Tabligh Akbar – Tujuan Penciptaan Manusia
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Anak-anak Ustaz yang saya sayangi, Bapak, Ibu, hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat dan karunia yang Allah limpahkan. Shalawat beriring salam semoga dianugerahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi kita Muhammad ﷺ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.
Sembari kita mempersiapkan pembagian kupon sembako pada pagi ini, mari kita sedikit memfokuskan diri dalam kajian kita agar kehadiran kita di sini mendapatkan manfaat yang lebih. Dengan demikian, kita bisa meraih dua faedah sekaligus, yaitu santapan jasmani dan santapan rohani. Pembagian sembako adalah santapan jasmani, sementara kajian yang akan disampaikan ini adalah santapan rohani kita.
Tujuan Penciptaan Manusia
Bapak dan Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, pernahkah kita merenung, untuk apa kita hidup? Kita dilahirkan, kemudian tumbuh dewasa, mencapai usia menikah, lalu memiliki anak. Anak-anak kita pun mengalami siklus yang sama, tumbuh besar hingga mereka menikah, dan kita pun memiliki cucu. Umur kita semakin bertambah, yang berarti sisa hidup kita sejatinya semakin pendek, bukan semakin panjang.
Mari kita renungkan kembali, untuk apa kita ada di muka bumi ini? Apakah kita hidup hanya untuk menerima penderitaan dan kesulitan dalam mencari nafkah? Ataukah ada sebuah tujuan agung yang harus kita pahami bersama, di mana kehidupan yang kita jalani ini adalah bagian dari suratan takdir yang harus kita lalui?
Sungguh merugi jika seandainya kita sama sekali tidak mengetahui apa tujuan kita diciptakan oleh Allah. Dalam Al-Qur’an, Surah Adz-Dzariyat ayat 56, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Jadi, ada dua jenis makhluk yang Allah ciptakan dengan tujuan yang sama: pertama, kita sebagai manusia, dan kedua adalah jin. Jin itu ada, namun alamnya berbeda dengan alam kita. Mereka berada di alam gaib yang tidak bisa dilihat oleh mata, tetapi keberadaan mereka nyata. Mereka bisa melihat kita, sedangkan kita tidak bisa melihat mereka. Kondisi mereka pun serupa dengan kita; di antara jin ada yang muslim sebagaimana manusia, dan ada pula yang kafir. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, mereka berkata, “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian.”
Tujuan utama kita sebagai manusia adalah untuk beribadah kepada Allah.
Ibadah Paling Utama: Menjaga Shalat
Sekarang, mari kita bertanya pada diri sendiri: apa itu ibadah, dan sudahkah kita melaksanakan ibadah yang menjadi tujuan penciptaan kita?
Ibadah yang pertama dan utama adalah shalat. Sudahkah kita melaksanakan shalat yang diwajibkan oleh Allah? Shalat yang hanya diwajibkan lima waktu dalam sehari semalam. Bagi kaum bapak-bapak, sudahkah shalatnya lengkap? Bagi kaum ibu, mungkin ada masa di mana shalatnya tidak lengkap karena haid, tetapi ketika dalam keadaan suci, wajib hukumnya untuk melengkapinya.
Mengapa shalat begitu penting? Karena amalan yang pertama kali akan ditanya dan dihisab di hari kiamat nanti adalah shalat.
- Siapa yang shalatnya baik, maka seluruh amalan kebaikan yang pernah ia lakukan di dunia akan dinilai baik.
- Siapa yang shalatnya rusak, maka seluruh amalan kebajikan yang ia lakukan di dunia akan menjadi rusak pula.
Kunci dari segala amal adalah shalat. Agar nilai shalat kita sempurna, kita tidak bisa hanya berpegang pada apa yang diajarkan saat kita kecil dahulu. Kita harus terus belajar bagaimana cara shalat yang benar. Nabi ﷺ bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.”
