Hadits Arbain ke-36: Membantu Sesama Muslim
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ وَتَمَسَّكَ بِشَرِيعَتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ.
Kaum muslimin dan muslimat رَحِمَنِي وَرَحِمَكُمُ اللَّهُ. Alhamdulillah, puji syukur kita ucapkan kepada Allah atas segala nikmat dan karunia yang Allah limpahkan. Selawat beriring salam semoga dianugerahkan kepada nabi kita Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.
Kajian kita kembali kita lanjutkan, masuk dalam hadis yang ke-36.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ. وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ. وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abi Hurairah, di mana Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
نَفَّسَ yakni meringankan hingga dia bisa bernapas. Diibaratkan dengan orang yang dicekik sehingga dia susah untuk bernapas, lalu direnggangkan cekikannya sehingga dia… كُرْبَةً itu adalah beban yang sangat berat, kondisi yang berat menjadikan orang yang tertimpa itu sifat kesulitan, seakan-akan dia ditimpa oleh sebuah kondisi yang menyebabkan dia tidak bisa bernapas. Lalu datang orang yang meringankannya sehingga sedikit bisa bernapas, tidak dihilangkan, tapi itu masih ada tetap beban, tapi diringankan.
Jadi Nabi mengatakan, “Siapa yang meringankan dari seorang mukmin sebuah beban yang berat dari beban-beban dunia, Allah akan meringankan dari dirinya sebuah beban dari beban-beban hari kiamat.”
Kalau kita lihat, beban di dunia, ada orang yang tidak bisa memikulnya, paling-paling ujungnya apa? Mati. Sudah mati, enggak ada lagi. Ada rasa beban? Tidak ada, sudah selesai. Tapi kalau di akhirat, tidak ada mati. Berarti beban itu sangat jauh lebih berat dan terus sampai ujungnya adalah kalau terjadi, mulai terjadi kondisi pada padang mahsyar, yakni يَوْمُ الْقِيَامَةِ itu maksudnya padang mahsyar, masing-masing kita memiliki kondisi sesuai dengan amalan perbuatan kita dan dosa kita.
Maka kita lihat, jika kita ingin diringankan beban kita di akhirat nantinya, yang kita hanya memikul sendiri. Kalau di dunia, mungkin boleh jadi ada orang lain yang akan membantu kita untuk memikulnya. Tapi di akhirat, masing-masing kita disebutkan oleh kita masing-masing. Pada hari di mana seorang lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anaknya, masing-masing disibukkan oleh urusannya. Di dunia masih kita dipikul oleh orang. Beban di (akhirat) yang bisa membantu kita adalah amalan kita yang kita lakukan di dunia.
Maka di sini kembali kepada الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ, balasan itu kita raih sama dengan jenis amalan yang kita kerjakan. Balasannya di mana? Di akhirat. Di dunia dapatkah kita balasannya? Sebagiannya, tapi belum sempurna. Yang sempurna itu apa? Di akhirat. وَإِنَّمَا يُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. Balasanmu akan disempurnakan nanti pemberiannya adalah pada hari kiamat. Di dunia dapat, karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bersifat الشَّكُورُ (Yang Maha Berterima Kasih). Tiap kebaikan yang kita lakukan dibalas oleh Allah di dunia sebelum akhirat. Kalau kita hanya berharap dunia, akhirat kita tidak. Nah, di sini kita lihat pembebanannya adalah pada titik di akhirat.
Dalam riwayat yang lain dikatakan مَنْ فَرَّجَ. فَرَّجَ itu menghilangkan. Beda dengan نَفَّسَ tadi. نَفَّسَ tadi seperti memberikan rongga untuk bernapas, masih berat nih. Tapi kalau تَفْرِيجٌ itu menghilangkan. Siapa yang menghilangkan sebuah beban dari beban-beban dunia, maka Allah akan hilangkan sebuah dari dirinya sebuah beban dari beban-beban akhirat. Maka balasan تَنْفِيسٌ (balasan memberikan rongga untuk bernapas, yakni maknanya adalah meringankan), balasannya juga adalah diberikan keringanan. Balasan تَفْرِيجٌ (yakni menghilangkan), balasannya juga menghilangkan. الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ.
وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
“Siapa yang memudahkan terhadap orang yang susah, Allah akan mudahkan terhadap dirinya di dunia dan di akhirat.” Kesusahan itu juga akan terjadi di akhirat sebagaimana kesusahan itu banyak kita rasakan adalah di dunia. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menyifati hari kiamat itu adalah hari yang susah. وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا. Itu adalah hari yang susah bagi orang (kafir).
Mudahkan kepada orang yang susah di dunia dari sisi hak. Karena manusia kan hidupnya ya dari harta, maka ini bisa terjadi di satu di antara dua. Bagaimana cara melapangkannya, ya, memudahkannya, melapangkannya, meringankannya dari kesusahan di dunia, yakni dari harta? Ada dua.
