Apa yang Telah Engkau Persiapkan untuk Hari Esok? Kajian Tafsir Surah Al-Hasyr tentang Takwa dan Muhasabah.
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Kaum muslimin dan muslimat, jemaah yang dimuliakan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Alhamdulillah, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menghidupkan kita kembali dari kematian kita dalam tidur, dan kepada-Nyalah kita berkumpul. Selawat beriring salam semoga dianugerahkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepada nabi kita Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.
Kajian kita pagi ini dengan judul, “Apa yang Sudah Engkau Persiapkan untuk Akhiratmu, Wahai Saudaraku?” Judul ini mengingatkan kita kepada firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 dan ayat-ayat berikutnya. Dan insya Allah kita sama-sama mempelajari tafsir dari ayat ini dari kitab tafsir As-Sa’di yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19) لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (20) لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (21)
“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (yakni akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itu adalah orang-orang yang fasik. Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. Kalau sekiranya kami turunkan Al-Qur’an kepada sebuah gunung, pastilah kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutan mereka kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.”
Syekh Abdurrahman As-Sa’di, dia mengatakan, “Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memerintahkan hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dengan konsekuensi iman, yaitu takwa, baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.” يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا (Hai orang-orang yang beriman). Ibnu Mas’ud dia mengatakan, “Jika seandainya ada panggilan, ‘Hai orang-orang beriman,’ فَأَرْعِهَا سَمْعَكَ (fokuskanlah pendengaranmu kepadanya). إِمَّا بَعْدَهُ خَيْرٌ مَا تُؤْمَرُ بِهِ وَشَرٌّ مَا تُنْهَى عَنْهُ. (Boleh jadi setelah panggilan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا itu boleh jadi kebaikan, sebuah kebaikan yang kamu diperintahkan untuknya, maka dia adalah sebaik-baik apa yang diperintahkan; atau setelahnya adalah larangan, maka dia adalah seburuk-buruk perbuatan yang dilarang darinya).”
Maka di sini kita melihat ada perintah dan ada juga larangan. Perintah yang pertama adalah takwa. Perintah untuk kita selalu bertakwa kepada Allah. Apa itu takwa? Berasal dari وِقَايَةٌ: أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ عَذَابِ اللَّهِ وِقَايَةً بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيهِ. (Yaitu dengan kita buat tameng, itu dinding yang membatasi antara kita dengan azab Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah dalam menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya).
Thalq bin Habib dia mengatakan:
التَّقْوَى أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللَّهِ تَرْجُو ثَوَابَ اللَّهِ، وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللَّهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللَّهِ تَخَافُ عِقَابَ اللَّهِ.
“Engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah dengan mengharapkan pahala dari Allah. (Dan) kau tinggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut dari azab Allah.”
Maka takwa itu membutuhkan ilmu: ilmu terhadap ketaatan dan ilmu terhadap maksiat. Ilmu terhadap ketaatan, seorang melaksanakan ibadah karena dia tahu itu adalah ibadah dan diharapkan dapatkan pahala, ini motivasinya. Dan motivasi itu tidak merusak ikhlas. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga mengatakan:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Siapa yang puasa bulan Ramadan didasari oleh iman (ini ilmu, bahwasanya dia yakin itu ada perintah dari Allah, bukan karena kebiasaan, bukan karena ikut-ikutan), عَلَى نُورٍ مِنَ اللَّهِ (cahaya dari Allah, dia tahu itu adalah merupakan kewajiban, dia imani itu), تَرْجُو ثَوَابَ اللَّهِ (dalam hadis itu احْتِسَابًا, dia mengharapkan pahala dari Allah, dia mengharapkan pahala dari Allah).” Jadi itu motivasinya. Apa yang didapatkan? Diampuni dosa-dosa yang telah berlalu. Maka seorang bagaimanapun letih lelahnya dia, ketika ada kesempatan bagi dia untuk melaksanakan sebuah ketaatan, dia lakukan karena dia tahu itu adalah sebuah ketaatan dan dia berharap pahala dalam hal itu.
