LIVE Kamang MudiakTabligh Akbar

Hakikat Syahadatain


وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا. يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ.

Bapak, Ibu, jemaah yang dimuliakan Allah سبحانه وتعالى, alhamdulillah kita bersyukur atas segala karunia yang Allah limpahkan kepada kita. Selawat dan salam semoga dianugerahkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ. Ini adalah pertemuan kita kembali setelah libur begitu panjang seiring dengan bencana, ya. Alhamdulillah sekarang apa, lalu lintas sudah lancar. Alhamdulillah. Semoga Allah سبحانه وتعالى selalu berikan taufik kepada kita semua.

Kita mengambil hadis yang kedua dari Hadis Arbain tentang Tauhid. Jadi kita ada hadis-hadis Arbain tentang tauhid, ya. Hadis yang keduanya:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Ubadah bin Shamit, semoga Allah meridainya, dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda, “مَنْ شَهِدَ” (Siapa yang bersaksi), “أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ” (Bahwasanya tidak ada yang berhak diibadati kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya). “وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ” (Bahwasanya Muhammad itu adalah hamba-Nya dan rasul-Nya). “وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ” (Bahwasanya Isa itu adalah hamba Allah dan rasul-Nya). “وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ” (Kalimat-Nya yang diturunkan kepada Maryam, yang dijatuhkan kepada Maryam, dan roh yang datang dari-Nya). “وَالْجَنَّةُ حَقٌّ” (Surga itu adalah hak/benar). “وَالنَّارُ حَقٌّ” (Api neraka itu adalah hak, yakni hak adanya, benar adanya). “أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ” (Allah akan memasukkan dia ke dalam surga), “عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ” (Seberapa pun amalannya). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ (Hadis ini dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim).

مَنْ شَهِدَ (Siapa yang bersaksi), syahadah itu, kesaksian itu tidaklah terwujud kecuali dengan ilmu, yakni pengetahuan. Yakni setiap kesaksian pasti ada pengetahuan tentang yang disaksikan. Maka kesaksian itu dengan ilmu atau pengetahuan, وَالِاعْتِقَاد (dan iktikad) dan keyakinan, diiringi dengan keyakinan. Maka oleh karena itu, ketika orang yang bersaksi dengan syahadah ini atau syahadatain ini, dia harus berilmu dan dia harus yakin.

Kalau kita lihat Abu Thalib, pamannya Rasulullah, dia berilmu tentang makna syahadah. Dia berilmu tentang agama Rasulullah, sehingga dia mengatakan kepada keponakannya bahwa ini yang Anda bawa itu adalah sebaik-baik agama. Ya, tahu dia sehingga dia pasang badan ketika berdakwah. Tapi yang tidak ada sama dia adalah iktikad. Dia tidak meyakini sehingga kesaksiannya tidak berbuat. Ketika dia sakit, dengan sakitnya dia meninggal dunia, datang Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan, “Ya paman, يَا عَمِّ، قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ (Pamanku, katakan La ilaha illallah). أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ (Aku akan berhujah dengannya untukmu nanti di hadapan Allah).” Di sampingnya ada dua tokoh dari kafir Quraisy. Di antaranya adalah Abu Jahal. Dibisikkan kepadanya, “Apakah engkau tidak suka dengan ajaran nenek moyangmu?” Di sini terjadi pergulatan. Dia tahu tapi yakinnya kurang. Ya, akhirnya apa? Diulang oleh Nabi, diulang oleh dua tokoh tadi, di akhir hayatnya dia mengatakan, yakni Abu Thalib mengatakan dia di atas agama nenek moyang.

Kenapa dia mengucapkan itu? Kenapa dia tidak mau bersaksi? Karena tidak ada iktikad, maka kesaksian itu adalah ilmu dan iktikad. Iktikad itu tidak akan bisa terwujud kecuali dengan ilmu. Makanya salah satu di antara syaratnya La ilaha illallah adalah berilmu tentang makna. Kalau seandainya seorang mengucapkan dia tidak berilmu tentang konsekuensinya, tentang maknanya, maka tidak ada artinya. Karena dia belum bersaksi, cuma baru ucapan saja.

Apa makna La ilaha illallah? Sepakat ulama mazhab yang empat bahwa makna La ilaha illallah adalah لَا مَعْبُودَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ. Maknanya: tidak ada yang diibadati dengan hak, dengan benar kecuali Allah. Apakah ada yang diibadati selain Allah? Ada. Ada orang yang memuja-muji, menyanjung atau memuja kuburan, mendekatkan dirinya ke kuburan. Apakah pengibadatan seperti itu benar? Tidak. Hak? Tidak hak. Jadi tidak ada yang diibadati dengan hak, dengan benar kecuali hanya Allah سبحانه وتعالى. Kenapa Allah yang berhak kita ibadati? Allah sudah katakan dalam surah Al-Baqarah ayat 21-22:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

Wahai manusia, ibadatilah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan menciptakan orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa. Yang telah menjadikan bagimu bumi ini terbentang, dan langit itu sebagai atap yang tinggi. Allah turunkan dari langit itu hujan. Dengan gara-gara air itu, Allah keluarkan buah ya, buah-buah sebagai rezeki bagimu. Yang kita makan buah atau apa? Buah. Bukan makna buah-buahan, ya. Kalau buah-buahan beda lagi bahasa Arabnya, فَوَاكِه (fawakih), ya. Tapi semua yang kita makan itu buah. Enggak ada yang kita makan batang. Beras adalah buah dari padi. Ya, kita tidak makan padi, tapi kita memakan buah. Itu adalah rezeki.

