Syarah Shahih Muslim: Di Antara Keutamaan-Keutamaan Umar Radhiyallahu ta’ala ‘anhu

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.
اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ سَهْلًا يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ. Kita lanjutkan kajian kita dari kitab Shahih Muslim, Kitabul Fadhail, Fadhailus Sahabah. Kitab tentang keutamaan-keutamaan sahabat. Bab yang pertama sudah selesai, yaitu di antara keutamaan-keutamaan Abu Bakar As-Siddiq. بَابٌ مِنْ فَضَائِلِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. Bab yang sekarang adalah bab di antara keutamaan-keutamaan Umar.
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَمْرٍو الْأَشْعَثِيُّ وَأَبُو الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ وَأَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ وَاللَّفْظُ لِأَبِي كُرَيْبٍ قَالُوا حَدَّثَنَا وَقَالَ أَبُو كُرَيْبٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ عُمَرَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ وُضِعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ عَلَى سَرِيرِهِ فَتَكَنَّفَهُ النَّاسُ يَدْعُونَ وَيُثْنُونَ وَيُصَلُّونَ عَلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُرْفَعَ وَأَنَا فِيهِمْ قَالَ فَلَمْ يَرُعْنِي إِلَّا بِرَجُلٍ قَدْ أَخَذَ بِمَنْكِبِي مِنْ خَلْفِي فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ فَإِذَا هُوَ عَلِيٌّ فَتَرَحَّمَ عَلَى عُمَرَ وَقَالَ مَا خَلَّفْتَ أَحَدًا أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَلْقَى اللَّهَ بِمِثْلِ عَمَلِهِ مِنْكَ وَايْمُ اللَّهِ إِنْ كُنْتُ لَأَظُنُّ أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ وَذَاكَ أَنِّي كُنْتُ كَثِيرًا أَسْمَعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ جِئْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَخَرَجْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَإِنْ كُنْتُ لَأَرْجُو أَوْ لَأَظُنُّ أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَهُمَا.
Dengan sanadnya kepada Ibnu Abi Mulaikah, dia mengatakan, “Aku mendengar Ibnu Abbas bercerita, ‘وُضِعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ عَلَى سَرِيرِهِ‘ (Jasad Umar bin Khattab رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ dibaringkan di atas kerandanya). ‘فَتَكَنَّفَهُ النَّاسُ يَدْعُونَ وَيُثْنُونَ‘ (Kemudian orang-orang mengerumuninya dan mengelilinginya. Mereka lalu memanjatkan doa dan memuji Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى—atau memuji Umar, yakni menyebutkan kebaikan-kebaikan Umar). ‘وَيُصَلُّونَ عَلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُرْفَعَ‘ (Mereka mendoakan Umar sebelum jasadnya diangkat ke kuburannya). Jadi, kisahnya ini setelah Umar meninggal dunia. ‘وَأَنَا فِيهِمْ‘ (Dan aku—yakni Ibnu Abbas—ada di antara mereka). ‘فَلَمْ يَرُعْنِي إِلَّا بِرَجُلٍ قَدْ أَخَذَ بِمَنْكِبِي مِنْ خَلْفِي‘ (Aku tidaklah terkejut kecuali disebabkan oleh seseorang yang memegang pundakku dari belakang). Ini tahu-tahu ada orang memegang dari belakang, sehingga dia kaget. ‘فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ فَإِذَا هُوَ عَلِيٌّ‘ (Lalu aku menoleh kepadanya, dan ternyata dia adalah Ali bin Abi Thalib). ‘فَتَرَحَّمَ عَلَى عُمَرَ‘ (Lalu Ali pun mendoakan rahmat untuk Umar).
Lalu dia mengatakan: ‘مَا خَلَّفْتَ أَحَدًا أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَلْقَى اللَّهَ بِمِثْلِ عَمَلِهِ مِنْكَ‘ (Tidak ada seorang pun yang engkau tinggalkan yang lebih aku cintai untuk bertemu dengan Allah dengan membawa amalan yang semisal dengan amalanmu). Seakan-akan dia berbicara dengan Umar. “Tidak ada seorang pun yang engkau tinggalkan, wahai Umar. Orang yang lebih aku cintai saat bertemu dengan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan membawa amalan yang menyerupai amalanmu.” ‘وَايْمُ اللَّهِ إِنْ كُنْتُ لَأَظُنُّ أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ‘ (Demi Allah, sungguh aku mengira bahwa Allah akan menjadikanmu bergabung bersama kedua sahabatmu). Siapa? Yaitu Rasulullah dan Abu Bakar. ‘وَذَاكَ أَنِّي كُنْتُ كَثِيرًا أَسْمَعُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: جِئْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ‘ (Hal itu karena aku sering mendengar Rasulullah bersabda: ‘Aku datang bersama Abu Bakar dan Umar’). ‘وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ‘ (Aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar). ‘وَخَرَجْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ‘ (Dan aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar). ‘فَإِنْ كُنْتُ لَأَرْجُو أَوْ لَأَظُنُّ أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَهُمَا‘ (Maka sungguh aku berharap atau mengira Allah akan menjadikanmu bersama mereka berdua).”
