0%
Kembali ke Blog Tabligh Akbar : Cintailah Saudaramu Semuslim, Allah Akan Mencintaimu

Tabligh Akbar : Cintailah Saudaramu Semuslim, Allah Akan Mencintaimu

17/06/2025 82 kali dilihat 26 mnt baca

Kita berkumpul di tempat yang penuh berkah dan mulia ini karena dua nikmat utama dari Allah Subhanahu wa Ta’ala: iman dan Islam. Kedua nikmat inilah yang menjadikan kita saling mencintai.

Selawat beserta salam semoga dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi kita Muhammad ﷺ. Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.

Kita baru saja melaksanakan ibadah yang agung, yaitu ibadah kurban, yang merupakan salah satu tanda cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Cinta harus dibuktikan dengan pengorbanan. Nabi Ibrahim telah membuktikan cintanya kepada Allah, di mana beliau mendahulukan ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya dari cinta tabi’at seorang bapak kepada anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengganti kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah dalam menjalankan perintah-Nya ketika diperintahkan untuk menyembelih anaknya dengan sembelihan yang agung.

Kita disyariatkan untuk ibadah kurban. Kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ibadah kita, terutama ibadah kurban yang telah kita lakukan, diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebaik-baiknya.

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam safari dakwah kali ini ke Sungai Penuh, insyaallah kita akan melakukan beberapa kegiatan. Pagi ini adalah kajian dengan judul “Cintailah Saudaramu Semuslim, Allah Akan Mencintaimu.” Hakikat dari cinta seorang muslim dengan muslim yang lain adalah cinta karena Allah, bukan cinta karena dunia.

Dasar Cinta dalam Islam

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mendasari bahwa dasar dari cinta kita itu adalah iman. Persaudaraan dan persahabatan kita, hubungan satu sama lainnya didasari oleh iman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Hanyalah orang-orang Mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Kata إِنَّمَا adalah أَدَاتُ الْحَصْرِ, yaitu kata yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang dibatasi. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ (Hanyalah orang yang beriman itu bersaudara). Persaudaraan ini didasari oleh keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manifestasinya adalah rida terhadap kebaikan yang dilakukan oleh saudaranya, karena kebaikan itu dilakukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengatakan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)

وَلَا تَفَرَّقُوا (Janganlah bercerai berai). Larangan ini menunjukkan perintah dari lawannya, yaitu perintah untuk bersatu. Maka persatuan itu tidak akan bisa terjadi dengan baik kecuali dengan rasa cinta. Perpecahan dan perselisihan akan menimbulkan rasa kebencian antara satu sama lain. Maka ayat ini memerintahkan kita untuk saling mencintai. Dengan saling mencintai kita bersatu dan tidak bercerai berai.

Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan bahwa orang mukmin itu satu sama lainnya sebagai pelindung. Dalam Surah At-Taubah ayat 71, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Dan orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, sebagian mereka adalah wali (pelindung) bagi sebagian yang lain.” (QS. At-Taubah: 71)

بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ (Sebagian mereka adalah wali/pelindung), yang mencintai dan loyal kepada sebagian yang lain. Ini tidak akan bisa terjadi kecuali dengan menumbuhkan rasa cinta satu sama lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang-orang yang mencintai saudaranya, mencintai orang-orang yang berbuat baik kepada saudaranya.

Surah Al-Baqarah ayat 195, Allah berfirman:

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

وَأَحْسِنُوا (Berbuat baiklah). Ihsan adalah melakukan suatu perbuatan yang sehat (baik). Berbuat baik kepada yang lain, menumbuhkan rasa kepedulian kepada yang lain, itu adalah biasa. Dan itu tidak akan mungkin bisa terwujud kecuali didasari oleh rasa cinta. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang-orang yang berbuat baik.

Hadis Tentang Cinta Sesama Muslim

Hadis-hadis Nabi ﷺ sangat banyak menjelaskan hal ini, bagaimana kita harus mencintai sesama muslim. Di antaranya, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antaramu sampai dia mencintai untuk saudaranya, apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dia mencintai untuk saudaranya kenyamanan. Maka dia ingin melakukan kenyamanan untuk saudaranya. Dia mencintai untuk dirinya ketenteraman, tidak ada kegaduhan, maka dia berupaya untuk mewujudkan hal yang sama untuk saudaranya.