Yang pertama, dengan cara memberikan kepadanya tangguh atau waktu tempo sampai dia memiliki kelapangan. Dari تَيْسِيرٌ. Ada orang berhutang, belum bisa dia bayar, maka hendaklah dia berikan tangguhan. وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ. Dia adalah orang yang susah dari harta, belum ada yang bisa untuk dia bayar, maka tangguhkan sampai dia memiliki (kemampuan). Itu bagian dari bentuk تَيْسِيرٌ (memudahkan).
Dan terkadang adalah dengan menggugurkan sebagian dari hutang. Kalau dia seandainya dia punya hutang dengan kita, ya kita maafkan. وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. Bersedekah kepada orang yang berhutang yang dia punya hutang ke kita. Bagaimana caranya? Sedekah itu kita anggap apa? Hutang itu kita anggap sedekah dengan cara menggugurkan hutang. “Sudah, saya maafkan.” Bagian dari تَيْسِيرٌ. Atau memberinya sesuatu yang bisa menghilangkan kesusahan itu, yakni hutangnya. Jika seandainya dia berhutang dengan orang lain, lalu kita berikan, “Anda punya hutang berapa ke fulan? Ya, datang terus minta, saya tidak punya uang.” “Nah, ini uang, bayar.” Ya, itu juga adalah memudahkan yang susah. Kedua-duanya memiliki keutamaan yang hak. Kalau dia berhubungan dengan harta kita, kita maafkan, itu adalahnya. Jika dia punya hutang kepada orang lain, kita berikan nilai hutangnya sehingga dia melunasi hutangnya, juga adalah (bagian dari memudahkan).
Dalam الصَّحِيحَيْنِ (Shahih Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ, Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. فَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُ.
“Ada seorang pedagang suka menghutangi manusia. Jika dia melihat ada yang berhutang itu susah, dia katakan kepada anak buahnya yang memungut hutang, ‘تَجَاوَزُوا‘ (bisa dengan artian: enggak usah ditagih, biarin aja, langkahi aja lah). Dia mau datang ke sini, eh, ternyata dia susah, sudah enggak ditagih ya. Pergi ke tempat yang lain ditagih. Dia katakan itu kepada anak buahnya. ‘لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا‘ (Semoga Allah juga memaafkan kita). Maka Allah pun memaafkan kesalahan-kesalahannya, tidak ditagih, tidak dihitung.”
Imam Muslim juga meriwayatkan dari hadis Abi Qatadah, Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ beliau bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنْجِيَهُ اللَّهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُ.
“Siapa yang senang ingin diselamatkan oleh Allah dari beban-beban hari kiamat, hendaklah dia meringankan orang yang susah (تَنْفِيسٌ tadi adalah meringankan) atau dia maafkan, dia gugurkan tuntutannya, dia tidak tagih. Dia sampaikan, ‘Ya sudah, itu adalah enggak usah dibayar.'”
Tapi tidak bisa dijadikan sebagai zakat. Katakan misalkan, “Oh, hutang itu lah zakat hamba tahun ini.” Enggak. Karena zakat itu adalah wajib. Sedekah adalah… zakat wajib itu harus ada مِنْ غَنِيٍّ إِلَى فَقِيرٍ (dari yang kaya diberikan kepada yang miskin). Ada tindakan diambil dari yang kaya diberikan kepada miskin. Amalan wajib itu ظَاهِرٌ (tampak) karena itu adalah bagian dari syiar. Contoh, salat wajib di masjid, salat sunat di rumah. Zakat diambil dari yang kaya diberikan kepada miskin, tampak itu adalah syiar, ya. Sedekah? Kata Nabi, “Seorang yang dinaungi di bawah naungan yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah,” di antaranya adalah orang bersedekah lalu dia sembunyikan sedekahnya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Jadi hukum asal dari sedekah itu, yakni amal sunat itu adalah di (sembunyikan).
Lalu Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
“Siapa yang menutup seorang muslim (maksudnya menutup aib), maka Allah akan menutup aibnya juga di dunia dan di akhirat.” Tidak ada di antara kita yang tidak punya aib. Hanya saja kita Allah tutup. Kalau Allah bukakan aib kita, dosa dan aib kita ini berbau, mungkin tidak ada orang yang akan (mendekat). Tapi Allah sembunyikan, Allah tutupi.
Hadis yang seperti ini sangat banyak yang senada. Sebagian salaf, atau diriwayatkan dari sebagian salaf, dia mengatakan:
أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا لَمْ يَكُنْ لَهُمْ عُيُوبٌ، فَذَكَرُوا عُيُوبَ النَّاسِ، فَذَكَرَ النَّاسُ لَهُمْ عُيُوبًا. وَأَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَتْ لَهُمْ عُيُوبٌ، فَكَفُّوا عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ، فَنُسِيَتْ عُيُوبُهُمْ.