Dari hadis yang mulia ini terdapat beberapa faedah. Pertama, فَضِيلَةُ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ (Keutamaan Abu Bakar dan Umar), dan وَشَهَادَةُ عَلِيٍّ لَهُمَا (Kesaksian Ali terhadap keduanya bahwasanya keduanya adalah orang-orang yang memiliki keutamaan). Serta وَحُسْنُ ثَنَائِهِ عَلَيْهِمَا (Sanjungan yang baik yang diberikan oleh Ali atas keduanya). Dan وَصِدْقُ مَا كَانَ يَظُنُّهُ بِعُمَرَ قَبْلَ وَفَاتِهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ (Kebenaran apa yang diperkirakan oleh Ali terhadap Umar sebelum wafatnya). Yakni, disebutkan tadi bahwasanya tidak ada orang yang ditinggalkannya yang lebih ia cintai saat bertemu dengan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan amalan seperti amalannya. Tidak ada lagi orang yang seperti dia, dan ia yakin Umar adalah orang baik sebelum maupun sesudah wafatnya. Nah, di sini keutamaan Umar terlihat di mana beliau selalu bersama Rasulullah, sebagaimana Abu Bakar juga selalu bersama Rasulullah. Kebersamaan dengan Rasulullah itu adalah keutamaan yang sangat luar biasa, sebab tidaklah ada yang menemani Rasulullah kecuali orang-orang pilihan.
Hadis yang kedua.
حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُتِيتُ بِقَدَحِ لَبَنٍ فَشَرِبْتُ مِنْهُ حَتَّى إِنِّي لَأَرَى الرِّيَّ يَجْرِي فِي أَظْفَارِي ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِي عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالُوا فَمَا أَوَّلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْعِلْمَ.
Dengan sanadnya kepada Abu Sa’id Al-Khudri رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ, beliau mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: “بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ” (Ketika aku sedang tidur). “رَأَيْتُ النَّاسَ يُعْرَضُونَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ قُمُصٌ” (Aku melihat manusia diperlihatkan kepadaku—yakni dikumpulkan semuanya—dan mereka memakai pakaian). “فَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ الثُّدِيَّ وَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ دُونَ ذَلِكَ” (Di antara mereka ada yang pakaiannya hanya sampai ke dada, dan di antaranya ada yang di bawah itu). Jadi tidak sempurna. “وَمَرَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعَلَيْهِ قَمِيصٌ يَجُرُّهُ” (Lalu lewatlah Umar bin Khattab dan dia memakai pakaian yang dijulurkannya karena panjangnya pakaiannya). Yakni, maksudnya pakaian beliau menjuntai. Jika ada kain yang pendek, Umar kainnya terurai panjang. Para sahabat bertanya: “فَمَا أَوَّلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟” (Apa yang engkau takwilkan dari mimpi itu, wahai Rasulullah? Apa makna pakaian yang menjulur itu?). Beliau bersabda: “الدِّينَ” (Agama). Yakni, maksudnya di sini bahwasanya Umar memiliki pemahaman dan pengamalan agama yang melebihi yang lain.
حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أُتِيتُ بِقَدَحٍ فِيهِ لَبَنٌ فَشَرِبْتُ مِنْهُ حَتَّى إِنِّي لَأَرَى الرِّيَّ يَجْرِي فِي أَظْفَارِي ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِي عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالُوا فَمَا أَوَّلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْعِلْمَ.
