0%
Kembali ke Blog Syarah Shahih Muslim : Anjuran dan Larangan Memakan Bawang Putih

Syarah Shahih Muslim : Anjuran dan Larangan Memakan Bawang Putih

23/10/2025 62 kali dilihat 12 mnt baca

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. اَللّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ. اَللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اَللّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.

Kembali kita melanjutkan kajian kita tentang Sahih Muslim. Masih di dalam kitab al-Ath’imah dari Sahih Muslim. Kitab tentang makanan. Ada lagi yang memberi judulnya al-Asyribah, minuman.

بَابٌ إِبَاحَةُ أَكْلِ الثُّوْمِ وَأَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ خِطَابَ الْكِبَارِ تَرْكُهُ وَكَذَا مَا فِي مَعْنَاهُ (Babnya makan bawang putih. Dan sepatutnya bagi orang yang hendak berbicara dengan orang yang lebih tua untuk tidak memakannya. Begitu juga dengan hal lain yang serupa).

disini ada beberapa hadis. Yang pertama:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ (وَاللَّفْظُ لِابْنِ الْمُثَنَّى) قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ عَنْ أَبِي أَيُّوْبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … وَإِنَّهُ بَعَثَ إِلَيَّ يَوْمًا بِفَضْلَةٍ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا لِأَنَّ فِيْهَا ثُوْمًا فَسَأَلْتُهُ: أَحَرَامٌ هُوَ؟ قَالَ: لَا وَلَكِنِّي أَكْرَهُهُ مِنْ أَجْلِ رِيْحِهِ. قَالَ: فَإِنِّي أَكْرَهُ مَا كَرِهْتَ.

Dengan sanadnya kepada … Abi Ayyub al-Anshari radhiallahu taala anhu. Dia berkata, “Adalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam biasanya apabila dia diberi makanan, maka beliau memakan dari makanan yang diberikan kepadanya atau sebagian dari makanan yang diberikan kepadanya. وَبَعَثَ بِفَضْلِهِ إِلَيَّ (Sisa dari makanan itu beliau kirim kepadaku). وَإِنَّهُ بَعَثَ إِلَيَّ يَوْمًا بِفَضْلَةٍ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا (Pada satu hari beliau mengirim kepadaku sebuah sisa makanan yang beliau belum menyentuhnya. Jadi beliau tidak memakan sama sekali). لِأَنَّ فِيْهَا ثُوْمًا (Karena di dalamnya, dalam makanan tersebut, terdapat bawang putih). فَسَأَلْتُهُ (Lalu aku bertanya kepada beliau), أَحَرَامٌ هُوَ؟ (Apakah bawang putih itu haram?). قَالَ: لَا (Beliau mengatakan tidak). وَلَكِنِّي أَكْرَهُهُ مِنْ أَجْلِ رِيْحِهِ (Akan tetapi aku tidak menyukainya disebabkan aromanya). قَالَ (Lalu Abu Ayyub al-Anshari mengatakan), فَإِنِّي أَكْرَهُ مَا كَرِهْتَ (Sesungguhnya aku tidak menyukai apa yang engkau tidak sukai).”

Ini kembalikan dari yang sebelumnya. Menyukai apa yang disukai oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Di sini sahabat Abu Ayyub al-Anshari dia tidak menyukai apa yang tidak disukai oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

Hadis yang kedua:

حَدَّثَنِي حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ وَمُحَمَّدُ بْنُ سَعِيْدِ … قَرِيْبٌ. قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو نُعْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ (فِي رِوَايَةِ حَجَّاجٍ: بْنُ يَزِيْدٍ أَبُو زَيْدٍ الْأَحْوَلِ) قَالَ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أَفْلَحَ مَوْلَى أَبِي أَيُّوْبَ عَنْ أَبِي أَيُّوْبَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَزَلَ عَلَيْهِ. (فَنَزَلَ) النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السُّفْلِ وَأَبُو أَيُّوْبَ فِي الْعُلْوِ. قَالَ فَانْتَبَهَ أَبُو أَيُّوْبَ لَيْلَةً فَقَالَ: نَمْشِي فَوْقَ رَأْسِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَتَنَحَّوْا فَبَاتُوْا فِي جَانِبٍ. … لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ النَّBِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: السُّفْلُ أَرْفَقُ. فَقَالَ: لَا أَعْلُوْ سَقِيْفَةً أَنْتَ تَحْتَهَا. فَتَحَوَّلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعُلْوِ وَأَبُو أَيُّوْبَ فِي السُّفْلِ. فَكَانَ يَصْنَعُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا. فَإِذَا جِيءَ بِهِ إِلَيْهِ سَأَلَ عَنْ مَوْضِعِ أَصَابِعِهِ فَيَتَتَبَّعُ مَوْضِعَ أَصَابِعِهِ. فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا فِيْهِ ثُوْمٌ. فَلَمَّا رُدَّ إِلَيْهِ سَأَلَ عَنْ مَوْضِعِ أَصَابِعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقِيْلَ لَهُ: لَمْ يَأْكُلْ. فَفَزِعَ فَصَعِدَ إِلَيْهِ فَقَالَ: أَحَرَامٌ هُوَ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا وَلَكِنِّي أَكْرَهُهُ. قَالَ: فَإِنِّي أَكْرَهُ مَا تَكْرَهُ (أَوْ مَا كَرِهْتَ). قَالَ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى (بِالْوَحْيِ).

Dengan sanadnya kepada Abi Ayyub al-Anshari radhiallahu taala anhu. Beliau menceritakan bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam singgah di rumahnya, yakni di rumah Nabi Ayub. Nabi sallallahu alaihi wasallam berada di bagian bawah rumah, yakni rumahnya dua tingkat. Sementara Abi Ayub berada di bagian atas. Lalu di malam hari, Nabi Ayub terbangun seraya berkata, نَمْشِي فَوْقَ رَأْسِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ (Dia mengatakan, “Kita berjalan di atas kepala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam?”). فَتَنَحَّوْا فَبَاتُوْا فِي جَانِبٍ (Lalu mereka meminggir dari tengah rumahnya bagian atas. Sehingga mereka, keluarganya Ayub ini, dia dan keluarganya bermalam di bagian pinggir dari lantai atas). قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (lalu beliau menceritakan kepada nabi). فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (lalu nabi mengatakan), السُّفْلُ أَرْفَقُ (lantai bawah lebih nyam… lebih mudah bagi beliau daripada naik ke atas. Kalau di bawah tidak perlu naik naik ke atas). فَقَالَ (Lalu Abu Ayyub mengatakan), لَا أَعْلُوْ سَقِيْفَةً أَنْتَ تَحْتَهَا (Beliau mengatakan, “Aku tidak mau berada di bagian atas jika engkau berada di bagian bawah”). فَتَحَوَّلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعُلْوِ (Lalu Nabi pindah yang tadinya di bawah beliau naik ke atas), وَأَبُو أَيُّوْبَ فِي السُّفْلِ (kemudian Bu Ayub dan keluarganya berada di bawah ya). فَكَانَ يَصْنَعُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا (Abu Ayub membuatkan makanan untuk Rasulullah). فَإِذَا جِيءَ بِهِ إِلَيْهِ (Apabila makanan itu, sisa dari makanan itu kembali kepada beliau yakni kepada Abi Ayub), سَأَلَ عَنْ مَوْضِعِ أَصَابِعِهِ (Abu Ayub menanyakan tentang di mana posisi jari jemari Rasulullah dari makanan tadi). فَيَتَتَبَّعُ مَوْضِعَ أَصَابِعِهِ (Nabi Ayub mencari posisi atau bekas posisi dari tangan Rasulullah sallallahu atau jemari-jemari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam). فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا فِيْهِ ثُوْمٌ (Lantas beliau juga buat makanan untuk Rasulullah namun di dalamnya ada bawang putih). فَلَمَّا رُدَّ إِلَيْهِ سَأَلَ عَنْ مَوْضِعِ أَصَابِعِ النَّBِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Ketika makan tadi dikembalikan, yakni sisa setelah makan terus balik ya piringnya balikah. Lalu beliau juga kembali nanyakan di mana nih tangannya Rasulullah tadi, jari jemari Rasulullah). فَقِيْلَ لَهُ: لَمْ يَأْكُلْ (Lalu ada yang mengatakan kepadanya, membawakan makanan Rasulullah tadi yang kembali, “Nabi belum, tidak memakannya”).

فَفَزِعَ فَصَعِدَ إِلَيْهِ (Lalu dia cemas. “Kok enggak, Nabi kok enggak makan?” Maka Abu Ayub naik ke atas). فَقَالَ (Lalu dia tanya), أَحَرَامٌ هُوَ؟ (Apakah haram dia ya Rasulullah? yakni makanannya ada apa putih ini haram). وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا وَلَكِنِّي أَكْرَهُهُ (Akan tapi aku tidak menyukainya). قَالَ: فَإِنِّي أَكْرَهُ مَا تَكْرَهُ (أَوْ مَا كَرِهْتَ) (Akan tapi aku, ee, sesungguhnya aku tidak menyukai apa yang engkau tidak sukai atau apa yang telah engkau tidak sukai). وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى (بِالْوَحْيِ) (Nabi adalah Nabi sallallahu alaihi wasallam selalu didatangi wahyu).

Dari dua hadis yang kita pelajar ini, ada beberapa pelajaran bisa kita ambil. Yang pertama:

قَوْلُهُ: وَسَأَلْتُهُ أَحَرَامٌ هُوَ؟ قَالَ: لَا وَلَكِنِّي أَكْرَهُهُ مِنْ أَجْلِ رِيْحِهِ. (Ketika Abu Ayub bertanya kepada Nabi, “Apakah ini haram?” Nabi mengatakan tidak. Lalu beliau jelaskan bahwa sesungguhnya aku tidak menyukainya disebabkan oleh faktor aromanya).

Hadis ini, kata Imam Nawawi, تَصْرِيْحٌ بِإِبَاحَةِ الثُّوْمِ (Ini penjelasan yang nyata akan bolehnya memakan bawang putih). Bolehnya bawang putih ini. وَهُوَ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ (Hal ini disepakati bahwa bawang putih itu adalah boleh. Dia halal). لَكِنْ يُكْرَهُ لِمَنْ أَرَادَ حُضُوْرَ الْمَسْجِدِ … أَوْ مُخَاطَبَةَ الْكِبَارِ (Akan tetapi makruh hukumnya atau tidak disukai bagi orang yang ingin hadir ke masjid). Karena adil ada dalil katanya, ada dalil: مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَلَا يُصَلِّيَنَّ مَعَنَا (Siapa yang memakan buah ini atau pohon ini dari pohon ini, jangan dia dekati masjid kami, jangan salat bersama kami). Jadi, bagi orang yang ingin menghadiri masjid, nah tidak disukai untuk dia memakannya atau menghadiri perkumpulan di luar masjid. Pergi ke baralek (pesta pernikahan) misalkan. Nah, janganlah makan bawang putih dulu sebelum berangkat. أَوْ مُخَاطَبَةَ الْكِبَارِ (atau berbicara kepada orang yang lebih senior, yang lebih tua). Ini dalam rangka apa? Memuliakannya. Ya, ini dalam agama kita ada senioritas memuliakan orang yang lebih tua. Hadisnya Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كِبَارَنَا (Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak memuliakan senior, memuliakan yang lebih tua).

Baik. وَيُلْحَقُ بِهِ كُلُّ مَا لَهُ رِيْحٌ كَرِيْهٌ (Digolongkan dengan hukum tsūm ini, bawang putih ini, seluruh sesuatu yang memiliki aroma yang tidak disukai). Ah, sekarang tidak disukai ini relatif pula nih. Duren gimana? Duren disukai rasanya, aromanya. Kalau seandainya ada parfum durian ada yang mau makai gak? Pasti enggak ada. Tapi rasanya enak gitu. Inilah kata orang, ini durian yang terzalimi oleh baunya. Coba ketika kita salat samping kita ada orang bacindawian (bersendawa bau durian) kan panak (sesak). Nah, makan duriannya boleh, tapi jangan sebelum berangkat. Apalagi yang lain? Nah, jengkol. Hilangkan baunya dengan petai. Ya, petai dilanggar baunya dengan jengkol. Itu cakap P itu saya dan hal-hal yang lain ya termasuk misalkan pakaian. Ada orang bawa kaos kaki ya yang sudah bau dia bawa ke dalam masjid. وَقَدْ سَبَقَتِ الْمَسْأَلَةُ مُسْتَوْفَاةً فِي كِتَابِ الصَّلَاةِ (pembahasannya pada pembahasan waktu salat).