“Aku menemukan satu kaum yang mereka tidak punya aib. (Jangan mengira tidak ada aibnya, hingga dia tidak tahu, tidak ada aib. Baik aja). Ternyata mereka menyebut-nyebut aib orang lain, lantas orang-orang pun menyebut aib-aib mereka. Dan aku juga menemui, menemukan satu kelompok orang yang mereka memiliki aib, dosa, kesalahan banyak. Tapi mereka menutup diri, menutup mulutnya dari menyebut aib orang lain, maka aib mereka pun terlupakan.”
Atau riwayatnya mirip dengan (apa yang) kita lihat. Mungkin ada orang-orang baik-baik, tapi ketika dia mulai membicarakan aib orang, ya seribu orang akan melihat aibnya. Coba kita lihat di medsos sekarang ini. Inilah ketika dia mulai membicarakan orang, ya, netizen semuanya membuka aibnya, malah satu hal yang mungkin tidak terlintas bagi dia dibuka. Tapi coba dia tidak pernah mengusik orang, ya, maka Allah lupakan aibnya. Enggak ada yang… Sudah pasti kita ini adalah orang berdosa, betul atau tidak? Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan: كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ. “Setiap anak Adam itu banyak salah. Sebaik-baik orang yang banyak kesalahannya adalah orang yang bertobat.”
Karena aib kita ini banyak, kita sangat perlu aib kita ini ditutup dan tidak diketahui oleh orang. Maka jangan bicara tentang aib orang. Sudah, Allah akan lupakan manusia dari aib kita.
Dibuktikan juga dengan hadis Abi Barzah. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bahwasanya beliau bersabda:
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قَلْبِهِ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَاتِهِمْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ.
“Wahai orang, wahai segala orang yang beriman dengan lisannya, dengan lisannya, dengan lidahnya, dengan mulutnya dia mengatakan beriman, namun iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Jangan menghibahi kaum muslimin. غِيبَةٌ itu apa? Menyebut aib orang lain. Ya, menyebut aib orang lain. Oleh karena itu, jangan ghibahi orang. Jangan cari-cari kesalahan mereka. Sesungguhnya siapa yang mencari-cari kesalahan kaum muslimin, Allah akan mengungkap aibnya, auratnya. Siapa yang Allah ungkap aibnya, pasti Allah akan mempermalukannya di rumahnya sendiri.” Rumah itu adalah tempat kita menutup aib kita. Karena gara-gara membuka aib orang lain, kita sendiri dipermalukan di rumah kita.
Hadis diriwayatkan oleh Abu Daud, Imam Ahmad, juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dengan makna yang senada dengan itu dari hadis Umar.
Lalu Nabi mengatakan:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ.
“Allah selalu berada di dalam membantu hamba, selama hamba itu membantu saudaranya.” Ini maknanya, kalau kita selalu, kalau kita selalu berharap Allah memenuhi kebutuhan kita, bantu orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Kalau kita mau Allah selalu membantu kita, bantulah orang lain dalam seluruh kebutuhannya.
Hasan Al-Bashri mengutus sekelompok dari muridnya untuk memenuhi kebutuhan seorang. Lalu beliau mengatakan kepada orang yang sudah ditugaskan tadi, “مُرُّوا بِثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، فَخُذُوهُ مَعَكُمْ.” (Singgahlah ke Tsabit Al-Bunani, ajak dia bersamamu untuk membantu orang ini). Ya, Tsabit Bunani seorang tabiin. Jadi diutuslah misalnya, taruhlah lima orang. “Ayo singgah ke rumahnya Tsabit, bawa dia untuk pekerjaan ini, membantu seseorang.” Ini pekerjaan sosial nih, ya, sosial membantu orang.
Mereka pun mendatangi Tsabit. Tsabit mengatakan, “أَنَا مُعْتَكِفٌ.” (Hamba sedang beriktikaf). Ya, “Saya sedang beriktikaf, saya tidak bisa, gitu. Maaf, hamba enggak bisa, doh. Betul, hamba sedang iktikaf.”
Mereka yang disuruh tadi oleh Hasan Al-Bashri kembali kepada dia, kepada Hasan, melaporkan. Mereka melaporkan, kan tadi Hasan menyuruh pergi ke Tsabit. Lalu diberitahukan oleh orang tadi kepada Hasan bahwa Tsabit enggak mau karena dia beriktikaf. Apa kata Hasan (kepada Tsabit)? Katakan kepadanya, “يَا أَعْمَشُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ مَشْيَكَ فِي حَاجَةِ أَخِيكَ الْمُسْلِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حَجَّةٍ بَعْدَ حَجَّةٍ؟” (“Wahai A’masy.” A’masy ini maknanya adalah orang yang buta pada sore hari. “Tidakkah engkau tahu bahwa engkau berupaya bergerak, berusaha, berjalan dalam memenuhi kebutuhan saudaramu muslim itu lebih baik bagimu daripada haji dan haji? Haji ini, haji berikutnya, itu membantu saudara itu lebih baik daripada dilaksanakan berkali-kali.”)