Begitu juga sebaliknya dalam maksiat. Ada orang mengatakan berawal maksiat itu tidak punya niat, tapi terkadang karena ada kesempatan. Namun ketika al-baits (yang mendorong) itu adalah takwa, apa itu takwa tadi? Engkau meninggalkan maksiat. Dia tinggalkan maksiat bukan karena tidak mampu, karena ada orang yang tidak berbuat maksiat karena dia tidak mampu atau karena dia tidak tahu. Tapi ketika dia tahu itu peluang, akhirnya dia lakukan. Tapi orang yang bertakwa, dia tinggalkan maksiat kepada Allah karena dia tahu itu adalah maksiat. Ada atau tidak ada kesempatan, dia tidak lakukan, didorong lagi karena dia takut kepada azab Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Maka takwa ini adalah nasihat atau pesan wasiat kepada orang terdahulu, dan takwa merupakan bekal yang terbaik. وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. Dan Nabi memesankan:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ.
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada.”
Maka seluruh keadaan kita, kita harus bertakwa. Bagaimana dengan cara memperhatikan apa yang diperintahkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dari seluruh perintah-perintah dan syariat-syariat-Nya serta batas-batas-Nya? احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ. Ini adalah bentuk ketakwaan. Dan melihat apa yang wajib dia, apa haknya dan apa kewajibannya. Dia tunaikan kewajiban yang harus dilaksanakan, dia terima apa yang merupakan haknya. Dan orang yang bertakwa, dia juga memperhatikan apa yang akan bisa dia raih dari amalan-amalan yang bisa mendatangkan manfaat untuk mereka, dan dia perhatikan juga amalan-amalan yang bisa memudaratkannya pada hari kiamat.
Sesungguhnya orang-orang beriman, apabila dia jadikan akhirat itu merupakan selalu titik pandangannya dan selalu menjadikan kiblat hatinya adalah akhirat, maka dia akan selalu memberikan perhatian yang kuat, bersungguh-sungguh untuk memperbanyak amalan-amalan yang bisa menghantarnya kepada akhirat itu, dan membersihkan hatinya dari hal-hal yang bisa memutuskan dan menghalanginya dari berjalan menuju kepada akhirat. Dan ditambah lagi di ujung dikatakan:
إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
“Sesungguhnya Allah Maha Memberitahukan apa yang kamu lakukan.” Ini adalah tambah pendorong lagi bahwa tidak ada satupun amalan yang kita lakukan yang tidak diketahui oleh Allah, tidak ada satupun amalan yang kita kerjakan yang sia-sia di sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Maka pengetahuan ini akan menambah dorongan bagi kita untuk bersungguh-sungguh mempersiapkan diri kita untuk hari esok.
Ayat yang mulia ini, kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, أَصْلٌ فِي مُحَاسَبَةِ الْعَبْدِ نَفْسَهُ. (Dasar pokok, asal muasal dalam muhasabah diri seorang hamba, menghitung-hitung dirinya). Nabi mengatakan:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ.
“Orang yang cerdas adalah orang yang menimbang-nimbang dirinya.” Setelah dia timbang-timbang dirinya, apa ini menimbang nih? Menghisab. Apa yang menghisab? Mengaudit dirinya itu apa gunanya mengaudit? Untuk mengetahui ba untuang tu enggeh galeh ko atau ba rugi. Orang yang tidak pernah muhasabah diri atau orang yang tidak pernah melakukan mengaudit, dia tidak tahu apakah dia mendapatkan keuntungan atau dapatkan kerugian. Maka kita juga perlu muhasabah diri kita. Umar Bin Khattab dia mengatakan:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوهَا قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا.