Jadi, Allah سبحانه وتعالى ciptakan kita, Allah berikan bagi kita fasilitas. Allah beri kepada kita, Allah beri kita rezeki untuk kita bisa hidup. فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا (Maka oleh karena itu jangan jadikan bagi Allah tandingan). وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (Yang kalian tahu) bahwa menciptakan itu adalah Allah. Yang memberi rezeki itu adalah Allah. Pantaskah orang yang tidak menciptakan kita ibadati? Sama sekali tidak pantas. Pantaskah yang tidak memberi rezeki kita ibadati? Tidak pantas sama sekali. Saya berikan pendekatan, sering dalam hal ini saya berikan pendekatan. Kalau seandainya seorang anak yang lahir, yang dibesarkan oleh ibu bapaknya dari kecil, setiap dia minta dikasih, kemudian dia belajar sekolah, kuliah, bekerja sudah dapat harta kekayaan. Siapa yang sepantasnya yang dia berbakti kepadanya? Hah? Orang tuanya. Pantaskah dia berbuat baik kepada tetangga kemudian dia abaikan orang tuanya? Sama sekali tidak pantas. Kenapa tidak pantas? Tetangganya enggak pernah ikut andil di dalam membesarkannya. Itu pendekatan. Apalagi hidup kita ya. Allah سبحانه وتعالى mengatakan:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Jadi, La ilaha illallah yang biasa kita terjemahkan itu adalah “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Yang tepat itu terjemahnya adalah لَا مَعْبُودَ, tidak ada yang diibadati بِحَقٍّ dengan benar, dengan tepat, yang pantas, kecuali Allah سبحانه وتعالى. الْإِلَه (Al-ilah) yang ada di dalam kalimat ini, ilah artinya adalah مَعْبُود (ma’bud), yang diibadati. Kalau kita sebutkan juga Tuhan, Tuhan yang diibadati. Kalau الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, segala puji bagi Allah, Rabb, Tuhan yang menciptakan alam semesta. Nah, begitu. Kalau Rabb lebih kepada yang menciptakan, yang memberi rezeki, yang mengatur. Al-ilah yaitu Tuhan yang diibadati. Makna dari لَا إِلَهَ adalah tidak ada yang diibadati. لَا (La) di sini namanya لَا النَّافِيَةُ لِلْجِنْسِ (La nafi’ah lil jins). Yang menafikan, yang menghilangkan seluruh jenis. Maknanya tidak ada jenis yang diibadati pun. Nah, begitu. Apapun yang diibadati ya ditiadakan. Tidak ada satu pun jenis yang diibadati dengan yang benar kecuali hanya Allah سبحانه وتعالى.

Maka dalam hal ini kalimat La ilaha illallah ada dua rukun: نَفْي (Nafi) dan إِثْبَات (Itsbat/menetapkan). Kalau kita ingin menyatakan bahwa hanya satu-satunya orang yang ada di dalam masjid ini, maka kita harus melakukan kalimat kita ini harus ada nafi dan itsbat. Harus ada yang ditiadakan dan ditetapkan. Kalau seandainya tidak terjadi itu, hanya adalah itsbat, hanya menetapkan, boleh jadi yang lain ikut serta. Kalau kita mengatakan Ahmad, misalkan Ahmad ada di dalam Masjid Imam Syafi’i, berarti kita menyatakan Ahmad ada dalam masjid. Tapi mungkinkah ada orang lain bersama Ahmad? Memungkinkan. Lalu bagaimana caranya kita ingin mengungkapkan bahwa hanya satu-satunya Ahmad ada di dalam masjid? Maka perlu dengan dua rukun tadi, kita nafikan dulu kemudian kita tetapkan. Tidak ada satu pun orang di dalam masjid. Berarti hilang semuanya manusia dalam masjidnya, hilang. Lalu baru kita tetapkan, kecuali Ahmad. Maka dengan ungkapan kita ini kita nyatakan bahwa hanya satu-satunya Ahmad yang ada dalam masjid. Satu-satunya orang yang ada di dalam masjid adalah Ahmad. Ya.

