Syarah Shahih Muslim: Bab – Sifat Nabi ﷺ Manusia yang Paling Tampan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ سَهْلًا. يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا
Kembali kita melanjutkan kajian kita tentang Sahih Muslim كِتَابُ الْفَضَائِلِ (Kitab tentang keutamaan-keutamaan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ). Di dalam bab baru, بَابٌ فِي صِفَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ كَانَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا (Bab sifat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ atau bab tentang sifat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bahwasanya beliau adalah manusia yang paling tampan).
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ، قَالَ: سَمِعْتُ الْبَرَاءَ، يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مَرْبُوعًا، بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ، عَظِيمَ الْجُمَّةِ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ، عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ، مَا رَأَيْتُ شَيْئًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ، وَأَبُو كُرَيْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْبَرَاءِ، قَالَ: مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِي لِمَّةٍ أَحْسَنَ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، شَعْرُهُ يَضْرِبُ مَنْكِبَيْهِ، بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ، لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ. قَالَ أَبُو كُرَيْبٍ: لَهُ شَعَرٌ
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ يُوسُفَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، سَمِعْتُ الْبَرَاءَ، يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَأَحْسَنَهُ خَلْقًا، لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ، وَلَا بِالْقَصِيرِ
Hadis yang pertama, semua hadisnya adalah dari Al-Bara. Dia mengatakan كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مَرْبُوعًا. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah seorang laki-laki yang berperawakan sedang, marbuaan. Yakni badannya sedang, tidak terlalu tinggi tidak pula pendek. بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ. Yakni jauh antara kedua bahunya. Yakni beliau memiliki bahu yang lebar. عَظِيمَ الْجُمَّةِ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ dan rambut lebat, rambut lebat atau tebal yang berjuntai antara ke bahu dan menutupi kedua cuping telinganya. عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ. Beliau suka memakai pakaian berwarna merah. مَا رَأَيْتُ شَيْئًا قَطُّ. Aku sama sekali tidak pernah melihat sesuatu yang lebih… ya مَا رَأَيْتُ شَيْئًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih baik daripada penampilan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Hadis yang kedua dengan sanad kepada Al-Bara, dia mengatakan مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِي لِمَّةٍ أَحْسَنَ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Bara dia mengatakan: “Aku tidak pernah sama sekali melihat seorang yang berambut panjang sampai melampaui cuping telinganya dan mengenakan pakaian berwarna merah yang lebih baik daripada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.” شَعْرُهُ يَضْرِبُ مَنْكِبَيْهِ بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ. Rambut beliau berjuntai sampai di kedua bahunya. Beliau memiliki bahu atau dada yang lebar. لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ. Beliau itu tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek atau tidak tinggi, tidak pendek. Abu Quraib mengatakan لَهُ شَعَرٌ. Beliau mempunyai rambut yang rambut beliau ya terkadang sampai ke telinga menutup telinganya kadang sampai ke bahu.
Hadis yang ketiga masih dari Al-Bara, dia berkata كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah orang yang paling tampan wajahnya. وَأَحْسَنَهُ خَلْقًا. Orang yang paling bagus postur tubuhnya. لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ beliau tidak terlalu tinggi وَلَا بِالْقَصِيرِ dan tidak pula pendek.
Imam Nawawi menjelaskan كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرْبُوعًا adalah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ marbuaan yakni ini badan yang sedang maksudnya لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ. Beliau bukanlah tinggi dan tidak pula pendek. الْجُمَّةِ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ dan ini adalah mensifati beliau عَظِيمَ yaitu beliau memiliki rambut yang lebat yang terjuntai sampai ke bahunya yang menutupi kedua telinganya. الْجُمَّةِ (al-jummah) yakni الشَّعْرُ الَّذِي نَزَلَ إِلَى الْمَنْكِبَيْنِ rambut yang menjuntai yang turun sampai kedua bahu. وَالْوَفْرَةُ مَا نَزَلَ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ kalau wafrah itu apa? Yang panjang sampai ke bawah kedua telinganya sampai ke sini. Tapi kalau jummah itu sampai ke bahu.
