Kajian KitabSyarah Shahih Muslim

Syarah Shahih Muslim: Di Antara Keutamaan-Keutamaan Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ta’ala ‘anhu #4

اللهم لا علم لنا إلا ما علمتنا إنك أنت العليم الحكيم. اللهم علمنا ما ينفعنا وانفعنا بما علمتنا وزدنا علما. اللهم إنا نسألك علما نافعًا ورزقا طيبًا وعملا متقبلا. اللهم لا سهل إلا ما جعلته سهلا وأنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا. Telah berkata Mushannif rahimahullahu ta’ala:

حدثنا محمد بن أبي عمر المكي، قال: حدثنا مروان بن معاوية الفزاري، عن يزيد وهو ابن كيسان، عن أبي حازم الأشجعي، عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَنَا. قَالَ: «فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَنَا. قَالَ: «فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَنَا. قَالَ: «فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَنَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ».

Dengan sanadnya kepada Abu Hurairah رضي الله تعالى عنه bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟” (Siapa di antara kalian pagi-pagi pada hari ini dia sudah berpuasa?) قَالَ أَبُو بَكْرٍ (Lalu Abu Bakar mengatakan), “أَنَا” (Saya). “فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟” (Lalu beliau bertanya lagi, “Siapa di antara kalian pada hari ini dia telah mengantar jenazah?”). قَالَ أَبُو بَكْرٍ (Lalu Abu Bakar mengatakan), “أَنَا” (Saya). “فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟” (Siapa di antara kalian pada hari ini dia telah memberi makan seorang miskin?). قَالَ أَبُو بَكْرٍ (Lalu Abu Bakar mengatakan), “أَنَا” (Saya). “فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟” (Lalu Nabi bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang pada hari ini dia telah membesuk orang yang sakit? Menjenguk orang yang sakit?”). قَالَ أَبُو بَكْرٍ (Lalu Abu Bakar mengatakan), “أَنَا” (Saya).

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Lalu Rasulullah mengatakan), “مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ” (Tidaklah amalan-amalan tadi berkumpul pada satu orang kecuali orang itu masuk ke dalam surga).

Apa saja? Pertama puasa, mengantar jenazah, memberi makan orang seorang miskin, dan mengunjungi orang yang sakit. Kalau kita lihat, ini adalah dikategorikan di situ ada amalan-amalan yang bersifat fisik. Amalan yang bersifat amalan harta fisik adalah puasa, mengikuti jenazah, mengunjungi orang sakit. Ibadah dalam bentuk harta adalah memberi orang-orang miskin makanan. Maka kata Nabi, “Tidaklah amalan-amalan ini berkumpul pada seseorang kecuali dia masuk ke dalam surga.”

قال القاضي عياض: معناه دخل الجنة بلا محاسبة ولا مجازاة على قبيح الأعمال، وإلا فمجرد الإيمان يقتضي دخول الجنة بفضل الله تعالى. Kata Qadhi Iyad, maksudnya, yakni maksudnya dia masuk ke dalam surga tanpa muhasabah, tanpa dihitung, ya. Tidak juga balasan terhadap amalan yang jelek, karena semuanya amalan adalah baik, maka dia masuk ke dalam surga dengan amalan-amalan yang sudah dia lakukan ini. Karena iman semata sudah bisa menyebabkan seseorang untuk masuk ke dalam surga karena karunia Allah; yakni karena iman yang dia miliki, maka dia akan dimasukkan oleh Allah سبحانه وتعالى ke dalam surga.

Namun dalam hal ini, ada amalan-amalan yang bisa mengantarnya di atas dari imannya, mengantarnya untuk masuk ke dalam surga. Tentu dalam hal ini ada seorang muslim, ya. Kalau seandainya orang yang tidak muslim, dia berpuasa, dia membantu orang yang lain, dan seterusnya amalan-amalan seperti amalan kaum muslimin, maka amalan itu tidak berarti sama sekali karena dia belum beriman kepada Allah سبحانه وتعالى.

Dan hadis ini menunjukkan akan keutamaan Abu Bakar As-Siddiq, bahwa Abu Bakar As-Siddiq adalah orang yang selalu terdepan di dalam berbuat kebaikan, tidak menunggu-nunggu, tapi setiap ada kesempatan dari segala bentuk jenis amalan dia kerjakan. Ada amalan dengan harta, dia kerjakan. Ada amalan dengan fisik, dia kerjakan. Inilah makna dari فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ (Berpaculah untuk kebaikan).

Hadis yang kedua.

