Syarah Sahih Muslim: Bab – Anjuran Merukiah Orang Sakit
Mukadimah
ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ ٱلْأَنْبِيَاءِ وَٱلْمُرْسَلِينَ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.
اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.
Bab: Anjuran Merukiah Orang Sakit
Penulis (Imam Muslim) rahimahullahu ta’ala berkata: بَابُ اسْتِحْبَابِ رُقْيَةِ الْمَرِيضِ (Bab anjuran untuk merukiah orang yang sakit).
Hadis pertama telah kita kaji. Diriwayatkan عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اشْتَكَى مِنَّا إِنْسَانٌ مَسَحَهُ بِيَمِينِهِ. Dari Aisyah radhiyallahu ta’ala anha, ia berkata, “Apabila ada seseorang dari kami yang sakit, Nabi ﷺ menyapunya dengan tangan kanan beliau.”
Kemudian, Nabi ﷺ mendoakan: أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا. (Hilangkanlah penyakit, wahai Rabb manusia, sembuhkanlah. Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu; kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit).
Diriwayatkan pula oleh Syaiban bin Farrukh dan Abu Ma’mar, dari Manshur, dari Ibrahim, dari Masruq, dari Aisyah radhiyallahu ta’ala anha, bahwasanya Nabi ﷺ apabila menjenguk orang sakit, beliau mengucapkan: أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِهِ، أَنْتَ الشَّافِي. (Hilangkanlah penyakit, wahai Rabb manusia, sembuhkanlah dia. Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu; kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit).
Diriwayatkan juga oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb. Jarir meriwayatkan dari Manshur, dari Abu adh-Dhuha, dari Masruq, dari Aisyah radhiyallahu ta’ala anha, ia berkata, “Adalah Rasulullah ﷺ apabila mendatangi orang sakit, beliau mendoakan untuknya: أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا. (Hilangkanlah penyakit, wahai Rabb manusia, dan sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu; kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit). Dalam riwayat Abu Bakar, disebutkan وَأَنْتَ الشَّافِي (dan Engkau adalah Yang Maha Penyembuh).
Jalur lainnya melalui Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib—dan lafaz ini milik Abu Kuraib—menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah radhiyallahu ta’ala anha, sesungguhnya Rasulullah ﷺ merukiah dengan rukiah ini: أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، بِيَدِكَ الشِّفَاءُ، لَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا أَنْتَ. (Hilangkanlah penyakit, wahai Rabb manusia, di tangan-Mulah kesembuhan. Tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Engkau).
Penjelasan Imam an-Nawawi
Imam an-Nawawi menjelaskan, “Apabila ada seorang manusia di antara kami yang sakit, Nabi menyapunya dengan tangan kanannya lalu mengucapkan أَذْهِبِ الْبَأْسَ hingga akhir hadis.” Beliau melanjutkan, “Dalam ungkapan ini terdapat اسْتِحْبَابُ مَسْحِ الْمَرِيضِ بِالْيَمِينِ (anjuran menyapu atau menyentuh orang yang sakit dengan tangan kanan) وَالدُّعَاءُ لَهُ (dan mendoakannya).” Jadi, kita sentuh dengan tangan kanan kita, kemudian kita doakan.
Imam an-Nawawi menambahkan, وَقَدْ جَاءَتْ فِيهِ رِوَايَاتٌ كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ جَمَعْتُهَا فِي كِتَابِ الْأَذْكَارِ (“Telah datang riwayat-riwayat yang banyak dan sahih dalam hal ini, yang telah aku kumpulkan di dalam kitab Al-Azkar”). وَهَذَا الْمَذْكُورُ هَاهُنَا مِنْ أَحْسَنِهَا (“Hadis yang dicantumkan di sini adalah salah satu yang terbaik”). Makna لَا يُغَادِرُ سَقَمًا adalah tidak menyisakan penyakit. Kata سُقْمًا dapat dibaca dengan dhammah pada huruf sin dan sukun pada qaf (سُقْمًا), atau dengan fathah pada keduanya (سَقَمًا); keduanya adalah variasi bahasa yang benar.
Bab: Merukiah Orang Sakit dengan Al-Mu’awwidzat dan Tiupan (An-Nafats)
Bab ini membahas tentang merukiah orang sakit dengan ayat-ayat pelindung (Al-Mu’awwidzat) dan meniupnya.
Hadis Kedua: Praktik Ruqyah Nabi dengan Al-Mu’awwidzat
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ta’ala anha, ia berkata, “Adalah Rasulullah ﷺ apabila salah seorang dari keluarganya sakit, beliau نَفَثَ عَلَيْهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ (meniupkan kepadanya dengan membaca Al-Mu’awwidzat).” An-Nafats adalah meniupkan dengan tiupan ringan. Al-Mu’awwidzat adalah surah قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ, قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ, dan قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ.
Aisyah melanjutkan, “فَلَمَّا مَرِضَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، جَعَلْتُ أَنْفُثُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُهُ بِيَدِهِ نَفْسِهِ” (Ketika beliau sakit yang menyebabkan wafatnya, akulah yang meniupkan untuk beliau dan aku sapukan dengan tangan beliau sendiri). Hal ini dilakukan لِأَنَّهَا كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً مِنْ يَدِي (karena tangan beliau lebih agung dan lebih besar keberkahannya daripada tanganku).
Dalam riwayat lain dari Aisyah, disebutkan bahwa Nabi ﷺ apabila sakit, beliau membacakan Al-Mu’awwidzat untuk dirinya sendiri lalu meniup. Ketika sakitnya semakin berat, Aisyah berkata, كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ عَنْهُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا (“Akulah yang membacakan (rukiah itu) untuk beliau, lalu aku sapukan dengan tangan beliau sendiri, berharap keberkahannya”).
