Kajian KitabSyarah Shahih Muslim

Syarah Shahih Muslim: Bab – Menghormati Nabiﷺdan Larangan Banyak Bertanya


[MUKADIMAH]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ سَهْلًا. يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ

[BAB MENGHORMATI NABI DAN LARANGAN BANYAK BERTANYA]

بَابُ تَوْقِيرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرْكِ إِكْثَارِ سُؤَالِهِ عَمَّا لَا ضَرُورَةَ إِلَيْهِ أَوْ لَا يَتَعَلَّقُ بِهِ تَكْلِيفٌ وَمَا لَا يَقَعُ وَنَحْوُ ذَلِكَ

Bab menghormati Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan meninggalkan sikap sering bertanya (banyak bertanya) kepada Nabi pada perkara-perkara yang tidak diperlukan, atau yang tidak ada kepentingan dengannya, atau tidak ada kaitannya dengan taklif (pembebanan syariat), dan perbuatan yang tidak terjadi, dan semisalnya. Maksudnya di sini adalah bab ini menerangkan tentang menghormati dan memuliakan Rasulullah. Bagaimana cara kita memuliakannya, menghormatinya. Dan yang kedua pembahasannya adalah meninggalkan sikap sering bertanya pada perkara-perkara yang tidak penting, atau tidak ada kaitannya dengan taklif atau pembebanan atau penugasan, dan perkara-perkara yang tidak akan terjadi. Karena ada orang yang suka bertanya sesuatu yang tidak akan terjadi atau yang semisalnya.

Ada beberapa hadis di sini, di antaranya adalah:

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى التُّجِيبِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ قَالَا كَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

Dengan sanadnya kepada Abu Hurairah radhiallahu taala anhu, beliau menceritakan bahwasanya beliau mendengar Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ “Apa yang aku telah larang kalian darinya, maka tinggalkanlah.” Hal-hal yang dilarang, tinggalkan.

وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Dan perkara yang aku perintahkan kalian untuknya, lakukanlah sebagian dari yang diperintahkan itu apa yang mampu kamu lakukan.”

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu hancur disebabkan oleh banyaknya pertanyaan mereka dan sikap perselisihan mereka dengan nabi-nabi mereka.”

Jadi orang-orang sebelum kita, kaumnya atau nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad, kaumnya suka bertanya. Suka bertanya di sini ini adalah ngeyel gitu loh. Seperti yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Baqarah tentang orang Yahudi yang disuruh untuk menyembelih sapi. Dia tanya sapi yang seperti apa? Warnanya apa? Banyak tanya-tanya hampir mereka tidak menjalankannya. Itu maksud dari sering bertanya.

وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ Yang menghancurkan mereka juga adalah sukanya mereka menyelisihi nabi mereka. Nabi mengatakan A, mereka mengatakan B.

Dari riwayat yang lain, Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:

ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Biarkan aku selama aku meninggalkan kalian (yakni tidak menggubris kalian). Apa yang kalian ditinggalkan yakni dibiarkan.”

Jadi kalau tidak ada perintah, ya jangan diungkit-ungkit, tanya-tanya.

Imam Nawawi dia mengatakan maksud dari hadis-hadis dalam bab ini:

مَقْصُودُ أَحَادِيثِ الْبَابِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَاهُمْ عَنْ إِكْثَارِ السُّؤَالِ وَالِابْتِدَاءِ بِالسُّؤَالِ عَمَّا لَا يَقَعُ

“Bahwasanya Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melarang mereka dari suka bertanya atau banyak bertanya dan melarang mereka dari melontarkan pertanyaan tentang sesuatu yang tidak terjadi.”

[HADIS TENTANG ORANG YANG PALING BESAR DOSANYA DALAM BERTANYA]

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ فِي الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فَحُرِّمَ عَلَيْه1ِمْ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

Dengan sanad kepada Sa’ad bahwasanya Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ فِي الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا “Sesungguhnya orang muslim yang paling besar kesalahannya di dalam muslim (orang yang memiliki kesalahan yang paling besar di tengah-tengah kaum muslimin) adalah…”

مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فَحُرِّمَ عَلَيْهِمْ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ “…orang yang bertanya tentang sesuatu di mana sesuatu tersebut belum diharamkan kepada kaum muslimin, lantas diharamkan kepada mereka gara-gara pertanyaannya.”