“Hitung-hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung, timbang-timbanglah sebelum dia ditimbang.” Karena itu akan mudah bagi kita sebelum datang perhitungan itu. Maka ayat ini adalah ayat muhasabah, menghitung diri kita. Maka seorang hamba hendaklah pantas bagi dia untuk memperhatikan dirinya. Kalau dia melihat dirinya ini jatuh tergelincir, maka dia segera untuk bisa meninggalkannya dan berusaha meraih penggantinya. Sama dengan orang ketika dia mengaudit usahanya, ternyata banyak kerugian, maka pada tahun yang akan datang dia akan mencoba bagaimana menutup kerugian yang terjadi pada tahun yang telah berlalu. Adapun kita terjatuh dalam maksiat, maka dengan kita menghitung-hitung itulah tahu kita. Jika kita tergelincir jatuh dalam maksiat, maka cepat kita selamatkan dengan kita meninggalkan maksiat tersebut, bertobat dengan تَوْبَةً نَصُوحًا, berpaling dari seluruh sebab-sebab atau faktor-faktor yang bisa menghantar kita kepada maksiat itu. Dan jika dia melihat dirinya lalai dalam menjalankan perintah dari segala perintah-perintah Allah, masih ada kekurangan-kekurangan (kalau tadi jatuh dalam maksiat, tapi ini dari sisi yang kedua ini adalah kurang menjalankan perintah-perintah Allah), dia segera berusaha untuk bersungguh-sungguh dan minta tolong kepada Rabbnya agar dimudahkan baginya untuk menyempurnakan dan melengkapi.
Kita diajarkan oleh nabi kita Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ doa:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
“Ya Allah, bantu aku di dalam berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan melaksanakan ibadah yang terbaik.” Karena kita tidak akan bisa melaksanakan itu dengan baik kecuali dengan taufik dari Allah, pertolongan dari Allah. Kita sering lalai, kita sering lupa. Kalaulah tidak dengan pertolongan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, kita tidak akan bisa berzikir, kita tidak bisa bersyukur, kita tidak bisa beribadah yang terbaik kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Maka perlu kita mohon, mohon, mohon pertolongan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى agar kita bisa juga memberikan yang terbaik, beribadah dengan terbaik, beribadah dengan ihsan.
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Artinya apa? Ihsan itu adalah melaksanakan sebuah ibadah yang semestinya tanpa dikurang sedikit pun, itu yang ihsan. Lalu diberikan pendekatan, kalau seandainya seorang yang ingin dinilai pekerjaannya, lalu orang yang menilainya ada berada di hadapan dia, kira-kira apakah dia akan lalai, cuek, atau asal-asalan di dalam menjalankan tugasnya yang penilainya ada di hadapan dia? Tentu dia tidak akan lalai, dia akan bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai dengan yang dituntut. Tapi kadang kita lalai ketika kita tidak melihat orang yang menilai kita, akhirnya kita mengerjakannya asal jadi. Ihsan, ketika imannya sudah kuat, dan ihsan merupakan tingkat yang tertinggi di dalam tingkatan Islam: Islam, iman, dan ihsan, tingkatan dalam agama kita. Maka seorang yang beribadah tadi, dia selalu menimbang-nimbang antara anugerah yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berikan kepadanya (Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah berbuat baik kepadanya) dengan ditimbang dengan kelalaian yang dia lakukan dalam menjalankan kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah. Kalau itu ditimbang-timbang, maka akan muncul rasa malu kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Lalu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.
“Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang mereka lupa kepada Allah.” Ketika kita lupa kepada Allah, apa yang terjadi? Kita jauh dari Allah. Lalu Allah berikan balasan yang sama, “فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ” (Allah lupakan mereka dengan diri mereka sendiri). Ini adalah الْحِرْمَانُ (yaitu puncak kerugian, keterhalangan dari puncak keterhalangan). Seorang hamba lalai dari apa yang diperintahkan kepadanya, maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memperumpamakan mereka seperti orang, seperti kaum yang lupa kepada Allah, lalai dalam berzikir kepada Allah, lalai di dalam menjalankan hak Allah, maka dia selalu berupaya untuk dirinya sendiri, mengikuti hawa nafsunya, syahwatnya. Mereka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى jadikan lupa terhadap diri mereka sendiri, lupa atas kemaslahatan dirinya sendiri. Allah lalaikan mereka dari manfaat-manfaat yang bisa datang kepada diri mereka sehingga mereka mendapatkan kesengsaraan.
