Syarah Shahih Muslim: Bab – Tanda Kenabian dan Fisik Nabi ﷺ
Bab tentang adanya tanda tanda-tanda kenabian, dan ciri-cirinya serta posisinya atau tempatnya dari jasad Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

[BAB TANDA KENABIAN DAN FISIK NABI]
جَسَدِهِ مِنْ جَسَدِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. بَابُ إِثْبَاتِ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ. إِثْبَاتُ خَاتَمِ النُّبُوَّةِ
Bab tentang adanya tanda tanda-tanda kenabian, dan ciri-cirinya serta posisinya atau tempatnya dari jasad Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Ya, ini maksudnya adalah memberitahukan bahwa khatam an-nubuwah (stempel kenabian) itu memang ada, dan ciri-cirinya seperti yang disebutkan dalam hadis-hadis di bawah ini, serta tempatnya atau posisinya dari jasad atau tubuh Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكٍ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ قَالَ رَأَيْتُ خَاتَمًا فِي ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّهُ بَيْضَةُ حَمَامٍ
Dengan sanadnya kepada Jabir bin Samurah, beliau mengatakan: رَأَيْتُ خَاتَمًا فِي ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Aku telah melihat tanda kenabian di punggung Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.” كَأَنَّهُ بَيْضَةُ حَمَامٍ “seakan-akan atau dia seperti telur burung merpati.” Jadi seperti ada telur bulat ya, bulat telur di punggung beliau.
وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ قَالَا حَدَّثَنَا حَاتِمٌ وَهُوَ ابْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنِ الْجَعْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ
Dengan sanadnya kepada Ja’ad bin Abdurrahman, dia mengatakan: “Aku mendengar As-Saib bin Yazid berkata: ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‘Bibiku pernah membawaku pergi kepada Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.’ فَقَالَتْ Lalu bibiku mengatakan: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak saudariku ini, yakni keponakanku ini, wajiun (terserang penyakit/sakit).’ فَمَسَحَ رَأْسِي ‘Lalu Rasulullah menyapu kepalaku atau mengusap kepalaku.’ وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ ‘Dan beliau mendoakan keberkahan untukku.’ ثُمَّ تَوَضَّأَ ‘Kemudian Rasulullah berwudu.’ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ‘Dan aku pun meminum bekas air wudu beliau.’ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ ‘Kemudian aku berdiri di belakang punggung beliau.’ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ‘Aku melihat ke tanda kenabiannya di antara kedua pundak beliau.’ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ ‘Seperti kancing hiasan tenda’, yakni sebesar kancing yang diletakkan di tenda-tenda.”
حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ الْأَحْوَلُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْجِسَ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَكَلْتُ مَعَهُ خُبْزًا وَلَحْمًا أَوْ قَالَ ثَرِيدًا قَالَ فَقُلْتُ لَهُ أَسْتَغْفَرَ لَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ وَلَكَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ دُرْتُ خَلْفَهُ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِ النُّبُوَّةِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ عِنْدَ نَاغِضِ كَتِفِهِ الْيُسْرَى جُمْعًا عَلَيْهِ خِيلَانٌ كَأَمْثَالِ الثَّآلِيلِ
