Akhlak Rasulullah صلى الله عليه وسلم: Teladan Kelembutan dalam Berinteraksi dengan Generasi yang Lebih Muda.
باب جواز قول الرجل لغير ابنه “يا بني” واستحبابه للملاطفة
(Bab tentang dibolehkannya seseorang berkata kepada orang lain yang bukan anaknya dengan ucapan “wahai anakku” (ya bunayya), dan dianjurkannya ucapan tersebut dalam rangka bersikap lemah lembut.)
Hadis Pertama:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْغُبَارِيِّ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ:
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ”يَا بُنَيَّ ”.
Dengan sanadnya kepada Anas bin Malik رضيَ اللهُ عنه, dia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم memanggilku dengan ungkapan: “Wahai anakku (يا بني).”
Hadis Kedua:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ، وَاللَّفْظُ لاِبْنِ أَبِي شَيْبَةَ، قَالاَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، قَالَ:
مَا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَحَدٌ عَنِ الدَّجَّالِ أَكْثَرَ مِمَّا سَأَلْتُهُ . فَقَالَ لِي ”يَا بُنَيَّ، مَا يُنْصِبُكَ مِنْهُ إِنَّهُ لاَ يَضُرُّكَ ” . قُلْتُ إِنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنَّ مَعَهُ أَنْهَارَ الْمَاءِ وَجِبَالَ الْخُبْزِ . قَالَ ” هُوَ أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ ذَلِكَ ” .
Dengan sanadnya kepada Mughirah bin Syu’bah رضيَ اللهُ عنه, dia berkata, “Tidak ada seorang pun yang bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم tentang Dajjal lebih banyak daripada aku bertanya kepada beliau.” (Jadi, Mughirah sangat sering bertanya kepada Rasulullah tentang Dajjal). Beliau (Nabi) berkata kepadaku, “Wahai anakku (يا بني), apa yang membuatmu bersusah payah (menyusahkanmu) memikirkannya? Sesungguhnya dia tidak akan membahayakanmu.” Aku (Mughirah) berkata, “Sesungguhnya mereka (orang-orang) mengira bahwa bersamanya ada sungai-sungai air dan gunung-gunung roti.” Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawabnya, “Dia (Dajjal) lebih ringan (lebih mudah) bagi Allah daripada itu (yang mereka katakan).”
(Catatan Rawi/Penjelasan Sanad Tambahan oleh Pembicara):
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ. حَدَّثَنِي سُرَيْجُ بْنُ يُونُسَ قَالَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ. وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو أُسَامَةَ وَهُمْ فِي إِسْنَادِ إِسْمَاعِيلَ هَذَا وَلَيْسَ فِي حَدِيثِ أَحَدٍ مِنْهُمَا قَوْلُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم لِلْمُغِيرَةِ ”يَا بُنَيَّ” إِلاَّ فِي حَدِيثِ يَزِيدَ وَحْدَهُ .
Sanad hadis ini diriwayatkan melalui bermacam-macam jalur. Saya katakan bahwa dalam jalur-jalur ini, tidak ada riwayat yang menyebutkan Nabi صلى الله عليه وسلم berkata kepada Mughirah “Wahai anakku” (يا بني), kecuali pada riwayat Yazid bin Harun semata.
Penjelasan Imam Nawawi رحمه الله:
Imam Nawawi رحمه الله menjelaskan, “Ucapan Nabi صلى الله عليه وسلم kepada Anas: ‘يا بنيَّ’ (ya bunayya) dan kepada Mughirah: ‘يا بنيَّ’.”
Ungkapan ‘يا بنيَّ’ dibaca dengan fathah pada ya’ yang bertasydid. Boleh juga dibaca dengan kasrah: ‘يا بنيِّ’ (ya bunayyi). Kedua bacaan ini sah.
Faedah dari Hadis:
Dalam dua hadis di atas, terdapat faedah tentang bolehnya seseorang berkata kepada orang yang lebih muda darinya, baik itu anaknya sendiri maupun bukan anaknya, dengan ungkapan “Wahai anakku” (يا بنيَّ / يا بنيِّ).