Bagian dari itu juga, ketika kita ingin bagaimana kita tetap berada di atas agama yang lurus, di atas ajaran Rasulullah ﷺ, di atas sunah Rasulullah ﷺ, itu yang kita inginkan. Maka merupakan kesempurnaan keimanan kita, kita juga berupaya bagaimana saudara-saudara kita juga seperti itu. Maka di situlah dalam agama kita tegak amar makruf nahi mungkar. Itulah dasar kenapa dalam agama kita ini adanya upaya amar makruf adalah dalam rangka لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.

Karena seorang muslim dia mencintai dirinya untuk selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga. Maka begitu juga yang diharapkan untuk saudara-saudara yang baik. Sehingga ketika dia melihat saudaranya terjerumus dalam maksiat, dia inginkan untuk dirinya tidak masuk neraka, maka dia juga inginkan itu pada saudaranya.

Sebagaimana sesuatu yang tidak diinginkan untuk dirinya, dia juga tidak inginkan untuk saudaranya. Dia tidak ingin adanya kebisingan yang dia dengar, maka dia juga tidak melakukan kebisingan yang bisa mengganggu. Subhanallah. Kalau kita lihat hadis Nabi ﷺ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ, maka di mana pun seorang mukmin berada, dia menjadi sebuah sumber kenyamanan. Dia selalu ingin berupaya memberikan kebaikan karena itu yang dia cintai, dan selalu berupaya untuk menjauhkan gangguan karena itu yang dia tidak sukai.

Memberitahukan Cinta dan Menjaga Persatuan

Seorang mukmin apabila dia mencintai saudaranya yang baik, maka dianjurkan baginya untuk memberitahukan hal itu. Hal ini akan menumbuhkan rasa kasih sayang dan menghilangkan prasangka-prasangka buruk.

Nabi ﷺ mengatakan dalam hadis Bukhari dalam Adab Mufrad yang disahihkan oleh Syekh Al-Albani:

إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ

“Apabila salah seorang di antaramu mencintai saudaranya, hendaklah dia memberitahukan (mengabarkan/menyampaikan) dia bahwa dia mencintainya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Maka, ketika kita katakan, إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ (Aku mencintaimu karena Allah), apa yang muncul dari hati kita atau mulut kita lalu didengar oleh saudara kita? Akan muncullah rasa cinta dan tertepislah semua prasangka-prasangka yang tidak baik. Kadang karena kelalaian atau kesibukan, kita tidak bisa menegur atau menyapa teman-teman kita. Tapi boleh jadi setan datang di situ mengganggu hubungan.

Oleh karena itu, juga dianjurkan bagi kita untuk menjawabnya:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي حَبَّبْتَنِي فِيهِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikanmu mencintaiku.”

Dan ini, subhanallah, suatu rasa cinta yang akan tertanam di dalam hati.

Dalam hadis yang lain, Nabi ﷺ mengatakan:

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Tidakkah aku beritahukan kepadamu akan sebuah amalan yang jika kalian amalkan kalian saling mencintai? Tebarkanlah salam di tengah-tengah kalian.” (HR. Muslim)

Jadi, salam yang kita ucapkan ketika kita bertemu, “Assalamualaikum,” kita sedang menebar cinta, menebar kasih sayang, menjadikan seorang mukmin mencintai mukmin yang lain. Salam, ungkapan doa “Assalamualaikum” itu sudah cukup. Kalau kita katakan itu adalah ucapan doa, itu sudah cukup mengalahkan semua ucapan-ucapan selamat. Apalagi jika kita lengkapi, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Cinta dan Benci karena Allah

Muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasa cinta karena Allah dan benci karena Allah itu sebenarnya bukan hal yang sepele, tetapi itu adalah bagian dari bentuk keimanan.