Dengan sanadnya kepada Abdullah bin Sarjis radhiallahu taala anhu, dia mengatakan: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Aku melihat Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.” وَأَكَلْتُ مَعَهُ خُبْزًا وَلَحْمًا “Aku makan roti dan daging bersama beliau.” ثَرِيدًا “Atau dia mengatakan bubur (ats-tsarid).” قَالَ فَقُلْتُ لَهُ Lalu aku mengatakan kepadanya, yakni si ‘Ashim bertanya kepada Abdillah bin Sarjis: أَسْتَغْفَرَ لَكَ النَّبِيُّ “Apakah Nabi meminta ampunkan untukmu?” قَالَ نَعَمْ وَلَكَ Kata Abdullah: “Ya benar, dan untukmu juga ya.” Yakni ‘Ashim adalah tabi’in. ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ Kemudian dia membaca ayat ini: وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ Yakni firman Allah: “Minta ampunkanlah untuk dosamu dan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan.” Jadi semuanya ya sudah Nabi minta ampunkan kepada Allah. قَالَ Lalu Abdullah mengatakan: ثُمَّ دُرْتُ خَلْفَهُ “Lalu aku berkeliling dari belakang beliau.” فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِ النُّبُوَّةِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ “Aku melihat kepada tanda-tanda kenabian di antara kedua bahunya atau pundaknya.” عِنْدَ نَاغِضِ كَتِفِهِ الْيُسْرَى جُمْعًا “Yaitu tepatnya di bagian pundak kirinya.” Jadi bukan tengah-tengah tapi bagian kiri di punggung di dekat pundak kirinya. عَلَيْهِ خِيلَانٌ كَأَمْثَالِ الثَّآلِيلِ “Tanda itu dikelilingi oleh tahi lalat seukuran kepalan tangan, bagaikan kutil yang tumbuh.” Jadi ada tandanya yang bisa diraba ya, yang timbul.12345
Imam Nawawi menjelaskan: أَمَّا بَيْضَةُ الْحَمَامَةِ فَهُوَ بَيْضَتُهَا ال6ْمَعْرُوفَةُ “Adapun telur merpati dia adala7h telur yang sudah diketahui ukurannya.” وَأَ8مَّا زِرُّ الْحَجَلَةِ فَبِزَايٍ ثُمَّ رَاءٍ وَالْ9حَجَلَةُ بِفَتْحِ 10الْحَاءِ وَالْجِيمِ هُوَ الصَّحِيحُ الْمَشْهُورُ وَالْمُرَادُ بِالْحَجَلَةِ وَاحِدَةُ الْحِجَالِ وَهِيَ بَيْتٌ كَالْقُبَّةِ لَهُ أَزْرَارٌ كِبَارٌ “Adapun zirrul hajalah yang tadi disebutkan adalah kancing hiasan tenda, begitu yang dibacakan secara populer ya. Maksud dari hajalah ini adalah tenda yang mempunyai kancing hiasan yang besar seperti tempat kancingnya.” Ya, mungkin ini adalah sebagai pengikat kali ya. Jadi kancing itu sebagai tempat untuk mengikatnya. Ada lagi yang mengatakan bahwa الْحَجَلَةُ itu الطَّائِرُ الْمَعْرُوفُ (burung yang dikenal) وَزِرُّهَا بَيْضَتُهَا (dan zir-nya adalah telurnya). Al-Hajalah itu burung puyuh. Berarti telur puyuh dengan telur merpati ya miriplah ukurannya ya.
Kemudian disebutkan dalam hadis bahwa di dalam Sahih Muslim: وَجَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ كَانَتْ بُضْعَةً نَاشِزَةً أَيْ مُرْتَفِعَةً عَلَى جَسَدِهِ “Yakni dia adalah bagian badan atau kumpulan daging yang muncul dari jasad beliau.” Jadi keluar dia. وَنَاغِضُ كَتِفِهِ أَيْ أَعْلَى الْكَتِفِ “Yakni di bagian yang bagian tinggi di atas pundaknya.” وَقِيلَ هُوَ الْعَظْمُ الرَّقِيقُ الَّذِي عَلَى طَرَفِهِ “Ada yang mengatakan adalah tulang yang tipis di ujungnya.” وَقِيلَ مَا يَبْدُو عِنْدَ التَّحَرُّكِ “Ada lagi yang mengatakan dia adalah yang tampak ketika bergerak.” Berarti dekat dengan tulang apa? Tulang belikat ya, di atas tulang belikat. Di situlah letaknya tanda dari ke11nabian dari tubuh Nabi صَلَّى 12اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Jadi sebelah kiri di dekat tulang yang, ya yang bergerak dari punggungnya.
Jadi tanda kenabian ini sudah dipastikan bahwa ketika ada pada Nabi, itulah menunjukkan bahwasanya Nabi. Di antara yang juga berusaha melihat itu dahulu adalah kalau tidak salah Salman Al-Farisi ketika dia mulai mengenal Nabi ya. Kemudian dia lihat, berusaha dari belakang dan Nabi mengetahui bahwasanya dia pengin melihat, ya Nabi lihatkan.
