Syarah Shahih Muslim: Di Antara Keutamaan-Keutamaan Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ta’ala ‘anhu #3

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. اللهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.
Kaum muslimin dan muslimat رَحِمَنِي وَرَحِمَكُمُ اللهُ. Kembali kita melanjutkan pelajaran kita dari Shahih Muslim dengan Syarah Imam Nawawi tentang keutamaan-keutamaan Abu Bakar As-Siddiq رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. Kita sampai kepada pembahasan:
سُئِلَتْ عَائِشَةُ: مَنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَخْلِفًا لَوِ اسْتَخْلَفَهُ؟ قَالَتْ: أَبُو بَكْرٍ. قِيلَ لَهَا: ثُمَّ مَنْ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ؟ قَالَتْ: عُمَرُ. قِيلَ لَهَا: مَنْ بَعْدَ عُمَرَ؟ قَالَتْ: أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ، ثُمَّ انْتَهَتْ إِلَى هَذَا.
Ketika Aisyah رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا ditanya, “Siapa yang akan ditunjuk menjadi khalifah kalau seandainya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menunjuknya?” Beliau menjawab, “أَبُو بَكْرٍ” (Abu Bakar). Lalu ada lagi yang bertanya kepadanya, “ثُمَّ مَنْ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ؟” (Lalu siapa setelah Abu Bakar?). Beliau menjawab, “عُمَرُ” (Umar). Kemudian ditanya lagi siapa setelah Umar? Beliau menjawab, “أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ” (Abu Ubaidah bin Jarrah). Kemudian pembicaraan beliau berakhir sampai di sini. Yakni وَقَفَتْ عَلَى أَبِي عُبَيْدَةَ, dia berhenti hanya sampai menyebutkan Abu Ubaidah saja.
هَذَا دَلِيلٌ لِأَهْلِ السُّنَّةِ فِي تَقْدِيمِ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ لِلْخِلَافَةِ مَعَ إِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ. Ini merupakan dalil bagi Ahli Sunnah bahwa dalam urusan khilafah, Abu Bakar As-Siddiq رَضِيَ اللهُ عَنْهُ lebih didahulukan, kemudian setelah itu Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. Abu Bakar lebih didahulukan untuk memegang tampuk khilafah disertai dengan kesepakatan para sahabat.
وَفِي هَذَا دَلَالَةٌ لِأَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّ خِلَافَةَ أَبِي بَكْرٍ لَيْسَتْ بِنَصٍّ مِنَ النَّبِيِّ عَلَى خِلَافَتِهِ صَرِيحًا. Di sini terdapat dalil bagi Ahli Sunnah bahwa kekhilafahan Abu Bakar tidak berasal dari perintah (nash) Nabi secara tersurat/nyata. بَلْ أَجْمَعَتِ الصَّحَابَةُ عَلَى عَقْدِ الْخِلَافَةِ لَهُ. Akan tetapi para sahabat sepakat untuk mengangkatnya sebagai khalifah. وَتَقْدِيمِهِ لِفَضِيلَتِهِ. Dan para sahabat sepakat mendahulukannya dalam khilafah karena keutamaan serta kedudukan Abu Bakar.
وَلَوْ كَانَ هُنَاكَ نَصٌّ عَلَيْهِ أَوْ عَلَى غَيْرِهِ لَمْ تَقَعِ الْمُنَازَعَةُ مِنَ الْأَنْصَارِ وَغَيْرِهِمْ أَوَّلًا. Jika seandainya ada nash (teks perintah) atas Abu Bakar atau terhadap yang lainnya, tentu tidak akan terjadi perdebatan, perselisihan, atau protes dari kaum Anshar dan yang lainnya pada awal kejadian di Tsaqifah Bani Saidah. Saat itu kaum Anshar mengajukan bahwa mereka yang berhak mendapatkan tugas khilafah. Terjadi perdebatan dan diskusi yang bermuara kepada pengangkatan Abu Bakar. Kalau seandainya ada nash, tentu tidak ada kejadian itu lagi.