Nabi ﷺ mengatakan:

الْإِيمَانُ الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ

“Keimanan yang paling kuat itu adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Abu Daud)

Begitu juga Nabi ﷺ bersabda dalam hadis Abu Dawud:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

“Siapa yang dia mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberikan karena Allah, tidak memberi karena Allah, maka sungguh dia telah menyempurnakan keimanan.” (HR. Abu Dawud)

Mencintai karena Allah, apa maknanya? Karena dia adalah orang yang menjalankan agama, taat kepada Allah, menjalankan sunah. Dia melaksanakan agamanya. Kita cintai dia, walaupun dia adalah orang yang paling jauh nasabnya dari kita. Itu adalah cinta karena Allah. Karena dasarnya yakni الْحُبُّ فِي اللَّهِ (cinta di dalam mencintai Allah), itu maknanya.

Nah, dia cinta kepada Allah, dia menjalankan agama Allah, maka kita mencintainya karena dia (berada dalam ketaatan), walaupun kita tidak pernah kenal.

وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ (membenci karena Allah), yakni membencinya karena dia tidak di dalam cinta kepada Allah. Dia bermaksiat, dia jauh dari agama, atau malahan terkadang menentang Allah, menentang Rasul-Nya. Kalau kita tidak sukai, ada muncul rasa tidak senang kita, walaupun dia adalah orang yang terdekat nasabnya dengan kita.

Rasa ketidaksenangan ini bukan berarti kita melakukan tindakan anarkis. Tidak. Tapi ada yang dia melakukan yang tidak sesuai dengan agama, itu yang kita benci. Dalam keadaan itu, sebagaimana kita sebutkan tadi, kita ingin bagaimana dia kembali sebagaimana kita mencintai diri kita untuk kembali kepada kebenaran. Maka di dalam amar makruf, bentuk kelemahlembutan itu harus ada.

Kita akan menyelamatkan orang dari keterjerumusan dalam jurang (maksiat), yang mana pada saat itu mungkin boleh jadi dia tidak merasa bahwasanya dia akan masuk dalam jurang tersebut.

Syarat Pelaksana Amar Makruf Nahi Munkar

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mensyaratkan orang yang melaksanakan amar makruf nahi mungkar itu memiliki tiga syarat:

  1. Dia harus berilmu.
  2. Dia harus bersifat lemah lembut.
  3. Dia harus bersifat sabar dan bijaksana.

Berilmu sebelum amar makruf agar yang dia perintahkan itu sesuai dengan agama, dan yang dia larang itu sesuai dengan agama. Kalau tidak didasari oleh ilmu, boleh jadi dia memerintahkan orang kepada mungkar dan melarang orang dari makruf, kebalikan jika tidak ada dasar.

Lalu, dalam beraktivitas amar makruf dan mungkar dalam rangka cinta kita kepada sesama muslim, harus ada sikap. Kita melihat mungkin saudara kita salah, jangan kita marah-marahi. Tapi hendaklah kita berbicara dengan dia, bagaimana kita menyelamatkannya? Ya, benci kita dengan perbuatannya, tapi bukan berarti kita benci kepada fisiknya. Dalam waktu yang sama, kita ingin dia itu kembali kepada jalan yang benar. Maka perlu sikap yang lemah lembut.

Dicontohkan seperti lemah lembutnya seorang dokter ketika dia ingin memeriksa atau mengobati pasiennya. Jika dia bersikap kasar kepada pasiennya, maka pasiennya tidak akan menerima apa yang dinasihati. Sebagaimana lemah lembutnya seorang guru kepada muridnya. Kalau dia bersikap kasar kepada muridnya, muridnya tidak akan menerima nasihat-nasihat yang disampaikan.

Kemudian yang ketiga, dia harus sabar, harus bijaksana. Sabar dan bijaksana itu setelah melakukan amar makruf nahi mungkar.

Maka kita sebutkan tadi bahwasanya bagian dari amar makruf nahi mungkar itu adalah bentuk rasa cinta kita sesama muslim. Bukan dalam rangka kita ikut campur urusan orang, ini ‘nafsi-nafsi’ urusan pribadi ya, yang secara umum itu adalah urusan pribadi. Ada yang bagian yang urusan umum, urusan pribadi. Maka dalam rangka saling mencintai sesama muslim inilah kita menasihatinya.

Sebagaimana hadis tadi yang sudah kita sebutkan: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.

Tapi dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai diri sendiri.