[BAB SIFAT FISIK, PENGANGKATAN, DAN USIA NABI]
بَابٌ فِي صِفَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَبْعَثِهِ وَسِنِّهِ
Bab yang kedua adalah bab ciri-ciri Nabi dan pengangkatan beliau serta umur beliau. Yakni maksudnya adalah bab di sini adalah menjelaskan tentang bagaimana ciri-ciri Nabi, sifat fisiknya, kemudian kapan dia diangkat menjadi nabi dan berapa umurnya.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيرِ وَلَا بِالْأَبْيَضِ الْأَمْهَقِ وَلَا بِالْآدَمِ وَلَا بِالْجَعْدِ الْقَطَطِ وَلَا بِالسَّبْطِ بَعَثَهُ اللَّهُ عَلَى رَأْسِ أَرْبَعِينَ سَنَةً فَأَقَامَ بِمَكَّةَ عَشْرَ سِنِينَ وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ وَتَوَفَّاهُ اللَّهُ عَلَى رَأْسِ سِتِّينَ سَنَةً وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ
Dengan sanadnya kepada Anas bin Malik, dia mengatakan: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيرِ “Adalah Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bukanlah orang yang berpostur tinggi sekali, yakni jangkung, dan tidak pula pendek.” وَلَا بِالْأَبْيَضِ الْأَمْهَقِ وَلَا بِالْآدَمِ “Dan bukan juga putih, warna putih mempunyai kulit yang berwarna putih sekali, putih yang seperti bekas dari penyakit ya, bukan putihnya seperti itu. Tidak juga hitam.” Adam itu hitam. Asmar itu bukan coklat artinya ya, bukan. Jadi hitam warna kalau orang-orang Afrika itu asmar namanya ya. Ya, kalau kita lihat pemain-pemain bolanya Arab Saudi banyak yang kayak gitu warnanya. Nah, itu asmar. Kalau kita sawo matang. Orang Arab yang lain di samping dia putih, dinamakan dengan kumhi. Yakni kuningnya seperti kuning gandum gitu loh, atau ya agak putih sedikit dari sawo matangnya kali ya. Sawo muda kali ya. Tayib.
Jadi الْأَبْيَضِ الْأَمْهَقِ وَلَا بِالْآدَمِ, tidak juga hitam. وَلَا بِالْجَعْدِ الْقَطَطِ “Tidak keriting kribo ya, keriting yang halus-halus.” وَلَا بِالسَّبْطِ “Tidak juga rambutnya lurus.” بَعَثَهُ اللَّهُ عَلَى رَأْسِ أَرْبَعِينَ سَنَةً “Allah utus beliau di awal umur 40 tahun.” فَأَقَامَ بِمَكَّةَ عَشْرَ سِنِينَ “Beliau tinggal di Makkah 10 tahun.” وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ “Dan di Madinah 10 tahun.” وَتَوَفَّاهُ اللَّهُ عَلَى رَأْسِ سِتِّينَ سَنَةً “Allah wafatkan dia di umur 60 tahun.” Nanti ada penjelasannya. وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ “Tidak ada di kepala dan di jenggotnya 20 rambut putih.” Yakni uban ya. Ya, ini maksudnya tidak sampai 20 lembar ubannya.
Tayib. كَمْ سِنُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ قُبِضَ؟ Berapakah umur Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pada hari beliau diwafatkan?
حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ الرَّازِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ زَائِدَةَ عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ وَأَبُو بَكْرٍ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ وَعُمَرُ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ
Dengan sanadnya kepada Anas bin Malik, dia mengatakan: “Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ diwafatkan beliau berumur 63 tahun, dan Abu Bakar wafat pada umur 63 tahun juga, Umar wafat juga berumur 63 tahun.”
حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلُ بْنُ خَالِدٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُوُفِّيَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ سَنَةً
Dengan sanadnya kepada Aisyah radhiallahu taala anha, bahwasanya dia mengatakan: “Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ wafat beliau berumur 63 tahun.”13
Tayib. كَمْ أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ؟ Berapakah lama Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tinggal14 di Makkah dan di Madinah?
حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْهُذَلِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ لِعُرْوَةَ كَمْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ قَالَ عَشْرًا قُلْتُ فَإِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ ثَلَاثَ عَشْرَةَ
Dari ‘Amr, yakni ‘Amr bin Dinar Al-Makki. قَالَ قُلْتُ لِعُرْوَةَ “Aku berkata kepada ‘Urwah.” كَمْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ “Berapa lama Rasulullah di Makkah?” قَالَ عَشْرًا “Beliau menjawab 10 tahun.” قُلْتُ فَإِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ ثَلَاثَ عَشْرَةَ “Lalu aku mengatakan, sesungguhnya Ibnu Abbas mengatakan 13 hari, eh 13 tahun ya.”
وَحَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ لِعُرْوَةَ كَمْ لَبِثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ قَالَ عَشْرًا قُلْتُ فَإِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ بِضْعَ عَشْرَةَ قَالَ فَغَفَّرَهُ وَقَالَ إِنَّمَا أَخَذَهُ مِنْ قَوْلِ شَاعِرٍ
Amr bin Dinar dia mengatakan, aku bertanya kepada ‘Urwah: “Berapa lamanya Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tinggal di Makkah?” Lalu beliau menjawab: “10 tahun.” Lalu aku mengatakan bahwasanya Ibnu Abbas mengatakan bahwa بِضْعَ عَشْرَةَ, maksudnya adalah 13 tahun. Kemudian dia menuturkan: قَالَ فَغَفَّرَهُ وَقَالَ إِنَّمَا أَخَذَهُ مِنْ قَوْلِ شَاعِرٍ Lalu ‘Urwah dia meminta ampunkan kepada Allah atas dosa Ibnu Abbas. Ya, semoga Allah mengampuninya. Gitulah dia ngambil karena dia menyimpulkan dari perkataan seorang penyair, itu kata ‘Urwah ya.
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَهَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَرَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ قَالَا حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَثَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَتُوُفِّيَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tinggal di Makkah 13 tahun dan beliau wafat berumur 63 tahun.
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً يُوحَى إِلَيْهِ وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرًا وَمَاتَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ سَنَةً
Dari Ibnu Abbas radhiallahu taala anhu, beliau mengatakan: “Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tinggal di Makkah 13 tahun diberi wahyu kepadanya.” Yakni maksudnya 13 tahun itu semenjak dia diangkat menjadi nabi ya, yang diwahyukan kepadanya. “Dan di Madinah 10 tahun. Beliau meninggal dunia dalam berumur 63 tahun.”
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَبَانَ الْجُعْفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سَلَّامٌ أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ فَذَكَرُوا سِنَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ كَانَ أَبُو بَكْرٍ أَكْبَرَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ مَاتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ وَمَاتَ أَبُو بَكْرٍ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ وَقُتِلَ عُمَرُ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ
Dengan sanad kepada Abi Ishaq, dia mengatakan: “Aku duduk bersama Abdullah bin ‘Utbah, mereka menyebut umur Rasulullah, yakni sedang membicarakan berapa kasih umur Rasulullah? Sebagian dari kaum yang hadir itu mengatakan Abu Bakar itu lebih tua dari Rasulullah, lebih senior ya. Lalu Abdullah dia mengatakan: Rasulullah meninggal dunia dia berumur 63 tahun, Abu Bakar meninggal dunia dia berumur 63 tahun, Umar terbunuh beliau berumur 63 tahun.” Berarti siapa yang tua? Rasulullah. Ya. Selisih Rasulullah dengan Abu Bakar berapa? 2 setengah tahun. Ya, 2,5 tahun. قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ يُقَالُ لَهُ عَامِرُ بْنُ سَعْدٍ Lalu ada orang seorang dari kaum mengatakan, namanya ‘Amir bin Sa’ad.
حَدَّثَنَا جَرِيرٌ قَالَ كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ مُعَاوِيَةَ فَذَكَرُوا سِنَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ وَمَاتَ أَبُو بَكْرٍ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ وَمَاتَ عُمَرُ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ
Jarir dia mengatakan: “Kami dulu duduk bersama Muawiyah, lalu mereka membicarakan umur Rasulullah. Muawiyah mengatakan radhiallahu taala anhu: Rasulullah wafat berumur 63 tahun, Abu Bakar meninggal dunia dia berumur 63 tahun, Umar terbunuh dia berumur 63 tahun.”
حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ – وَاللَّفْظُ لِابْنِ الْمُثَنَّى – قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ الْبَجَلِيِّ عَنْ جَرِيرٍ أَنَّهُ سَمِعَ مُعَاوِيَةَ يَخْطُبُ فَقَالَ مَاتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَأَنَا ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ
Dengan sanadnya kepada Jarir, dia mengatakan: “Aku mendengar Muawiyah menyampaikan khotbah. Beliau mengatakan: Rasulullah wafat berumur 63 tahun, Abu Bakar dan Umar dan saya berumur 63 tahun.”
وَحَدَّثَنَا ابْنُ مِنْهَالٍ الضَّرِيرُ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ عَمَّارٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَمْ أَتَى لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ مَاتَ فَقَالَ مَا كُنْتُ أَحْسِبُ مِثْلَكَ مِنْ قَوْمِهِ يَخْفَى عَلَيْهِ ذَاكَ قَالَ قُلْتُ إِنِّي سَأَلْتُ النَّاسَ فَاخْتَلَفُوا عَلَيَّ فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَعْلَمَ قَوْلَكَ قَالَ أَتَحْسُبُ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ أَمْسِكْ أَرْبَعِينَ بَعَثَهُ اللَّهُ لَهَا كَأَمْسِكَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ بِمَكَّةَ آمِنًا وَخَائِفًا وَعَشْرًا مِنْ مُهَاجَرِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ
Dengan sanadnya kepada ‘Ammar Maula Bani Hasyim. Dia mengatakan: “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, berapakah umur Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pada hari beliau meninggal dunia?” Ibnu Abbas dia mengatakan: مَا كُنْتُ أَحْسِبُ مِثْلَكَ مِنْ قَوْمِهِ يَخْفَى عَلَيْهِ ذَاكَ “Aku bukan (tidak menyangka) seperti dirimu, di antara kaum beliau, yang ingin menghitung sesuatu yang tidak jelas (yang tersembunyi baginya hal itu).” Ya, aku tidak menyangka sepertimu dari kaumnya yang seperti ini tidak paham gitu. قَالَ قُلْتُ Lalu ‘Ammar dia mengatakan: إِنِّي سَأَلْتُ النَّاسَ فَاخْتَلَفُوا عَلَيَّ “Aku mengatakan, sungguh aku telah bertanya kepada orang-orang berapa umur Rasulullah ini? Lalu mereka berselisih pendapat, ini mengatakan begitu, ini mengatakan begitu.” فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَعْلَمَ قَوْلَكَ “Aku pengin mengetahui bagaimana pendapatmu dalam masalah ini.” Yakni kepada Ibnu Abbas. قَالَ أَتَحْسُبُ Lalu Ibnu Abbas berkata: “Engkau bisa berhitung?” قُلْتُ نَعَمْ Aku katakan: “Ya.” قَالَ أَمْسِكْ أَرْبَعِينَ بَعَثَهُ اللَّهُ لَهَا كَأَمْسِكَ Kemudian Ibnu Abbas mengatakan: “Mulailah (peganglah) umurnya dari 40 tahun.” Nah tahan nih 40 tahun ini umurnya. Kemudian hitung setelah itu gitu ya. “Mulailah 40 tahun setelah diutus (Allah mengutusnya).” Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menetap di Makkah selama خَمْسَ عَشْرَةَ “Beliau diutus 15 tahun di Makkah.” آمِنًا وَخَائِفًا “Selama itu beliau merasa aman, dan ada rasa takut ya, ada kekhawatiran.” وَعَشْرًا مِنْ مُهَاجَرِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ “Dan kemudian menetap 10 tahun di Madinah, yakni tempat hijrah beliau.” Nah, di sini berapa? 15 tahun. Di tempat yang lain dia mengatakan 13 tahun.