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَخَلْقًا adalah Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ manusia yang paling tampan dan postur tubuh yang paling baik. Al-Qadhi berkata: خَلْقًا dengan fathah Kha dan sukun Lam. Bukan خُلُقًا. Kalau khuluqan berarti sifat kebiasaan. Kalau khalqan itu sifat fisik. Maksud di sini adalah ingin menjelaskan tentang sifat fisiknya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Adapun hadis Anas وَمَا فِي حَدِيثِ أَنَسٍ فَرَوَيْنَاهُ بِالضَّمِّ dengan didamahkan khuluq, kalau di sini dengan fathah Kha خَلْقًا liannahu innama akhbar husni muasyaratihi, Anas ingin menjelaskan bahwa menggambarkan tentang pergaulan dengan Nabi yang baik. Abu Hatim berkata selain ini: “Begitulah orang Arab berkata وَأَحْسَنُهُمْ وَجْهًا وَأَحْسَنُهُمْ خَلْقًا yakni manusia yang paling baik.” Dan hadis-hadis ini menjelaskan kepada kita tentang bagaimana tampannya Nabi ya, fisik Nabi itu seperti apa. Sebagaimana yang kita jelaskan sebelumnya bahwa salah satu tujuan kita untuk mempelajari ciri khas fisiknya Nabi agar kita kenal. Kalau anak-anak muda sekarang, orang-orang yang diidolakannya juga dia tahu. Jangan, jangankan fisik, dia tahu ukuran sepatunya berapa, ukuran bajunya berapa. Ya, mendetail. Nah, tentang Nabi, kenapa kita tidak mau mengenal fisiknya Nabi secara mendetail?
بَابُ صِفَةِ شَعْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Bab ciri khas sifat rambutnya Nabi). Kalau sebelumnya bagaimana beliau memberlakukan rambutnya. Terkadang dijulurkan saja, terkadang disisir. Ya, ini bagaimana sifatnya atau ciri khas dari rambutnya Nabi.
حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، قَالَ: قُلْتُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: كَيْفَ كَانَ شَعْرُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: كَانَ شَعْرًا رَجِلًا لَيْسَ بِالْجَعْدِ وَلَا السَّبْطِ، بَيْنَ أُذُنَيْهِ وَعَاتِقِهِ
Qatadah dia menjelaskan atau bertanya kepada Anas bin Malik bagaimana rambut Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ itu. Lalu Anas menjelaskan كَانَ شَعْرًا رَجِلًا. Beliau rambut beliau itu ikal berombak, ikal berombak. لَيْسَ بِالْجَعْدِ وَلَا السَّبْطِ. Tidak keriting dan tidak pula lurus. بَيْنَ أُذُنَيْهِ وَعَاتِقِهِ yang terurai sampai sebatas kedua telinga dan pundak beliau. Jadi kira-kira mungkin lihat orang-orang Arab ada masih ada kebiasaannya yang berambut panjang ya, panjangnya sampai ke bahu atau lebih panjang dari eh di bawah dari telinganya sampai ke bahu. Jadi di sini beliau rambutnya berombak, ikal berombak bukan keriting apalagi keribo. Ya, kalau ada melihat dia bertemu dengan Rasulullah rambutnya keribo misalkan ya, ah itu bukan Rasulullah ya.
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَضْرِبُ شَعْرُهُ مَنْكِبَيْهِ
Anas menjelaskan bahwa rambutnya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَضْرِبُ شَعْرُهُ مَنْكِبَيْهِ. Sesungguhnya rambut Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ terurai sampai sebatas kedua pundak beliau.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَأَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُلَيَّةَ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: كَانَ شَعْرُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ
Adalah rambut Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّm terurai sampai menutup setengah bagian dari kedua telinga beliau, yakni rambutnya sampai ke telinga, tengah telinganya.