Maka begitu juga yang pertama ada dalam La ilaha illallah: نَفْيُ عِبَادَةِ مَا سِوَى اللهِ (menafikan penghambaan diri kepada selain Allah) dengan kita mengatakan لَا إِلَهَ (tidak ada jenis yang diibadati, satu pun yang diibadati enggak ada). Lalu baru kita tetapkan إِلَّا اللهُ (kecuali Allah). Jadi maknanya satu-satunya yang berhak untuk kita ibadati hanya Allah semata. Dari ungkapan La ilaha illallah itulah maknanya. Jadi ketika kita menterjemahkan La ilaha illallah bukan maknanya “tidak ada Tuhan selain Allah” saja ya. Tapi yang lebih rinci itu adalah “tidak ada yang berhak untuk diibadati kecuali hanya Allah”. Maknanya apa? Penghambaan diri kepada selain Allah adalah batil. Ya.

Kemudian La ilaha illallah memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang mengucapkan La ilaha illallah sampai La ilaha illallah itu betul-betul terwujud. Ulama mengatakan bahwa La ilaha illallah itu adalah kunci pembuka surga. Tidak ada kunci pembuka kecuali dia harus punya gigi-gigi. Sebab kalau tidak ada gigi enggak akan bisa kita membukanya. Pergi kita ketuk kunci, dia punya kunci tapi ada yang polos, ini belum bisa membukanya. Kapan dia bisa berfungsi? Apabila sudah ada gigi-giginya. Maka gigi-giginya inilah, ya, yang dinamakan dengan syarat La ilaha illallah. Ada tujuh, ya.

Yang pertama, الْعِلْم (Al-ilmu). Berilmu. Bukan ilmu pengetahuan maknanya. Tidak. Berilmu dengan makna La ilaha illallah dan konsekuensinya. Mana batas ilmunya? Di mana ilmu yang dia kuasai itu menghilangkan ketidaktahuan terhadap makna La ilaha illallah. Jadi tidak hanya sebatas ilmu kulit-kulitnya saja, tapi betul-betul kita harus tahu makna La ilaha illallah. Tahu dengan konsekuensinya, apa yang dituntut oleh La ilaha illallah itu. Kalau seandainya kita tidak tahu kecuali hanya makna tidak ada Tuhan selain Allah tapi kita tidak tahu bahwa makna La ilaha illallah itu berarti kita tidak boleh mengibadati selain daripada Allah. Kita tidak boleh bernazar ke kuburan. Kita tidak boleh meminta-minta ke kuburan. Kita tidak boleh memasang-masang jimat ya, dan yang lainnya itu konsekuensinya. Maka kita harus berilmu tentang itu. Tingkat keilmuan kita yang bisa mengikis kejahilan, ketidaktahuan terhadap makna La ilaha illallah. Yang pertama, kalau seandai kita tidak berilmu sebagaimana kebanyakan dari kaum muslimin dia mengucapkan La ilaha illallah, tapi setelah itu dia meminta berdoa kepada selain Allah. Ya, berarti tidak berguna baginya La ilaha illallah.

Itu kenapa orang Arab Quraisy, orang Quraisy, orang Kuffar Quraisy tidak mau mengucapkan La ilaha illallah? Bukannya mereka tidak bisa mengucapkan, tapi mereka tahu jika dia ucapkan ucapan ini punya konsekuensi. Sehingga mereka mengatakan, ayat sebelumnya:

أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Kalau kita mengucapkan La ilaha illallah ini, apakah kita akan meninggalkan tuhan-tuhan kita disebabkan oleh perkataan tukang syair yang gila ini?” Katanya ya. Jadi ketika dia mengucapkan La ilaha illallah, dia tahu bahwasanya tuhan-tuhannya yang banyak, patung-patung yang ada, dari lebih dari 300 patung yang ada di sekitar Ka’bah harus dia tinggalkan. Dalam surah Shad, Allah gambarkan ungkapan mereka:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan yang banyak ini, yang beragam-ragam ini menjadi satu Tuhan yang diibadati?” Yang diibadati itu banyak lalu dijadikan hanya satu. Ini adalah mustahil, katanya. شَيْءٌ عُجَابٌ (ini adalah suatu hal yang sangat mengherankan). Mereka tahu itulah maknanya ketika beragam menjadikan yang ragam itu menjadi satu. Itu namanya tauhid. Ketika baju kita ini beragam lalu kita sepakat kita datang kajian dengan baju putih semuanya. Ah berarti itu mentauhidkan baju menjadi baju yang seragam menjadi satu model. Nah, tuhan-tuhan yang mereka ibadati yang banyak dijadikan satu. Kata mereka, “Ini enggak mungkin.” Ya, ini menunjukkan mereka tidak mau mengucapkan karena mereka tahu madlul-nya atau yang dituntut dari perkataan ini. Maka kita ketika mengucapkan La ilaha illallah, hendaklah kita tahu maknanya dan tahu konsekuensinya. Ya, ini yang pertama.

Yang kedua syaratnya adalah الْيَقِين (Al-yaqin). مُنَافٍ لِلشَّكِّ (Munafin lisy-syakk). Yakin yang menafikan, yang menghilangkan unsur keraguan. Ketika dia mengucapkan La ilaha illallah, dia betul-betul yakin satu-satunya yang berhak diibadati adalah Allah سبحانه وتعالى. Hendaklah dia yakin, satu-satunya yang memberi rezeki itu adalah Allah. Hendaklah dia yakin, satu-satunya yang menurunkan hukum yang tepat adalah Allah. Kalau masih ragu, ragu dengan hukum Allah, ragu Allah سبحانه وتعالى memberi rezeki, berarti syarat La ilaha illallah-nya masih goyang. Ini yang kedua.