Mereka pun pergi kembali kepada Tsabit memberitahukan. Dia tinggalkan iktikafnya, lalu dia pergi bersama kaum-kaum (mereka). Ini menunjukkan kepada kita adalah bagaimana kita bergerak di sosial itu, membantu orang sosial itu jauh lebih baik daripada ya, amalan pribadi. Amalan pribadi, tapi bantu orang, Allah baru bantu kita.
Abu Bakar Ash-Shiddiq رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ. Beliau memerah susu kambing satu RT, kambing-kambing di RT itu beliau yang memerah susu. Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, salah satu budak wanita dari kalangan mereka berkata, “الْآنَ لَا يَحْلُبُهَا.” (Kalau dia sudah jadi khalifah, berarti sekarang dia tidak akan memerah lagi). Lalu Abu Bakar mengatakan, “بَلَى، وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ لَا يُغَيِّرَنِي مَا دَخَلْتُ فِيهِ عَنْ خُلُقٍ كُنْتُ أَفْعَلُهُ.” (Aku berharap apa yang aku sekarang jabat tidak merubah apa yang telah aku lakukan, tentang sesuatu apa yang telah aku lakukan sebelum jadi (khalifah)). Konsisten dia melayani masyarakatnya atau RT-nya, ya. Karena orang Arab itu yang memerah susu itu adalah laki-laki, tidak perempuan. Mereka menganggap kalau ada perempuan yang memeras susu itu ada suatu hal yang aib. Apabila kaum laki-laki pergi bersafar jauh, mungkin perang dan yang lainnya, maka kaum wanita yang tinggal membutuhkan kepada orang yang bisa memerah susu-susu kambing itu untuk mereka. Bukan perempuan itu yang memerah. Abu Bakar Ash-Shiddiq رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ, dialah yang melakukan dalam melayani kebutuhan (mereka).
Begitu juga Umar, selalu peduli kepada para janda, di mana pada malam hari Umar menghantarkan air kebutuhan air para janda. Suatu malam, Thalhah melihat Umar masuk ke sebuah rumah yang di situ ada seorang perempuan. Pada siang hari, Thalhah datang mendatangi rumah tersebut. Ternyata perempuan itu adalah perempuan yang tua, yang buta, yang sudah duduk saja. Lalu Thalhah bertanya kepada perempuan tersebut, “مَا يَصْنَعُ هَذَا الرَّجُلُ لَكِ؟” (Apa yang dilakukan oleh laki-laki itu kepadamu?). Dia mengatakan, “هَذَا لَهُ مُنْذُ كَذَا وَكَذَا يَتَعَاهَدُنِي، يَأْتِينِي بِمَا يُصْلِحُنِي وَيُخْرِجُ عَنِّي الْأَذَى.” (Ini orang, dia telah melakukan sekian tahun dengan saya, selalu peduli dengan saya. Dia memberikan, membawa apa yang apa kebutuhan saya, dan menjauhkan dan menghilangkan sesuatu yang mengganggu saya). Dibantu terus oleh Umar.
Abu Wail, dia mendatangi wanita-wanita yang ada di kampungnya dan wanita-wanita tua, dia datangi setiap hari, membelikan kebutuhan-kebutuhan mereka dan apa yang cocok bagi mereka. Jadi kerjanya hanyalah untuk membantu orang-orang yang tidak mampu ini, belanja mungkin ke pasar, ya. Itu aja kerjanya untuk membantu orang-orang yang tidak bisa melakukan, dan dia lakukan.
Mujahid, dia mengatakan, “صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ لِأَخْدُمَهُ، فَكَانَ يَخْدُمُنِي.” (Aku menemani Ibnu Umar dalam sebuah perjalanan agar aku bisa melayaninya, membantunya. Ternyata Ibnu Umar itulah yang melayani saya). Maunya Mujahid tadi mau melayani Ibnu Umar, Ibnu Umarlah memberikan pelayanan pada temannya. Tentu Mujahid adalah tabiin, Ibnu Umar sahabat. Jauh lebih mulia Ibnu Umar daripada Mujahid. Tapi Ibnu Umar yang melayani.
Dan banyak dari orang-orang yang saleh apabila mereka dalam perjalanan atau safar, mensyaratkan kepada teman-temannya bahwa dialah yang akan melayani teman-temannya di dalam (perjalanan). Dan ini gambaran bagaimana yang disebutkan oleh hadis Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tadi adalah وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ. Allah selalu membantu hamba selama hamba itu juga selalu membantu mereka, bekerja melakukan, membantu saudaranya. Iman mereka, kepercayaan mereka, dan keyakinan mereka bahwa Allah akan membantu.