Ungkapan ‘بنيَّ’ (Bunayya) adalah bentuk tashghir (diminutif) dari kata ‘ابن’ (anak), sehingga maknanya adalah “anak kecilku” atau “anakku tersayang”. Boleh juga memanggil dengan ‘يا ولدي’ (wahai anakku).
Makna dari penggunaan ungkapan ‘ya bunayya’ atau ‘ya waladi’ dalam konteks ini adalah talattuf (التلطف), yaitu bersikap lemah lembut dan berkasih sayang kepada anak-anak (atau orang yang lebih muda). Mengungkapkan ucapan itu kepada mereka akan menumbuhkan rasa kedekatan dan kasih sayang antara yang memanggil dan yang dipanggil. Makna yang terkandung di dalamnya adalah: “Sesungguhnya engkau menempati kedudukan anakku dalam hal kasih sayang.” Ini karena orang yang lebih muda selayaknya disayangi.
Sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
” لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَلَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا ”.
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dari kami, dan tidak menyayangi orang yang lebih kecil dari kami.”
Jadi, kepada yang lebih tua umurnya dari kita, kita hormati, dan orang yang lebih kecil umurnya dari kita, kita sayangi.
Demikian juga, dikatakan kepada orang yang sebaya dengan pembicara: “Wahai saudaraku” (يا أخي). Walaupun dia bukan saudara kandung, mungkin dia adalah saudara seiman. Tujuannya adalah sebagaimana makna yang telah kita sebutkan (pada ungkapan ‘ya bunayya’), yaitu menunjukkan bahwa engkau bagiku seperti saudaraku, dalam hal sikap lemah lembut dan kasih sayang.
وَإِنْ قَصَدَ التَّلَطُّفَ كَانَ مُسْتَحَبًّا كَمَا فَعَلَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم.
Dan jika seseorang bermaksud untuk bersikap lemah lembut (dengan ucapan-ucapan tersebut), maka hal itu sangat dianjurkan (mustahab), sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم.
Ini karena kita dianjurkan untuk mengasihi orang yang ada di bumi ini. Sebab, الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ (al-jazā’ min jinsil ‘amal) – balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
“ مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ ”.
“Barangsiapa tidak mengasihi (orang lain), maka dia tidak akan dikasihi (oleh Allah).”
Ketika kita berlemah lembut dengan yang lain, baik yang sebaya maupun yang lebih kecil dari kita, maka kita pun akan disayangi oleh Allah سبحانَهُ وتعالى. Sedangkan kepada yang lebih tua dari kita, kita muliakan.
Penjelasan Lanjutan tentang Hadis Dajjal:
Kembali ke hadis tentang Dajjal. Mughirah رضيَ اللهُ عنه adalah orang yang sangat sering menanyakan Dajjal kepada Nabi صلى الله عليه وسلم. Lantas Nabi berkata, “يَا بُنَيَّ، مَا يُنْصِبُكَ مِنْهُ؟ إِنَّهُ لَا يَضُرُّكَ”. Nabi berkata, “Wahai anakku, apa yang menyusahkanmu (membuatmu bersusah payah) darinya? Sesungguhnya dia tidak akan membahayakanmu.”
Ungkapan “Sesungguhnya dia tidak akan membahayakanmu (لا يضرك)” ini وَهُوَ مِنْ مُعْجِزَاتِ النُّبُوَّةِ (wa huwa min mu’jizātin-nubuwwah), ini adalah bagian dari mukjizat kenabian, yang memberitahukan bahwa Mughirah رضيَ اللهُ عنه tidak akan dibahayakan oleh Dajjal.
وَسَيَأْتِي شَرْحُ حَدِيثِ الدَّجَّالِ مُسْتَوْفًى إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى وَذَكَرَهُ مُسْلِمٌ فِي أَوَاخِرِ الْكِتَابِ . وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ .
InsyaAllah penjelasan tentang hadis Dajjal secara mendalam (mustawfan) akan disebutkan dan dibahas, sebagaimana Imam Muslim رحمه الله menyebutkannya di akhir kitabnya. Dan hanya kepada Allahlah kita memohon taufik.
Penutup dan Refleksi:
Saudara-saudari kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah سبحانَهُ وتعالى. Hadis-hadis ini menunjukkan kepada kita betapa tingginya akhlak Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dan ini bukanlah sesuatu yang mengherankan bagi beliau, karena Allah سبحانَهُ وتعالى sendiri telah memujinya dalam firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ (القلم: ٤)
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Jika Nabi صلى الله عليه وسلم memiliki akhlak yang agung, maka beliaulah satu-satunya contoh teladan yang wajib kita perhatikan dan ikuti. Karena Allah سبحانَهُ وتعالى memerintahkan kita untuk mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم, di mana Allah berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ (الأحزاب: ٢١)
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Suri teladan yang baik ini mencakup segala aspek kehidupan. Jika hubungan dalam kehidupan ini dibagi secara umum menjadi dua: hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia). Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah pribadi yang telah sempurna menjadi hamba Allah, menunaikan hak-hak Allah سبحانَهُ وتعالى sebagai seorang hamba. Pada momen-momen penting dan mulia, Allah سبحانَهُ وتعالى menyebut beliau sebagai hamba-Nya, seperti dalam firman-Nya:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ (الإسراء: ١)
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam.” (QS. Al-Isra: 1)
Maka, ketika kita ingin menjadi hamba Allah, mendekatkan diri kepada Allah سبحانَهُ وتعالى, satu-satunya manusia yang wajib kita contoh adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Jika kita ingin melihat kesempurnaan dalam menghambakan diri kepada Allah سبحانَهُ وتعالى, itu ada pada diri beliau.
Kemudian, hubungan dengan sesama manusia, mencakup segala aspek kehidupan. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah contoh yang paling tepat. Pernah ada pihak yang memberikan penilaian tentang negara-negara yang dianggap “lebih Islami”. Ternyata yang dimunculkan adalah negara yang bukan negara Islam, karena mereka hanya melihat pada beberapa sisi saja, seperti hubungan baik sesama manusia, tingkat kriminalitas yang rendah. Mereka menganggap itu sudah Islami. Padahal aspek halal dan haramnya (dalam syariat Islam) tentu tidak mereka terapkan karena mereka bukan beragama Islam. Sementara Nabi صلى الله عليه وسلم telah mencontohkan segalanya, dari segala aspek hubungan dengan sesama manusia, dan juga hubungan kepada Allah سبحانَهُ وتعالى.
Oleh karena itu, Allah pun memerintahkan kita untuk saling tolong-menolong dalam dua aspek ini:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ (المائدة: ٢)
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan (al-birr) dan takwa (at-taqwa).” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Al-Birr (kebajikan) adalah hubungan sesama manusia, dan At-Taqwa (ketakwaan) adalah hubungan kepada Allah سبحانَهُ وتعالى.
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ (المائدة: ٢)
“Dan jangan tolong-menolong dalam dosa (al-itsm) dan permusuhan (al-‘udwan).” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Jangan saling tolong-menolong dalam maksiat (hubungan kepada Allah), dan jangan tolong-menolong dalam permusuhan (hubungan sesama manusia).
واللهُ تعالى أعلمُ. Ini yang dapat kita sampaikan pagi ini. Walaupun ringkas, insyaAllah mudah-mudahan banyak artinya, karena bab berikutnya hadisnya cukup panjang. InsyaAllah pada pertemuan berikutnya kita akan kaji sedikit demi sedikit sehingga memberikan faedah kepada kita. وصلى اللهُ على نبيِّنَا محمدٍ، وعلى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ. والسلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبركاتُهُ.