حدثني أبو الطاهر أحمد بن عمرو بن سرح، وحرملة بن يحيى، قالا: أخبرنا ابن وهب، قال: أخبرني يونس، عن ابن شهاب، قال: حدثني سعيد بن المسيب، وأبو سلمة بن عبد الرحمن، أنهما سمعا أبا هريرة رضي الله تعالى عنه يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «بَيْنَمَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً لَهُ قَدْ حَمَلَ عَلَيْهَا، الْتَفَتَتْ إِلَيْهِ الْبَقَرَةُ فَقَالَتْ: إِنِّي لَمْ أُخْلَقْ لِهَذَا، وَلَكِنِّي إِنَّمَا خُلِقْتُ لِلْحَرْثِ». فَقَالَ النَّاسُ: سُبْحَانَ اللهِ! أَبَقَرَةٌ تَكَلَّمُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِنِّي أُؤْمِنُ بِهِ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ».

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَيْنَا رَاعٍ فِي غَنَمِهِ عَدَا عَلَيْهَا الذِّئْبُ، فَأَخَذَ مِنْهَا شَاةً، فَطَلَبَهُ الرَّاعِي حَتَّى اسْتَنْقَذَهَا مِنْهُ، فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ الذِّئْبُ فَقَالَ: مَنْ لَهَا يَوْمَ السَّبُعِ؟ يَوْمَ لَيْسَ لَهَا رَاعٍ غَيْرِي». فَقَالَ النَّاسُ: سُبْحَانَ اللهِ! فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِنِّي أُؤْمِنُ بِذَلِكَ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ».

Dengan sanadnya kepada Abu Hurairah رضي الله تعالى عنه bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “بَيْنَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً لَهُ قَدْ حَمَلَ عَلَيْهَا” (Ketika seorang laki-laki sedang menuntun seekor sapi miliknya yang sedang memikul beban). “الْتَفَتَتْ إِلَيْهِ الْبَقَرَةُ” (Sapi itu tiba-tiba menoleh kepadanya) dan berkata, “إِنِّي لَمْ أُخْلَقْ لِهَذَا” (Sapinya mengatakan, “Saya tidak diciptakan untuk ini, yakni untuk membawa barang”). “وَلَكِنِّي إِنَّمَا خُلِقْتُ لِلْحَرْثِ” (Akan tetapi aku ini diciptakan untuk membajak sawah, ya membajak pertanian).

فَقَالَ النَّاسُ” (Lalu orang-orang yang ada pada saat itu dia mengatakan) “سُبْحَانَ اللهِ” (Maha Suci Allah) karena keheranan dan ketakutan (تَعَجُّبًا وَفَزَعًا). “أَبَقَرَةٌ تَكَلَّمُ؟” (Apakah ada sapi yang berbicara?). “فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” (Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda), “فَإِنِّي أُؤْمِنُ بِهِ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ” (Sesungguhnya aku, Abu Bakar, dan Umar mempercayai itu, adanya sapi yang berbicara).

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ” (Lalu Abu Hurairah berkata lagi). “قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” (Dan Rasulullah bersabda), “بَيْنَا رَاعٍ فِي غَنَمِهِ” (Ketika seorang penggembala sedang menggembala di tengah-tengah kambingnya), “عَدَا عَلَيْهَا الذِّئْبُ فَأَخَذَ مِنْهَا شَاةً” (tiba-tiba seekor serigala menerkam dan membawa lari salah satu kambingnya). “فَطَلَبَهُ الرَّاعِي حَتَّى اسْتَنْقَذَهَا مِنْهُ” (Penggembala tadi mencari kambing yang dilarikan oleh serigala sampai dia menyelamatkan kambing itu dari serigala).

فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ الذِّئْبُ فَقَالَ” (Lalu tiba-tiba serigala itu menoleh kepadanya dan berkata), “مَنْ لَهَا يَوْمَ السَّبُعِ؟ يَوْمَ لَيْسَ لَهَا رَاعٍ غَيْرِي” (Serigala itu mengatakan, “Siapakah yang akan melindungi binatang-binatang itu pada hari yang dikuasai oleh binatang buas? Suatu hari yang tidak terdapat seorang penggembala pun selain dari aku?”). “فَقَالَ النَّاسُ” (Lalu manusia mengatakan atau sahabat mengatakan), “سُبْحَانَ اللهِ” (Orang-orang yang pada saat itu mengatakan Subhanallah karena takjub/heran). “فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” (Lalu Rasulullah mengatakan), “فَإِنِّي أُؤْمِنُ بِذَلِكَ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ” (Sesungguhnya aku mempercayai hal itu, begitu juga dengan Abu Bakar dan Umar).

Makna dari hadis ini, ulama berkata:

قال العلماء: إنما قال ذلك ثقة بهما لعلمه بصدق إيمانهما وقوة يقينهما وكمال معرفتهما بعظيم سلطان الله تعالى وعظيم قدرته.

Nabi mengucapkan, ketika Nabi mengatakan, “Saya, Abu Bakar, dan Umar mempercayai itu” sementara Abu Bakar dan Umar tidak ada di situ, ya. Nabi mengatakan itu karena Nabi percaya dengan Abu Bakar dan Umar. Karena pengetahuan Nabi akan kejujuran imannya Abu Bakar dan Umar, dan kuatnya keyakinan Abu Bakar dan Umar, serta sempurnanya pengetahuan mereka kepada kekuasaan agungnya kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, sempurnanya kudrat Allah سبحانه وتعالى. Karena Nabi mengetahui bagaimana mereka berdua, maka Nabi mengatakan begitu. “Saya mempercayai, Abu Bakar dan Umar juga mempercayai.”