Dan hadis Nabi berikutnya:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.
“Siapa yang menempuh satu jalan yang pada jalan itu dia mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya dengan jalan itu sebuah jalan ke surga, dengan ilmu itu sebuah jalan ke surga.” Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memudahkan baginya dengan ilmu tadi sebuah jalan ke surga.
Menempuh jalan untuk mencari ilmu. Masuk di dalamnya menempuh jalan yang hakiki, yaitu berjalan kaki menuju majelis-majelis ilmu, majelis-majelis ulama. Hakiki. Masuk di dalamnya juga adalah yang maknawi. Menempuh cara-cara yang bisa menghantar kita untuk mendapatkan ilmu, itu juga menempuh jalan, ya, seperti menghafal ilmu, mempelajarinya, memuzakarahnya, mengulang-ulanginya, membacanya, menulisnya, memahaminya. Itu adalah menempuh jalan dan yang lainnya yang mana itu adalah jalan-jalan yang bersifat maknawi yang dengannya kita bisa menggapai ilmu.
Nabi mengatakan, “سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.” Allah mudahkan baginya dengan ilmu itu sebuah jalan ke surga.
Boleh jadi dengan ini dimaksud bahwa Allah memudahkan baginya ilmu yang dia tuntut dan dimudahkan baginya untuk meraihnya, dan ilmu itulah sebuah jalan yang bisa menghantarnya menuju ke surga.
Atau boleh jadi maknanya adalah Allah mudahkan bagi penuntut ilmu, apabila tujuan dia dalam menuntut ilmu itu adalah wajah Allah, ikhlas karena Allah, Allah mudahkan baginya bermanfaatnya ilmu untuknya, dimudahkan baginya untuk mengamalkan konsekuensi dari ilmu itu, sehingga ilmu itu merupakan faktor penyebab hidayah untuknya dan faktor penyebab dia masuk ke dalam surga.
Terkadang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memudahkan bagi penuntut ilmu dengan dia menuntut ilmu, ilmu-ilmu yang lain, dibukakan baginya pintu-pintu ilmu yang lain sehingga bermanfaat baginya dan bisa menghantarnya ke dalam surga. Karena surga itu butuh ilmu. Kalau api neraka enggak butuh ilmu. Kita lihat misalkan ketika kita belajar, dengan kita belajar kita tahu, “Oh, ini ada dapat pahala.” Lalu karena kita tahu ini adalah pahala, kita amalkan. Ya, semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak potensi pahala yang akan kita raih apabila ilmu itu kita amalkan.
Dan boleh jadi masuk ke dalam makna Allah mudahkan baginya dengan ilmu itu sebuah jalan ke surga, yakni jalan yang hakiki pada hari kiamat. Jalan yang menuju ke surga dimudahkan oleh Allah. Jalan menuju ke surga yang hakiki yaitu الصِّرَاطُ (jembatan). Dan apa yang terjadi sebelumnya Allah mudahkan, ya, dan apa yang setelah itu yang semuanya adalah beban-beban yang berat, ya, yang harus dihadapi, dengan ilmu itu Allah mudahkan sehingga dia mudah untuk masuk ke dalam surga.
Maka tidak ada jalan untuk mengenal Allah, tidak ada jalan untuk bisa sampai kepada keridaan Allah, bisa meraih kedekatan dengan Allah, bisa melewati menuju kepada Allah nanti pada hari kiamat, tidak ada yang bisa kecuali dengan ilmu yang bermanfaat, yang mana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengutus para rasul-Nya dengan ilmu yang bermanfaat itu. هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ. الْهُدَى adalah الْعِلْمُ النَّافِعُ (ilmu yang bermanfaat). وَدِينِ الْحَقِّ adalah الْعَمَلُ الصَّالِحُ. Yang mana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menurunkan kitab-kitab-Nya dengan ilmu nafi’. Dengan ilmu yang bermanfaat inilah kita mengenal Allah, sampai kepada keridaan Allah, kita bisa meraih kedekatan dengan Allah, kita bisa masuk kita ke surga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Kemudian Nabi melanjutkan:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.
“Tidak ada satu kaum yang duduk di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah, yang mereka membaca kitab Allah, yang dia mempelajari (bersama) mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat pun turun kepada mereka, malaikat pun menaungi mereka, Allah pun menyebut mereka di hadapan para malaikat (yang) ada di sisi-Nya.”