Dengan sanadnya kepada Abdullah bin Umar رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ, Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: “Ketika aku sedang tidur, إِذْ أُتِيتُ بِقَدَحٍ فِيهِ لَبَنٌ (aku disuguhkan mangkuk yang di dalamnya berisi susu). فَشَرِبْتُ مِنْهُ حَتَّى إِنِّي لَأَرَى الرِّيَّ يَجْرِي فِي أَظْفَارِي (Lalu aku meminumnya sehingga aku melihat kesegarannya mengalir ke kuku-kukuku). ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِي عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ (Lalu sisa minumanku itu aku berikan kepada Umar bin Khattab). Para sahabat bertanya: فَمَا أَوَّلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ (Apa takwilmu dari mimpi itu, wahai Rasulullah?). Beliau menjawab: الْعِلْمَ (Ilmu).”
Ulama ahli takbir mimpi mengatakan: الْقَمِيصُ فِي النَّوْمِ مَكْنِيٌّ عَنِ الدِّينِ (Pakaian di dalam mimpi dimaknai sebagai agama). وَجَرُّهُ يَدُلُّ عَلَى بَقَاءِ آثَارِهِ الْجَمِيلَةِ وَسُنَنِهِ الْحَسَنَةِ فِي الْمُسْلِمِينَ بَعْدَ وَفَاتِهِ لِيُقْتَدَى بِهِ (Dan seretannya menunjukkan bahwa bekas peninggalan Umar yang indah dan sunnah-sunnahnya yang baik tetap ada di tengah-tengah kaum muslimin setelah beliau meninggal dunia agar dapat diteladani). Ini dari dua hadis tadi. Bahwa orang-orang pakaiannya pendek, sementara Umar pakaiannya panjang dan menjulur. Lalu ditafsirkan oleh Nabi bahwa pakaian dalam mimpi itu adalah agama. Berarti, agamanya Umar tidak hanya terbatas pada dirinya sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain. Ibarat kain yang isbal (menjulur ke tanah), ia meninggalkan bekas. Begitu pula kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan oleh Umar sangat membekas dan ditegakkan oleh kaum muslimin, dan hal tersebut menjadi panutan setelah wafatnya.
Dan Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah memerintahkan untuk mengikutinya. Ketika banyak perbedaan, beliau bersabda: “فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ بَعْدِي” (Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku). Solusi untuk keluar dari perbedaan adalah dengan kembali kepada sunnah Nabi dan sunnah para Khulafaur Rasyidin, di antaranya adalah Umar bin Khattab.
وَأَمَّا تَفْسِيرُ اللَّبَنِ بِالْعِلْمِ فَلِاشْتِرَاكِهِمَا فِي كَثْرَةِ النَّفْعِ وَفِي أَنَّهُمَا سَبَبُ الصَّلَاحِ. Adapun penafsiran susu dengan ilmu (dalam mimpi, susu yang ada dalam mangkuk diminum Nabi, dan sisanya diberikan kepada Umar untuk diminum) adalah karena keduanya sama-sama memiliki banyak manfaat. Susu apabila diminum akan memberikan banyak nutrisi. Ilmu, apabila dipahami dan diamalkan, akan membawa banyak kebaikan. Dan keduanya sama-sama menjadi faktor kebaikan (سَبَبُ الصَّلَاحِ). Orang yang meminum susu akan membaik kesehatannya, dan orang yang berilmu akan semakin baik amalnya.
فَاللَّبَنُ غِذَاءُ الْأَطْفَالِ وَسَبَبُ صَلَاحِهِمْ وَقُوَّتِهِمْ. Susu adalah nutrisi utama anak-anak dan menjadi penyebab kesehatan serta kekuatan jasmani mereka. وَالْعِلْمُ سَبَبُ صَلَاحِ الْأَخِرَةِ وَالدُّنْيَا. Sementara ilmu adalah penyebab keselamatan dan kebaikan urusan akhirat dan dunia kita. Ini menunjukkan kepada kita akan pentingnya menuntut ilmu, memiliki pemahaman agama, dan mengamalkan ilmu tersebut.
Jadi, Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mendapatkan mimpi yang melibatkan Umar bin Khattab. Hal ini tidaklah terjadi kecuali karena keutamaan yang dimiliki oleh Umar. Mimpi pertama ditakwilkan sebagai agama, di mana Umar meninggalkan banyak kebaikan yang menjadi teladan bagi umat setelah wafatnya. Kemudian, mimpi kedua menunjukkan keutamaan Umar dalam hal ilmu. Sampai di sini yang bisa kita ambil, bahwasanya Umar memiliki keutamaan dalam urusan agama dan ilmu, dan ilmu agama inilah yang menjadi tulang punggung untuk kebaikan di dunia dan di akhirat.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.



