Syarah Sahih Muslim: Bab – Tentang Mimpi Baik Berasal dari Allah dan Merupakan Bagian dari Kenabian#1
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ ٱلْأَنْبِيَاءِ وَٱلْمُرْسَلِينَ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.
Kaum muslimin dan muslimat rahimani wa rahimakumullah.
Alhamdulillah, kita memuji Allah atas segala nikmat dan karunia yang dilimpahkan. Selawat dan salam semoga senantiasa dianugerahkan oleh Allah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ. Kita melanjutkan kajian kita dalam Sahih Muslim, memasuki كِتَابُ الرُّؤْيَا (Kitab tentang Mimpi).
بَابٌ فِي كَوْنِ الرُّؤْيَا مِنَ اللَّهِ وَأَنَّهَا جُزْءٌ مِنَ النُّبُوَّةِ
(Bab tentang Mimpi Baik Berasal dari Allah dan Merupakan Bagian dari Kenabian)
Diriwayatkan dari Abu Salamah, ia berkata, “Dahulu aku pernah bermimpi (كُنْتُ أَرَى الرُّؤْيَا) yang menyebabkan aku jatuh sakit hingga demam, namun aku tidak sampai harus berselimut. Hingga suatu saat aku bertemu dengan Abu Qatadah dan menceritakan hal itu kepadanya. Lalu Abu Qatadah berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
الرُّؤْيَا مِنَ اللَّهِ، وَالْحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا حَلَمَ أَحَدُكُمْ حُلْمًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا، فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ.
‘Mimpi yang baik (الرُّؤْيَا) itu dari Allah, dan mimpi yang buruk (الْحُلْمُ) itu dari setan. Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah ringan ke arah kirinya tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi itu, maka sesungguhnya mimpi itu tidak akan membahayakannya.'”
Dalam riwayat lain dari Abu Qatadah, setelah menyebutkan hadis serupa, Abu Salamah menambahkan, “إِنْ كُنْتُ لَأَرَى الرُّؤْيَا أَثْقَلَ عَلَيَّ مِنْ جَبَلٍ، فَمَا هُوَ إِلَّا أَنْ سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ فَمَا أُبَالِيهَا” (Sungguh, dahulu aku pernah bermimpi yang terasa lebih berat bagiku daripada sebuah gunung. Namun, setelah aku mendengar hadis ini, aku tidak lagi memedulikannya).
Adab Ketika Bermimpi Baik dan Buruk
Hadis-hadis dalam bab ini memberikan panduan lengkap mengenai cara menyikapi mimpi. Dari berbagai riwayat, dapat kita simpulkan adab-adab berikut:
Jika Mengalami Mimpi Buruk (yang tidak disukai):
- Meludah ringan ke arah kiri sebanyak tiga kali (فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ حِينَ يَهُبُّ مِنْ نَوْمِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ).
- Memohon perlindungan kepada Allah dari setan dan dari keburukan mimpi tersebut tiga kali, misalnya dengan mengucapkan ta’awudz.
- Mengubah posisi tidur dari posisi semula (وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ).
- Jangan menceritakan mimpi buruk itu kepada siapa pun (وَلَا يُخْبِرْ بِهَا أَحَدًا). Jika adab-adab ini dilakukan, maka mimpi buruk itu tidak akan membahayakannya (فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ).
Jika Mengalami Mimpi Baik (yang disukai):
- Hendaklah merasa gembira (فَلْيُبَشِّرْ).
- Jangan menceritakannya kecuali kepada orang yang dicintai atau dipercaya (وَلَا يُخْبِرْ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ).
Berbeda dengan mimpi buruk yang tidak boleh diceritakan sama sekali, mimpi baik boleh diceritakan kepada orang-orang yang kita senangi dan percayai.
Hakikat Mimpi Menurut Ahlus Sunnah
Imam al-Maziri menjelaskan bahwa mazhab Ahlus Sunnah meyakini hakikat mimpi sebagai berikut:
Allah SWT menciptakan keyakinan-keyakinan (اعْتِقَادَات) di dalam hati orang yang sedang tidur, sebagaimana Allah menciptakannya pada orang yang terjaga. Allah berbuat sekehendak-Nya, tidak terhalang oleh kondisi tidur maupun terjaga.
Keyakinan atau gambaran yang Allah ciptakan dalam mimpi sering kali menjadi pertanda atau simbol (عَلَامَة) untuk perkara-perkara lain yang akan terjadi. Sebagaimana Allah menciptakan awan mendung sebagai pertanda akan turunnya hujan, begitu pula mimpi menjadi pertanda bagi suatu kejadian.
- Mimpi Baik (الرُّؤْيَا): Mimpi yang membawa kabar gembira diciptakan oleh Allah tanpa kehadiran setan. Oleh karena itu, mimpi ini dinisbatkan langsung kepada Allah sebagai bentuk kemuliaan (تَشْرِيفًا).
- Mimpi Buruk (الْحُلْمُ): Mimpi yang menyusahkan diciptakan Allah dengan dihadiri oleh setan. Setan tidak menciptakannya, tetapi ia hadir, menyukai, dan senang dengan mimpi buruk tersebut. Karena kehadiran dan kesenangan setan inilah, mimpi buruk dinisbatkan kepadanya secara majas (metaforis), bukan karena ia yang melakukannya.
Pada hakikatnya, mimpi baik dan mimpi buruk, keduanya adalah ciptaan, takdir, dan kehendak Allah. Setan sama sekali tidak memiliki andil dalam penciptaannya.
Mimpi sebagai Pertanda, Bukan Kenyataan Literal
Apa yang dilihat dalam mimpi bukanlah kejadian yang sesungguhnya, melainkan pertanda bagi sesuatu yang lain. Sebagaimana mimpi Nabi Yusuf ‘alaihissalam melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan sujud kepadanya. Itu bukanlah kejadian literal, melainkan pertanda kemuliaan yang akan beliau peroleh di masa depan. Begitu pula mimpi dua temannya di penjara dan mimpi raja Mesir.
Oleh karena itu, menafsirkan mimpi adalah sebuah keahlian khusus yang tidak dimiliki semua orang. Dibutuhkan ilmu untuk memahami simbol-simbol tersebut. Muhammad bin Sirin adalah salah seorang ulama yang terkenal dengan kemampuannya menafsirkan mimpi. Namun, tidak semua orang bisa melakukannya hanya dengan membaca buku tafsir mimpi. Jika seseorang mengalami mimpi yang membuatnya penasaran, hendaknya ia bertanya kepada orang yang alim dan bijaksana.
Insya Allah, kita akan melanjutkan pembahasan ini pada pertemuan berikutnya untuk mendapatkan faedah-faedah lainnya.
وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