Ini menunjukkan dianjurkannya duduk di masjid. Ini maksudnya duduk di masjid, ya. Dianjurkan duduk di masjid untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajari Al-Qur’an. Ini juga menunjukkan bahwa sebaik-baik tempat kita belajar adalah masjid. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memberitahukan balasan orang yang duduk di masjid yang mereka mempelajari kitab Allah, bagian dia mempelajari kitab Allah dan mempelajari agamanya. Ada empat manfaat yang didapatkan:
- Yang pertama, turunnya ketenangan pada mereka.
- Yang kedua, datangnya rahmat kepada mereka. Allah berfirman: إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ. “Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.”
- Yang ketiga, para malaikat menaungi mereka.
- Yang kelima (seharusnya keempat), Allah menyebut mereka pada di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya. Allah menyebut hamba-Nya, maksudnya adalah Allah memujinya di hadapan para malaikat-malaikat dan berbangga dengan mereka. Dan itulah yang disebutkan dengan Allah menyebut mereka.
Jadi kita yang duduk di majelis ilmu di masjid, ya, kita akan mendapat empat (manfaat). Sebagian para salaf membawa anak-anak mereka, walaupun belum tahu tapi dia bisa diatur, ya, untuk mendapatkan manfaat ini. Dapatkan ketenangan, dapatkan rahmat, dinaungi malaikat, disebut oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Tapi tentunya anak yang bisa kita arahkan, jangan membikin keributan, ya. Bayi-bayi boleh, ya, akan dapat juga faedah tersebut walaupun dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang ada di situ akan mendapatkan ya, manfaat yang empat tadi.
Lalu di akhir Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:
وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ.
“Siapa yang amalannya memperlambatnya masuk ke dalam surga, maka nasab keturunannya tidak akan pernah mempercepatnya.” Maknanya, sesungguhnya amalan yang bisa menghantar, ya, sesungguhnya amalan itulah yang bisa menghantar hamba itu di akhirat kepada derajat yang tinggi. Siapa yang amalannya perlambat, ya, amalannya perlambat pada tingkat-tingkat yang tinggi di sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, maka nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya untuk meraih derajat yang tinggi tersebut. Kenapa? Karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan balasan itu atas amalan, tidak atas nasab. Nasab tidak memberikan pengaruh dalam pahala yang akan kita raih.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman: فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ. “Apabila telah ditiupkan sangkakala, maka tidak ada lagi hubungan nasab antara mereka dan mereka tidak akan saling bertanya.” Tadi sudah kita sebutkan, bapak dari anaknya akan lari, ya, saudara dan saudaranya akan melepas diri.
Dari الصَّحِيحَيْنِ (Shahih Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ berkata, Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda ketika diturunkan kepadanya: وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ. (“Berikanlah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.” Ini awal dari dakwah terang-terangan). Lalu Nabi mengumpulkan keluarganya. Nabi mengatakan:
يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ اللَّهِ، لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا. يَا عَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا. يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ، لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا. يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي، لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا.
“Wahai para Quraisy semuanya, belilah diri kalian dari Allah, ya. Aku tidak bisa membantu kalian sama sekali. Wahai Abbas putranya Abdul Muthalib (paman beliau), aku tidak bisa menolong kalian di hadapan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Aku tidak bisa menolongmu di hadapan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Wahai Sofiah bibinya Rasulillah, aku tidak bisa membantumu di hadapan Allah. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah kepadaku apa yang kau inginkan (dari hartaku), aku tidak bisa membantu (mu) di hadapan (Allah).” Kalau masalah dunia, mintalah. Di akhirat, kembali kepada masing-masing amalan.
Dan ini juga diperkuat dalam hadis yang dikeluarkan Bukhari Muslim dari Amr bin Ash, dia mendengar Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
إِنَّ آلَ أَبِي فُلَانٍ لَيْسُوا لِي بِأَوْلِيَاءَ، إِنَّمَا وَلِيِّيَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ.
“Sesungguhnya keluarga Abi Fulan, mereka bukanlah أَوْلِيَاءُ (para wali) ku. Sesungguhnya waliku yang menolongku, yang membelaku adalah Allah dan orang-orang yang saleh dari orang (mukmin).” Nasab boleh jadi tidak bisa membantu, ya. Dan ini mengisyaratkan bahwa الْوِلَايَةُ (loyalitas dan penolong) tidak bisa diraih dengan nasab, walaupun dia dekat, akan tetapi bisa didapatkan dengan iman dan amal saleh. Siapa yang imannya sempurna, amalannya sempurna, maka dia akan mendapatkan wilayah (pertolongan) dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Baik ada hubungan nasabnya dekat atau tidak, sama-sama.
