Syarah Shahih Muslim: Bab – Kedekatan Nabiﷺ dan Tabaruk Para Sahabat

اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ سَهْلًا، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ
Kaum muslimin dan muslimat rahimani wa rahimakumullah, kembali kita melanjutkan kajian Sahih Muslim dengan Syarah Imam Nawawi. Kita berada di dalam Kitab Fadhail atau kitab keutamaan-keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bab: Kedekatan Nabi dan Tabaruk Para Sahabat
Bab ini berjudul: بَابُ قُرْبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ النَّاسِ وَتَبَرُّكِهِمْ بِهِ (Bab dekatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan manusia dan upaya mereka mencari keberkahan dengannya).
Maksud dari judul ini adalah mukhalaatah, yakni hubungan pergaulan dan keakraban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan manusia. Serta وَتَبَرُّكِهِمْ بِهِ (dan manusia—yakni para sahabat—mencari keberkahan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), yakni berharap mendapatkan keberkahan dari Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadis Pertama: Bejana Air Penduduk Madinah
حَدَّثَنَا مُجَاهِدُ بْنُ مُوسَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ النَّضْرِ وَهَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ جَمِيعًا عَنْ أَبِي النَّضْرِ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ يَعْنِي هَاشِمَ بْنَ الْقَاسِمِ، قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ جَاءَ خَدَمُ الْمَدِينَةِ بِآنِيَتِهِمْ فِيهَا الْمَاءُ، فَمَا يُؤْتَى بِإِنَاءٍ إِلَّا غَمَسَ يَدَهُ فِيهَا، وَرُبَّمَا جَاءُوهُ فِي الْغَدَاةِ الْبَارِدَةِ فَيَغْمِسُ يَدَهُ فِيهَا
Dengan sanadnya kepada Anas bin Malik radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dia mengatakan: “Biasanya apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai melaksanakan salat subuh (إِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ), maka datanglah para pelayan di Kota Madinah membawa bejana-bejana mereka yang berisi air. فَمَا يُؤْتَى بِإِنَاءٍ إِلَّا غَمَسَ يَدَهُ فِيهَا (Tidaklah ada satu bejana pun yang disodorkan kepada beliau kecuali beliau mencelupkan tangan beliau ke dalam bejana tersebut). وَرُبَّمَا جَاءُوهُ فِي الْغَدَاةِ الْبَارِدَةِ فَيَغْمِسُ يَدَهُ فِيهَا (Barangkali sebagian dari pelayan tersebut datang pada waktu subuh yang sangat dingin, namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap mencelupkan tangan beliau ke dalam bejana tersebut).”
Hadis Kedua: Rambut Rasulullah
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَلَّاقُ يَحْلِقُهُ، وَأَطَافَ بِهِ أَصْحَابُهُ، فَمَا يُرِيدُونَ أَنْ تَقَعَ شَعْرَةٌ إِلَّا فِي يَدِ رَجُلٍ
Dengan sanadnya kepada Anas bin Malik, dia mengatakan: “Sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang dicukur oleh tukang cukur, وَأَطَافَ بِهِ أَصْحَابُهُ (sementara para sahabat berdiri mengelilingi beliau). Jadi ketika beliau sedang dicukur, sahabat-sahabat berdiri mengelilingi beliau. فَمَا يُرِيدُونَ أَنْ تَقَعَ شَعْرَةٌ إِلَّا فِي يَدِ رَجُلٍ (Mereka tidak menginginkan satu helai rambut pun yang jatuh kecuali jatuh berada di tangan salah seorang laki-laki di antara mereka). Jadi betul-betul mereka mengambil rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Hadis Ketiga: Wanita yang Membutuhkan Bantuan
وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ… عَنْ أَنَسٍ: أَنَّ امْرَأَةً كَانَ فِي عَقْلِهَا شَيْءٌ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً! فَقَالَ: يَا أُمَّ فُلَانٍ انْظُرِي أَيَّ السِّكَكِ شِئْتِ حَتَّى أَقْضِيَ لَكِ حَاجَتَكِ، فَخَلَا مَعَهَا فِي بَعْضِ الطُّرُقِ حَتَّى فَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا
Dengan sanadnya kepada Anas bin Malik: “Bahwasanya ada seorang wanita yang terganggu akalnya (كَانَ فِي عَقْلِهَا شَيْءٌ), lalu wanita itu mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku membutuhkan sesuatu darimu.’ Maka beliau menjawab: يَا أُمَّ فُلَانٍ انْظُرِي أَيَّ السِّكَكِ شِئْتِ حَتَّى أَقْضِيَ لَكِ حَاجَتَكِ (Wahai Ummu Fulan, lihatlah sudut jalan mana yang engkau inginkan hingga aku dapat memenuhi kebutuhanmu). فَخَلَا مَعَهَا فِي بَعْضِ الطُّرُقِ (Lalu beliau berdiri dengan wanita tersebut di sebagian sudut jalan), sampai wanita itu selesai dari keperluannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Penjelasan (Syarah) dan Faedah Hadis
Imam Nawawi mengatakan setelah mencantumkan tiga hadis di atas: هَذِهِ الْأَحَادِيثُ فِيهَا بَيَانُ قُرْبِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ النَّاسِ… لِيَصِلَ أَهْلُ الْحُقُوقِ إِلَى حُقُوقِهِمْ، وَيُرْشِدَ مُسْتَرْشِدَهُمْ، وَيُشَاهِدُوا أَفْعَالَهُ وَحَرَكَاتِهِ فَيُقْتَدَى بِهَا “Hadis-hadis ini terdapat penjelasan tentang berbaurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan masyarakat.”
Beliau tidak hanya di rumah saja, tetapi hadir di tengah-tengah masyarakat. Hadis ini menjelaskan kedekatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan masyarakatnya. Untuk apa gunanya?
- لِيَصِلَ أَهْلُ الْحُقُوقِ إِلَى حُقُوقِهِمْ (Agar setiap pemilik hak mendapatkan hak mereka masing-masing).
- وَيُرْشِدَ مُسْتَرْشِدَهُمْ (Dan memberikan bimbingan serta penjelasan kepada orang yang berkonsultasi dengan beliau).
- وَيُشَاهِدُوا أَفْعَالَهُ وَحَرَكَاتِهِ فَيُقْتَدَى بِهَا (Agar para sahabat atau masyarakat melihat perbuatan dan gerak-gerik beliau sehingga bisa dicontoh).
وَهَكَذَا يَنْبَغِي لِوُلَاةِ الْأُمُورِ Begitulah seyogianya yang sepantasnya dilakukan oleh pemimpin muslim bersama rakyatnya. Hendaklah dia membaur sehingga dia tahu, bisa mendengar langsung dari rakyatnya akan kebutuhan-kebutuhan mereka. Jika ada yang perlu, dia langsung memberikan keperluannya tadi. Seperti yang terjadi dengan seorang wanita tersebut, Nabi sampaikan: “Di mana kita ketemu, di mana sudut jalan mana kita melakukannya?” Yakni beliau mau mendengar kebutuhan dia sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu apa kebutuhannya dan memberikannya.
Faedah Kedua: Kesabaran Nabi
وَفِيهَا صَبْرُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمَشَقَّةِ فِي نَفْسِهِ لِمَصْلَحَةِ الْمُسْلِمِينَ Di dalam hadis di atas terdapat pelajaran tentang kesabaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atas kesulitan yang menimpa diri beliau demi kemaslahatan kaum muslimin. Orang datang kepada beliau untuk meminta keberkahan; mereka membawa air di dalam bejana mereka. Nabi mencelupkan tangannya walaupun terkadang pada waktu musim dingin dan itu menjadi beban terhadap dirinya. Namun, beliau tetap bersabar untuk kemaslahatan rakyatnya dan kaum muslimin.