وَلَذَكَرَهُ حَافِظُ النَّصِّ مَعَهُ. Tentu akan disebutkan oleh orang yang menghafal nash tersebut sebagai referensi, لَكِنْ تَنَازَعُوا أَوَّلًا وَلَمْ يَكُنْ هُنَاكَ نَصٌّ عَلَى أَبِي بَكْرٍ، ثُمَّ أَجْمَعُوا، فَاسْتَقَرَّ الْأَمْرُ. Akan tetapi pada awalnya mereka berselisih karena belum ada perintah teks secara konkret atas Abu Bakar. Kemudian mereka sepakat kekhilafahan itu pada Abu Bakar sehingga urusannya menjadi stabil.
وَمَا يَدَّعِيهِ الشِّيعَةُ مِنْ نَصِّ النَّبِيِّ لِعَلِيٍّ وَالْوَصِيَّةِ لَهُ، فَهُوَ بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَهُ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ. Adapun apa yang didakwakan oleh orang Syiah bahwasanya ada nash dari Nabi untuk Ali رَضِيَ اللهُ عَنْهُ dan adanya wasiat untuk itu, maka dakwaan ini adalah batil dan tidak ada asalnya menurut kesepakatan kaum muslimin. وَاتِّفَاقُهُمْ عَلَى بُطْلَانِ دَعْوَاهُمْ مِنْ زَمَانِ عَلِيٍّ. Kesepakatan atas batalnya pengakuan mereka itu sudah terjadi sejak zaman Ali. وَأَوَّلُ مَنْ كَذَّبَهُمْ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِقَوْلِهِ: مَا عِنْدَنَا إِلَّا مَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ. Orang pertama yang mendustakan mereka adalah Ali رَضِيَ اللهُ عَنْهُ sendiri dengan ungkapannya, “مَا عِنْدَنَا إِلَّا مَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ” (Kami tidak memiliki sesuatu kecuali apa yang ada di dalam lembaran ini).
وَلَوْ كَانَ عِنْدَهُ نَصٌّ لَذَكَرَهُ، وَلَمْ يُنْقَلْ أَنَّهُ ذَكَرَهُ يَوْمًا، وَلَا أَحَدٌ ذَكَرَهُ لَهُ، وَاللهُ أَعْلَمُ. Kalau seandainya Ali memiliki nash perintah dari Rasulullah untuk diangkat, tentu pasti sudah beliau sebutkan. Tidak pernah dinukilkan bahwasanya Ali pada satu hari pun pernah menyebutnya, dan tidak ada seorang pun dari sahabat yang menyebutkannya kepada Ali. Apa yang didakwahkan oleh Rafidah (orang Syiah) adalah batil.
وَأَمَّا فِي الْحَدِيثِ الَّذِي بَعْدَ هَذَا لِلْمَرْأَةِ: فَإِنْ لَمْ تَجِدِينِي فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ. فَلَيْسَ فِيهِ نَصٌّ عَلَى خِلَافَتِهِ، وَلَا أَمْرٌ بِهَا، بَلْ هُوَ إِخْبَارٌ بِالْغَيْبِ الَّذِي أَعْلَمَهُ اللهُ تَعَالَى لِرَسُولِهِ. Adapun hadis setelah ini mengenai seorang perempuan yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mendatangimu tapi tidak menemuimu?” Lalu Nabi bersabda, “Jika engkau tidak menjumpaiku, datanglah kepada Abu Bakar.” Ini bukanlah nash nyata atas kekhilafahannya dan bukan pula perintah, melainkan berita gaib yang diajarkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada Rasul-Nya.