Maka dianjurkan, Nabi adalah orang yang sangat sensitif. Yang tidak sedap itu enggak suka beliau. Maka beliau awal beliau masuk ke rumah apa yang beliau lakukan? Bersiwak. Dan apa? Asbābun nuzūl, asbab turunnya surah Tahrim. Allah berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ (Wahai Nabi, kenapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Rabbmu karena gara-gara untuk mencari keridaan istri-istrimu). Dan Nabi tidak suka yang tidak sedap. Ya, bukan tidak sedap makan, tidak sedap baunya. Yakni ada propaganda-propaganda yang dilakukan oleh sebagian istrinya. Ketika masuk ke istrinya, dia bilang, “Anda tadi makan ee minum madu yang terbuat dari atau buahnya apa? Madunya makan buah buah… pohon ini gitu yang bau aromanya tidak sedap.” Setiap kali datang ke istri diomongin hal yang sama. Ini seakan-akan Rasulullah makan atau minum madu itu kemudian lengket aromanya yang menjadikan orang tidak nyaman. Akhirnya Nabi, “Oh, sudah kalau gitu saya enggak makan minum madu lagi.” Sementara madu halal ya. Nah, ini menunjukkan kepada kita bahwa Nabi itu sangat risih kalau seandainya ada aroma yang tidak sedap. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ … الطِّيْبُ (Diberikan rasa kecintaan kepadaku dari dunia kalian… di antaranya adalah parfum). Nabi sangat suka dengan parfum dan Nabi ketika dikasih parfum enggak pernah menolak. Imam Nawawi, eh Imam Syafi’i mengatakan tidak ada nilai berlebih-lebihan dalam berparfum. Ya, ada yang beli parfum mahal haromanya mau ya semakin bagus semakin mahal. Maka itu tidak ada yang nilainya buang-buang. “Oh, terlalu royal.” Enggak ada. Kenapa manfaatnya tadi? Bahwa tidak ada orang yang tidak suka dengan parfum yang harum. Malah menjadikan orang lengket, nyaman. Maka disuruh kita untuk… ke masjid pakai parfum. Makanya ketika kita berada di dalam perkumpulan-perkumpulan kalau kita lihat itu dianjurkan untuk mandi dulu. Ini tashfiyah dan tarbiyah. Ini tashfiyah, bersihkan dulu baru kasih parfum gitu kan. Jangan enggak mandi tapi kasih parfum. Ceka-caklah harusnya bau ya.

Ya. قَوْلُهُ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى. مَعْنَاهُ تَأْتِيْهِ الْمَلَائِكَةُ بِالْوَحْيِ (Yakni… diberikan wahyu, yakni malaikat datang dengan membawa wahyu). كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيْثِ الْآخَرِ: إِنِّي أُنَاجِي مَنْ لَا تُنَاجِي (Sesungguhnya aku bermunajat zat yang kalian tidak bermunajat kepadanya. Yakni tidak bermunajat langsung). وَالْمَلَائِكَةُ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى بِهِ بَنُوْ آدَمَ (Sesungguhnya malaikat merasa risih, terganggu dengan sesuatu yang mengganggu anak Adam). Yakni sama. Anak Adam tidak suka dengan bau-bau yang tidak sedap. Malaikat juga enggak mau. Makanya Nabi tidak mau dia ada aroma itu. Tidak hanya pergi ke masjid saja, tapi karena memang bawang putih itu mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Ketika dia makan tentu muncul aroma itu dari dari mulutnya. Sementara beliau akan didatangi oleh malaikat Jibril untuk membawakan wahyu. Kalau dalam kondisi itu tentu malaikat Jibril enggak mau datang karena dia merasa terganggu dengan sesuatu yang mengganggu anak Adam.

وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْرُكُهُ دَائِمًا لِأَنَّهُ يَتَوَقَّعُ مَجِيْءَ الْمَلَائِكَةِ وَالْوَحْيِ كُلَّ سَاعَةٍ (Beliau sama sekali tidak makan bawang putih. Kenapa? Karena dia selalu mengira-ngira, selalu berharap dengan kedatangan malaikat, dengan kedatangan wahyu setiap saat). Kan tidak ada jadwal tertentu untuk datang. Beda dengan jadwal salat. Jadwal salat ada. Tapi jadwal kedatangan malaikat Jibril tidak ada. Maka setiap saat dia ya kemungkinan akan datang. وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي حُكْمِ الثُّوْمِ فِي حَقِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Melihat hal itu, Nabi tidak makannya. Maka terjadi perbedaan pandangan ulama Syafi’i atau ulama Syafi’iyah tentang hukum makan bawang putih bagi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Untuk Rasulullah sendiri ini bagaimana nih hukumnya terjadi perbedaan). وَكَذَلِكَ الْبَصَلُ وَالْكُرَّاثُ وَنَحْوِهَا (Begitu juga bawang merah dan kurrāts. Kurrāts itu ini pohon yang dia mengeluarkan bunga yang itu bunga itu yang kadang-kadang oleh lebah disedotnya itu mendatang… mengeluarkan aroma madunya beraroma kurrāts yang kurang senang. Mungkin bagi kita ya mungkin seperti jengki tadilah ya, jengkol atau petai misalnya). فَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا: هِيَ مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِ (Sebagian dari sahabat-sahabat kami, yakni sebagian ulama Syafi’iyah mengatakan, bahwasanya bawang putih itu haram terhadap Nabi). وَالْأَصَحُّ أَنَّهَا مَكْرُوْهَةٌ كَرَاهَةَ تَنْزِيْهٍ لَيْسَتْ مُحَرَّمَةً (Yang lebih tepatnya menurut mereka bahwasanya itu adalah makruh. Makruh bukan, ee, makruh dalam membersihkan, yaitu makruh lebih baik ditinggalkan ya, bukan dia sesuatu yang haram). لِعُمُوْمِ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا. فِي جَوَابِ قَوْلِهِ: أَحَرَامٌ هُوَ؟ (Karena keumuman dari makna perkataan nabi “tidak”, dalam menjawab pertanyaan “apakah dia haram?”. Nabi mengatakan “tidak”, berarti ini menunjukkan tidak haram terhadap diri nabi juga tidak haram ya). وَمَنْ قَالَ بِالْأَوَّلِ يَقُوْلُ مَعْنَاهُ: لَيْسَ بِحَرَامٍ فِي حَقِّكُمْ. وَاللهُ أَعْلَمُ (Menurut orang yang pertama: “Untuk kalian tidak haram, untuk saya haram.” Ah, gitulah ya. Tapi pendapat yang terkuat adalah dia tidak haram, tapi beliau tidak menyukai. Sebagaimana yang disebutkan ya di dalam hadis jelas bahwasanya ee aku tidak menyukai aromanya).

قَوْلُهُ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ أَكَلَ مِنْهُ وَبَعَثَ بِفَضْلِهِ إِلَيَّ (Ungkapan dalam hadis: Nabi sallallahu alaihi wasallam apabila diberikan makanan, beliau memakan sebagian dari makanan itu dan mengirim sisanya kepadaku. Kata siapa? Abu Ayyub al-Anshari).