Koreksi Teologis Mengenai Tabaruk (Mencari Berkah)
وَإِجَابَةُ مَنْ سَأَلَهُ حَاجَةً أَوْ تَبْرِيكًا بِمَسِّ يَدِهِ وَإِدْخَالِهَا فِي الْمَاءِ كَمَا ذَكَرُوا Dalam hadis ini juga terdapat penjelasan tentang sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memenuhi permintaan seseorang, baik untuk sebuah kebutuhan atau untuk mencari keberkahan dengan sentuhan tangan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau dengan memasukkan tangan itu ke dalam bejana sebagaimana yang telah diceritakan oleh para sahabat.
Namun, Imam Nawawi mengatakan: وَفِيهِ التَّبَرُّكُ بِآثَارِ الصَّالِحِينَ (Di sini terdapat dalil mencari keberkahan dengan bekas-bekas barang yang disentuh oleh orang-orang saleh atau peninggalan orang saleh).
Ini adalah sebuah kekeliruan yang dialami oleh Imam Nawawi dan Ibnu Hajar. Waktu kita kuliah dulu, kita belajar dengan Syekh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, beliau menjelaskan: وَهَذَا خَطَأٌ خِلَافُ أَهْلِ السُّنَّةِ، بَلْ إِنَّهُ لَا يَجُوزُ “Keterangan ini adalah keliru, berbeda dengan pendapat Ahlussunnah wal Jamaah. Bahkan sesungguhnya hal itu tidak boleh.”
Kenapa tidak boleh? Karena ini tidak bisa dikiaskan (dianalogikan). Syekh juga mengatakan: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُتَبَرَّكُ بِنَفْسِهِ وَبِمَا يَتَفَضَّلُ مِنْهُ مِثْلُ شَعْرِهِ وَوُضُوئِهِ “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa dicari keberkahan dengan diri beliau dan apa yang tersisa dari beliau, termasuk rambut dan air wudu beliau.”
أَمَّا مَنْ بَعْدَهُ فَلَا يَجُوزُ التَّبَرُّكُ بِنَفْسِهِ وَلَا بِمَا يَتَفَضَّلُ مِنْهُ “Adapun orang setelah beliau, maka tidak boleh mengambil berkah dari dirinya dan tidak juga dari apa yang tersisa darinya.”
Coba kita lihat, pernahkah para sahabat mengambil berkah dari Abu Bakar, padahal dia adalah orang yang terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Dengan Umar, Utsman, atau Ali? Tidak ada. Apatah lagi dengan orang-orang saleh yang belum mendapatkan rekomendasi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk surga. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan enam sahabat lainnya (sepuluh orang yang dijamin masuk surga) tidak pernah dijadikan objek tabaruk oleh para sahabat lain, baik dengan diri mereka maupun bekas barang mereka.
Maka oleh karena itu, pemahaman para sahabat itulah yang benar di dalam memahami agama ini. Ini adalah kekeliruan dari Imam Nawawi, juga Ibnu Hajar dalam Fathul Baari yang jatuh dalam hal ini, di samping jatuh dalam takwil sifat.
Faedah Kelima: Pengagungan Sahabat terhadap Nabi
وَبَيَانُ تَهَافُتِهِمْ عَلَيْهِ مِنَ التَّبَرُّكِ بِآثَارِهِ… وَتَبَرُّكِهِمْ بِإِدْخَالِ يَدِهِ الْكَرِيمَةِ فِي الْآنِيَةِ وَتَبَرُّكِهِمْ بِشَعْرِهِ الْكَرِيمِ، وَإِكْرَامِهِمْ إِيَّاهُ أَنْ لَا تَقَعَ شَعْرَةٌ مِنْهُ إِلَّا فِي يَدِ رَجُلٍ Dalam hadis di atas, kita mendapatkan penjelasan tentang sikap para sahabat yang berebut mencari berkah dengan bekas-bekas sentuhan beliau. Mereka mencari keberkahan dengan memasukkan tangan beliau yang mulia ke dalam bejana, dan mencari keberkahan dengan rambut beliau yang mulia. Serta sikap mereka memuliakan rambut beliau agar tidak ada sehelai pun yang jatuh kecuali di tangan seseorang.