Ya, ini adalah gara-gara pertanyaannya yang tadi dibiarin aja. ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ “Biarkan aja kalau kalian tidak digubris gitu.” Ketika tidak disinggung-singgung permasalahan, jangan ditanya. Jangan-jangan ketika ditanya yang tadinya dibiarkan ternyata diharamkan. Inilah kata Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, orang muslim yang paling besar kesalahannya di tengah-tengah muslim adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang belum diharamkan kepada kaum muslimin, lalu setelah dia bertanya diharamkan. Itu kapan itu pertanyaannya? Pada zaman tasyri’ ya, pada zaman di syariat atau penetapan syariat.

وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ أَحْفَظُ مِمَّا أَحْفَظُهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الزُّهْرِيُّ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْظَمُ الْمُسْلِمِينَ فِي الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ أَمْرٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ عَلَى النَّاسِ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

Dengan sanad kepada Sa’ad, Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan: “Orang muslim yang paling besar kesalahannya di tengah-tengah muslim adalah orang yang bertanya tentang satu perkara yang belum diharamkan, lantas diharamkan kepada manusia gara-gara pertanyaannya.”

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مِثْلَ حَدِيثِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ وَزَادَ فِي حَدِيثِ مَعْمَرٍ وَرَجُلٌ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ وَنَقَّرَ عَنْهُ

Dengan sanadnya kepada Zuhri di mana di dalam riwayat atau jalurnya Ma’mar bahwa di situ ada penambahan:

وَرَجُلٌ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ وَنَقَّرَ عَنْهُ

“Seseorang bertanya tentang sesuatu lantas dia naqqara anhu (melecehkannya atau meremehkannya).”

[PENJELASAN MAKNA “JURM” DAN “NAQQARA”]

Imam Nawawi mengatakan:

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ فِي الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ عَلَيْهِمْ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

“Orang yang paling besar dosanya atau kesalahannya di tengah-tengah kaum muslimin adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang belum diharamkan kepada kaum muslimin, lantas diharamkan kepada mereka gara-gara pertanyaan tersebut.”

Dalam riwayat yang lain: مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ وَنَقَّرَ عَنْهُ

Siapa yang bertanya tentang sesuatu lalu dia naqqara anhu.

أَيْ بَالَغَ فِي الْبَحْثِ عَنْهُ وَالِاسْتِقْصَاءِ

Artinya dia bersungguh-sungguh ya, naqqara anhu di sini diartikan seorang bertanya tentang sesuatu lalu dia mencelanya, ya bukan, bukan mencelanya, tapi dia bersungguh-sungguh dalam mengkajinya (ngeyel).

قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ الْمُرَادُ بِالْجُرْمِ هُنَا الْإِلْحَافُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ

Maksud kesalahan (jurm) ya adalah memberikan beban kepada kaum muslimin. Orang yang paling memberikan beban kepada kaum muslimin adalah orang yang bertanya sesuatu yang tidak diharamkan lalu diharamkan gara-gara pertanyaannya. Jadi menyusahkan orang aja. Tadi dibiarkan tidak diharamkan, eh tahu-tahu setelah ditanya menjadi diharamkan. Itu menyusahkan namanya ya.

لَا أَنَّهُ الْجُرْمُ الَّذِي هُوَ الْإِثْمُ وَالْمُعَاقَبُ عَلَيْهِ

Bukan maksud di sini kesalahan yang itu adalah dosa yang akan dihukum, diberikan hukuman.

لِأَنَّ السُّؤَالَ كَانَ مُبَاحًا

Karena bertanya itu adalah boleh.

وَلِهَذَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلُونِي

Oleh karena itu, Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan, kata Nabi: “Ya, mintalah kepadaku atau bertanyalah kepadaku.”

هَذَا كَلَامُ الْقَاضِي

Ini adalah perkataan Qadhi ‘Iyadh.