Yang ketiga, الْإِخْلَاص (Ikhlas). Ikhlas apa itu artinya? Ikhlas memurnikan, مُنَافٍ لِلشِّرْكِ (munafin lisy-syirk), mengikis bentuk persekutuan, tidak ada lagi syirik, ya ikhlas.

Kemudian yang keempat, الْمَحَبَّة (Al-mahabbah), rasa cinta yang menafikan rasa benci. Maka orang yang mengucapkan La ilaha illallah hendaklah dia cinta dengan La ilaha illallah, cinta dengan Allah, cinta dengan hukum-hukum Allah سبحانه وتعالى. Tidak ada rasa benci. Orang-orang munafikin, mereka itu adalah benci dengan hukum-hukum Allah سبحانه وتعالى. Walaupun mereka mengucapkan La ilaha illallah, tapi La ilaha illallah tidak bermanfaat. Dia salat di belakang Rasulullah, tapi salat itu tidak bermanfaat. Hal itu karena mereka benci, tidak suka dengan apa yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى. فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ (Amal mereka gugur). Sudah berapa? Sudah empat ya.

Yang kelima adalah الْقَبُول (Al-qabul), menerima. Menerima La ilaha illallah, lawannya الرَّدّ (ar-radd), lawan dari menolak. Menerima hukum, menerima La ilaha illallah, menerima bahwasanya Allah سبحانه وتعالى satu-satunya diibadati.

Yang keenam adalah الِانْقِيَاد (Al-inqiyad), tunduk dan patuh. Lawannya adalah التَّرْك (at-tark), tidak patuh atau tidak taat. Tayyib. Ada yang tahu yang ketujuh? Al-ilmu, al-ikhlas, al-yaqin, al-mahabbah, al-qabul, al-inqiyad. Ada satu lagi. Hah? Apa? الصِّدْق (As-shidq), jujur. مُنَافٍ لِلْكَذِبِ (Munafin lil kadzib). Ia menafikan akan pendustaan atau kebohongan. Baik.

Ini mudah-mudahan ada kesempatan bagi kita untuk lebih menjelaskan lagi syarat dari La ilaha illallah. Ada orang yang memahami makna La ilaha illallah itu berbeda dengan apa yang diyakini oleh Ahli Sunnah. Ahli Sunnah mengatakan apa tadi? La ilaha illallah itu tidak ada yang berhak untuk diibadati kecuali Allah. Tapi orang ini atau kelompok ini mengatakan: لَا قَادِرَ عَلَى الِاخْتِرَاعِ إِلَّا اللهُ (Tidak ada yang kuasa menciptakan kecuali Allah). Kapan dia dikatakan bertauhid? Ketika dia hanya beribadah kepada Allah semata, dia berdoa hanya kepada Allah, dia meminta hanya kepada Allah, dia bertawakal hanya kepada Allah, dia bernazar untuk Allah. Ketika dia memberikan nazarnya kepada selain Allah, apakah dia masih bertauhid? Ya, tidak bertauhid. Berarti dia mempersekutukan Allah, ya dalam bernazar ini karena dia memberikan ibadahnya kepada selain Allah. Ya, dia mengucapkan La ilaha illallah tapi sementara dia pergi bernazar ke kuburan, menyembelih di kuburan, berarti dia berbuat syirik. Karena dia tidak memurnikan ibadah itu hanya kepada Allah.

Tapi ketika dia mengatakan tidak ada yang menciptakan kecuali Allah, kapan orang itu bertauhid menurut dia? Selama dia meyakini bahwa yang bisa menciptakan adalah hanya Allah, maka dia adalah orang bertauhid. Walaupun dia mengibadati selain Allah, dia bernazar kepada selain Allah, dia meminta kepada selain Allah, karena dia mengakui hanya Allah saja yang menciptakan. Ya. Kapan baru dia dikatakan musyrik? Apabila dia meyakini ada selain Allah yang bisa menciptakan, baru dia katakan musyrik. Tapi selama dia mengatakan hanya Allah saja menciptakan, maka dia adalah bertauhid walaupun dia menyembah selain daripada Allah. Ya. Dan ini, ya, adalah perkataan dari Asy’ariyah yang mengatakan لَا قَادِرَ عَلَى الِاخْتِرَاعِ إِلَّا اللهُ (tidak ada yang kuasa menciptakan kecuali Allah). Kita azan dulu ya. Ya.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ. أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ. أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ. حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ. حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ. حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ. حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ. اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ.