Coba kita lihat orang yang terjerumus narkoba, ya, isi penjara itu pada umumnya adalah 80% itu narkoba. Kenapa dia mau mendekat, mungkin mengkonsumsi narkoba atau menjual narkoba yang dia tahu itu adalah haram? Karena dia lalai kepada Allah. Pada saat dia lalai, dia dekat dengan haram, Allah lalaikan dia, lupakan dia dengan dirinya sendiri dan manfaat dirinya dan keluarganya. Lupa dia bahwasanya itu adalah membahayakan dirinya sendiri, lupa dia itu membahayakan keluarganya, sampai dia tertangkap, divonis, pada saat itu baru dia sadar, “Eh, ternyata ini akibatnya.” Orang yang korupsi begitu juga. Ketika dia mengikuti hawa nafsunya, lupa dia kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, dan Allah lupakan dia terhadap dirinya sendiri. Begitu juga terkadang kita jatuh dalam maksiat, asyik dengan maksiat. Sebenarnya dalam keasyikan kita dengan maksiat itu, sebenarnya kita sudah lupa dengan diri sendiri. Kita lupa, kita sudah membuang-buang waktu dalam maksiat kita kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى balas kita dengan amalan atau jenis amalan yang kita lakukan. Kita lupa kepada Allah, Allah lupakan kita terhadap diri kita sendiri. أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ. Mereka itu adalah orang-orang yang fasik, yang jauh dari ketaatan, yang keluar dari ketaatan kepada Rabbnya dan terjurumus di dalam maksiat, gelimang dosa.
Lalu bagaimana caranya kita untuk menjaga diri kita ini? Enggaklah selalu kita ingat Allah agar kita tidak lalai, agar kita tidak terjerumus.
لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ.
“Tidaklah sama penghuni-penghuni api neraka dengan penghuni-penghuni surga. Penghuni-penghuni surga, merekalah orang yang beruntung.”
Syekh mengatakan, “Apakah sama orang yang menjaga ketakwaan kepada Allah dan melihat pada apa yang telah dia suguhkan untuk hari esoknya, sehingga dia berhak untuk mendapatkan surga, dia berhak mendapatkan kehidupan yang selamat bersama orang-orang yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berikan nikmat kepada mereka dari para nabi dan siddiq, syuhada, wassalihin? Apakah sama dengan orang yang lalai dengan zikir kepada Allah, lupa hak-hak Allah yang harus dia tunaikan, sehingga dia sengsara di dunia dan berhak mendapatkan azab di akhirat?” Maka orang yang pertama, mereka orang-orang yang beruntung. Orang yang terakhir, itulah orang-orang yang merugi.
Maka haklah selalu kita melihat kehidupan kita sehari-hari ini, pandangnya adalah akhirat terus. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:
مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.
“Siapa yang akhirat merupakan perhatiannya terus, HAM (pikirannya), kalau bisa kita katakan orientasi hidupnya adalah akhirat, artinya semua potensi yang dia miliki dia kerahkan untuk akhirat. Jabatan yang dia punyai dia pergunakan untuk mendapatkan akhirat, harta yang dia miliki dia berikan untuk akhirat, apapun potensi yang dia miliki dia kerahkan semuanya untuk akhirat, Allah akan jadikan rasa kayanya di hati.” Enggak minta-minta. Malahan dunia ini rasa lapang. Kita punya harta walaupun sedikit, kita bersedekah, mungkin kita punya tanah kita berikan, kita wakafkan, dan apa yang kita miliki kita arahkan semuanya untuk akhirat, Allah berikan kekayaan pada hati kita.
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.
“Bukanlah kaya itu banyaknya perbendaharaan harta, akan tetapi kaya itu adalah kaya jiwa.” Berapa orang terkadang berdasi, pejabat, punya harta banyak, tapi selalu minta uang ke orang, meminta-minta, meminta-minta, itu orang fakir namanya, ya, orang yang butuh. Orang kaya itu dia tidak butuh, sudah merasa cukup. Maka yang kaya sesungguhnya adalah kaya jiwa.