Tayib. Apa kata Imam Nawawi dalam masalah ini? ذُكِرَ فِي الْبَابِ ثَلَاثُ رِوَايَاتٍ إِحْدَاهَا “Ada tiga riwayat di dalam bab ini. Salah satunya:” أَنَّهُ تُوُفِّيَ وَهُوَ ابْنُ سِتِّينَ سَنَةً “Beliau meninggal dunia umur 60 tahun.” Ini riwayat pertama. Riwayat yang kedua خَمْسٌ وَسِتُّونَ “Riwayat dua adalah 65 tahun.” Yakni 15 di Makkah, 10 di Madinah. Kalau yang 60, 10 di Makkah, 10 di Madinah. وَالثَّالِثَةُ ثَلَاثٌ وَسِتُّونَ “Riwayat yang ketiga 63 tahun.” وَهِيَ أَصَحُّهَا وَأَشْهَرُهَا “Inilah yang paling sahih dan yang paling tersohor.” رَوَاهُ مُسْلِمٌ هُنَا مِنْ رِوَايَةِ عَائِشَةَ وَأَنَسٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ “Di sini Imam Muslim meriwayatkannya dari Aisyah dan Anas dan Ibnu Abbas.” Jadi tiga sahabat yang menjelaskan tentang umur Nabi Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ أَصَحَّهَا ثَلَاثٌ وَسِتُّونَ “Sepakat ulama yang riwayat yang paling sahih itu adalah 63 tahun.” وَتُؤُوِّلَ الْبَاقِي عَلَيْهِ “Lalu riwayat yang lain ditafsirkan.” Ya ditafsirkan. فَرِوَايَةُ سِتِّينَ عَلَى إِلْغَاءِ الْكُسُورِ وَتَرْكِ الْقَصْرِ “Riwayat yang mengatakan 60 itu digenapin (pembulatan). Dia ngambil genap, yang ganjilnya dibuang.” Jadi 10, 10, 13-nya angka ganjilnya dibuang.
وَرِوَايَةُ خَمْسٍ وَسِتِّينَ مُتَأَوَّلَةٌ أَيْضًا وَحَصَلَ فِيهَا اشْتِبَاهٌ وَقَدْ أَنْكَرَ عُرْوَةُ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ
“Begitu juga tentang riwayat 65 ya. Ah, di situ terjadi hal yang, apa namanya, hal yang syubhat (kekeliruan) yang diingkari oleh Urwah kepada Ibnu Abbas.” وَالصَّحِيحُ نِسْبَتُهُ إِلَى الْغَلَطِ وَأَنَّهُ لَمْ يُدْرِكْ أَوَّلَ النُّبُوَّةِ وَلَا كَثُرَتْ صُحْبَتُهُ بِخِلَافِ الْبَاقِينَ “Yakni yang mengatakan 65 tahun ini, pendapat yang benar menisbatkannya kepada sebuah kekeliruan, karena ia meriwayatkannya tidak mendapatkan dari semenjak awal umurnya apa, dari awal dari kenabian dan tidak juga sering bersama Nabi, berbeda dengan perawi-perawi yang lain.”
وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ أَقَامَ بِالْمَدِينَةِ بَعْدَ الْهِجْرَةِ عَشْرَ سِنِينَ “Sepakat ulama bahwa Nabi tinggal di Makkah eh di Madinah setelah hijrah 10 tahun.” وَبِمَكَّةَ قَبْلَ النُّبُوَّةِ أَرْبَعِينَ سَنَةً “Sepakat ulama bahwa Nabi tinggal di Makkah sebelum diangkat menjadi nabi 40 tahun.” Dia sepakat 40 tahun kemudian di Madinah juga 10 tahun. وَإِنَّمَا الْخِلَافُ فِي إِقَامَتِهِ بِمَكَّةَ بَعْدَ النُّبُوَّةِ “Hanya terjadi perbedaan berapa lama beliau tinggal di Makkah setelah diangkat menjadi nabi.” وَقِيلَ إِلَى الْهِجْرَةِ “Ada lagi mengatakan ya sampai hijrah.” وَالصَّحِيحُ أَنَّهَا ثَلَاثَ عَشْرَةَ “Dan yang sahih (benar) bahwasanya dia itu adalah 13 tahun.” فَيَكُونُ عُمُرُهُ “Maka jadilah umur beliau…” dengan di Makkah dia 13 tahun, disepakati di Madinah 10 tahun, maka umur beliau menjadi 63 tahun.