Jawaban dari apa yang disampaikan tadi bahwa yang mereka mengatakan makna ilah itu adalah yang mampu menciptakan. Sepakat ahli bahasa dan tafsir mengatakan ilah itu artinya ma’bud, yang diibadati. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dia mengatakan: الْإِلَهِيَّةُ تَتَضَمَّنُ اسْتِحْقَاقَ الْعِبَادَةِ وَالدُّعَاءِ. Keilahiahan mengandung hak pengibadatan dan permintaan doa. Jadi ilah itu memiliki makna yang berhak untuk diibadati, yang berhak untuk diminta yaitu doa. Bukan makna ilah itu yang mampu untuk mencipta, sebagaimana yang disebutkan itu dari Asy’ari. Karena yang makna dari mampu menciptakan itu maknanya adalah Rububiyah, yang mana orang-orang musyrikin dahulu mengakui, mengakui bahwasanya yang menciptakan itu adalah Allah. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ (Apabila kamu menanyakan kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka mengatakan Allah). Berarti mereka mengakui Allah-lah yang kuasa mencipta. Tapi kenapa Nabi masih tetap memerangi mereka? Ini menunjukkan bahwa pengakuan bahwasanya Allah yang menciptakan belum bisa melindungi darah mereka. Belum bisa dikatakan mereka sudah muslim yang terlindung darahnya. Belum bisa dikatakan mereka itu adalah orang yang bertauhid.

Nah, maka kalau kita lihat tadi konsekuensinya begitu. Orang yang mengatakan bahwa makna La ilaha illallah itu adalah mengakui bahwasanya Allah yang mencipta. Maka apapun yang diibadati dalam beribadah masih tetap juga dikatakan dia adalah orang mukmin. Ini tentu sangat jauh dari apa yang dipahami oleh orang-orang musyrikin sendiri. Yang mereka paham dan tahu makna La ilaha illallah itu adalah tidak ada yang berhak diibadah kecuali Allah. Yang mereka tahu maknanya bahwa apabila dia mengucapkan, dia harus meninggalkan tuhan-tuhan yang mereka ibadati yang tidak benar itu, menjadi mengibadati hanya Allah semata. Ini makna dari La ilaha illallah.

Adapun makna وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ, ya, bahwasanya dia bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Konsekuensi dari kesaksian bahwasanya Nabi Muhammad itu adalah hamba Allah dan rasul-Nya ada empat konsekuensinya. Yang pertama, membenarkan Rasulullah dalam hal yang diberitakannya. Kita katakan bahwa Nabi benar, jujur, dan apa yang disampaikannya itu adalah benar. Karena Nabi adalah penyambung dari Allah, mubalig yang mana beliau mendapatkan dari Allah سبحانه وتعالى. Yang kedua, konsekuensi dengan kita mengatakan bahwasanya saya bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah atau hamba Allah dan rasul-Nya: mentaati pada apa yang diperintahkan. Yang ketiga, menjauhi apa yang dilarang dan dicegahnya. Yang keempat, tidaklah mengibadati Allah kecuali dengan apa yang disyariatkannya.

Kenapa dengan apa yang disyariatkannya? Karena apa yang diinginkan oleh Allah kita tidak tahu, kecuali ada yang menyampaikan kepada kita. Ya, karena Allah tidak akan langsung berbicara dengan manusia. Maka kita hanya mengetahui melalui perantara. Siapa perantara kita? Adalah orang yang dipilih oleh Allah. Ya, orang yang dipilih oleh Allah. Maka orang yang dipilih oleh Allah itulah yang akan menyampaikan kepada kita apa yang diinginkan oleh Allah. Makanya di dalam kita beribadah mendekatkan diri kepada Allah, hanya satu-satunya dengan cara melalui Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Kita tidak bisa berinovasi di dalam beribadah, berkreasi dalam beribadah, tidak bisa. Tapi kita harus sesuai dengan permintaan. Melalui siapa permintaan itu? Adalah melalui utusannya yaitu Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Kemudian di dalam hadis tadi, وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ. Bahwasanya Isa itu adalah hamba-Nya, hamba Allah dan rasul-Nya. Berarti di sini pengakuan dan kesaksian bahwa Isa itu adalah hamba Allah. Dia seorang hamba, bukan seorang Tuhan. Tidak juga anak Tuhan, tapi dia adalah hamba. Lalu وَرَسُولُهُ. Dia adalah rasul utusan Allah yang membawa misi. Bukan yang dikatakan oleh orang Yahudi sebagai anak zina. Ya, tidak. Jadi dengan kehambaan atau ubudiyah, hilanglah apa, ketuhanannya yang dianggap oleh orang-orang Nasrani bahwa Nabi Isa adalah salah satu tuhan dari tuhan-tuhan yang mereka ibadati. Ya, dengan adanya risalah (وَرَسُولُهُ), maka ini membantah apa yang dituduhkan oleh orang-orang Yahudi kepada Nabi Isa. Bahwasanya Nabi Isa adalah orang yang dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى yang membawa risalah.

وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ. Kalimat-Nya, yakni kalimat Allah. Apa makna kalimat Allah ini? Adalah كُنْ (Kun / Jadilah). Ya, Allah سبحانه وتعالى mengatakan:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perumpamaan permisalan Isa itu sama dengan permisalan Adam. Allah ciptakan Adam, ya, dari tanah. Kemudian Allah mengatakan kepada tanah yang telah diciptakan bentuk Adam tadi, Kun fayakun (Jadilah, maka jadilah dia sebagai manusia).” Yakni di sini bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menciptakan Isa dengan kalimat perkataan Kun. Ya. Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى juga menciptakan Adam dengan perkataan Kun.

Kalau zatnya bagaimana? Proses pembuatan pembentuk fisiknya bagaimana? Fisik Adam dengan tanah. Fisiknya apa, Isa dari tiupan roh, dan tidak dari langsung dari tanah, tetapi dia dalam bentuk janin. وَرُوحٌ مِنْهُ (Dan ruh dari-Nya). Bukan berarti maknanya roh Allah. Tidak. Tapi dia adalah roh yang Allah telah ciptakan untuk Adam. Ya, ruh minhu, yakni roh ibtida’an dari-Nya, yang datang dari Allah سبحانه وتعالى, ya, dalam penciptaan dari ibu, yang bukan dari bapak ya. Tayyib.

Kalau kita lihat kenapa orang Nasrani menjadikan Isa sebagai anak Tuhan? Karena dia lahir ada ibu tapi enggak ada bapak. Penciptaan manusia itu ada empat. Seperti kita, Allah ciptakan kita dari seorang laki-laki dan perempuan. Itulah manusia semuanya. Ada Allah سبحانه وتعالى ciptakan dari manusia dari perempuan, tidak ada laki-laki. Tidak ada laki-laki itu adalah Isa. Ada yang diciptakan dari laki-laki, tidak ada perempuannya. Siapa? Hawa. Allah ciptakan dia dengan adanya Adam, tapi tidak ada perempuannya. Ada yang diciptakan tidak ada laki-laki dan tidak ada perempuan. Siapa? Adam. Kalau seandainya tidak ada bapak, tidak ada laki-laki, yang ada hanya ibu, lalu dikatakan oleh mereka (ta’alallah ‘amma yaqulun) bahwasanya adalah anak Tuhan. Kalau begitu yang paling pantas dikatakan itu apa? Adam, yang Allah سبحانه وتعالى ciptakan tidak ada laki-laki dan tidak ada perempuan. Akan tetapi Allah سبحانه وتعالى:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

(Tidak beranak dan tidak diperanakkan). Ya. Nah, jadi kalau kita lihat bahwa Adam itu diciptakan oleh Allah سبحانه وتعالى kalimatnya Kun ya, fayakun maka dia jadilah, ya.

Lalu وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ. Kalimat-Nya yakni perkataan Kun itu yang Allah tiupkan kepada Maryam, dan roh yang datang dari Allah سبحانه وتعالى. Yaitu roh adalah ciptaan Allah سبحانه وتعالى. Ya, tayyib.

وَالْجَنَّةُ حَقٌّ. Surga itu adalah hak. وَالنَّارُ حَقٌّ. Api neraka itu adalah hak. Maknanya surga itu memang benar-benar ada, api neraka itu benar-benar ada. Bukan dongeng. Bukan anu. Sepakat orang muslimin Ahli Sunnah bahwasanya surga dan neraka itu kedua-duanya adalah makhluk yang sudah diadakan. Ya, bukan belum ada, sudah ada. Di mana Allah سبحانه وتعالى telah siapkan surga itu dan neraka itu untuk penduduk-penduduknya, bahwasanya ilmu Allah سبحانه وتعالى telah menguasai seluruh penduduknya. Maknanya siapa yang akan menjadi penduduknya? Penduduk surga dan penduduk neraka. Dan sepakat Ahli Sunnah wal Jamaah bahwasanya surga dan neraka itu tidak akan fana, abadi, ya kekal disebabkan oleh Allah yang mengekalkannya. Jadi tidak ada akan berakhir. Maka dalam api neraka orang-orang kafir dia kekal di dalam. Dalam surga orang-orang mukmin dia kekal di dalam. Ya, orang mukmin yang mungkin masuk ke dalam api neraka karena dosanya dia dibersihkan, dan ujung-ujungnya dia akan masuk ke dalam surga.

Nah, itulah kata Nabi صلى الله عليه وسلم:

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang mengucapkan La ilaha illallah, dia masuk ke dalam surga.” Abu Dzar mengatakan, bertanya dia, “Walaupun dia berzina, walaupun dia mencuri, masuk dalam surga?” Kata Nabi, “Walaupun dia berzina, walaupun dia mencuri, dia masuk surga.” Diulang lagi sampai tiga kali. “رَغِمَ أَنْفُ أَبِي ذَرٍّ” (Walaupun Abu Dzar tidak mau, enggan mereka ini masuk surga ya, sampai hidungnya kena dengan tanah, tetap dia masuk surga). Apa maksudnya? Selama orang tadi tidak berbuat syirik, maka dosanya di bawah kekuasaan Allah سبحانه وتعالى. Kalau Allah mengampuninya dosa-dosanya tersebut, maka Allah akan masukkan dalam surga dari awal. Kalau seandainya Allah mengazabnya, maka Allah azab dia sesuai dengan keadilan-Nya. Dan terakhir dia dimasukkan ke dalam surga.