Maka orang Arab dia mengatakan:
لَعَمْرُكَ مَا الْإِنْسَانُ إِلَّا بِدِينِهِ فَلَا تَتْرُكِ التَّقْوَى اتِّكَالًا عَلَى النَّسَبِ
لَقَدْ رَفَعَ الْإِسْلَامُ سَلْمَانَ فَارِسٍ وَقَدْ وَضَعَ الشِّرْكُ الشَّقِيَّ أَبَا لَهَبٍ
“Demi Allah, tidaklah ada manusia itu kecuali karena gara-gara agamanya. Jangan engkau tinggalkan takwa karena berharap gara-gara nasab (tidak mau meraih takwa karena beranggapan bahwa nasabnya nasab darah biru, ya). Islam telah mengangkat Salman Farisi, dan syirik telah merendahkan yang sengsara yaitu Abu Lahab.” Abu Lahab pamannya Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Maka orang-orang yang mengatakan bahwasanya dia keturunan Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, dialah adalah selamat. Tidak. Kalau seandainya amalannya dalam kehidupan sehari-hari tidak mencerminkan ketakwaan dan tidak mencerminkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, maka tentu menjadi (pelajaran) pada diri kita bahwasanya yang bisa menolong kita itu adalah amalan kita sendiri. Nasab, keturunan, hubungan karib kerabat, hubungan pertemanan itu tidak bisa ya, mempercepat atau meninggikan derajat kita. Yang ada adalah amalan kita.
Semoga bermanfaat ya. Dan hadis yang dibacakan tadi, hadis yang banyak tadi mirip juga dengan hadis Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dari Shahih Bukhari Muslim dari Ibnu Umar, Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ. مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ. وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Muslim itu saudaranya muslim yang lain, maka dia tidak boleh menzalimi (saudara) muslim lain, tidak boleh menyerahkan (saudara) muslim yang lain. Ya, siapa yang selalu memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan selalu memenuhi kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan kesusahan dari seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan dari dirinya kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” Di mana kita sangat memerlukan ya, ditutupnya aib kita di dunia dan (akhirat). وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ. Mudah-mudahan bermanfaat.
====================================================================
#Tanya Jawab
Pertanyaan 1: Bila kita meminjamkan sejumlah uang kepada orang lain, yang mana kewajiban kita mengingatkan orang itu bayar hutangnya pada kita?
Jawaban: Ya, selama kita butuh, ya kita ingatkan. Pertama, hutang itu harus ada tempo, ya. Tempo ini hutangnya berapa nih? Satu bulan. Sudah ada bulan jatuh tempo, kita ingatkan. Oh, ternyata dia masih susah, sudah kasih tempo berikutnya agar dia tahu dengan kewajibannya. Jangan tidak dikasih tempo. Dikasih tempo ini akan menjadikan dia ya, lalai, sementara hutang itu adalah harus ditunaikannya, harus dia bayarkan. Kalau seandainya yang memang susah, sudah kita tangguhkan, ya.
Pertanyaan 2: Bagaimana hukumnya seorang muslim bekerja sama atau lebih suka bermuamalah kepada orang kafir daripada muslim dikarenakan harganya yang selalu mahal atau barang jasanya jelek dan semisalnya? Yakni maksudnya mahal di pihak muslim, murah bagi pihak kafir misal, atau kualitasnya di kafir ini baik, di muslim jelek.
Jawaban: Pertama, muamalah itu tidak masuk kepada الْوَلَاءُ وَالْبَرَاءُ. Bermuamalah dengan orang kafir boleh. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ meninggal dunia, baju perangnya tergadaikan pada orang Yahudi ya, untuk kebutuhan rumah tangganya. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi tidak pernah mengeluh kepada para sahabat, ya. Tidak pernah mengeluh kepada para sahabat. Kira-kira kalau seandainya Nabi mengeluh kepada para sahabat, dipenuhi oleh para sahabat enggak? Penuhilah, ya. Jangankan harta, jiwa mereka korbankan. Tapi Nabi tidak, ya, sampai Nabi menghutangkan jaminannya baju perangnya. Hutang ini menunjukkan bahwa kita bermuamalah dengan orang kafir adalah boleh. Apalagi yang tadi kualitasnya yang sama, orang muslim kurang baik, orang ini baik, ya boleh. Tapi kalau seandainya agak mahal tapi kualitasnya sama, mahalnya mahal sedikit aja, ya bantulah, ya. Kayakan muslim. Karena kayanya orang muslim manfaatnya kembali kepada muslim. Kenapa? Kalau dia kaya, dia akan mengeluarkan zakat. Zakat akan diberikan kepada kaum muslimin. Tapi kalau orang kafir kaya, enggak akan pernah dia mengeluarkan zakat, ya.
Pertanyaan 3: Kapankah ketaatan terhadap seseorang sesama makhluk menjadi syirik besar?
Jawaban: Apabila berhubungan dengan ketaatan ibadah. Ini barometernya: لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ. (Tidak ada ketaatan kepada makhluk jika berbuat maksiat kepada Sang Khalik). Jadi kalau bermaksiat kepada Sang Khalik lalu dia taati, bermaksiat kepada Sang Khalik, maka ini jatuh kepada syirik.