Perumpamaan dan Buah Cinta karena Allah

Nabi ﷺ memberikan perumpamaan orang mukmin yang saling mencintai itu:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin terhadap mukmin yang lain itu adalah bagaikan bangunan yang satu sama lainnya saling memperkuat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau kita punya dinding, coba satu dinding itu kita bangun, tidak ada dinding yang lain, maka dinding ini akan mudah roboh. Tapi ketika satu sama lain saling terangkai dalam sebuah bangunan, ada yang dari atasnya, ada di bawahnya, sehingga menjadikan bangunan itu menjadi kokoh. Maka dalam hal ini diperlukan kebersamaan, diperlukan persatuan, diperlukan rasa cinta satu sama lainnya.

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sufyan Ats-Tsauri dia mengatakan, “Jika engkau mengaku mencintai seorang kenalan lalu ketika dia berbuat dosa kamu tidak marah kepadanya, mungkin malah membiarkannya. Maka sesungguhnya kamu tidak mencintainya.” Mengapa? Karena kita membiarkannya terjerumus dalam neraka. Mungkin dalam bentuk ungkapan oleh orang sekarang, ‘biar ajalah, itu kan urusan pribadinya dengan Allah.’ Ini justru menunjukkan bahwa kita sedang tidak mencintainya karena Allah. Sebab kalau kita mencintai karena Allah, dasarnya adalah kita mencintai dia untuk dia mendapatkan apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri.

Ibnu Abbas juga dia mengatakan:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَتَوَلَّى لِلَّهِ وَعَادَى لِلَّهِ فَقَدْ نَالَ وَلَايَةَ اللَّهِ

“Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berteman karena Allah, dan memusuhi karena Allah, maka dia telah meraih wilayah Allah (di bawah perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala).”

Hasan Al-Basri juga mengatakan, “Hamba yang dicintai oleh Allah adalah mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba-Nya karena Allah.”

Al-Bara’ bin Azib (ketika dia menjelaskan tentang kecintaan kepada Ansar): “Siapa yang mencintai orang-orang (Ansar) maka Allah mencintainya. Siapa membenci mereka maka Allah membencinya.”

Dan sebelumnya Rasulullah ﷺ mengatakan dalam hadis yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan yang lainnya:

آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ

“Tanda-tanda keimanan itu adalah mencintai orang-orang Ansar dan tanda kemunafikan adalah membenci orang Ansar.”

Kenapa itu dijadikan standar oleh Nabi? Karena orang-orang Ansar telah membela Rasulullah, melindungi Rasulullah, berkorban untuk Rasulullah dan agama. Nah, ketika kita mencintai orang-orang yang membela agama, mencintai orang-orang yang membela Rasulullah, yang melindungi Rasulullah, yang berjuang bersama Rasulullah, berarti pada hakikatnya kita mencintai Rasulullah. Tapi sebaliknya, ketika kita membenci orang-orang yang menjalankan sunah Rasulullah, membenci orang-orang yang berjuang membela agama Allah, maka pada hakikatnya kita sedang membenci Rasulullah. Pada hakikatnya kita sedang membenci agama Allah.

Kita lihat bagaimana perjuangan orang-orang Ansar, bagaimana rasa cinta mereka dengan orang-orang Muhajirin. Tingkat kepedulian yang sangat luar biasa yang telah digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Al-Hasyr ayat 9, yang mana mereka mau berkorban di awal kedatangan orang Muhajirin, bahwa orang-orang Ansar rela dengan senang hati mereka berbagi apa yang mereka miliki, termasuk kebun. Ada di antara sahabat orang Ansar mengatakan kepada Muhajirin, “Saya memiliki dua istri, Anda lihat mana istri saya yang lebih Anda sukai.” Seakan-akan dia rela menceraikan istrinya (jika disukai oleh Muhajirin), begitu tingkat kepedulian dan tingkat cintanya, serta pembelaannya kepada orang-orang Muhajirin.

Manfaat Mencintai Sesama Muslim

Muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa yang kita raih atau apa yang kita dapatkan ketika kita mencintai Allah dan mencintai sesama muslim? Apabila kita mencintai muslim, maka kita akan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ (balasan itu sejenis amalan yang kita amalkan).

