Syarah Shahih Muslim : Bab – Harumnya Keringat Nabiﷺ dan Bertabaruk Dengannya

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ
اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ، اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ سَهْلًا
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kembali kita melanjutkan kajian rutin kita tentang Sahih Muslim dengan Syarah-nya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Keutamaan-Keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Kita masuk bab yang baru:
Bab: Harumnya Keringat Nabi dan Bertabaruk Dengannya
بَابُ طِيبِ عَرَقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّبَرُّكِ بِهِ
(Bab harumnya keringat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertabaruk—yaitu mencari keberkahan—dengannya).
Hadis Pertama: Ummu Sulaim Mengumpulkan Keringat Nabi
حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا هَاشِمٌ يَعْنِي ابْنَ الْقَاسِمِ، عَنْ سُلَيْمَانَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عِنْدَنَا، فَعَرِقَ، وَجَاءَتْ أُمِّي بِقَارُورَةٍ، فَجَعَلَتْ تَسْلِتُ الْعَرَقَ فِيهَا، فَاسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ؟ قَالَتْ: هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلُهُ فِي طِيبِنَا، وَهُوَ مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ
Dengan sanadnya kepada Anas bin Malik, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meredainya: دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang kepada kami), yakni ke rumahnya Anas bin Malik.
Anas mengatakan: فَقَالَ عِنْدَنَا (Lalu beliau tidur siang di rumah kami). فَعَرِقَ (Lantas beliau berkeringat). وَجَاءَتْ أُمِّي (Lalu datanglah ibuku), ibunya Anas yaitu Ummu Sulaim, بِقَارُورَةٍ (dengan membawa botol). فَجَعَلَتْ تَسْلِتُ الْعَرَقَ (Kemudian beliau, yakni Ummu Sulaim, mulai mengumpulkan keringat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke dalam botol tersebut).
فَاسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun). فَقَالَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ؟ (Lalu dikatakan: “Wahai Ummu Sulaim, apa yang engkau lakukan ini?”).
قَالَتْ: هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلُهُ فِي طِيبِنَا، وَهُوَ مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ
(Dia menjawab: “Ini adalah keringatmu. Kami akan letakkan atau campurkan dengan minyak wangi kami, sehingga ia menjadi minyak wangi yang paling baik”).
Hadis Kedua: Keringat di Atas Alas Kulit
وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، قَالَ حَدَّثَنَا حُجَيْنُ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ وَهُوَ ابْنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ فَيَنَامُ عَلَى فِرَاشِهَا، وَلَيْسَتْ فِيهِ. قَالَ: فَجَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَامَ عَلَى فِرَاشِهَا، فَأُتِيَتْ وَقِيلَ لَهَا: هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ فِي بَيْتِكِ عَلَى فِرَاشِكِ. قَالَ: فَجَاءَتْ وَقَدْ عَرِقَ وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ عَلَى قِطْعَةِ أَدِيمٍ عَلَى الْفِرَاشِ، فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذَلِكَ الْعَرَقَ وَتَعْصِرُهُ فِي قَوَارِيرِهَا، فَفَزِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَا تَصْنَعِينَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا. قَالَ: أَصَبْتِ
Dengan sanadnya kepada Anas bin Malik, dia mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang ke rumah Ummu Sulaim فَيَنَامُ عَلَى فِرَاشِهَا (dan tidur di atas kasurnya). Kemudian Anas menceritakan, pada satu hari beliau datang فَنَامَ عَلَى فِرَاشِهَا (Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas kasur Ummu Sulaim).
فَأُتِيَتْ وَقِيلَ لَهَا: هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِكِ عَلَى فِرَاشِكِ
(Lalu ada seorang yang datang kepada Ummu Sulaim dan mengatakan: “Ini Nabi datang ke rumahmu dan tidur di atas kasurmu”).
قَالَ: فَجَاءَتْ وَقَدْ عَرِقَ (Anas berkata: Lalu Ummu Sulaim datang sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkeringat, yakni keringatnya bercucuran). وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ عَلَى قِطْعَةِ أَدِيمٍ عَلَى الْفِرَاشِ (Keringat beliau tersebut telah berkumpul di atas sepotong kulit binatang yang telah disamak di atas kasurnya—jadi alasnya mungkin ya—lalu berkumpullah keringat tadi yang berkucuran di alasnya tersebut yang terbuat dari kulit).
فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا (Lalu Ummu Sulaim pun membuka kotak perhiasannya). فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذَلِكَ الْعَرَقَ (Mulailah dia mengeringkan keringat tersebut dengan memakai handuk atau kain). وَتَعْصِرُهُ فِي قَوَارِيرِهَا (Lalu dia peras kain tadi, kemudian airnya—air keringat tadi—dimasukkan ke dalam botolnya).
فَفَزِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Lalu Nabi terbangun). فَقَالَ: مَا تَصْنَعِينَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ (Apa yang kau lakukan ini wahai Ummu Sulaim?).
قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا
(Dia mengatakan: “Ya Rasulullah, kami berharap keberkahannya untuk anak-anak kami”).
قَالَ: أَصَبْتِ (Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Engkau benar”).
Hadis Ketiga: Keringat Dicampur Minyak Wangi
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ أُمِّ سُلَيْمٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْتِيهَا فَيَقِيلُ عِنْدَهَا، فَتَبْسُطُ لَهُ نِطْعًا فَيَقِيلُ عَلَيْهِ، وَكَانَ كَثِيرَ الْعَرَقِ، فَكَانَتْ تَجْمَعُ عَرَقَهُ فَتَجْعَلُهُ فِي الطِّيبِ وَالْقَوَارِيرِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ مَا هَذَا؟ قَالَتْ: عَرَقُكَ أَدُوفُ بِهِ طِيبِي
Dengan sanadnya kepada Anas bin Malik dari Ummu Sulaim, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. كَانَ يَأْتِيهَا فَيَقِيلُ عِنْدَهَا (Lalu dia tidur siang di rumahnya Ummu Sulaim, yakni rumahnya Anas). فَتَبْسُطُ لَهُ نِطْعًا (Lalu ia menghamparkan selembar tikar kulit). فَيَقِيلُ عَلَيْهِ (Lalu Nabi tidur di atas tikar kulit tersebut).
وَكَانَ كَثِيرَ الْعَرَقِ (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeringat banyak sekali). فَكَانَتْ تَجْمَعُ عَرَقَهُ فَتَجْعَلُهُ فِي الطِّيبِ وَالْقَوَارِيرِ (Ummu Sulaim mengumpulkan air keringatnya Nabi, lalu dia campurkan dengan minyak wangi dan dia masukkan ke dalam botol-botol).
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ مَا هَذَا؟ (Lalu Nabi mengatakan: “Wahai Ummu Sulaim, ini apa ini? Ada apa?”).
قَالَتْ: عَرَقُكَ أَدُوفُ بِهِ طِيبِي
(Dia menjawab: “Keringatmu yang aku campurkan dengan minyak wangiku”).
Penjelasan (Syarah) Imam Nawawi dan Koreksi Akademis
Imam Nawawi menjelaskan dalam beberapa hadis ini:
بَابُ طِيبِ عَرَقِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّبَرُّكِ بِهِ
(Bab harumnya keringat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencari keberkahan dengannya).
Disebutkan فَقَالَ عِنْدَنَا (Maka beliau tidur siang atau Qailulah). Yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Ummu Sulaim atau rumah Anas, lalu beliau tidur di sana tidur siang. Di mana kita mengetahui bahwa tidur siangnya Nabi itu sebelum Zuhur, Qailulah namanya.
تَسْلِتُ الْعَرَقَ أَيْ تَمْسَحُهُ وَتَتَتَبَّعُهُ
(Yakni Ummu Sulaim menyapu keringatnya Nabi dan diikuti ke mana alur keringatnya, lalu disapu dengan kain). Setelah itu dia peras kain tersebut sehingga meneteskan keringat yang telah diambil tadi.
لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ فَيَنَامُ عَلَى فِرَاشِهَا، وَقَدْ سَبَقَ أَنَّهَا كَانَتْ مَحْرَمًا لَهُ
(Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Ummu Sulaim dan tidur di kasurnya. Imam Nawawi mengatakan sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Ummu Sulaim ini adalah mahram bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Jadi tidak ada masalah beliau masuk. Di dalam hadis ini terdapat faedah:
الدُّخُولُ عَلَى الْمَحَارِمِ وَنَوْمُهُ عِنْدَهُنَّ وَفِي بُيُوتِهِنَّ
(Bolehnya kita mendatangi mahram-mahram kita, orang-orang atau wanita-wanita yang haram kita nikahi. Boleh kita mendatanginya—yakni masuknya adalah mendatanginya—dan tidur di rumah mereka atau di samping mereka, dan di rumah mereka karena mahram).123
Semalam kita sudah mempelajari bahwa persusuan menjadikan kemahraman. Kemahraman itu dari sisi tidak boleh dinikahi, haram untu4k dinikahi, namun boleh untuk berduaan, boleh untuk5 m6elihat kepadanya karena dia sudah menjadi mahram.
وَجَوَازُ النَّوْمِ عَلَى الْأَدِيمِ، وَهِيَ النِّطْعُ وَالْجُلُودُ
(Bolehnya tidur di atas kulit, yaitu dia terbuat dari kulit binatang yang telah disamak).
قَوْلُهُ: فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا، وَهُوَ صُنْدُوقٌ صَغِيرٌ تَجْعَلُ الْمَرْأَةُ فِيهِ مَا يَعِزُّ عَلَيْهَا مِنْ طِيبٍ وَغَيْرِهِ
(Atidah adalah dia bagaikan seperti kotak kecil, di mana wanita meletakkan barang-barang yang berharga di dalam kotak itu; perhiasan dan yang lain yang menjadi berharga bagi dia. Bagi wanita dia letakkan dalam kotak itu, kotak kecil maka itu namanya Atidah).
فَفَزِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَصْنَعِينَ. مَعْنَى فَفَزِعَ أَيْ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ
(Maknanya ketika Ummu Sulaim melakukan hal yang tadi, dia menyapu keringat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi terbangun dari tidurnya. Lalu Nabi tanyakan apa yang kamu lakukan? Jawabannya: “Keringatmu yang mana aku campurkan dengan minyak wangiku”).
Penjelasan Penting Mengenai Tabaruk
Dari hadis-hadis yang kita pelajari ini menunjukkan kepada kita bahwa tubuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suci. Dan bahwasanya boleh mencari keberkahan dengan tubuh Nabi dan apa yang bersentuhan dengan Nabi.
Hal ini tidak bisa dikiaskan kepada orang lain seperti orang-orang saleh. Sebagaimana sudah kita ingatkan juga bahwa sering kita mendapatkan syarah dari Imam Nawawi, begitu juga dengan Ibnu Hajar, di mana mereka berdua keliru di dalam merekomendasi atau menyatakan bahwa bolehnya mencari keberkahan dari orang-orang saleh, dari sisa-sisanya, atau dengan keringatnya, atau dari tubuhnya dan yang lainnya.
Nah, sebenarnya itu menurut Ahlussunnah wal Jamaah adalah suatu hal yang tidak benar; hanya berlaku pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan itu tidak bisa dikiaskan.
Buktinya, para sahabat tidak mengkiaskan hal tersebut kepada para sahabat lain, kepada Abu Bakar atau Umar. Di mana sepakat menyatakan bahwa Abu Bakar adalah orang yang terbaik dari umat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Umar adalah orang yang kedua yang terbaik di umat ini. Para sahabat tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Para sahabat يَتَقَاتَلُونَ (mereka berdesak-desakan) untuk mendapatkan sisa wudunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malahan juga dengan air ludahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berebut rambutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dibagikan oleh para sahabat, dan para sahabat berobat dengan rambutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam hal-hal yang seperti itu adalah benar pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi tidak benar apabila dikiaskan kepada yang lain. Apalagi kita lihat adanya sebagian orang yang sangat ghuluw (berlebihan) sekali, sehingga ada meminum bekas cucian kaki gurunya. Ya na’udzu billahi min dzalik.
Demikian yang dapat kita sampaikan untuk kajian pagi ini. Mudah-mudahan bermanfaat.
Wa shallallahu ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