بَابٌ فِي صِفَةِ فَمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَيْنَيْهِ وَعَقِبَيْهِ (Bab ciri-ciri mulutnya Rasulullah, kedua matanya, dan kedua tumitnya). Jadi kalau kita lihat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّm menjadi objek oleh ulama hadis karena ingin mengenal jati diri Rasulullah seperti apa sehingga semuanya diceritakan.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَلِيعَ الْفَمِ، أَشْكَلَ الْعَيْنِ، مَنْهُوسَ الْعَقِبِ. قَالَ: قُلْتُ لِسِمَاكٍ: مَا ضَلِيعُ الْفَمِ؟ قَالَ: عَظِيمُ الْفَمِ. قَالَ: قُلْتُ: مَا أَشْكَلُ الْعَيْنِ؟ قَالَ: طَوِيلُ شَقِّ الْعَيْنِ. قَالَ: قُلْتُ: مَا مَنْهُوسُ الْعَقِبِ؟ قَالَ: قَلِيلُ لَحْمِ الْعَقِبِ
Dengan sanadnya kepada Jabir bin Samurah, dia mengatakan adalah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَلِيعَ الْفَمِ. Adalah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَظِيمَ الْفَمِ yakni صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bermulut lebar. أَشْكَلَ الْعَيْنِ yakni rongga mata yang panjang. Di dalam hadis ini dijelaskan طَوِيلُ شَقِّ الْعَيْنِ yakni rongga matanya panjang. Dia mengatakan مَنْهُوسَ الْعَقِبِ yakni tumit beliau قَلِيلُ لَحْمِ الْعَقِبِ. Ya, tumit beliau mempunyai sedikit daging yakni kurus, tidak tebal.
Adapun dhali’ul fam wahua al-awwal aksarun, begitu yang diucapkan oleh kebanyakan perawi wahua itulah yang tampak ya. Orang Arab sangat menyukai dhali’ul fam tadi, mulut yang lebar, dan tidak suka dengan mulut yang kecil. Wahua makna adzimul fam, mulutnya lebar. Syammar berkata: “Giginya besar-besar.” Dan di dalam asy-syaklul ain, ini adalah kekeliruan dari Simak berbeda dengan apa yang disampaikan ulama bahwa asy-syaklah itu bukan rongga matanya yang luas atau panjang, tapi maknanya adalah شُكْلَةٌ حُمْرَةٌ فِي بَيَاضِ الْعَيْنِ. Dia kemerah-merahan di dalam putih kedua matanya. Wahua mamduh, dan itu disukai. Sedangkan asy-syahlah dengan Ha adalah kemerahan di dalam hitamnya mata.
بَابُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَدَ مَلِيحَ الْوَجْهِ (Bab Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ orang yang berkulit putih dan wajahnya tampan). Malih itu tampan, wajahnya itu sangat disenangi kalau kita melihatnya.
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، عَنِ الْجُرَيْرِيِّ، عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ، قَالَ: قُلْتُ لَهُ: أَرَأَيْتَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: نَعَمْ، كَانَ أَبْيَضَ مَلِيحًا مُقَصَّدًا
Muslim bin Al-Hajjaj dia mengatakan Abu Thufail adalah sahabat yang meninggal dunia pada tahun 100. Beliau adalah orang yang terakhir dari sahabat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّm meninggal dunia. Dalam hadis yang kedua dia mengatakan: “رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Aku melihat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّm وَمَا عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ رَجُلٌ رَآهُ غَيْرِي Dan tidak ada seorang pun selain diriku di muka bumi ini yang pernah melihat beliau.” Yakni mungkin dia menceritakan tentang dirinya pada saat itu bahwa dia yang tinggal yang terakhir meninggal dunia dari para sahabat. Sementara kalau misalkan bukan berarti bahwasanya hanya dia sendiri yang melihat Rasulullah, yang lain tidak. Karena sahabat itu namanya adalah orang yang pernah melihat Rasulullah dalam keadaan dia beriman dengan Rasulullah dan meninggal dunia di atas keimanan. Namun Abu Thufail dia ingin menjelaskan bahwasanya pada saat itu yang tinggal dari sahabat yang pernah melihat Nabi hanya dia saja lagi ya. Aku bertanya kepadanya: “Bagaimana engkau melihatnya?” Dia menjawab: “كَانَ أَبْيَضَ مَلِيحًا مُقَصَّدًا Beliau itu berkulit putih, berwajah tampan, dan berperawakan sedang ya, postur tubuhnya sedang, tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek.”