Nabi ﷺ mengatakan:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Orang yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah ﷺ juga mengatakan:

كَمَا تَدِينُ تُدَانُ

“Sebagaimana engkau memberlakukan orang, engkau akan diberlakukan seperti itu juga.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah, dihasankan oleh Al-Albani)

Rasulullah ﷺ juga mengatakan:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا دَامَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah selalu berada dalam menolong hamba selama hamba itu selalu berada dalam menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Yang lebih lagi spesifiknya:

وَاللَّهُ فِي حَاجَةِ الْعَبْدِ مَا دَامَ الْعَبْدُ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ

“Allah berada dalam kebutuhan hamba selama hamba itu berada dalam memenuhi kebutuhan saudaranya.” (HR. Muslim)

Kita mungkin hampir setiap saat kita punya hajat, punya keperluan. Kalau kita ingin setiap keperluan kita itu kita dapatkan, setiap yang kita inginkan kita dapatkan, maka kuncinya adalah selalulah kita membantu saudara kita dalam segala kebutuhan, maka Allah akan memenuhi segala kebutuhan kita. Hadis tadi وَاللَّهُ فِي حَاجَةِ الْعَبْدِ (Allah berada dalam kebutuhan hamba). Apapun yang kita butuhkan Allah akan berikan, مَا دَامَ الْعَبْدُ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ (selama hamba itu berada dalam memenuhi kebutuhan saudaranya).

Ini tidak akan bisa terwujud, Bapak Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali didasari oleh rasa cinta sesama.

Hal-Hal yang Menghilangkan Rasa Cinta

Maka untuk menjaga rasa cinta ini, kita harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan hilangnya rasa cinta.

Nabi ﷺ mengatakan:

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Janganlah saling hasad, jangan saling menipu (mengecoh), jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan janganlah sebagian kamu menjual atas penjualan sebagian yang lain. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Kalau kita lihat rentetannya, hal ini muncul karena pertamanya adanya rasa hasad, kemudian meningkat, hasad itu menyebabkan rasa benci, kemudian saling membelakangi, kemudian saling memutuskan hubungan.

وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا (Maka jadilah sebagai hamba Allah yang bersaudara). Maka hadis ini menunjukkan kepada kita semua hal-hal yang bisa menyebabkan terputusnya hubungan persahabatan, persaudaraan, atau ukhuwah satu sama lain harus kita jauhi.

Meningkatkan Rasa Cinta dengan Berbagi Hadiah dan Salam

Nabi ﷺ juga memberikan kepada kita cara untuk memunculkan rasa cinta adalah berbagi hadiah. Di samping tadi salam, alhamdulillah ini adalah gratis, tidak memerlukan biaya. Tapi kalau hadiah, ada sedikit pemberian.

Nabi ﷺ mengatakan:

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Saling memberi hadiahlah, pasti kalian saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

الْمُنْعِمُ يُحَبُّ (Orang yang memberi nikmat itu dicintai). Mungkin ada orang sekali dikasih tidak ada (respon), dua tiga empat (kali) lama-lama akan memberikan (respon baik). Kalau ada orang yang tidak suka dengan kita, jangan dimusuhi. Kasih dia hadiah sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, meskipun mahal.

Maka kegiatan sosial, Saudara-saudara yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kegiatan sosial juga memberikan dampak positif di dalam dakwah. Maka kegiatan-kegiatan sosial, baik itu pemberian atau pembagian atau yang lainnya, itu akan berdampak pada dakwah kita. Orang-orang yang suka memberi akan dicintai oleh orang-orang lain.

Penutup

Wallahu Ta’ala A’lam. Demikian yang dapat kita sampaikan kajian pagi ini. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan keberkahannya kepada kita semua. Kita bangun-bangun pagi, Nabi ﷺ mengatakan:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada umatku di dalam kesegeraannya pada pagi hari.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Bagian dari itu kita bangun pagi-pagi sebelum subuh kemudian kita salat Subuh, dan salat Subuh itu مَشْهُودَةٌ yang disaksikan oleh para malaikat. Dan ini pertemuan kita. Mudah-mudahan Allah berikan keberkahan juga. Dan semoga safari dakwah kami diberikan keberkahan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke Sungai Penuh ini. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amalan kita.


Kuis Interaktif Cinta Sesama Muslim

Kuis: Cinta Sesama Muslim dan Persaudaraan

82