0%
Kembali ke Blog Syarah Sahih Muslim : Bab Kemuliaan Memuliakan Tamu

Syarah Sahih Muslim : Bab Kemuliaan Memuliakan Tamu

07/01/2025 79 kali dilihat 4 mnt baca

Hadis Tentang Kemuliaan Memuliakan Tamu dan Keutamaan Al-Itsar

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Sesungguhnya aku sedang menderita kesulitan hidup dan kelaparan, Mendengar hal tersebut, Rasulullah ﷺ segera mendatangi rumah istri-istri beliau untuk mencari makanan. Namun, setiap kali beliau bertanya, jawaban yang diterima serupa. Salah seorang istri beliau berkata, “Demi Zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak memiliki apa pun kecuali air

(وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، مَا عِنْدِي إِلَّا مَاءٌ).

Setelah mendapati bahwa tidak ada makanan di rumah-rumah beliau, Rasulullah ﷺ kemudian menawarkan kepada para sahabat, “Siapa yang mau menjamu tamu ini malam ini, semoga Allah merahmatinya?

(مَنْ يُضَيِّفُ هَذَا اللَّيْلَةَ رَحِمَهُ اللهُ؟).

Seorang laki-laki dari kaum Ansar berdiri dan berkata, “Saya, wahai Rasulullah.”

Lelaki Ansar itu pun membawa tamu tersebut pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, ia bertanya kepada istrinya, “Apakah engkau memiliki sesuatu (makanan)?” Istrinya menjawab, “Tidak, kecuali jatah makanan untuk anak-anak kita.”

Kemudian, lelaki Ansar itu mengatur sebuah siasat mulia bersama istrinya. Ia berkata, “Sibukkanlah anak-anak kita (hingga mereka lupa makan dan tertidur). Jika tamu kita sudah masuk, padamkanlah lampu dan perlihatkan kepadanya seolah-olah kita juga ikut makan bersamanya.”

Maka, mereka pun duduk bersama, dan sang tamu makan hingga kenyang, sementara lelaki Ansar dan keluarganya menahan lapar di dalam kegelapan. Keesokan paginya, ketika lelaki Ansar itu datang menemui Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

“Sungguh, Allah takjub (bangga) dengan perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian tadi malam.

(قَدْ عَجِبَ اللهُ مِنْ فُلَانِكُمَا بِضَيْفِكُمَا اللَّيْلَةَ)

Pelajaran dan Faedah dari Hadis

Hadis ini mengandung banyak sekali pelajaran berharga, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kezuhudan dan Kesabaran Rasulullah ﷺ dan Keluarga Beliau. Hadis ini menunjukkan betapa sederhananya kehidupan Nabi ﷺ dan istri-istri beliau. Mereka ridha dan bersabar dalam menghadapi kesulitan serta kelaparan, di mana rumah beliau bahkan pernah kosong dari makanan selain air.
  2. Tanggung Jawab Seorang Pemimpin. Sepantasnya bagi seorang pemimpin atau pemuka kaum untuk berusaha terlebih dahulu menolong orang yang membutuhkan dengan harta atau kemampuannya sendiri. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ, beliau terlebih dahulu memeriksa keadaan keluarganya sebelum meminta bantuan kepada para sahabatnya.
  3. Anjuran Menolong Orang yang Kesusahan. Hadis ini menjadi motivasi untuk senantiasa membantu sesama yang sedang berada dalam kesulitan dan tidak membiarkan mereka sendirian.
  4. Keutamaan Memuliakan Tamu. Memuliakan tamu, terlebih lagi mendahulukannya atas diri sendiri (الْإِيْثَارُ), memiliki keutamaan yang sangat besar di sisi Allah. Perbuatan ini merupakan salah satu akhlak yang mulia dalam Islam.
  5. Pujian bagi Kaum Ansar. Sikap yang ditunjukkan oleh lelaki Ansar dan istrinya dalam hadis ini merupakan cerminan dari kemuliaan akhlak kaum Ansar yang dipuji oleh Allah di dalam Al-Qur’an.
  6. Bolehnya Menggunakan Siasat untuk Memuliakan Tamu. Tindakan lelaki Ansar memadamkan lampu adalah sebuah siasat yang dibolehkan, bahkan terpuji. Hal ini dilakukan agar sang tamu tidak merasa sungkan atau tidak nyaman karena mengetahui bahwa jatah makanan yang ia santap adalah satu-satunya yang dimiliki oleh tuan rumah.
  7. Mendahulukan Kewajiban atas Sunnah. Tindakan lelaki Ansar memberikan jatah makanan anaknya kepada tamu dapat dibenarkan karena kondisi anak-anaknya saat itu tidak dalam keadaan lapar yang membahayakan. Memberi makan anak yang kelaparan hukumnya wajib, sementara menjamu tamu adalah sunnah (kemuliaan). Kaidah fikih menyatakan bahwa kewajiban harus didahulukan daripada amalan sunnah. Seandainya anak-anaknya sangat lapar hingga membahayakan, maka wajib bagi orang tua untuk mendahulukan anaknya.
  8. Keutamaan Al-Itsar dalam Urusan Dunia. Para ulama sepakat bahwa mendahulukan orang lain dalam urusan duniawi (seperti makanan, minuman, dan kebutuhan pribadi lainnya) adalah sebuah keutamaan yang sangat dianjurkan. Namun, dalam urusan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah (الْقُرُبَات), yang lebih utama adalah berlomba-lomba untuk meraihnya dan tidak mendahulukan orang lain. Contohnya adalah berlomba mendapatkan saf pertama dalam salat berjamaah.
  9. Menetapkan Sifat Allah Sesuai dengan Kemuliaan-Nya. Hadis ini menyebutkan bahwa Allah takjub (عَجِبَ). Menurut akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, sifat ini ditetapkan bagi Allah sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ, dengan keyakinan bahwa sifat tersebut sesuai dengan keagungan Allah, tanpa menyerupakannya dengan makhluk, menyelewengkan maknanya, ataupun menggambarkannya. Rasa takjub Allah tidak sama dengan rasa takjub makhluk-Nya.

79