Nah, sekali lagi kita jelaskan bahwa mengenal jati diri Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ itu sangat penting juga karena itu menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Kalau kita punya perhatian kepada Nabi, membaca ciri-ciri fisik Nabi akan memunculkan rasa cinta kita kepadanya. Dan rasa cinta kita kepada Nabi tidak sama rasa cinta kita kepada yang lain. Karena cinta kepada Nabi adalah bagian dari intisari keimanan. Maka karena itu sahabat atau ulama-ulama hadis, sahibul hadits, beliau tidak hanya pembahasan dalil-dalil tapi juga bersifat mereka melihat bagaimana sifat-sifat fisiknya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّm.
Mudah-mudahan apa yang kita pelajari bermanfaat. Jika seandainya kita melihat Rasulullah dalam mimpi kita seperti yang digambarkan dalam riwayat tentang ciri-ciri tubuh beliau, maka beliaulah sebenarnya yang kita lihat. Karena berdasarkan hadis Nabi, setan tidak bisa menjelma dengan sifat-sifat Nabi.
وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Perbandingan Istilah Panjang Rambut Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
| Istilah | Penjelasan Panjang Rambut | Posisi Terhadap Tubuh |
| الْوَفْرَةُ (Al-Wafrah) | Rambut yang paling pendek di antara ketiga istilah ini. | Mencapai cuping telinga (bagian bawah telinga). |
| اللِّمَّةُ (Al-Limmah) | Rambut yang panjangnya melampaui telinga. | Melewati telinga namun belum sampai ke bahu. |
| الْجُمَّةُ (Al-Jummah) | Rambut yang paling panjang yang biasa dibiarkan Nabi. | Menjuntai hingga menyentuh atau menutup kedua bahu. |
Ringkasan Sifat Fisik Lainnya (Hasil Kajian)
Selain rambut, berikut adalah ringkasan fisik beliau berdasarkan hadis Sahih Muslim di atas:
- Wajah: أَبْيَضَ مَلِيحًا (Abyadh Malihan) – Putih bersih dan tampan/sedap dipandang.
- Postur Tubuh: مَرْبُوعًا (Marbu’an) – Berperawakan sedang (tidak tinggi menjulang dan tidak pendek).
- Bahu: بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ (Ba’ida ma bainal manqibain) – Memiliki bahu yang bidang dan lebar.
- Mata: أَشْكَلَ الْعَيْنِ (Asykalal ‘ain) – Memiliki rona kemerahan tipis pada bagian putih matanya (ciri khas ketampanan orang Arab).
- Mulut: ضَلِيعَ الْفَمِ (Dhali’al fam) – Bermulut lebar (dalam budaya Arab menunjukkan kefasihan bicara dan kewibawaan).
- Tumit: مَنْهُوسَ الْعَقِبِ (Manhusal ‘aqib) – Memiliki tumit yang ramping (tidak banyak daging).
Catatan Penting: Mempelajari ciri fisik ini bertujuan agar kita memiliki gambaran yang benar tentang Nabi, sehingga jika beliau hadir dalam mimpi, kita dapat memastikan bahwa itu adalah benar-benar beliau, karena setan tidak dapat menyerupai sifat-sifat fisik asli Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.