Maka, kita perlu belajar, Bapak dan Ibu. Belajar kepada guru, bertanya, dan membaca. Mustahil kita bisa pandai dengan sendirinya atau hanya dengan meniru-niru gerakan orang lain, karena ibadah harus didasari oleh ilmu. Ilmu didapatkan dengan cara belajar atau bertanya kepada ahlinya. Allah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barang siapa yang menyia-nyiakan shalat, berarti ia telah lebih menyia-nyiakan urusan agamanya yang lain.”
Jangan sampai kita meninggalkan shalat karena alasan mencari rezeki. Itu adalah sebuah kekeliruan yang besar. Allah berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan perintahkanlah keluargamu mengerjakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki darimu, Kamilah yang memberimu rezeki. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Taha: 132)
Orang yang menjaga shalatnya dengan baik, Allah-lah yang akan menjamin rezekinya. Jangan sampai karena sibuk bekerja atau berdagang, shalat kita tinggalkan.
Syarat Diterimanya Ibadah: Tauhid dan Menjauhi Syirik
Ibadah yang kita lakukan, termasuk shalat, harus memenuhi dua syarat utama. Pertama, harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad ﷺ. Dan yang kedua, yang paling terpenting, kita harus mentauhidkan Allah. Artinya, setiap amal ibadah yang kita kerjakan harus ditujukan murni hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman di akhir Surah Al-Kahfi:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
- Amal Saleh adalah amalan yang dikerjakan sesuai ajaran Rasulullah ﷺ.
- Tidak Mempersekutukan Allah (Syirik) artinya kita tidak boleh meminta kepada selain Allah; tidak kepada jin, tidak kepada penghuni kubur. Kita tidak boleh memohon pertolongan kecuali hanya kepada Allah. Itulah makna dari ikrar kita dalam shalat: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (Hanya kepada-Mulah kami beribadah, dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan).
Bapak dan Ibu yang dimuliakan Allah, tauhid akan mengantarkan kita ke dalam surga, sementara syirik—lawan dari tauhid—dapat menyebabkan kita kekal di dalam api neraka. Allah berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. Al-Ma’idah: 72)
Maka, mari kita jaga diri kita, keluarga, dan anak-anak kita agar jangan pernah berbuat syirik. Ingatlah nasihat Luqman kepada putranya: “يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ” (Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang paling besar).
Cukup dengan dua hal ini: kita mentauhidkan Allah dan kita menjaga shalat kita dengan baik. Ditambah lagi, ketika bulan Ramadan tiba, kita berpuasa sebulan penuh. Adapun zakat, memang membutuhkan harta. Namun shalat dan puasa, kita tidak memerlukan modal finansial untuk melaksanakannya.
Penutup dan Nasihat
Bapak dan Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allah. Shalat kita harus kita perbaiki, laksanakan pada waktunya, dan sempurnakan syarat-syaratnya agar diterima di sisi Allah. Orang yang beribadah dengan baik, akan meningkat takwanya. Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)
Kepada warga di sekitar Pondok Pesantren Darul Iman, mari kita jadikan pesantren ini sebagai aset kita bersama. Insya Allah, ke depan akan ada kajian-kajian rutin di sini, dan kami sangat berharap Bapak dan Ibu bisa hadir, meskipun tidak ada pembagian sembako. Momen ini adalah wujud dari kebersamaan kita. Dengan bertetangga yang baik, insya Allah kita semua mendapatkan keberkahan.
Apa yang tidak membuat kita bangga jika nama daerah kita, seperti Lubuk Minturun, disebut-sebut orang karena hal yang baik? “Tamat dari mana?” “Tamat dari Lubuk Minturun,” mungkin orang akan menyebut nama pondok pesantren ini. Ini akan mengharumkan nama kita bersama.
Sekali lagi, mari kita jaga shalat kita, karena itulah yang pertama kali akan dihisab. Kemudian, mari kita mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan berbuat syirik. Hilangkan segala bentuk jimat atau penangkal yang kita yakini memiliki kekuatan, karena itu adalah bagian dari kesyirikan.
Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ini bermanfaat.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