Imam Muslim mencantumkan hadis ini dengan berbagai jalur sanad. Dalam hadis riwayat Yunus, ada tambahan lafaz, yaitu Nabi ﷺ apabila merasa sakit, beliau meniup untuk dirinya sendiri dengan Al-Mu’awwidzat dan menyapunya dengan tangannya.
Penjelasan Imam an-Nawawi tentang Tiupan dalam Ruqyah
Imam an-Nawawi menjelaskan: “النَّفْثُ نَفْخٌ لَطِيفٌ بِلَا رِيقٍ” (An-Nafats adalah tiupan ringan tanpa disertai air ludah). Dari hadis ini, dapat diambil faedah berupa اسْتِحْبَابُ النَّفْثِ فِي الرُّقْيَةِ (dianjurkannya meniup ketika merukiah). Para ulama telah bersepakat atas kebolehannya, dan jumhur (mayoritas) ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelah mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang dianjurkan (mustahab).
Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa sekelompok ulama mengingkari tiupan yang disertai ludah (at-tafl) dalam ruqyah, namun mereka membolehkan tiupan kering (an-nafkh). Perbedaan ini muncul karena ada yang berpendapat bahwa asal makna النَّفْثُ adalah tiupan ringan yang disertai sedikit air ludah.
Terjadi perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai makna النَّفْثُ dan التَّفْلُ. Ada yang mengatakan keduanya sinonim dan tidak terjadi kecuali disertai sedikit ludah. Abu ‘Ubaidah berpendapat bahwa at-tafl mensyaratkan adanya sedikit ludah, sedangkan an-nafats tidak. Aisyah pernah ditanya tentang tiupan Nabi ﷺ dalam ruqyah, ia menjawab: كَمَا يَنْفُثُ آكِلُ الزَّبِيبِ، لَا رِيقَ مَعَهُ (“Seperti tiupan orang yang memakan kismis, tidak ada air ludah bersamanya”). Kelembapan yang mungkin keluar saat meniup tidaklah dianggap sebagai tujuan utama.
Adapun dalam hadis tentang orang yang merukiah dengan Surah al-Fatihah, disebutkan: فَجَعَلَ يَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفُلُ (“Ia mengumpulkan ludahnya lalu meludahkannya”).
Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan faedah dari tiupan (at-tafl) tersebut adalah untuk mengambil keberkahan (tabarruk) dari kelembapan, udara, atau napas yang bersentuhan langsung dengan zikir yang dibaca, sebagaimana orang bertabaruk dengan air basuhan tulisan zikir dan Asma’ul Husna. Imam Malik sendiri meniup ketika merukiah dirinya. Beliau tidak menyukai ruqyah menggunakan media besi, garam, sesuatu yang dibuhul (diikat), atau yang ditulis padanya خَاتَمُ سُلَيْمَانَ (cincin Sulaiman). Beliau sangat membenci buhul-buhul karena perbuatan tersebut menyerupai praktik sihir, sebagaimana firman Allah: وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (“Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul”).
Faedah Hadis dan Kesimpulan
Dari hadis-hadis ini, terdapat beberapa faedah:
- Dianjurkannya merukiah dengan Al-Qur’an dan zikir-zikir.
- Ruqyah dengan Al-Mu’awwidzat sangat dianjurkan karena di dalamnya terkandung permohonan perlindungan yang lengkap dari segala hal yang tidak disukai, baik secara umum maupun khusus.
- Di dalamnya terdapat permohonan perlindungan dari kejahatan semua makhluk, termasuk kejahatan para penyihir, orang yang hasad, dan bisikan setan.
Bagi yang telah mencoba merukiah dengan surah-surah ini, terkadang khasiatnya terasa luar biasa dan penyakit hilang secara spontan. Jadi, apapun penyakitnya, kita dianjurkan untuk merukiahnya dengan bacaan Al-Qur’an dan zikir, serta mengiringinya dengan tiupan ke tangan. Boleh jadi kita meniup langsung ke bagian yang sakit lalu menyapunya, atau jika tidak memungkinkan (misalnya merukiah diri sendiri pada bagian punggung), kita bisa meniupkan ke telapak tangan lalu menyapukannya ke bagian yang sakit. Praktik ini serupa dengan rukiah yang dilakukan Nabi ﷺ sebelum tidur, yaitu membaca Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, lalu meniup ke telapak tangan dan menyapukannya ke seluruh tubuh yang terjangkau.
Mengenai penggunaan media air, wallahu a’lam, hal itu perlu dikaji lebih lanjut. Perbuatan yang memiliki dasar syariat terkadang bisa mengandung unsur berlebih-lebihan (ghuluw), dan inilah yang harus kita hindari.
Terkadang, orang yang ahli merukiah memiliki pengaruh kuat atas izin Allah. Pernah ada kejadian di mana seorang ustaz yang biasa merukiah didatangi dari belakang oleh orang yang kerasukan, dan orang itu bergerak maju seperti ular, lalu ustaz tersebut berkata, “Ini ada jin ular pada dirinya.” Ada pula orang yang dirasuki jin harimau, cara duduknya pun persis seperti harimau. Namun, jin di dalam tubuhnya justru menolak dirukiah dengan alasan ingin masuk surga tanpa hisab, padahal itu hanyalah tipu daya jin agar tidak diusir.
Wallahu a’lam.
Semoga apa yang disampaikan ini bermanfaat.
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
