0%
Kembali ke Blog Kisah Abu Umair dan Burung Nughair: Bukti Kelembutan dan Keramahan Nabi.

Kisah Abu Umair dan Burung Nughair: Bukti Kelembutan dan Keramahan Nabi.

12/05/2025 157 kali dilihat 8 mnt baca

Dengan sanadnya kepada Asma binti Abi Bakar رضيَ اللهُ عنها (radhiyallahu ‘anha), bahwasanya dia mengatakan:

Asma hamil mengandung Abdullah bin Zubair di Makkah. Lalu dalam kehamilan yang tua itulah saatnya berhijrah. Ia berkata: فَخَرَجْتُ وَأَنَا مُتِمٌّ. Lalu keluar, yakni maksudnya hijrah dari Makkah ke Madinah. وَأَنَا مُتِمٌّ, dan aku مُتِمٌّ, maksudnya مُقَارِبَةٌ لِلْوِلَادَةِ, sudah mendekati waktu melahirkan, kandungannya sudah di ujung, delapan bulan masuk sembilan bulan, atau di sembilan bulan. فَأَتَيْتُ المدينةَ, lalu aku mendatangi Madinah. فَنَزَلْتُ بِقُبَاءَ, aku singgah di Quba. Jadi, waktu datang dari Makkah, di Quba, aku melahirkannya di Quba. فَأَتَيْتُ النبيَّ صلى الله عليه وسلم في حِجْرِهِ. Lalu aku mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم (shallallahu alaihi wa sallam), dan beliau meletakkan bayi itu di pangkuannya.

Kemudian Nabi meminta kurma. Lalu Nabi mengunyahnya, ثُمَّ نَفَلَ في فِيهِ, kemudian Nabi meludahkannya atau mengeluarkannya ke mulut si bayi tadi (catatan: kata نَفَلَ dalam konteks ini kurang umum, namun ini yang disebutkan dalam teks asal. Makna yang dimaksud adalah meletakkan sesuatu dari mulut Nabi ke mulut bayi). فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Yang pertama masuk ke dalam perutnya itu adalah air ludahnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ. Lalu Nabi mentahniknya dengan kurma. وَدَعَا لَهُ. Kemudian Nabi mendoakannya. وَبَارَكَ عَلَيْهِ. Dan Nabi memberkahinya atau memohon keberkahan untuknya. وَكَانَ أَوَّلَ مَوْلُودٍ وُلِدَ فِي الْإِسْلَامِ. Abdullah bin Zubair ini adalah bayi pertama yang lahir di masa Islam. Maksudnya ini setelah awal yang lahir ketika baru-baru hijrah. Ya, mungkin di Makkah ada juga yang lahir setelah masuknya Islam. Tapi maksud di sini ‘awal lahir’ itu adalah أَوَّلُ مَنْ وُلِدَ فِي الْإِسْلَامِ بِالْمَدِينَةِ بَعْدَ الْهِجْرَةِ مِنْ أَوْلَادِ الْمُهَاجِرِينَ. Nu’man bin Basyir al-Anshari رضيَ اللهُ تعالى عنه (radhiyallahu ta’ala ‘anhu) juga dilahirkan sebelumnya, sebelum Abdullah bin Zubair, setelah hijrahnya Nabi صلى الله عليه وسلم. Tapi itu dari Anshar. Jadi, bisa kita ketahui anak Anshar yang pertama lahir adalah Nu’man bin Basyir. Anak Muhajirin yang pertama lahir setelah hijrah adalah Abdullah bin Zubair. واللهُ أعلمُ (Wallahu a’lam).

Imam Nawawi رحمه الله (rahimahullah) mengatakan:

Kandungan dalam hadis ini dan penjelasan yang telah berlalu, terdapat di dalamnya kemuliaan yang banyak bagi Abdullah bin Zubair. Apa saja kemuliaannya? Di antaranya:

  • أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ عَلَيْهِ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَدَعَا لَهُ. Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم mengusapnya, mendoakan keberkahan untuknya, dan mendoakan khusus untuknya.
  • أَوَّلُ شَيْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Yang pertama masuk dalam perutnya Abdullah bin Zubair itu adalah ludahnya Rasulullah, yakni air ludahnya.
  • وَأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ وُلِدَ فِي الْإِسْلَامِ بِالْمَدِينَةِ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ. Bahwasanya dia adalah orang yang pertama dilahirkan dalam Islam di Kota Madinah, dari kalangan orang Muhajirin. Dari kalangan Anshar siapa tadi? Nu’man bin Basyir. واللهُ أعلمُ (Wallahu a’lam).