Hadis berikutnya:
حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللهِ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، أَخْبَرَنَا صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ: ادْعِي لِي أَبَا بَكْرٍ أَبَاكِ وَأَخَاكِ حَتَّى أَكْتُبَ كِتَابًا، فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ وَيَقُولُ قَائِلٌ: أَنَا أَوْلَى، وَيَأْبَى اللهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ.
Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا menceritakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda kepadanya saat beliau sakit: “ادْعِي لِي أَبَا بَكْرٍ أَبَاكِ وَأَخَاكِ” (Panggillah untukku Abu Bakar bapakmu dan saudaramu—yakni Abdurrahman bin Abu Bakar), “حَتَّى أَكْتُبَ كِتَابًا” (sampai aku tuliskan sebuah tulisan), “فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ” (karena aku khawatir munculnya seorang yang berangan-angan), dan ada yang mengatakan, “أَنَا أَوْلَى” (Akulah yang lebih berhak). “وَيَأْبَى اللهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ” (Sedangkan Allah dan orang-orang mukmin enggan kecuali untuk Abu Bakar).
Imam Nawawi menjelaskan ungkapan أَنَا أَوْلَى maknanya أَنَا أَحَقُّ (aku lebih berhak). وَيَأْبَى اللهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ. Allah dan orang mukmin tidak mau kecuali kepemimpinan itu diberikan kepada Abu Bakar. Bagaimanapun keinginan orang, tetap itu adalah Abu Bakar.
Hadis ini mengandung dalil:
- دَلَالَةٌ ظَاهِرَةٌ لِفَضْلِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ. Dalil yang jelas akan keutamaan Abu Bakar As-Siddiq.
- إِخْبَارٌ مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا سَيَقَعُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ بَعْدَ وَفَاتِهِ. Pemberitahuan dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ akan sesuatu yang akan terjadi setelah beliau wafat, yaitu kaum muslimin tidak mau menetapkan kekhilafahan selain Abu Bakar.
- فِيهِ إِشَارَةٌ أَنَّهُ سَيَقَعُ نِزَاعٌ. Adanya isyarat bahwa akan terjadi perselisihan nantinya, dan semua itu benar-benar terjadi (وَقَعَ كُلُّ ذَلِكَ).
Adapun permintaan Nabi untuk mendatangkan Abu Bakar dan saudaranya Aisyah, وَالْمُرَادُ أَنَّهُ يَكْتُبُ الْكِتَابَ, maksudnya adalah untuk menuliskan wasiat tersebut. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari: لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أُرْسِلَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ وَابْنِهِ وَأَعْهَدَ. (Sungguh aku sudah berkeinginan untuk mengutus kepada Abu Bakar dan anaknya dan memberikan janji/mandat).
Namun karena kondisi sakit Nabi yang semakin berat, beliau tidak bisa hadir shalat berjamaah. Beliau memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami manusia dan meminta izin kepada istri-istrinya agar diizinkan dirawat di rumah Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا. Dari sini kita melihat keutamaan Abu Bakar bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengedepankannya untuk mengimami shalat.
Ketika Nabi menyuruh Abu Bakar menjadi imam, Aisyah berkata, “Ya Rasulullah, Abu Bakar itu orangnya lembut hatinya, beliau mudah menangis kalau shalat sehingga suaranya tidak terdengar. Suruh saja Umar yang suaranya lantang.” Namun Rasulullah tetap memerintahkan, “Abu Bakar.” Aisyah mengusulkan lagi, “Umar saja.” Nabi tetap bersabda, “Abu Bakar.” Ulama menjelaskan bahwa ini merupakan cara untuk memastikan dan menegaskan bahwa Rasulullah memang benar-benar mendahulukan Abu Bakar daripada Umar. Di sinilah terlihat jelas keutamaan Abu Bakar.
وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ. Ini yang dapat kita sampaikan. Semoga bermanfaat. Adapun klaim Syiah tentang khilafah yang hanya untuk keturunan beliau adalah batil dan tidak ada dalilnya. وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.