Jika orientasi hidup kita semuanya adalah akhirat, bukan berarti kita hanya duduk di masjid saja, tidak. Apa yang kita miliki, malahan setiap persendian yang kita miliki ini hendaklah kita sedekahkan. Nabi mengatakan:
كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ.
“Setiap persendian dari anak Adam ini berhak untuk dia berikan sedekah setiap hari terbitnya matahari.” Bersedekah itu tidak mesti dengan materi, dengan uang, tapi kita bersikap adil di antara dua orang yang berselisih itu adalah sedekah. Engkau bantu orang dalam kendaraannya, تُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ. (Kita mengangkat dia ke kendaraannya, menolong dia ke kendaraannya, atau kita menolong barangnya kita angkatkan ke kendaraannya, sedekah). Berkata baik saja itu adalah sedekah. تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ. (Menyuruh kepada kebaikan sedekah, melarang dari kemungkaran sedekah). Artinya nikmat yang Allah berikan kepada kita dalam persendian ini kita pergunakan pada hal-hal yang baik.
“Allah mudahkan urusannya, dunia mendatanginya dalam keadaan terhina.” Artinya apa? Dunia mengejarnya, ya. Mana yang, mana yang terhina, mengejar atau yang dikejar? Hah? Mengejar. Yang terhormat yang dikejar. Sekarang ini banyak orang mengejar benda mati. Zaman sekarang ini, kursi kosong yang dikejar, ya. Tapi kalau kita beramal karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, orientasi hidup kita adalah akhirat, dunia mengejar kita, وَهِيَ رَاغِمَةٌ (dia dalam keadaan terhina), seakan-akan dia mengatakan, “Bawa saya, bawa saya, bawa saya.” Orang yang sering bersedekah juga seakan-akan dia tidak mau dengan uangnya, tapi uangnya datang lagi, ya.
Tapi sebaliknya:
وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ.
“Siapa yang dunia orientasi hidupnya, sedikit-sedikit dunia, kurang gaji karena terlambat (itu adalah hak, wajib supaya hartanya halal dibawa pulang, tapi kita marah-marah, ya, karena merasa dikurangi karena orientasinya adalah dunia), Allah jadikan kefakirannya di depan mata.” Pakai kacamata fakir, dia lihat ke sini, “Nanti apa yang sini kurang?” Ke sini, semuanya kurang aja, butuh terus, karena itu sudah pakai kacamata kefakiran. Lalu Allah porak-porandakan urusannya. Kita lihat orang yang terjerumus dalam korupsi karena dia mandang butuh terus, butuh terus, butuh terus, ya, akhirnya dia lupa yang akibatnya kehidupannya porak-poranda. Dia dihukum masuk penjara, istri minta cerai, anak berantakan entah ke mana, porak-poranda urusannya. Adapun dunianya, tidaklah dia akan raih dari dunia itu kecuali apa yang telah dituliskan. Apa yang telah kita dapatkan dari dunia itu adalah bagian yang telah Allah tetapkan untuk kita semenjak kita berumur 4 bulan dalam kandungan ibu kita, dan apa yang akan kita jemput, dia tidak juga keluar dari apa yang telah dituliskan. Ada orang bikin toko buka 24 jam, ada orang buka usaha hanya setengah hari. Apa yang didapatkan oleh setengah hari tidak akan mengurangi apa yang telah dia dapatkan, apa yang telah dituliskan di Lauh Mahfuz. Yang buka 24 jam tidak akan menambah dari apa yang telah dituliskan. Maka perlu kita merubah mindset kita, akhirat yang menjadi نُصْبَ أَعْيُنِنَا (menjadi fokus pandangan kita), yang menjadi kiblat hati kita.
Lalu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan:
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ.