حَدَّثَنَا أبو بكرِ ابنُ أبي شيبةَ، قَالاَ حدثنا خالدُ بنُ مخلدٍ، عن عليِّ بنِ مسهرٍ، عن هشامِ بنِ عروةَ، عن أبيهِ، عن أسماءَ بنتِ أبي بكرٍ رضيَ اللهُ عنها، أنَّهَا هاجرتْ إلى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وهيَ حُبْلَى بعبدِ اللهِ بنِ الزبيرِ، فَذَكَرَتْ حديثَ أبي أسامةَ.

Dengan sanad kepada Asma binti Abi Bakar رضيَ اللهُ عنها, bahwasanya dia hijrah kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam keadaan dia mengandung Abdullah bin Zubair, seperti hadis Abu Usamah.

حَدَّثَنَا أبو بكرِ بنُ أبي شيبةَ، قالَ حدثنا عبدُ اللهِ بنُ نميرٍ، قالَ حدثنا هشامٌ -يعني ابنَ عروةَ- عن أبيهِ، عن عائشةَ رضيَ اللهُ عنها، أنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كانَ يؤتَى بالصبيانِ فيُبارَكُ عليهم ويُحنِّكُهُمْ.

Aisyah رضيَ اللهُ عنها mengatakan, “Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم selalu didatangkan kepadanya anak-anak yang baru lahir. Lantas beliau memberkatinya dan mentahniknya.”

قَالَ حدثنا أبو بكرِ ابنُ أبي شيبةَ، قَالَ حدثنا أبو خالدٍ الأحمرُ، عن هشامٍ، عن أبيهِ، عن عائشةَ رضيَ اللهُ عنها:

جَاؤُوابِعَبْدِاللَّهِبْنِالزُّبَيْرِإِلَىالنَّبِيِّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَلِيُحَنِّكَهُفَطَلَبْنَاتَمْرَةًفَعَزَّعَلَيْنَاطَلَبُهَا

Dengan sanad kepada Aisyah رضيَ اللهُ عنها, dia mengatakan, “Kami membawa Abdullah bin Zubair kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم agar ditahnik oleh Rasulullah. Lantas kami mencari kurma, dan susah bagi kami untuk mendapatkan kurma.” عَزَّ عَلَيْنَا طَلَبُهَا, susah bagi kami mencarinya. Dicari-cari belum dapat, akhirnya baru dapat. Ya, susah pada saat itu. Berarti dalam kondisi tidak musim kurma berarti ya.

حَدَّثَنِي محمدُ بنُ سهلٍ التميميُّ وأبو بكرِ ابنُ إسحاقَ، قَالاَ حدثنا ابنُ أبي مريمَ، قَالَ حدثنا محمدٌ وهوَ ابنُ معرَّفٍ أبو غسانَ، قَالَ حدثنا أبو حازمٍ، عن سهلِ بنِ سعدٍ رضيَ اللهُ عنهما، قالَ:

أُتِيَ بالمنذرِ ابنِ أبي أُسَيْدٍ إلى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم حينَ وُلِدَ، فَوَضَعَهُ النبيُّ على فخِذِهِ، وأبو أُسَيْدٍ جالسٌ، فَلَهِيَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم بشيءٍ بينَ يديهِ، فَأَمَرَ أبو أُسَيْدٍ بابنِهِ فَاحْتُقِلَ مِنْ على فخِذِ النبيِّ صلى الله عليه وسلم، فَقَلَّبوهُ، فَاسْتَفَاقَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: أَيْنَ الصبيُّ؟ فَقَالَ أبو أُسَيْدٍ: قَلَّبْنَاهُ يا رسولَ اللهِ. قالَ: مَا اسمُهُ؟ قالَ: فلانٌ يا رسولَ اللهِ. قالَ: لاَ، ولَكِنَّ اسمُهُ المنذرُ. فَسَمَّاهُ يومئذٍ المنذرَ.