Lalu di akhir hadis dikatakan:

أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

Siapa yang bersaksi tidak ada yang berhak diibadati kecuali Allah, bahwasanya Muhammad itu adalah hamba Allah dan rasul-Nya, bahwasanya Isa itu adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dia adalah kalimat Allah yang diberikan kepada Maryam dan roh dari-Nya, dan dia bersaksi bahwasanya surga itu adalah benar, api neraka itu adalah benar. Maka Allah سبحانه وتعالى akan memasukkan dia ke dalam surga seberapa pun amalannya. Di sini disebutkan bahwa masuk ke dalam surga itu terbagi kepada dua. Yang pertama, masuk secara sempurna. Yakni maksudnya adalah dari awal dia masuk ke surga, yaitu orang yang bertauhid dengan sempurna dan tidak melakukan sedikit pun bentuk maksiat dan syirik. Maka ditafsirkan di sini, amal, maka dia masuk ke dalam surga dengan amal saleh yang dia lakukan. Apapun amal saleh yang dia kerjakan.

Bagian yang kedua menunjukkan bahwa orang ini masuk ke dalam surga disebabkan amalan tauhid yang dia lakukan. Walaupun amalan maksiatnya itu merusak sebagian dari tauhidnya, mengurangi tauhid yang sempurna begitu ya. Maka ujung-ujungnya dia berakhir untuk masuk ke dalam surga. Orang yang terakhir masuk surga itu adalah orang yang terakhir keluar dari api neraka. Ya, orang yang terakhir keluar api neraka. Orang yang sudah hitam, kelam, kayak arang, lalu dikeluarkan dari api neraka, dicelupkan ke dalam sungai kehidupan. Lalu hiduplah dia. Lalu Allah سبحانه وتعالى suruh dia masuk ke dalam surga. Dibayangkan kepadanya surga ini sudah penuh karena dia orang terakhir. Lalu dia mengatakan, “Wahai Rabb, surga sudah penuh.” Kata Allah سبحانه وتعالى, “Masuklah kamu ke dalam surga.” Lalu dibayangkan kepadanya surga itu penuh, dua kali, tiga kali dia begitu. Kemudian yang terakhir kata Allah سبحانه وتعالى, “Tidakkah engkau rida engkau memiliki di dalamnya seperti yang dimiliki oleh raja dunia?” Ya, apa yang dimiliki oleh raja dunia? Kekayaan, istana, tanah yang luas. Itu yang sebenarnya raja ya, kecuali raja tempat kita. Banyak raja yang miskin ya. Tapi raja yang sebenarnya adalah raja yang punya kekuasaan, yang punya kekayaan. Apa kata orang tadi? “Ya sudah, ya Rabb, saya rida (رَضِيتُ).” Lalu Allah katakan lagi, “Bagimu sepertinya, sepertinya, sepertinya, sepertinya,” yang kelima dia katakan, “رَضِيتُ (Ya Rabb, aku rida ya Allah).” Allah mengatakan, “Bagimu 10 kali lipat.” Ya, dan di dalamnya bagimu apa yang lezat dimakan dan indah dipandang.

Ini adalah kenikmatan yang akan diraih oleh orang yang terakhir masuk surga. Kalau seandainya di dunia ini orang berpacu, sikut-menyikut, malahan bermacam-macam yang, ndak hanya ingin mengejar satu istana, satu rumah ya, atau mau mencari hanya untuk menguasai sebidang sawah harus ya, bunuh-membunuh ya, dan yang lainnya. Tidakkah orang tadi tergiur dengan apa yang telah disiapkan di akhirat yang tentunya untuk mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam surga dengan tidak berbuat syirik, minimal itu. Baik.

Hadis ini menunjukkan kepada kita keutamaan syahadah La ilaha illallah. Datang riwayat dari Amr bin Ash bahwasanya dia mengatakan:

إِنَّ أَفْضَلَ مَا نُعِدُّ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ Sesungguhnya yang paling afdal yang kita persiapkan adalah kesaksian tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan Muhammad itu adalah utusan Allah.

Ibnu Abbas dia mengatakan:

نَرْجُو أَنْ يَغْفِرَ اللهُ ذُنُوبَ الْمُوَحِّدِينَ

Kita berharap Allah mengampuni dosa-dosa orang-orang yang bertauhid.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَحْسَنُ الْحَسَنَاتِ

Ucapan La ilaha illallah adalah pahala atau kebaikan yang paling baik.

وَكَانَ التَّوْحِيدُ بِقَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَأْسَ الْأَمْرِ

Adalah tauhid dengan mengucapkan La ilaha illallah itu adalah modal utama.

