Syarah Sahih Muslim: Bab – Tentang Mimpi Baik Berasal dari Allah dan Merupakan Bagian dari Kenabian#2
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.
Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala.
Kita melanjutkan kajian kita di dalam Sahih Muslim, كِتَابُ الرُّؤْيَا (Kitab tentang Mimpi), pada bab فِي كَوْنِ الرُّؤْيَا مِنَ اللَّهِ وَأَنَّهَا جُزْءٌ مِنَ النُّبُوَّةِ (Bab tentang Mimpi Baik Berasal dari Allah dan Merupakan Bagian dari Kenabian).
Hadis: Tiga Jenis Mimpi dan Adabnya
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ تَكْذِبُ، وَأَصْدَقُكُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُكُمْ حَدِيثًا، وَرُؤْيَا الْمُسْلِمِ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ، وَالرُّؤْيَا ثَلَاثٌ: فَالرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ بُشْرَى مِنَ اللَّهِ، وَرُؤْيَا تَحْزِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَرُؤْيَا مِمَّا يُحَدِّثُ الْمَرْءُ نَفْسَهُ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ وَلَا يُحَدِّثْ بِهَا النَّاسَ.
Terjemahan dan Penjelasan:
“Apabila zaman telah mendekat (akhir zaman), mimpi seorang muslim hampir tidak ada yang dusta. Dan orang yang paling benar mimpinya di antara kalian adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang muslim adalah satu dari empat puluh lima bagian kenabian. Dan mimpi itu ada tiga macam:
- Mimpi yang baik (الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ), yaitu kabar gembira dari Allah.
- Mimpi yang menyedihkan (رُؤْيَا تَحْزِينٌ), yaitu dari setan.
- Mimpi yang berasal dari bisikan jiwa seseorang (وَرَؤْيَا مِمَّا يُحَدِّثُ الْمَرْءُ نَفْسَهُ).
Maka, apabila salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang tidak ia sukai, hendaklah ia bangun lalu shalat, dan jangan menceritakannya kepada orang lain.”
Nabi ﷺ melanjutkan, “أُحِبُّ الْقَيْدَ وَأَكْرَهُ الْغُلَّ، وَالْقَيْدُ ثَبَاتٌ فِي الدِّينِ” (Aku menyukai al-qaid (ikatan di kaki) dan membenci al-ghull (belenggu di leher). Al-qaid adalah lambang keteguhan dalam beragama). Perawi hadis berkata, “Aku tidak tahu apakah kalimat terakhir ini bagian dari sabda Nabi ﷺ atau perkataan Ibnu Sirin.”
Penjelasan Imam An-Nawawi
Imam An-Nawawi memberikan penjelasan mendalam mengenai adab-adab dalam menyikapi mimpi, khususnya mimpi buruk, dengan menggabungkan riwayat-riwayat yang ada.
1. Makna Lafal Meludah (فَلْيَنْفُثْ, فَلْيَبْصُقْ, فَلْيَتْفُلْ)
Ketiga lafal ini diriwayatkan dalam hadis-hadis yang berbeda. Para ulama menjelaskan bahwa maksud dari ketiganya adalah نَفْخٌ لَطِيفٌ بِلَا رِيقٍ, yaitu tiupan ringan tanpa disertai air ludah (meludah kering). Perintah ini bertujuan untuk mengusir, menghinakan, dan melecehkan setan yang hadir saat mimpi buruk itu terjadi. Adapun mengapa dianjurkan ke arah kiri, karena sisi kiri identik dengan tempat kotoran dan hal-hal yang tidak disukai (مَحَلُّ الْأَقْذَارِ), berbeda dengan sisi kanan yang identik dengan kebaikan.
2. Makna “Tidak Akan Membahayakannya” (فَإِنَّهَا لَا تَضُرُّهُ)
Maksudnya adalah Allah SWT menjadikan tindakan-tindakan sunnah ini sebagai sebab keselamatan bagi seseorang dari keburukan yang mungkin timbul akibat mimpi tersebut. Sebagaimana Allah menjadikan sedekah sebagai sebab untuk melindungi harta dan menolak bala, demikian pula adab-adab ini menjadi sebab untuk menolak mudarat dari mimpi buruk.
3. Rangkuman Adab Menyikapi Mimpi Buruk
Dengan menggabungkan seluruh riwayat, adab yang sempurna ketika mengalami mimpi buruk adalah sebagai berikut:
- Meludah ringan ke arah kiri sebanyak tiga kali.
- Membaca ta’awudz tiga kali, dengan lafal: “أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَمِنْ شَرِّهَا” (Aku berlindung kepada Allah dari setan dan dari keburukan mimpi ini).
- Mengubah posisi tidur ke sisi yang lain.
- Bangun dan melaksanakan shalat dua rakaat.
Jika seseorang hanya melakukan sebagian dari amalan ini, itu sudah cukup untuk menolak keburukan mimpi tersebut dengan izin Allah.
4. Hikmah di Balik Adab Bermimpi
- Tidak Menceritakan Mimpi Buruk: Larangan ini bertujuan agar mimpi tersebut tidak ditafsirkan dengan penafsiran yang buruk. Terkadang, sebuah tafsiran yang diucapkan bisa menjadi kenyataan dengan takdir Allah. Ketika seseorang sudah merasa pesimis karena mimpinya, lalu mendengar tafsiran yang buruk, hal itu akan menambah kesedihannya.
- Hanya Menceritakan Mimpi Baik kepada Orang yang Dicintai: Tujuannya adalah untuk menghindari timbulnya rasa iri dan dengki (الْحَسَد) dari orang yang tidak menyukai kita. Orang yang hasad cenderung akan memberikan tafsiran yang buruk untuk menjatuhkan mental kita, yang bisa jadi berdampak negatif. Sebaliknya, orang yang mencintai kita akan memberikan tafsiran yang baik dan ikut bergembira.
Mimpi yang berasal dari bisikan jiwa bukanlah mimpi yang memiliki makna takwil, seperti seseorang yang sangat menginginkan sesuatu lalu terbawa ke dalam mimpinya. Oleh karena itu, mimpi tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk hasil shalat Istikharah, karena bisa jadi mimpi tersebut hanyalah refleksi dari keinginan hati.
وَاللهُ أَعْلَمُ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
