Dauroh

LIVE Dauroh: Seorang Muslim Bagaikan Satu Bangunan

Rangkuman Daurah Relawan: Ukhuwah, Keikhlasan, dan Fiqih Kebencanaan


Rangkuman Daurah Relawan: Ukhuwah, Keikhlasan, dan Fiqih Kebencanaan

Bagian I: Membangun Ukhuwah dan Dinamika Organisasi (Oleh Buya Muhammad Elvi Syam)

1. Hakikat Gesekan dan Struktur Komando

Dalam kerja bersama (amal jamai), gesekan atau konflik adalah hal yang pasti terjadi. Untuk meminimalisir kekacauan, diperlukan garis komando yang jelas. Struktur ini memastikan pekerjaan teratur. Jika terjadi gesekan, sikap yang harus diambil bukanlah membela diri, melainkan mendamaikan, mengedepankan husnudzan (prasangka baik), dan melihat kepentingan yang lebih besar.Getty Images

2. Ukhuwah di Atas Segalanya

  • Landasan: Ukhuwah (persaudaraan) harus dibangun di atas keikhlasan karena Allah, bukan karena fanatisme organisasi.
  • Posisi Organisasi: Organisasi, yayasan, atau lembaga hanyalah Wasilah (sarana), bukan Ghayah (tujuan). Tujuannya adalah membantu sesama karena Allah. Jangan sampai sarana dijadikan tujuan.
  • Penyatuan: Di lapangan, atribut organisasi harus dikesampingkan demi tujuan bersama. Berbeda seragam tidak boleh memutus tali persaudaraan.

3. Definisi dan Aplikasi Keikhlasan

Ikhlas didefinisikan sebagai kesiapan untuk tidak dikenal, tidak disebut, dan tidak dipuji.

  • Mental Pemberi vs Penerima: Relawan harus memposisikan diri sebagai pemberi yang tidak mengharap balasan atau ucapan terima kasih (La nuriidu minkum jazaan wala syukura). Sebaliknya, pihak yang dibantu (penerima) dianjurkan untuk tahu berterima kasih dan mendoakan pemberi agar posisi keduanya setara di hadapan Allah.
  • Penyakit Hati: Ukhuwah bisa rusak oleh penyakit hati seperti merasa paling capek, paling ikhlas, paling benar, atau merasa tidak dihargai.

4. Pilar Penjaga Ukhuwah

  • Menahan Emosi (Kadhimul Ghaizh): Kemampuan menahan amarah di bawah tekanan lapangan yang berat (lelah fisik, tekanan warga) adalah pilar utama. Orang kuat adalah yang mampu mengendalikan diri saat marah.
  • Tawadhu (Rendah Hati): Siap melakukan tugas sekecil apa pun (seperti memungut sampah atau mengatur parkir) dan tidak menunggu pujian. Tawadhu adalah “lem” perekat ukhuwah.
  • Husnudzan dan Menutup Aib: Hindari prasangka buruk karena itu adalah “ucapan yang paling dusta”. Jangan memata-matai (tajassus) dan jangan menggunjing (ghibah). Jika ada kekurangan rekan, tegurlah secara empat mata, bukan menyindir di grup WhatsApp. Grup relawan harus murni untuk koordinasi, bukan tempat mengeluh.

5. Penutup Amal (Al-Amal bil Khawatim)

Jangan merusak ukhuwah di penghujung kegiatan. Saat posko ditutup, pastikan hubungan hati tetap tersambung. Jangan sampai kebaikan yang dilakukan terhapus karena pertengkaran di akhir kegiatan.


Bagian II: Menjaga Niat dan Keutamaan Membantu Sesama (Oleh Ustadz Ahmad Danil)

1. Pengorbanan dan Perspektif Akhirat

Meninggalkan keluarga untuk menjadi relawan adalah pengorbanan besar. Kesulitan di dunia (banjir, lelah) tidak sebanding dengan kesulitan di Hari Kiamat. Membantu meringankan beban orang lain di dunia adalah cara agar Allah meringankan beban kita di akhirat.

2. Keutamaan Membantu (Hadits Qudsi)

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi bahwa Dia “sakit”, “lapar”, dan “haus”. Maksudnya, ketika kita menjenguk orang sakit atau memberi makan korban bencana, kita akan “menemukan” Allah di sana (mendapatkan ridha dan pahala-Nya).

3. Empati dan Psikologi Korban

Relawan tidak hanya memberikan bantuan fisik, tapi juga dukungan jiwa (ruhiyah). Relawan harus memiliki empati tinggi: “Sakitnya mereka adalah sakitnya kita”. Jangan membalas emosi warga yang sedang stres dengan emosi juga. Pahami bahwa mereka sedang dalam kondisi kehilangan harta benda dan trauma.

4. Kiat Menjaga Keikhlasan (Nasihat Syekh Bin Baz)

  • Fasta’iz billah: Segera memohon perlindungan kepada Allah saat ada bisikan setan untuk riya atau memecah belah.
  • Sembunyikan Amal: Hindari eksposure media sosial yang tidak perlu (seperti update status ibadah atau bantuan) kecuali jika ada maslahat syar’i seperti laporan pertanggungjawaban donatur.
  • Kesadaran Diri: Sadari bahwa kita bisa bergerak membantu semata-mata karena pertolongan Allah, bukan karena kehebatan diri sendiri.