Sebanyak apapun seorang manusia berbuat kebaikan, tapi dia tidak pernah mengucapkan La ilaha illallah, maka kebaikannya tidak diterima sama sekali. Ya, orang kafir kebaikannya banyak. Kalau dia tidak mengucapkan La ilaha illallah, dia tidak akan diterima kebaikan-kebaikan yang dia lakukan. Maka itu La ilaha illallah itu adalah modal utama. Dalam makna ini juga terdapat keutamaan La ilaha illallah, bahwasanya La ilaha illallah bisa memadamkan api keburukan. Sebagaimana dalam hadis Bithaqah, juga dalam hadis Qudsi, Allah سبحانه وتعالى berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, jika seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sejagat raya, lalu ketika engkau bertemu dengan-Ku, engkau tidak berbuat syirik (yakni ketika meninggal dunia tidak membawa dosa syirik). Sungguh Aku telah mendatangi-Mu dengan pengampunan sejagat raya.”

Ini adalah keutamaan tauhid. Maka oleh karena itu, hendaklah kita menjaga diri kita untuk tetap selalu bertauhid. Hendaklah kita selalu mempelajari tauhid, agungnya tauhid, bagaimana kita menjaga tauhid kita. Dan begitu juga kepada keluarga kita, anak istri kita, anak keturunan kita, ya, dan lingkungan kita. Karena tauhid adalah modal utama yang harus kita miliki dan kita jaga. Wallahu ta’ala a’lam. Mudah-mudahan bermanfaat. وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Kita masuk tanya jawab. Kalau seandainya ada pertanyaan ya, terkait dengan tauhid kepada Allah. Karena itu sebagian ulama mengatakan bahwa menanyakan cara menyembelih itu berarti sikap ekstrem atau ghuluw ya, tanatthu’ di dalam agama. Jadi enggak perlu karena Nabi saja enggak perlu tanya. Nah, begitu juga dengan yang tadi kita lihat kalau hukum asalnya adalah dia adalah muslim, kita hukum dia muslim kecuali kalau ada qarinah atau indikasi-indikasi yang lain. Wallahu a’lam.

Pertanyaan: Bagaimana cara memastikan bahwa niat kita beramal benar-benar karena mengharapkan rida Allah, bukan sekadar bertransaksi ingin fasilitas surga saja?

Jawaban: Ikhlas adalah memurnikan ibadah kita hanya kepada Allah, tidak kepada makhluk. Ya, jika kita beribadah ingin mendapatkan fasilitas surga yang telah dijanjikan oleh Allah, itu tidak mengurangi ikhlas kita. Karena Allah sudah siapkan itu ya. Tapi ketika kita beribadah ingin disanjung oleh orang, ingin dipuji oleh orang, maka itu tidak ikhlas. Jadi benar-benar kita beribadah karena mengharapkan rida Allah dan fasilitas yang diberikan oleh Allah. Ya, kita hanya peruntukkan ibadah kita hanya untuk Allah saja, tidak untuk yang lain. Kalau seandainya kita melihat ada orang yang miskin sekali, lalu tergugah hati kita untuk membantunya karena kasihan kita. Lalu kita ingat dari hadis Nabi bahwa siapa membantu orang, Allah akan membantunya. Lalu dia kasih. Ikhlas enggak? Dia ikhlas. Karena dia mengasih pada saat itu tidak ada unsur yang lain. Ingin dipuji oleh orang, ingin disanjung oleh orang, ingin mendapatkan feedback dari orang yang kita kasih. Enggak. Makanya makna ikhlas yang sering saya utarakan adalah dalam surah Al-Insan ayat 9:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Hanya saja kami memberimu makan karena wajah Allah. Karena Allah.” Bagaimana? Tidak menginginkan pujian dan tidak menginginkan balasan. Ya, itulah namanya ikhlas.

Pertanyaan: Banyak hadis menjelaskan kenikmatan surga bagi laki-laki. Mohon jelaskan Ustaz mengenai gambaran kemuliaan dan kebahagiaan khusus yang disediakan oleh Allah bagi kaum wanita kelak di surga.

Jawaban: Perempuan nanti akan menjadi ketua bidadari dalam melayani suaminya. Kira-kira dia cantik atau tidak? Hah? Cantiklah dia ketua bidadari. Ya, semua kenikmatan yang didapatkan oleh laki-laki dia dapatkan. Ya, karena perempuan شَقَائِقُ الرِّجَالِ (shaqa’iqur rijal), dia adalah belahan yang sama dengan laki-laki. Ah, tauhid kita jangan kita berbuat syirik. Kalau seandainya ini pertanyaan dari seorang perempuan, enggak susah-susah juga perempuan masuk surga. Hanya empat aja syaratnya: shalat lima waktu, puasa bulan Ramadan, menjaga kehormatan dirinya, yakni menjaga kemaluannya, dan yang keempat, mentaati suaminya. Ya, kata Nabi, katakan kepadanya, masuklah ke dalam surga dari pintu mana pun juga yang engkau senangi.

Wallahu ta’ala a’lam. Demikian mudah-mudahan bermanfaat. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.


Related Articles

Back to top button