Imam Nawawi mengatakan:

وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ الْقَاضِي ضَعِيفٌ بَلِ الصَّوَابُ الَّذِي قَالَهُ الْخَطَّابِيُّ وَصَاحِبُ التَّحْرِيرِ وَغَيْرُهُمَا

Yang benar itu adalah apa yang dikatakan oleh Khattabi dan pemilik kitab At-Tahrir serta mayoritas ulama dalam syarah hadis ini bahwa makna dari jurm (kesalahan) tadi adalah dosa. Orang yang paling besar dosanya gitu.

وَأَصْلُ الْجَرْمِ بِالْفَتْحِ وَالضَّمِّ: الْكَسْبُ

Secara bahasa jaram di sini adalah dengan fathah jim, jarama wajtarama watajarama, apabila إِذَا أَثِمَ (apabila dia berdosa).

Al-Khattabi dan yang lain mengatakan hadis-hadis ini:

فِيمَنْ سَأَلَ تَكَلُّفًا وَتَعَنُّتًا فِي مَا لَا حَاجَةَ بِهِ إِلَيْهِ

Pada orang yang bertanya takallufan (yang bertanya itu dibuat-buat pertanyaannya, yakni pertanyaan yang akal-akalan gitu), ta’annutan (bertanya karena keras kepala), pada perkara-perkara yang tidak diperlukan (la hajata bihi ilaih), tidak diperlukan, enggak perlu tanya yang bermacam-macam.

فَأَمَّا مَنْ سَأَلَ لِضَرُورَةٍ بِأَنْ وَقَعَتْ لَهُ مَسْأَلَةٌ فَسَأَلَ عَنْهَا فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَلَا عَتْبَ

Adapun orang bertanya karena kedaruratan, karena kepentingan, karena hal yang ditanyakan itu terjadi pada dirinya, lalu dia bertanya tentang perkara yang terjadi pada dirinya, maka tidak ada dosa baginya dan tidak ada celaan. Ya, tidak perlu dicela orang yang bertanya karena memang dia shahiib kasus ya, pemilik kasus itu.

لِقَوْلِهِ تَعَالَى فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ

Karena Allah Subhanahu mengatakan: “Bertanyalah kepada ahli zikr,” yakni ulama atau orang yang berilmu.

قَالَ صَاحِبُ التَّحْرِيرِ وَغَيْرُهُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَنْ عَمِلَ مَا فِيهِ إِضْرَارٌ بِغَيْرِهِ كَانَ آثِمًا

Berdasarkan dari yang telah berlalu, menunjukkan kepada kita ada dalil bahwa orang yang melakukan sebuah perbuatan yang di dalam perbuatan itu bisa membahayakan orang lain maka dia berdosa. Siapa yang melakukan satu pekerjaan atau perbuatan yang di dalamnya membahayakan orang lain, maka dia berdosa. Dari mana kita ambil? Dari hadis ini ya. Yaitu orang yang bertanya, dek garo-garo inyo batanyo membebani orang lain ya, gara-gara dia bertanya menjadikan orang lain menjadi dapatkan beban, ya itu itu adalah memudaratkannya ya. Jadi, maka hati-hati walaupun kita hanya sebatas penyebab tapi sama dengan kita pelaku.

[HADIS TENTANG LARANGAN BANYAK BERTANYA & ASBABUN NUZUL AYAT]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ غَيْلَانَ وَمُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ السُّلَمِيُّ وَيَحْيَى بْنُ مُحَمَّدٍ اللُّؤْلُؤِيُّ – وَأَلْفَاظُهُمْ مُتَقَارِبَةٌ – قَالُوا حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَصْحَابِهِ شَيْءٌ فَخَطَبَ فَقَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ2 وَلَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ ق3َلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا قَالَ فَمَا أَتَى عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمٌ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ غَطَّوْا رُءُوسَه4ُمْ وَلَهُمْ خَنِينٌ قَالَ فَقَامَ عُمَرُ فَقَالَ رَضِينَا5 بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَب6ِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا قَالَ فَقَامَ ذَاكَ الرَّج7ُلُ فَقَالَ مَنْ أَبِي قَالَ أَبُوكَ فُلَانٌ فَنَز8َلَتْ9 (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ)10

Dengan sanadnya kepada Anas bin Malik, dia mengatakan: بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَصْحَابِهِ شَيْءٌ “Sampai satu berita kepada Nabi dari sahabat-sahabatnya atau tentang sahabat-sahabatnya.” فَخَطَبَ Lalu Nabi berdiri di hadapan para sahabat dan berbicara. Lalu beliau mengatakan:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ

“Diperlihatkan kepadaku surga dan neraka. Aku tidak pernah melihat satu hari seperti hari ini di dalam keburukan dan kebaikan.”

وَلَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Kalau seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, pasti kalian akan ketawanya sedikit, nangisnya banyak.”

قَالَ فَمَا أَتَى عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمٌ أَشَدُّ مِنْهُ

Lalu Anas bin Malik mengatakan: “Tidak ada satu hari yang lebih berat daripada hari itu yang datang kepada sahabat-sahabat Nabi.”

قَالَ غَطَّوْا رُءُوسَهُمْ وَلَهُمْ خَنِينٌ

Lalu Anas mengatakan: “Para sahabat Nabi pada saat itu mereka menutup kepalanya dan mengeluarkan tangisan ya (mengeluarkan suara tangis yang tertahan).”

قَالَ فَقَامَ عُمَرُ فَقَالَ رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا

Lalu Anas menjelaskan, Umar berdiri dan berkata: “Kami rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi.”

قَالَ فَقَامَ ذَاكَ الرَّجُلُ فَقَالَ مَنْ أَبِي قَالَ أَبُوكَ فُلَانٌ

Lalu ada orang bertanya, berdiri dan bertanya: “Bapakku siapa?” Nabi menjawab: “Bapakmu ini si fulan namanya.”

فَنَزَلَتْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ

Maka turunlah firman Allah: “Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian menanyakan tentang sesuatu jika seandainya diberi keterangan kepada kalian, justru itu menyusahkan kalian.”

Jangan tanya. Kalau nanti dijelaskan malah menjadi susah. Hampir sama begini: “Jawablah pertanyaan ini dalam ujian nih.” Jawab pertanyaan ini. Lalu ada datang pertanyaan dari murid-murid, “Pertanyaan yang mana? Berapa yang akan dijawab? Berapa poin? Berapa? Berapa?” Akhirnya, “Sudah tolong buatkan lima poin dalam setiap jawaban.” Yang tadi satu poin aja boleh. Lalu ketika ditanya berapa poin, sebutlah lima poin. Akhirnya memberatkan yang bersangkutan.

Jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang untuk bertanya tentang sesuatu kalau seandainya dijelaskan nanti malahan memberatkan. Atau kalau gitu kita enggak usah tanya? Enggak. Kalau seandainya perkara yang akan kita laksanakan, sehingga kita harus mengilmui, maka kita perlu tanya. Tapi bukan dalam rangka ta’annut, bukan dalam rangka keras kepala, bertanya untuk mengakal-akali, tidak. Tapi bertanya tentang sesuatu yang jika sudah jelas kita laksanakan. Tidak seperti orang Yahudi yang bertanya karena hampir mereka untuk meninggalkannya.

[PENJELASAN ULAMA TENTANG SIKAP NABI]

قَالَ الْعُلَمَاءُ هَذَا مِنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ أُوحِيَ إِلَيْهِ

Ketika para sahabat sudah sering bertanya kepada Nabi, malahan Nabi mengatakan: “Saluni (tanyalah kepadaku).” Kan ada orang bertanya, “Bapakku siapa?” Lalu satu lagi, “Kalau gitu bapakku siapa?” Akhirnya Nabi mengatakan, “Sudah tanyalah semuanya.” Nah, gitu. Yakni ulama mengatakan bahwa Nabi diberi wahyu ya.