Dengan sanadnya kepada Sahal bin Sa’ad رضيَ اللهُ عنهما, dia mengatakan, أُتِيَ بالمنذرِ ابنِ أبي أُسَيْدٍ إلى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم حينَ وُلِدَ. Mundzir ibni Abi Usaid dibawa kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika dia lahir. فَوَضَعَهُ النبيُّ على فخِذِهِ, lalu Nabi meletakkan bayi Mundzir tadi di paha Rasulullah صلى الله عليه وسلم, itu di pangkuannya. وأبو أُسَيْدٍ جالسٌ. Sementara Abu Usaid duduk. فَلَهِيَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم بشيءٍ بينَ يديهِ. Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم sibuk dengan sesuatu di hadapannya. Yakni, maksud begini: Ketika anak itu sudah ditaruh di pahanya, lalu Rasulullah sibuk dengan sesuatu, tidak konsen pada anak bayi tadi. فَأَمَرَ أبو أُسَيْدٍ بابنِهِ فَاحْتُقِلَ مِنْ على فخِذِ النبيِّ صلى الله عليه وسلم. Lalu karena Nabi sibuk, bayi ada di pahanya, lalu Abu Usaid memerintahkan supaya anaknya diambil dari paha Rasulullah صلى الله عليه وسلم. فَقَلَّبوهُ. Lalu mereka memindahkan anak itu, diambil, dipindahkan. فَاسْتَفَاقَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم. Lantas Rasulullah sadar, ‘eh, tadi ada bayi’. Lalu Nabi mengatakan, أَيْنَ الصبيُّ؟ Mana anak tadi? فَقَالَ أبو أُسَيْدٍ: قَلَّبْنَاهُ يا رسولَ اللهِ. Abu Usaid berkata, ‘Kami sudah pindahkan, ya Rasulullah.’ وقالَ: مَا اسمُهُ؟ ‘Siapa namanya?’ قالَ: فلانٌ يا رسولَ اللهِ. ‘Namanya si fulan, ya Rasulullah.’ قالَ: لاَ، ولَكِنَّ اسمُهُ المنذرُ. ‘Tidak,’ kata Rasulullah, ‘tapi namanya adalah Al-Munzir.’ Apa arti Munzir? Yang memberi peringatan. فَسَمَّاهُ يومئذٍ المنذرَ. Lalu anak tadi diberilah nama dengan Al-Munzir.

فَلَهِيَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم. Yakni Nabi sibuk tadi di hadapannya, anak tadi, bayi Nabi صلى الله عليه وسلم. Kemudian namanya Al-Munzir bin Abi Usaid. Masyhur dalam riwayat Abu Usaid, bukan Abu Asad. أُسَيْدٌ (Usayd) yakni dengan di-dammah-kan hamzah (أُ), di-fathah-kan sin (سَ), dan ada ya’ sukun (يْ) dan dal (د), ini adalah bentuk tashghir (diminutif) dari kata أَسَد (Asad – Singa). Kata Imam Qadi ‘Iyadh.

وَسَبَبُ تَسْمِيَةِ النَّبِيِّ هَذَا الْمَوْلُودَ الْمُنْذِرَ, kenapa Nabi memberi nama si bayi tadi dengan Al-Munzir? لِأَنَّ ابْنَ عَمِّ أَبِيهِ الْمُنْذِرُ بْنُ عَمْرٍو كَانَ قَدِ اسْتُشْهِدَ بِبِئْرِ مَعُونَةَ. Karena anak paman bapaknya, Al-Munzir bin Amr, dia mati syahid di dalam peperangan Bi’ir Ma’unah. فَكَانَ أَمِيرُهُمُ الْمُنْذِرُ ابْنُ عَمْرٍو. Al-Munzir bin Amr ini pada waktu itu adalah komandan dari pasukan itu. فَقِيلَ هُوَ خَلَفًا مِنْهُ. Maka dikatakan, ini sebagai pengganti dari pamannya, kan begitu. Ya, jadi dari sini juga bisa kita lihat bahwa memberi nama keponakan atau sepupunya dengan nama yang telah berjasa, apalagi dia adalah seorang pejuang.

قالَ: فَقَلَّبوهُ أيْ رَدُّوهُ وصَرَفُوهُ. Yakni kita sudah artikan bahwa memindahkan anak tadi. فَاسْتَفَاقَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم انْتَبَهَ مِنْ شُغْلِهِ وفِكْرِهِ الَّذِي كَانَ فِيهِ. Yakni Nabi sadar, ingat tadi sibuk beliau di mana beliau meletakkan bayi di pangkuannya. Kemudian baru sadar, ‘eh, ada bayi tadi’, ternyata bayinya tidak ada. Lalu ditanya oleh Nabi صلى الله عليه وسلم.