وَفِيهِ فَضِيلَةٌ ظَاهِرَةٌ لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ.

Dalam ucapan ini terdapat keutamaan bagi Abu Bakar dan Umar, sangat jelas sekali, di mana Nabi صلى الله عليه وسلم menyebutkan Abu Bakar dan Umar, dan mengatakan bahwasanya Abu Bakar dan Umar juga mempercayai seperti yang dipercayai oleh Nabi. Ya, ini adalah suatu keutamaan yang mulia bagi Abu Bakar dan Umar.

وَفِيهِ جَوَازُ كَرَامَاتِ الْأَوْلِيَاءِ.

Di dalam hadis ini juga terdapat bolehnya terjadi karamat bagi orang-orang para wali. Apa di sini karamat yang ada dalam riwayat dalam hadis tadi? Adalah berbicaranya sapi, berbicaranya serigala, atau pengembala tadi membicarakan dia kepada serigala. Apa itu karamat? Karamat itu adalah kejadian yang luar biasa yang dianugerahkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada wali dari wali-wali Allah. Siapa ini wali Allah? Orang-orang yang beriman dan orang yang bertakwa. Semakin dekat dia kepada Allah, semakin tinggi keimanan dan ketakwaannya, semakin tinggi nilai kewaliannya. Maka kejadian yang luar biasa yang dianugerahkan Allah سبحانه وتعالى kepada wali-wali Allah sebagai kemuliaan dan hadiah atau sebagai bonus baginya.

Berbeda dengan mukjizat. Mukjizat itu untuk para rasul. Mukjizat itu adalah kejadian yang luar biasa yang Allah munculkan atau Allah berikan kepada para rasul untuk membuktikan kebenaran ajarannya. Jadi kalau mukjizat itu ada tantangan dari orang yang memusuhinya di dalam dakwah. Lalu perlu ada pembuktian bahwasanya dakwah yang dia bawa ini adalah suatu kebenaran yang datang dari Allah. Ya, seperti Nabi Musa misalkan dengan Firaun. Ya, mukjizat-mukjizat yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Musa.

Nah, perlu diketahui baik itu mukjizat maupun karamat, itu bukan wewenangnya para rasul dan wewenangnya para wali, tapi itu adalah anugerah dari Allah. Artinya apa? Artinya Allah yang memunculkan kapan dikehendaki oleh Allah. Bukan wali itu yang memunculkan kapan dia inginkan. Ketika kondisi menuntutnya, Allah anugerahkan bagi dia sesuatu yang luar biasa yang tidak diduga-duga, ya. Bukan seperti apa yang dilakukan oleh tukang sihir. Tukang sihir juga melakukan hal-hal yang luar biasa, ya. Akan tetapi itu bukan anugerah dari Allah, tapi permainan dari iblis. Ya.

Adanya karamat ini, karamat dari aulia, para wali ini termasuk mazhab Ahlul Haq, mazhabnya Ahlussunnah wal Jamaah. Itu adalah benar, begitu. Ada orang yang meyakini bahwasanya tidak ada karamat itu. Tapi kalau kita lihat, ya kita yakini, dan dalil-dalil ada, ya. Para nabi dan rasul itu adalah mukjizat. Orang-orang di bawah mereka, yaitu wali-wali Allah, orang-orang yang beriman dan bertakwa, itu adalah karamat. Banyak sekali, ya, kisah-kisah karamat ini yang masuk akal, ya.

Jangan seperti karamat-nya yang dikisahkan, karamat-nya Abdul Qadir Jailani. Ada dikisahkan bahwa Abdul Qadir Jailani pada suatu hari muridnya ada meninggal, ya. Lalu nampaklah oleh Abdul Qadir Jailani ini malaikat maut membawa rohnya, lalu dikejar oleh Abdul Qadir Jailani. Ya, dikejar. Tumpahlah roh yang ada di dalam keranjang, lalu kembali rohnya kepada muridnya tadi itu. Ya itu tidak, itu khurafat, ya, kisah-kisah yang tidak masuk akal, walaupun karamat aulia itu adalah satu kejadian yang luar biasa yang kita sendiri ya juga tidak masuk akal kejadian itu, begitu loh. Akan tetapi merupakan sebuah kemuliaan yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang dekat dengan Allah. Adapun kisah-kisah seperti itu adalah lebih cenderung kepada khurafat-khurafat, ya, yang terlalu berlebih-lebihan.

Demikian yang dapat kita sampaikan. Semoga bermanfaat dan إن شاء الله pada pertemuan berikut ini kita masuk kepada keutamaan-keutamaan Umar dan sahabat-sahabat yang lain.

وصلى الله على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Related Articles

Back to top button