Syarah Shahih Muslim: Kesempurnaan Tawakal Rasulullah ﷺ Pelajaran dari Hadis Jabir bin Abdillah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.
Pedang tersebut terhunus dekat kepala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. فَلَمْ أَشْعُرْ إِلَّا وَالسَّيْفُ صَلْتًا (Aku tidak merasakan apapun kecuali pedang yang telah terhunus di tangannya itu telah dikeluarkan dari sarungnya). فَقَالَ لِي. Lalu orang tadi berkata kepadaku, مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي؟ (Siapa yang bisa menghalangiku darimu? atau siapa yang bisa melindungimu dari seranganku?).
Qala, Jabir mengatakan, “Qultu: اللَّهُ.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Allah yang menghalangi, Allah yang melindungi.” قَالَ فِي ثَانِيَةٍ. Kemudian yang kedua juga diulangi lagi, مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي؟ (Siapa yang melindungimu dari seranganku?). Qala, “Qultu: اللَّهُ.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Allah.”
فَشَامَ السَّيْفَ فَهُوَ جَالِسٌ لَمْ يَعْلَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم. Maka orang itu pun menyarungkan pedangnya. Dialah orang yang sedang duduk ini. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak menghukum orang tersebut. Jadi, ketika dia mengancam, akhirnya orang itu takut juga, lalu dia tutup lagi pedangnya.
Hadis yang kedua. عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ وَأَبُو بَكْرٍ إِسْحَاقُ قَالَا أَخْبَرَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي سِنَانُ بْنُ أَبِي سِنَانٍ الدُّؤَلِيُّ وَأَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ جَابِرًا أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَخْبَرَهُمَا أَنَّهُ غَزَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم غَزْوَةً قِبَلَ نَجْدٍ فَلَمَّا قَفَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَفَلَ مَعَهُ فَأَدْرَكَتْهُمُ الْقَائِلَةُ يَوْمًا. ذكرنا حديث إبراهيم سعد معمر من جابر بن عبد الله. Dia mengatakan bahwa dia mengabarkan bahwa dia pernah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perang di kawasan Najid.
أَمَّا قَفَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kembali, قَفَلَ مَعَهُ (maka dia pun kembali bersama beliau). فَأَدْرَكَتْهُمُ الْقَائِلَةُ يَوْمًا. Pada suatu hari orang-orang itu tertidur di siang hari yang sangat terik. Kemudian dilanjutkan dengan kisah hadis yang tadi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di bawah pohon. Lalu ternyata ada seorang yang datang dan menghunus pedangnya.
Imam Nawawi mengatakan, فِي حَدِيثِ جَابِرٍ (di dalam hadis Jabir ini) بَيَانُ تَوَكُّلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَعِصْمَةِ اللَّهِ لَهُ مِنَ النَّاسِ. Dan hadis Jabir ini menunjukkan kepada kita penjelasan tentang sikap tawakal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjelaskan juga penjagaan Allah kepada Nabi dari gangguan manusia. كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ. Dalam Surah Al-Ma’idah ayat 67, Allah mengatakan, “Dan Allah menjagamu dari gangguan manusia.”
Yang kedua, bisa kita ambil dari hadis Jabir: وَفِيهِ جَوَازُ الِاسْتِظْلَالِ بِأَشْجَارِ الْوَادِي وَتَعْلِيقِ السِّلَاحِ وَغَيْرِهِ فِيهَا. Bolehnya bernaung di bawah pohon-pohon yang ada di lembah. Dan bolehnya menggantungkan senjata atau yang lainnya di pohon-pohon itu. وَ جَوَازُ الِاسْتِدْلَالِ عَلَى الْحَرْبِيِّ وَإِطْلَاقُهُ. Bolehnya menyebut kebaikan dan bolehnya berbuat baik kepada orang kafir. Kafir harbi yang wajib diperangi dan bolehnya membebaskannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika orang tadi tidak sekali (mengancam) kembali lagi menutup pedangnya, dia adalah berarti kafir harbi. Karena dia mau menyerang Nabi. Tapi karena dia takut kepada Allah, karena Allah yang melindungi Nabi, akhirnya dia sarungkan lagi pedangnya dan dia terduduk di situ. Nah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghukumnya, tidak membunuhnya. Malah Nabi membebaskannya.
وَفِيهِ الْحَثُّ عَلَى مُرَاقَبَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ. Dalam hadis ini juga terdapat anjuran untuk mempunyai sifat pemaaf. Sifat santun dan وَمُقَابَلَةِ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ (membalas kejahatan dengan kebaikan). Ya, dalam hadis ini terdapat juga dorongan untuk mempunyai sikap selalu merasa diawasi oleh Allah.
Dalam hadis ini, قَوْلُهُ: فِي وَادٍ كَثِيرِ الْعِضَاهِ. الْعِضَاهُ: وَهُوَ الْعَيْنُ الْمُهْمَلَةُ وَالضَّادُ الْمُعْجَمَةُ وَهِيَ كُلُّ شَجَرَةٍ ذَاتِ شَوْكٍ (setiap pohon yang memiliki duri), pohon-pohon yang berduri itu namanya الْعِضَاهُ. قَوْلُهُ: إِنَّ رَجُلًا أَتَانِي (Ada seseorang datang kepadaku). Qal ulama, هَذَا الرَّجُلُ اسْمُهُ غَوْرَثُ (Nama orang ini Ghuruts) atau دُثُورٌ (Du’tur). Lalu وَسَنُ السَّيْفِ. أَمَّا صَلْتًا (yaitu terhunus) dicabut dari sarungnya. وَأَمَّا شَامَهُ (شَمُّ السَّيْفِ) itu lawannya, dimasukkan lagi ke dalam sarungnya.
Maka dari hadis ini, sebagaimana sudah kita sebutkan, dalam keadaan yang genting itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertawakal kepada Allah. Orang yang bertawakal kepada Allah akan dilindungi oleh-Nya. Allah akan cukupkan dia. وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ. Maka kita agungkan ketawakalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Allah yang sangat sempurna. Maka ini juga menunjukkan kepada kita bahwa (keyakinan) kita yang sempurna kepada Allah, maka Allah melindungi kita dari gangguan manusia. Maka perlu kita bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar bertawakal. Tawakal bukan berarti menyerah diri, tapi betul-betul menggantungkan dan mempercayai bahwa meyakini bahwa Allah yang akan melindunginya.
Dalam kondisi itu, tidak ada lagi upaya dan usaha. Maka tidak lain dia hanya menyerahkan diri kepada Allah. Orang yang benar – benar menyerahkan diri kepada Allah maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantunya. Tawakal kepada Allah tidak bertentangan dengan upaya dan usaha. Maka ketika kita bertawakal kepada Allah, hendaklah kita melakukan sebuah upaya dan usaha selama potensi itu masih ada. Tapi kalau tidak ada, maka tiada lain bagi kita adalah menyerahkan bulat-bulat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka di situ Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berikan kepada kita solusi, jalan keluar. Kalau dari gangguan manusia, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kita. Tapi kalau seandainya keluar dari permasalahan yang luar biasa, ya, maka Allah akan berikan jalan keluar. وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. Siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah berikan kepadanya jalan keluar. وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.
Demikian yang dapat kita sampaikan. Semoga bermanfaat. Mudah-mudahan pada pertemuan berikutnya kita masuk ke dalam bab yang baru. Karena penjelasannya sedikit panjang, makanya kita akhirkan untuk besok.
صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