“Jika seandainya atau jika sekiranya kami turunkan Quran ini kepada sebuah gunung, pastilah kamu melihatnya tunduk, khusyuk, tunduk dan terbelah karena takut kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.” Gunung, batu, benda padat, juga dikatakan benda mati, tapi dia mendapatkan pengaruh, berinteraksi dengan Al-Qur’an. Ada batu yang menyampaikan salam kepada, bersalam kepada Nabi. Ada batu yang melarikan bajunya Nabi Musa. Makhluk Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى masing-masing dia bertasbih kepada Allah.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya dengan penjelasan yang nyata, yang jelas. Allah telah perintahkan mereka dan larang, dan larang mereka di dalam kitab-Nya yang mulia. Perintah dan larangan, keterangan-keterangan yang ada dalam Al-Qur’an ini seharusnya mewajibkan dia untuk bergegas kepada apa yang Allah ajak, seharusnya itu mendorong mereka untuk segera mempersiapkan dirinya untuk akhiratnya. Walaupun keadaan mereka itu dalam keadaan hati yang keras seperti gunung yang menjulang tinggi yang kokoh, maka sesungguhnya Al-Qur’an kalau seandainya diturunkan kepada gunung, dia akan pecah, tunduk dan pecah. Lalu hati kita yang masih basah ini, apakah akan lebih keras daripada gunung? Tidak bergeming, tidak merasa mendapatkan pelajaran, tidak bisa mengingatkan dari apa yang diturunkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dalam Al-Qur’an? Seharusnya hati kita yang lembut lebih mudah terpengaruh atau lebih mudah mendapatkan pengaruh dari Al-Qur’an, dari nasihat-nasihat Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an merupakan nasihat yang terbaik. Perintah-perintah dan larangan-larangan yang ada di dalamnya yang merupakan itu adalah hukum adalah untuk kemaslahatan manusia dan untuk kebahagiaan manusia dunia dan akhirat.
Maka kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, Allah berikan perumpamaan ini agar bagi kita mudah untuk memahaminya. Kita menimbang-nimbang diri kita ini, ya, apakah sudah begitu keras tidak merasa mendapatkan pelajaran dari apa yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى turunkan?
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, maka ini mengajak kita untuk bertafakur dalam ayat-ayat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, mentadaburinya. Karena mentadaburi dan mentafakuri ayat-ayat Allah akan membuka bagi seorang hamba pintu-pintu ilmu, akan jelas baginya jalan-jalan kebaikan dengan jalan-jalan keburukan, akan mendorong dirinya untuk menjalankan akhlak yang mulia, menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang baik, serta mengingatkan dirinya agar menjauhi akhlak-akhlak yang jelek. Dan tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada bertafakur dalam Al-Qur’an, mentadaburi makna-maknanya. Yang malam tadi juga kita sudah singgung bagaimana yang seharusnya kita harus tingkatkan, mentadaburi Al-Qur’an. Kita harus belajar bagaimana kita bisa memahami apa yang sedang kita baca, sehingga bagaimana ketika kita membaca itu berdiri bulu roma kita, ya, menangis kita, bertambah iman kita, bertambah rasa takut kita kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Ini yang kita harapkan dan kita jalankan apa yang diperintahkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Kalau kita perhatikan wasiat-wasiat Al-Qur’an, setiap dari perintah, ya, setiap perkataan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا, semua adalah kebaikan-kebaikan. Kalau seandainya itu adalah perintah, sebaik-baik perintah yang kita laksanakan. Kalau itu adalah larangan, itu adalah sejelek-jelek larangan yang harus kita tinggalkan. Maka oleh karena itu, mari kita persiapkan diri kita untuk hari esok kita dengan amal yang banyak, dengan bermacam-macam zikir, dan sebaik-baik zikir adalah baca Al-Qur’an, dan apa saja yang bisa kita amalkan sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam agama kita.
Bapak Ibu yang dimuliakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, mudah-mudahan apa yang kita sampaikan bermanfaat untuk diri saya sendiri dan untuk kita semua. Semoga kita bisa saling berpacu, saling bersemangat untuk mempersiapkan bekal kita untuk hari esok, hari yang pasti semua kita akan melaluinya. وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Tanya jawab:
Pertanyaan 1: HUkum doa bersama ?