Pertanyaan 4: Dalam riwayat dikatakan تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ. (Nikahilah wanita yang penyayang dan subur). Bagaimana cara seorang mengetahui calon istri yang penyayang dan subur sebelum terjadinya pernikahan?
Jawaban: Kan bisa kita lihat karakternya, ya. Kita carikan informasi atau kita utus orang tua kita, saudara perempuan kita, kita cari informasi. عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِينِهِ فَإِنَّ الْقَرِينَ بِالْقَرِينِ يَقْتَدِي. (Tentang seseorang jangan ditanya, tapi tanya temannya, karena seseorang ya akan meniru temannya). Coba kawan si A, ya tanya kawannya, bagaimana sifatnya. Adapun subur, apakah ini menunjukkan bahwa kita menikahi janda yang sudah punya banyak anak? Enggak, ya. Lihat dia dari keluarga yang kakaknya bagaimana, dia bersaudara. Oh ya, bersaudara 10-an, ya. Berarti ibunya subur. Ibunya subur biasanya anak-anak perempuannya juga subur. Lihat kakaknya punya anak banyak, adiknya punya banyak anak. Nah, ini adalah bagian dari cara kita untuk melihat kesuburannya. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Pertanyaan 5: Bolehkah kita menyampaikan aib seseorang kepada orang lain dengan maksud agar berhati-hati terhadap orang yang kita sebut aibnya tersebut supaya tidak memudaratkan kita dan orang lain?
Jawaban: Aibnya apa? Di dalam التَّحْذِيرُ (mengingatkan orang lain), lalu kita sebutkan aibnya dalam berhubungan dengan itu, ya, maka tidak apa-apa dan itu tidak masuk aib. Ada enam pengecualian dikecualikan oleh Imam An-Nawawi. Tapi kalau seandainya dia suka tidak membayar hutang, suka berhutang dan tidak mau bayar, lalu kita katakan, “Kalau datang pula minta pinjam uang, jangan mau, dia itu suka bertengkar dengan istrinya.” Apa hubungannya dia bertengkar dengan istrinya dengan hutang? Atau dia berhubungan dengan orang lain, enggak ada hubungannya. Tapi, “Oh, dia ini tidak menepati janji, ya, tidak ee apa, ee dia lalai di dalam membayar hutang. Pinjam uang tapi enggak bayar hutang.” Nah, kalau gitu boleh. Yang berhubungan dengan itu sehingga orang ya, mengambil sikap kehati-hatian dari orang tersebut, maka itu tidak termasuk aib.
Pertanyaan 6: Dalam Surah Mujadilah ayat 11 dikatakan Allah menaikkan derajat seorang lebih berilmu. Ilmu di sini apakah ilmu agama saja atau termasuk ilmu dunia?
Jawaban: Yang pertama ilmu agama, dan ilmu dunia yang bermanfaat bisa juga, ya. Tapi ilmu yang paling bermanfaat itu adalah ilmu (agama). Kalau ada ulama ada membagi ilmu itu terbagi kepada tiga: ilmu عُلْوِيٌّ (ilmu kelangitan), ilmu سُفْلِيٌّ (ilmu bumi), ilmu مُجَرَّبٌ atau ilmu مُقَارَنَةٌ. Ilmu عُلْوِيٌّ itu ilmu kelangitan dan itu adalah ilmu wahyu. Semuanya adalah baik, tidak ada yang buruk, ya. Ilmu سُفْلِيٌّ (ilmu bumi), ya, maksudnya ilmu yang rendah itu adalah sihir. Sama dengan itu semuanya adalah jelek. Enggak ada apa? Jadi enggak ada namanya sihir putih. Semuanya adalah (jelek), ya. Kemudian yang di tengah-tengah yaitu ilmu مُقَارَنَةٌ (ilmu perbandingan). Semua ilmu تَجْرِبَةٌ (percobaan) itu semuanya adalah perbandingan, ya. Kedokteran atau apa. Ilmu-ilmu yang dianggap ada ilmu baik itu adalah perbandingan. Enggak cocok dengan kamu, diberikan siklus baru, cocok gitu. Ilmu dunia yang baik itu kembali kepada si pemakai, ya. Ilmu kesehatan baik atau tidak baik. Tapi ketika dipakai oleh orang yang tidak bertakwa, ya menjadi jelek. Bukannya menyembuhkan tetapi mendatangkan penyakit, bukannya menghidupkan tapi mematikan. Walaupun itu adalah ilmu yang tadinya ilmu ee baik. Dia adalah senjata yang punya dua mata. Sama dengan pisau. Pisau bisa meracik bawang, ya, bisa juga meracik leher. Jadi semuanya sesuai dengan atau kembali kepada yang ee memegangnya. وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.
Demikian yang dapat kita sampaikan. Semoga bermanfaat.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