قَالَ الْعُلَمَاءُ فِي هَذَا: إِنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْآكِلِ وَالشَّارِبِ أَنْ يُفْضِلَ … فَضْلَةً لِيُوَاسِيَ بِهَا مَنْ بَعْدَهُ (Ulama mengatakan dalam makna ini, hendaklah bagi orang yang makan dan minum, dia sisakan makanan dan minuman itu untuk bentuk kepedulian dan solidaritasnya kepada orang lain). Ya. Jadi jangan habisin semua. Apalagi kalau seandainya dia tahu ada orang di belakang. Sisa dari mana? bukan sisa dari piringnya gitu, tapi dari makanan. Kalau seandainya makan di situ ada lima potong, sudah ambil tiga, tinggalkan dua. Sehingga orang yang apa? Orang yang mengambilnya, “Oh ada sisa,” itu namanya muwāsāh. Yakni ada rasa kepedulian dan rasa solidaritasnya kepada yang lain. لَا سِيَّمَا إِذَا كَانَ مِمَّنْ يُتَبَرَّكُ بِفَضْلَتِهِ (Apalagi dari orang yang berharapkan keberkahan dari sisanya. Tentu ini hanya kepada nabi ya. hanya kepada Nabi. Adapun kita ya keberkahan dari sisa itu hanya ada makan yang akan dimakan ya, bukan kemuliaannya). وَكَذَا إِذَا كَانَ فِي الطَّعَامِ قِلَّةٌ وَلَهُمْ إِلَيْهِ حَاجَةٌ … لِأَهْلِهِ … كَمَا يَفْعَلُهُ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ (Apabila ini makanan sedikit, kalau makanan sedikit maka hendaklah kita ketika disuguhkan jangan habisin semuanya. Sementara orang yang menyuguhkan makanan tadi membutuhkan juga. Makanannya sedikit nih, tapi ya yang memberikan dia butuh juga. Dan lebih ditekankan lagi ini pada orang tamu. Biasanya kalau tamu kan dikeluarkan semuanya gitu ya. Nah, pada tamu gaklah jangan habis semuanya, sisakan. Terutama ketika yang memiliki makanan ini atau ṣāhibul bait atau kebiasaan keluarga itu mengeluarkan seluruh apa yang dia miliki). Ya, karena datang tamu memuliakan tamu, dia keluarkan semuanya yang ada di rumahnya dikasihkan. Maka jangan kita habisi semua. Kenapa? keluarganya, anak-anaknya menunggu sisa nih. Karena memuliakan tamu, hendaklah tamunya mengerti juga. Janganlah bisnis semua ya. Jangan mumpung, “Eh, mumpung ada nih, paslah yang disukai,” gitu. كَمَا يَفْعَلُهُ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ (Sebagaimana kebanyakan orang melakukan yang demikian, yakni mengeluarkan seluruh apa yang ada pada dia untuk memuliakan tamu. Maka kita sebagai tamu harus ee apa namanya? Harus mengerti. Jangan habiskan semuanya). وَنُقِلَ عَنِ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ إِفْضَالَ فَضْلَةٍ … (dinukilkan bahwa para salaf mereka dahulu sangat menyukai untuk menyisakan sisaan dari makanan ini. Jadi setiap disuguhkan tadi lima mungkin tiga dimakan ya, dua disisakan ya). وَهَذَا الْحَدِيْثُ أَصْلٌ لِذَلِكَ كُلِّهِ (Hadis ini adalah dasar itu semua).