Jawaban: Doa bersama, pertama setelah salat itu tidak ada disyariatkan karena doa kita itu masing-masing. Tapi Nabi pernah didatangi oleh tiga orang, di antaranya ada Abu Hurairah, masing-masing mereka minta didoakan oleh Nabi, lalu Nabi berdoa mendoakan Abu Hurairah, kemudian Abu Hurairah mengaminkan doanya Nabi. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Pertanyaan 2: Seorang pegawai dipakai namanya untuk kegiatan, tapi dia tidak ikut dalam kegiatan tersebut, tapi tanggung jawab kegiatan itu sama dia dan dia dapat uang dari hasil memakai namanya. Apakah ini boleh?
Jawaban: Kalau seandainya dia sudah penanggung jawab terhadap kegiatan itu dan dari konsekuensi tanggung jawab itu dia mendapatkan honor, walaupun dia tidak hadir pada acara itu tapi dia punya tanggung jawab, ya, maka honornya boleh dia dapatkan walaupun dia tidak hadir di acara tersebut dalam kegiatan itu, tapi dia adalah penanggung jawab. Tidak hanya mencaplok namanya, tanggung jawab, tapi dia tidak punya tanggung jawab, ya. Kalau dengan atas tanggung jawab dia itu dia berikan honornya, ya, boleh dia dapatkan. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Pertanyaan 3: Bagaimana pengamalan dari ayat Al-Qur’an dari Surah Ad-Dhuha, “وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ” (Adapun terhadap nikmat Allah maka sampaikan)? Apakah dengan menyampaikan nikmat yang diberikan, apakah dengan menampakkan nikmat yang diberikan oleh Allah menjadi riya’?
Jawaban: Tidak. Allah sangat menyukai hamba yang menampakkan bekas nikmat yang Allah berikan padanya. Maka kalau seandainya dia punya gaji, dia beli baju baru, dia beli sandal baru, Allah menyukai itu karena orang ini sudah berterima kasih kepada Allah dengan dengan cara menampakkan nikmat itu, ya.
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ.
“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan.”
Lalu ada seorang sahabat mengatakan, “Ya Rasulullah, seorang pengin…” Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.
“Seorang, Allah ee tidaklah masuk ke dalam surga orang yang di hatinya ada sebesar biji zarah rasa kesombongan.”
Lalu sahabat mengatakan, “Ya Rasulullah, seorang pengin pakaian indah, sandalnya indah, apakah itu dari sombong?” Lalu dijawab oleh Nabi, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Yang sombong itu apa? Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” Itu yang sombong.
Adapun وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (Adapun nikmat Allah maka sampaikan), ya, di antaranya hadis itu adalah bicarakan, mungkin bicara pada diri kita sendiri dulu atau kepada keluarga kita, depan anak istri kita, kita sampaikan, “Dulu kita ini enggak punya apa-apa, sekarang sudah punya apa-apa.” Maka ketika kita menyebutkan itu, muncul rasa syukur kita kepada Allah. Nah, bentuk syukur kita juga adalah dengan membelanjakan pada apa yang diridai oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Di antaranya juga adalah berpakaian yang baik. Orang yang diberi nikmat oleh Allah tapi tetap juga bajunya compang-camping, tidak disetrika, tidak di anu, ini orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Allah sudah berikan kepadanya nikmat tapi dia tidak menampakkan pengaruh atau bekas dari nikmat itu. Jadi ini tidak riya’. Riya’ itu apa? Riya’ itu kita beribadah ingin dipuji oleh orang, menampakkan ibadah kita ingin dipuji oleh orang. Ya, yakni seperti yang dikatakan dengan syirik khafi, yakni أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ فَيُزَيِّنَ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ. (Seorang salat lalu dia perindah salatnya karena dilihat oleh orang). Itu adalah riya’, ya, karena ingin dipuji. Tapi kalau dia ingin berpakaian dengan baik, ya, dalam rangka dia mensyukuri nikmat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, maka itu tidak termasuk riya’. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Baik. Kalau tidak ada, kita cukup sampai di sini dan pertemuan kita mudah-mudahan ee bermanfaat. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