وَإِلَّا فَلَا يَعْلَمُ كُلَّ مَا سُئِلَ عَنْهُ مِنَ الْغَيْبِيَّاتِ إِلَّا بِإِعْلَامِ اللَّهِ تَعَالَى

Ini ketika Nabi mengatakan “tanyakan kepadaku, saya akan jawab,” begitulah maknanya. Ini menunjukkan bahwa Nabi diberi wahyu oleh Allah. Kalau tidak diberi wahyu, dia tidak akan mengetahui setiap apa yang ditanyakan kepadanya dari perkara-perkara yang gaib, kecuali itu diberitahu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Qadhi ‘Iyadh mengatakan:

ظَاهِرُ الْحَدِيثِ أَنَّ قَوْلَهُ سَلُونِي إِنَّمَا كَانَ غَضَبًا

Zahirnya dari perkataan ini, “tanyakan kepadaku,” ini karena dia marah. Jadi kalau dibawa ke bahasa awak, “atanyah sadonyo.” Ya, ini menunjukkan adanya sikap yang tidak suka dengan pertanyaan itu.

كَمَا قَالَ فِي رِوَايَةٍ أُخْرَى سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَشْيَاءَ كَرِهَهَا فَلَمَّا أُكْثِرَ عَلَيْهِ غَضِبَ ثُمَّ قَالَ لِلنَّاسِ سَلُونِي

Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang lain, Nabi ditanya tentang banyak perkara lalu beliau tidak menyukai. Ketika pertanyaan itu semakin banyak dilontarkan kepada beliau, beliau marah. Kemudian Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan setelah itu: “Saluni (tanyalah kepadaku).” Ah, tanya benarlah, ah gitu ya. Tanyalah katanya.

اخْتِيَارُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرْكَ تِلْكَ الْمَسَائِلِ لَكِنْ لَمَّا وَافَقَ فِي جَوَابِهَا

Sebenarnya yang pilih Nabi itu adalah tidak bertanya lagi, akan tetapi berkesesuaian di dalam keinginan mereka jawaban mereka.

وَإِنَّمَا لِأَنَّهُ لَا يُمْكِنُهُ رَدُّ السُّؤَالِ

Karena dalam kondisi itu tidak mungkin dia akan menolak pertanyaan. Ketika Nabi melihat adanya semangat dari para sahabat pada saat itu.

أَمَّا بُرُوكُ عُمَرَ

Adapun berlututnya Umar. Dalam riwayat dikatakan bahwasanya Umar ini berlutut ya di hadapan Nabi.

وَقَوْلُهُ إِنَّمَا فَعَلَهُ أَدَبًا وَإِكْرَامًا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَفَقَةً عَلَى الْمُسْلِمِينَ أَنْ يُؤْذُوا النَّبِيَّ

Umar melakukan demikian gara-gara (berlutut ke hadapan Nabi) sebagai sikap adab dan memuliakan Rasulullah, dan bentuk kasihan kepada kaum muslimin agar kaum muslimin tidak menyakiti Nabi. Tapi kalau menyakiti Nabi bisa membinasakan mereka ya.

وَمَعْنَى رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا أَيْ بِمَا مَعَكَ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ عَنْ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kami sudah rida dengan kitabullah yang ada pada kami.” Yakni cukup bagi kami apa yang sudah ada dalam kitabullah dan sunah Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

فَفِيهِ أَبْلَغُ كِفَايَةٍ عَنِ الْمَسْأَلَةِ

Hal itu sudah mencukupkan kami dari bertanya.

Wallahu taala a’lam. Sampai di sini dulu yang bisa kita sampaikan. Mudah-mudahan bisa kita tambah ya pada pertemuan berikutnya. Hal-hal yang bisa kita ambil pelajaran yang intinya adalah hendaklah kita selalu berusaha memuliakan Nabi, dan para sahabat dilarang untuk banyak bertanya dan itu adalah pada masa-masa penetapan syariat. Adapun sekarang ya syariah itu sudah jelas, kalau bertanya adalah dalam rangka untuk mengetahui supaya bisa diamalkan sesuai dengan yang diinginkan atau SOP yang dilakukan oleh Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Tidak di dalam mengakibatkan pencetusan syariat. Karena sesuatu itu tidak ada lagi yang bisa mengharamkan. Ya, dia tidak tahu, bertanya supaya lebih tahu lagi, lebih mendalam boleh, tapi bukan dalam rangka akal-akalan ya atau keras kepala.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ


Related Articles

Back to top button