قَوْلُهُ: نَزَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السُّفْلِ وَأَبُو أَيُّوْبَ فِي الْعُلْوِ … فَكَرِهَ أَبُو أَيُّوْبَ لِعُلُوِّهِ وَمَشْيِهِ فَوْقَ النَّBِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … فَتَحَوَّلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْعُلْوِ. (Adapun nabi singgah di rumahnya abu ayub kemudian beliau berada di bawah. Kemudian Abi Ayub di atas. Dia merasa risih untuk berjalan di atas kepala Rasulullah. Lalu berpindahlah Rasulullah ke atas dan Abu Ayub di bawah). أَمَّا نُزُوْلُهُ أَوَّلًا فَقَدْ … سَبَبُهُ: أَنَّهُ أَرْفَقُ بِهِ وَبِأَصْحَابِهِ وَقَاصِدِيْهِ (Adapun nabi yang memilih bagian bawah sudah dijelaskan apa sebabnya. Yaitu yang lebih baik bagi dia. Bagi sahabat-sahabatnya. Dan bagi orang yang ingin mendatangi Rasulullah lebih mudah kalau naik ke atas. Kalau beliau ke atas kan tentu ada yang mendatangi Rasulullah terus). وَكَرَاهَةُ أَبِي أَيُّوْبَ مِنَ الْأَدَبِ الْمَحْبُوْبِ الْجَمِيْلِ (Adapun ketidaksukaan Nabi Ayub tadi berjalan di atas, kan ada lantai ini. Tapi ini merupakan bagian dari adab etikanya yang sangat indah). وَفِيْهِ إِجْلَالُ أَهْلِ الْفَضْلِ وَالْمُبَالَغَةُ فِي الْأَدَبِ مَعَهُمْ (Maka dari sini kita ambil adanya sikap memuliakan orang yang memiliki keutamaan ya dan bersungguh-sungguh di dalam beretika dengan mereka). السُّفْلُ وَالْعُلْوُ بِكَسْرِ أَوَّلِهِمَا (السِّفْلِ وَالْعِلْوِ) … أَوْ بِضَمِّهِمَا (السُّفْلِ وَالْعُلْوِ) (Ini ada ya). وَفِيْهِ مَنَاقِبُ ظَاهِرَةٌ لِأَبِي أَيُّوْبَ الْأَنْصَارِيِّ (Di sini keutamaan bagi Abyub ya, sifat yang mulia bagi beliau). Di antaranya نُزُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Di antara keutamaan Nabi ee Abu Ayub adalah Nabi mau singgah di, ee, menetap atau ee menginap di rumahnya Abi Ayub). وَمِنْهَا أَدَبُهُ مَعَهُ (Di antara kemuliaan Abi Ayub juga adalah bagaimana Abu Ayub sangat beretika ya, beradab dengan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam). وَمِنْهَا مُوَافَقَتُهُ فِي تَرْكِ الثُّوْمِ (Di antara juga keadaan keutamaan Abu Ayub adalah beliau melakukan ee tindakan yang sama dengan Rasulullah di dalam meninggalkan bawang putih. Ini juga bagian dari keutamaannya). قَوْلُهُ: إِنِّي أَكْرَهُ مَا تَكْرَهُ. (Aku membenci apa yang engkau benci). وَمِنْ أَوْثَقِ … الْمَحَبَّةِ … (Aku tidak menyukai apa yang engkau tidak sukai. Ini merupakan atau merupakan ee ciri-ciri kecintaan yang jujur, betul-betul cinta nih adalah menyukai apa yang disukai oleh yang dicintai dan membenci apa yang dibenci oleh yang kita cintai). Maka orang Syiah cintanya kepada Rasulullah cinta gombal, bohong. Kenapa? Karena Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sangat mencintai dari istri-istrinya adalah Aisyah. Konsekuensi dari cinta kepada Rasulullah, bukti cinta kepada Rasulullah adalah mencintai orang yang dicintai oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Membenci orang yang dibenci oleh Rasulullah. Kalau kita mengatakan, “Saya cinta dengan ayah saya,” tapi kita sukai apa yang tidak disukai oleh orang oleh orang tua kita, oleh ayah kita. Ini bertolak belakang. Itu bukanlah cinta dari ee ciri dari cinta yang sebenarnya, cinta yang jujur.

وَكَانَ يَصْنَعُ لِلنَّبِيِّ طَعَامًا فَإِذَا جِيءَ بِهِ إِلَيْهِ سَأَلَ عَنْ مَوْضِعِ… (Apabila dibuatkan makanan untuk Nabi, dia kirim lalu dikembalikan sisanya. Beliau tanya, “Di mana posisi tang… jari jemari Rasulullah?”). … إِلَيْهِ فَأَكَلَ مِنْهُ حَاجَتَهُ ثُمَّ … الْفَضْلَةَ أَكَلَ أَبُو أَيُّوْبَ مِنْ مَوْضِعِ أَصَابِعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبَرُّكًا (Yakni dikirimkan makanan kepadanya kemudian sisanya dikembalikan. Nabi Ayub mencari di mana posisi tangannya, jari jemari Rasulullah untuk tabarruk). وَفِيْهِ التَّبَرُّكُ بِآثَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Ini adalah mencapatkan keberkahan dari sisa nabi). Di sini disebutkan آثَارِ أَهْلِ الْخَيْرِ فِي الطَّعَامِ وَغَيْرِهِ (Sisa dari orang yang punya kemuliaan). Ini enggak, bukan, tidak tidak pula kita berebut dari sisa makanan guru, yang ada adalah sisa makanan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dikatakan kepada bahwasanya Nabi tidak makan. Lalu Abu Ayyub menjadi risih. Yakni … امْتِنَاعِهِ … (Kecemasan dari Abi Ayub itu dikarenakan dia takut kalau terjadi sesuatu dari dia, perkara yang menyebabkan dia [Nabi] tidak menyukai makanan itu).

Nah, di sini nampak sekali bagaimana ya para sahabat mengikuti Rasulullah, mencintai apa yang dicintai Rasulullah, apa membenci apa yang dibenci oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Semoga Allah subhanahu wa taala memberikan kemudahan bagi kita untuk menjalankan sunahnya ya dan berupaya untuk selalu mencintai sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sehingga kita hidup kita penuh dengan ee sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan wafat di atas sunahnya.

Semoga bermanfaat. … مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

62