وَهَذَا الَّذِي ذَكَرْنَاهُ أَنَّهُ بُعِثَ عَلَى رَأْسِ أَرْبَعِينَ سَنَةً هُوَ الْمَشْهُورُ الَّذِي أَطْبَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ
“Apa yang kita sebutkan bahwasanya beliau diangkat di awal umur 40 tahun, ini yang benar, yang masyhur, yang disepakati yang dipakai oleh ulama.” وَحَكَى الْقَاضِي عِيَاضٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ أَنَّهُ بُعِثَ عَلَى ثَلَاثٍ وَأَرْبَعِينَ “Al-Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan dari Said bin Al-Musayyib bahwa beliau diangkat pada umur 43 tahun.” Tapi yang benar itu adalah umur 40 tahun.
وُلِدَ فِي عَامِ الْفِيلِ عَلَى الصَّحِيحِ الْمَشْهُورِ
“Beliau lahir pada tahun gajah menurut pendapat yang sahih lagi masyhur.” Apa itu tahun gajah? Pada tahun di mana terjadinya tentara bergajah menyerang Makkah. وَقِيلَ بَعْدَ الْفِيلِ بِثَلَاثِينَ سِنِينَ “Ada yang mengatakan 30 tahun setelah kejadian dari tentara bergajah itu.” وَقِيلَ بِأَرْبَعِينَ “Ada mengatakan 40 tahun.” وَقَدِ ادَّعَى الْإِجْمَاعَ فِي الْأُولَى الْقَاضِي عِيَاضٌ وَلَيْسَ كَمَا ادَّعَى “Qadhi Iyadh menyatakan/mendakwahkan ijma’ (kesepakatan) pada pendapat pertama (Tahun Gajah), namun tidak seperti apa yang beliau dakwakan.”
وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ وُلِدَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ “Sepakat bahwasanya Nabi itu lahir pada hari Senin ya.” فِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ “Pada bulan Rabiul Awal.” Ini sepakat ulama. Tapi tanggalnya berapa? Terjadi perbedaan. Ada mengatakan tanggal 12, ada yang mengatakan tanggal 9. Berbeda pendapatnya. وَفِيهِ أَيْ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ مِنْ شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ تُوُفِّيَ “Beliau juga wafat pada hari Senin bulan Rabiul Awal juga.”
وَاخْتَلَفُوا فِي يَوْمِ الْوِلَادَةِ عَلَى ثَانِي الشَّهْرِ أَمْ ثَامِنِهِ أَمْ عَاشِرِهِ أَمْ ثَانِيَ عَشَرَ
“Terjadi, ulama berbeda pendapat di dalam hari kelahirannya. Apakah dia hari kedua dari bulan (Rabiul Awal), atau ke-8, atau ke-10, atau ke-12.” Di situ terjadi perbedaan. Kalau ulama sudah berbeda, ini menunjukkan apa? Ini menunjukkan tidak pernah ada perayaan Maulid Nabi. Ya, ini bukti gitu loh. Kalau seandainya sejak dahulu sahabat merayakan Maulid Nabi, tentu gak ada perbedaan tentang tanggal kelahiran Nabi. وَيَوْمُ الْوَفَاةِ الثَّانِي عَشَرَ ضُحًى “Adapun hari wafatnya adalah tanggal 12 waktu Dhuha.” Kalau wafatnya jelas tanggal 12 Rabiul Awal. Tahun ke berapa? Tahun ke berapa? Hah? Tahun 11 Hijriah. Sebab hajinya 10 Hijriah ya. Dia 3 bulan setelah haji. Muharram, Safar, Rabiul… Tayib. Setelah haji dia, tanggal haji tentu 10 Zulhijah tahun 10 dari kenabian eh dari hijrah. Nah, beliau wafat tahun ke-11 Hijriah. Jadi sepakat ulama, boleh jadi hanya dia mengambil: “Oh, kalau begitu 63 tahun karena wafatnya 12 Rabiul Awal berarti lahirnya juga 12 Rabiul Awal,” supaya dia pas ya 63 tahun, tidak tambah tidak berkurang kan gitu ya.