Rambut ini dijadikan obat oleh sebagian sahabat; dicelupkan rambut Rasulullah tersebut. Itu betul-betul rambut Rasulullah. Lalu bagaimana dengan rambut Rasulullah yang dikatakan ada sekarang, misalnya di Turki yang katanya satu helai panjang dan masih tumbuh? Ulama mengatakan bahwa apa yang dinisbatkan kepada Nabi pada saat sekarang ini tidak ada yang bisa dibuktikan kesahihannya. Yang pasti diketahui hanya kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih dari itu tidak ada.
Faedah Keenam: Tawadhu Rasulullah
وَبَيَانُ تَوَاضُعِهِ بِوُقُوفِهِ مَعَ الْمَرْأَةِ الضَّعِيفَةِ Penjelasan tentang sifat tawadhu (rendah hati) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau mau berdiri dengan seorang wanita yang lemah akalnya di sebuah tempat yang terbuka. Disebutkan فِي عَقْلِهَا شَيْءٌ (yakni kurang akal). Kalau kita lihat orang sekarang, kadang kalau tahu ada orang seperti itu justru diremehkan, dilecehkan, atau dianggap tidak ada. Tapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghargai; dia butuh diberikan perhatian. Ini adalah ketawadhuan beliau dan membuktikan kedekatan beliau dengan masyarakatnya.
Ungkapan dalam hadis: فَخَلَا مَعَهَا فِي بَعْضِ الطُّرُقِ (Beliau bersama wanita itu di sebagian sudut jalan). Maksudnya: أَيْ وَقَفَ مَعَهَا فِي طَرِيقٍ مَسْلُوكٍ لِيَقْضِيَ حَاجَتَهَا وَيُفْتِيَهَا فِي الْخَلْوَةِ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dengan wanita tersebut di sebuah jalan yang biasa ditempuh (dilalui orang), bukan tempat yang tersembunyi berduaan. Gunanya adalah لِيَقْضِيَ حَاجَتَهَا (agar Nabi bisa memenuhi kebutuhan wanita tersebut) dan memberikan nasihat kepadanya di tempat tersebut.
وَلَمْ يَكُنْ ذَلِكَ مِنَ الْخَلْوَةِ بِالْأَجْنَبِيَّةِ Sikap Nabi bersama wanita tadi di jalan yang terbuka itu tidak termasuk khalwat (berduaan dengan wanita asing) yang dilarang. فَإِنَّ هَذَا كَانَ فِي مَمَرِّ النَّاسِ وَمُشَاهَدَتِهِمْ إِيَّاهُ وَإِيَّاهَا Karena hal ini terjadi di tempat lewatnya manusia, di mana orang bisa melihat Nabi dan wanita tersebut. لَكِنْ لَا يَسْمَعُونَ كَلَامَهَا Akan tetapi mereka tidak mendengar percakapan wanita tadi, karena persoalan wanita ini bukanlah perkara yang perlu diketahui oleh orang lain.
Wallahu a’lam, ini bukanlah termasuk khalwat yang diharamkan. Tidak juga bisa dikiaskan sembarangan, misalnya melihat Nabi berdua lalu membenarkan berduaan dengan wanita lain; itu salah. Ulama sudah menentukan mana khalwat yang dilarang dan mana interaksi yang dibolehkan untuk sebuah kebutuhan. Tempat terbuka adalah boleh, tapi tempat tertutup tidak. Sebagian ulama mengatakan kalau seandainya ada dua orang (laki-laki dan perempuan) berbicara di dalam kamar yang pintunya tertutup, itu namanya khalwat. Tapi kalau pintunya dibuka, itu tidak dinamakan khalwat. Jadi ada dhawabit (ketentuan-ketentuan) dari ulama dalam masalah ini, dan tentunya ini apabila terjamin tidak terjadinya fitnah.
Wallahu Ta’ala A’lam. Demikian yang dapat kita sampaikan, semoga bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