5. Pembatal Amal

Relawan harus cerdas menjaga pahala agar tidak gugur. Hal yang membatalkan amal antara lain:

  • Syirik: Termasuk ritual tolak bala yang menyimpang.
  • Riya’: Ingin dipuji atau ingin komunitasnya disebut-sebut.
  • Al-Mannu wal Adza: Mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti hati penerima bantuan.
  • Meninggalkan Salat: Relawan tidak boleh meninggalkan kewajiban salat, bahkan harus mengajak warga di pengungsian untuk tetap salat.

Bagian III: Laporan Lapangan & Realitas

  • Lokasi Giat: Tim relawan tersebar di Gria Permata Endah 2, Tabiang Mandagadang, Rumah Quran Rodatun Nisa, Komplek KIP, Gurun Lawe, dan Surogadang.
  • Kendala: Tantangan terberat adalah lumpur tebal (20-30 cm hingga setinggi paha) dan material banjir yang masuk ke dalam rumah. Pembersihan manual sangat sulit dan membutuhkan alat berat.
  • Kegiatan: Selain pembersihan (Land Clearing), juga ada Dapur Cinta (memasak Rendang) untuk warga.

Bagian IV: Tanya Jawab (Fiqih Relawan & Kebencanaan)

Berikut adalah rangkuman jawaban atas isu-isu spesifik yang ditanyakan:

1. Prioritas: Kewajiban Kerja vs Kemanusiaan

  • Kondisi Darurat (Nyawa): Jika menyangkut nyawa (misal: orang tenggelam), maka menyelamatkan nyawa lebih utama (wajib) daripada masuk kantor, karena hifdzun nafs (menjaga jiwa) adalah prioritas syariat.
  • Kondisi Hajat (Bantuan pasca bencana): Jika tidak darurat, relawan harus izin atasan. Waktu kerja adalah “barang yang sudah dijual” (digaji), sehingga tidak boleh digunakan untuk hal lain (termasuk ibadah sunnah seperti Dhuha) tanpa izin.

2. Pakaian Relawan Akhwat

Akhwat boleh menjadi relawan dengan syarat menutup aurat, longgar, dan ditempatkan pada posisi yang minim ikhtilat (campur baur), seperti di dapur umum atau logistik tertutup. Tidak harus memakai gamis lebar yang menyulitkan gerak, asalkan syar’i dan aman.

3. Penggunaan Dana Donasi untuk Operasional/Gaji Relawan

  • Hukum: Boleh (Mubah). Merujuk fatwa Syekh Abdullah bin Sholeh Al-Ubailan, donasi boleh digunakan untuk korban dan juga operasional relawan (BBM, makan).
  • Gaji/Ujrah: Relawan yang meninggalkan pekerjaan hariannya (terutama buruh harian) boleh diberikan ujrah (upah/pengganti) dari dana donasi agar nafkah keluarganya tetap terjaga dan keikhlasannya tidak terganggu oleh pikiran ekonomi. Ini harus dikelola transparan oleh lembaga.

4. Bantuan untuk Warga yang Tidak Terdampak Langsung

Bantuan boleh diberikan kepada warga sekitar yang tidak terdampak langsung (rumahnya aman) namun terkena dampak tidak langsung (ekonomi mati). Ini juga berfungsi sebagai ta’liful qulub (melembutkan hati) dan menjaga keharmonisan sosial agar tidak timbul kecemburuan yang menghambat dakwah.

5. Fiqih Salat: Jamak Salat saat Bencana

  • Hukum: Boleh menjamak salat (Zuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya) bagi relawan dan korban banjir.
  • Alasan: Masyaqqah (Kesulitan/Kesusahan). Dalilnya adalah Hadits Ibnu Abbas di mana Nabi menjamak salat bukan karena safar/hujan, tapi agar tidak memberatkan umatnya. Kondisi banjir, lumpur, baju kotor, dan kelelahan adalah uzur syar’i yang membolehkan jamak (tapi tidak diqasar kecuali musafir).

6. Transparansi Keuangan

Lembaga wajib transparan dan mencatat amanah untuk pertanggungjawaban dunia akhirat. Bagi masyarakat umum yang tidak menyumbang, tidak perlu mencari-cari kesalahan (tajassus) atau menuntut transparansi tanpa dasar, cukup doakan.


Bagian V: Kesimpulan & “Quotes” Penutup

Sesi ditutup dengan beberapa nasihat emas (Statement Clause):

  1. “Ukhuwah kita bukan karena rompi, tapi karena iman. Jika rompi dibuka, jangan iman yang dibuka.”
  2. “Tanggap darurat boleh berakhir, tapi tanggap ukhuwah jangan pernah berakhir.”
  3. “Jangan sibuk mencari nama, sibuklah mencari keridaan Allah.”
  4. “Kalau saudaramu jatuh, tugasmu mengangkatnya, bukan memviralkan kejatuhannya.”
  5. “Kita datang berbeda lembaga, tapi pulang membawa satu hati.”
  6. “Relawan boleh lelah, tapi hati jangan lemah.”

Acara diakhiri dengan pembagian hadiah untuk peserta yang bisa menjawab pertanyaan seputar materi (makna ikhlas, cara menjaga keikhlasan, dan makna kadhimul ghaizh) serta doa penutup.

Back to top button