama keteknya, ya, walaupun namanya baik misalkan Hasan, jarang kita mendengar Hasan, tapi panggil dulu-dulu namanya Ican misalkan, ‘Tu dia Ican.’ ‘Oh iya,’ sudah kenal, ya. Jadi gunanya adalah untuk memperkenalkan sehingga mau diizinkan atau tidak diizinkan. Kalau seandainya ee tidak dikenal, bagaimana orang akan mengizinkan ketika kita ee berkunjung?”
وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ. Demikian yang dapat kita sampaikan dulu. Semoga bermanfaat. Ada yang mau bertanya? Baik. Kalau tidak, insya Allah pada pertemuan berikutnya adalah ee haramnya untuk mancibuak. Nah, mengintip, ya. بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