Kemudian dari hadis ini juga bisa mengambil faedah bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم menyebutkan sebelumnya bahwa nama yang terbaik itu adalah Abdullah dan Abdurrahman. Tidak menutup kemungkinan boleh diberi nama dengan yang lain, yaitu Nabi memberi nama Al-Munzir. Kemudian juga berdasarkan penjelasan tadi bahwa di antara hikmah Nabi memberikan nama adalah karena ada nama sebelumnya yang dia adalah pejuang. Ya, ada pejuang. Maka kalau kita lihat salah satu dari hikmah memberi nama-nama orang-orang yang telah terdahulu, apalagi tokoh-tokoh, ya, itu adalah bagian dari doa mengharapkan supaya anak-anak ini juga seperti yang telah berlalu. Namanya Umar, namanya Utsman, namanya Ali. Abu Bakar, siapa namanya? Abdullah. Tapi lebih terkenalnya dengan Abu Bakar. Abu Bakar itu adalah kuniah. Gelarnya apa? Laqab-nya apa? As-Siddiq (الصدّيق). Ya, namanya adalah Abdullah. Jadi, kita memberi nama anak kita, kalau sudah pakai nama cucu kita nanti ke depan, ya, kasih nama nama-nama para nabi, nama-nama para pejuang-pejuang yang memiliki makna juga. Semoga اللهُ سبحانَهُ وتعالى (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menjadikan mereka orang-orang yang mengikuti langkah-langkah mereka yang telah berlalu.

Baik. Yang terakhir dari hadis bab ini.

حَدَّثَنَا أبو الربيعِ، قالَ حدثنا أبو الربيعِ سليمانُ بنُ داودَ الأنْقَريُّ (At-Tayyahi), قالَ حدثنا عبدُ الوارثِ، عن أبي التَّيَّاحِ، قالَ حدثنا أنسُ بنُ مالكٍ رضيَ اللهُ عنهُ. حَدَّثَنَا شيبانُ ابنُ فروخٍ واللفظُ لهُ، قالَ حدثنا عبدُ الوارثِ، قالَ حدثنا أبو التَّيَّاحِ، عن أنسِ بنِ مالكٍ رضيَ اللهُ عنهُ، قالَ:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ. قالَ: أَحْسَبُهُ قالَ: كَانَ فَطِيمًا. قالَ: فَكَانَ إِذَا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَآهُ قَالَ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟ قالَ: فَكَانَ يَلْعَبُ بِهِ.

Dengan sanadnya kepada Anas bin Malik رضيَ اللهُ عنهُ. Dia menjelaskan tentang Nabi صلى الله عليه وسلم. كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا. Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah orang yang paling baik akhlaknya. وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ. Saya memiliki saudara yang diberi kuniah atau disebut kepadanya adalah Abu Umair. Ini menunjukkan bahwa anak kecil pun boleh kita beri kuniah walaupun dia belum punya anak. قالَ: أَحْسَبُهُ قالَ: كَانَ فَطِيمًا. Yakni rawi mengatakan, “Aku mengira dia mengatakan, ‘Dia ini adalah Fatim.'” Bahwasanya dia ini Fatim, dia ini anak yang baru disapih, berarti umur 2 tahun.

قالَ: فَكَانَ إِذَا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَآهُ قَالَ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟. Apabila Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang dan melihatnya, beliau mengatakan, يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟ (Wahai Abu Umair, apa yang terjadi pada burung kecil itu, An-Nughair?). النُّغَيْرُ ini adalah burung kecil yang selalu dimainkan oleh anak tadi. Lalu Nabi menyapanya, menanyanya, “Eh, Abu Umair, ah, apa kabar burungmu itu?” سبحانَ اللهِ (Subhanallah). Rasulullah صلى الله عليه وسلم, orang yang paling mulia, dalam jarak umur yang, ya, berapa umurnya ya, 50 tahunan dan mendekati 60, menyapa bayi atau anak kecil yang biasa main dengan burung, tapi bercengkerama dengannya, berlemah lembut dengannya. Ini menunjukkan kelembutan Nabi صلى الله عليه وسلم. Ini menunjukkan akhlak Nabi yang mulia.

Faedah dari hadis ini bahwa yang pertama:

  • جَوَازُ تَكْنِيَةِ مَنْ لَمْ يُولَدْ لَهُ. Boleh diberi kuniah orang yang belum punya anak, anak kecil saja boleh. Jadi, boleh tidak mesti diberi kuniah Abu Fulan itu harus anak yang sudah punya anak, tidak.
  • وَبَيَانُ أَنَّ تَكْنِيَةَ الطِّفْلِ لَيْسَ كَذِبًا. Dan penjelasan bahwa memberi kuniah anak-anak itu bukanlah kebohongan. Dia hanya kuniah, bukan menunjukkan Abu Fulan berarti si Fulan sudah ada. Tidak. Aisyah رضيَ اللهُ تعالى عنها (radhiyallahu ta’ala ‘anha), kuniah-nya adalah أمُّ عبدِ اللهِ (Ummu Abdillah). Umar bin Khattab, kuniah-nya أبو حفصٍ (Abu Hafs). Tidak ada seorang pun anaknya yang namanya Hafs, yang ada Hafsah.
  • وَجَوَازُ الْمُزَاحِ فِيمَا لَيْسَ إِثْمًا. Boleh bersenda gurau selama tidak berdosa.
  • وَجَوَازُ تَصْغِيرِ بَعْضِ الْمُسَمَّيَاتِ. Faedah yang lain, boleh menjadikan nama kecil (tashghir) untuk sebagian nama. Yakni Umar, nama besarnya Umar, nama kecilnya adalah Umair. Hasan, bentuk kecilnya adalah Husain. Maka kalau misalkan kita bikin nama Hasan abangnya, Husain adiknya, ya, kedua-duanya dari kata-kata حسن (hasan), حسنة (hasanah).
  • وَجَوَازُ اللعبِ بالعُصْفُورِ. Faedah yang lain, boleh anak-anak itu bermain memelihara burung kecil, العصفورُ النغيرُ (Al-‘Ushfur An-Nughair).
  • وَتَمْكِينُ الْوَلِيِّ إِيَّاهُ مِنْ ذَلِكَ. Dan orang tua memberikan keleluasaan untuk anak kepada anaknya untuk itu. Ya, boleh si ayah memberi anaknya mainan burung kecil, ya, dan diberikan keleluasaan untuknya.
  • وَجَوَازُ السَّجْعِ بِالْكَلامِ الْحَسَنِ بِلاَ كُلْفَةٍ. Bolehnya perkataan dalam bentuk saja’ (bunyi berima) dalam perkataan yang baik tanpa dipaksa. “يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟” (Ya Aba Umair, ma fa’ala An-Nughair?) itu bagian dari bentuk saja’.
  • مُلاَطَفَةُ الصِّبْيَانِ وتَأْنِيسُهُمْ. Yakni bersenda gurau dengan anak-anak dan bercengkerama dengannya, dekat.
  • وَبَيَانُ مَا كَانَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَعَظِيمِ الشَّمَائِلِ وَالتَّوَاضُعِ وَزِيَارَةِ الْأَهْلِ. Hadis ini juga menjelaskan kepada kita tentang keadaan Nabi di mana beliau akhlaknya yang baik, sikap beliau yang pemurah, pemurah hati, dan beliau yang suka mengunjungi yang lain. Bayi saja dia lihat, kemudian dia bercengkerama dengannya. Ya, karena Ummu Sulaim, ibunda Abu Umair, dia termasuk mahram-nya Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagaimana yang telah berlalu.
  • واستَدَلَّ بَعْضُ الْمَالِكِيَّةِ عَلَى جَوَازِ صَيْدِ حَرَمِ الْمَدِينَةِ. Sebagian ulama Malikiyah berpandangan bolehnya menangkap binatang buruan dari yang ada dalam tanah suci Madinah. وَلاَ دَلاَلَةَ فِي ذَلِكَ. Dan itu tidak ada dalilnya. Kata Imam Nawawi di sini, لِأَنَّهُ لَيْسَ فِي الْحَدِيثِ شَيْءٌ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ صِيدَ مِنْ حَرَمِ الْمَدِينَةِ. Karena tidak ada sedikit pun dalam hadis ini, baik terang-terangan ataupun tidak, yang menyatakan bahwa burung yang dimainkan oleh Abu Umair ini adalah burung yang ditangkap dari tanah suci Madinah. وَقَدْ جَاءَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّحِيحَةُ كَثِيرَةٌ فِي كِتَابِ الْحَجِّ مُصَرِّحَةً بِتَحْرِيمِ صَيْدِ حَرَمِ الْمَدِينَةِ. Terdapat hadis-hadis yang sahih, nyata, yang banyak di dalam pembahasan Kitabul Hajj yang menjelaskan bahwa haramnya menangkap buruan dari tanah suci Madinah. فَلاَ يَجُوزُ تَرْكُهَا بِمِثْلِ هَذَا وَلاَ مُعَارَضَتُهَا بِهِ. واللهُ أعلمُ (Wallahu a’lam). Maka hadis-hadis yang sahih ini tidak bisa dibiarkan begitu saja ditinggalkan karena cerita ini, dan tidak juga bisa dipertentangkan dengannya.

واللهُ تعالى أعلمُ (Wallahu ta’ala a’lam). Mudah-mudahan faedah-faedah ini bisa kita catat dan kita ambil faedahnya atau hikmahnya. واللهُ تعالى أعلمُ, وصلى اللهُ على نبيِّنَا محمدٍ، وعلى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ. والسلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبركاتُهُ.


157