Tayib. لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيرِ “Albain itu zaid tawil (terlalu tinggi) gitu loh.” Tidak tinggi yang ketinggian. Kan ada orang ketinggian coba 2 m panjang dia ya, apa? Jangkung, jangkung ya tidak, tidak ada keindahannya di situ. وَلَا الْقَصِيرِ “Gaklah pendek.” وَهُوَ بِمَعْنَى مَا سَبَقَ أَنَّهُ مُقْتَصِدٌ “Ini makna dari yang telah berlalu bahwa beliau itu sedang (proporsional).” Yakni pas deh gitu loh. Kita lihat ada orang misalkan seperti apa, postur PM ya, Polisi Militer tuh badan-badannya ya cocoklah badannya apa dengan tingginya gitu kan.
وَلَا الْأَبْيَضِ الْأَمْهَقِ “Amhaq itu dengan mim.” وَهُوَ شَدِيدُ الْبَيَاضِ “Yakni putih sekali.” كَلَوْنِ الْجِصِّ وَهُوَ كَرِيهُ الْمَنْظَرِ “Seperti warna kapur/gips yang kurang sedap dipandang.” وَرُبَّمَا تُوُهِّمَ أَنَّهُ بَرَصٌ “Boleh jadi orang melihatnya kira-kira (menyangka) ini kena apa? Penyakit kulit (kusta/belang) ya.” Tadi sudah apa, kemudian memutih dia kan gitu kan, beda itu putih asli dengan putih disebabkan penyakit. وَلَا بِالْآدَمِ “Wal adam.” أَيِ الْأَسْمَرِ “Yakni asmar.” Asmar itu bukan coklat ya, kalau coklat bisa juga gak ada no, ada apa warna coklat tapi sebenarnya hitam tapi bukan Aswad (hitam sudut/pekat) ya. Jadi tidak terlalu hitam betul ya. Masih dikatakan hitam manis lah ya. Asmar ni hitam manis ya. لَيْسَ بِأَسْمَرَ مَعْنَاهُ Dia bukan kehitaman. وَلَا بِأَبْيَضَ كَرِيهِ الْبَيَاضِ “Dia bukanlah putih yang warna putih yang kurang sedap dipandang mata gitu loh.” بَلْ أَبْيَضُ بَيَاضًا نَيِّرًا “Tapi dia adalah putih yang bercahaya.” Putih bersih, enak. Mungkin kali kita kuning langsat, enak putih, ya putihnya putih indahlah gitu. كَمَا قَالَ فِي الْحَدِيثِ السَّابِقِ أَنَّهُ كَانَ أَزْهَرَ اللَّوْنِ “Sebagaimana dalam hadis yang sebelumnya mengatakan bahwa beliau itu adalah warnanya Azhar (putih bersih/cemerlang) berwarna putih bersih ya.”
Kemudian tentang perkataan Urwah, berapa beliau tinggal di Makkah beliau katakan 10 tahun, Ibnu Abbas mengatakan 13 tahun. Ini tadi sudah kita jelaskan ya, bahwa sebenarnya sepakat ulama 13 tahun ya. Kemudian di Makkah, di Madinah 10 tahun sehingga umur beliau 63 tahun wafat, dan beliau berdakwah selama 23 tahun ya. Beliau berdakwah 23 tahun. Di 13 tahun beliau berdakwah konsentrasinya kepada tauhid. Kemudian setelah pindah ke Madinah, mulailah hukum-hukum syariat turun. Dan selama 23 tahun itu tetap beliau mengajak kepada tauhid. Di akhir hayat beliau juga mengingatkan ya tentang tauhid ya. Ini menunjukkan bahwa Nabi seluruh kehidupannya, seluruh dakwahnya berkonsentrasi kepada tauhid karena pentingnya tauhid itu.
Wallahu taala a’lam. Demikian yang dapat kita sampaikan. Semoga menambah pengetahuan kita ya tentang Nabi kita Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Insyaallah pada pertemuan berikut insyaallah kita akan pelajari tentang nama-nama Rasulullah. Siapa-siapa aja atau apa-apa saja nama-nama beliau. Karena kita juga mendengar macam-macam juga ya namanya. Nah, melalui riwayat yang sahih nama-nama beliau itu apa saja? Mudah-mudahan besok bisa kita lanjutkan.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ



