Syarah Shahih Muslim: Bab penjelasan tentang perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dibawa oleh Nabiﷺ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّbًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.
Kaum muslimin dan muslimat, rahimani wa rahimakumullah. Kembali kita melanjutkan kajian kita, hadis-hadis di Sahih Muslim. Kita masuk pada bab yang baru:
بَابُ بَيَانِ مَثَلِ مَا بُعِثَ بِهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ (Bab penjelasan tentang perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو عَامِرٍ الْأَشْعَرِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ وَاللَّفْظُ لِأَبِي عَامِرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ، وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا، وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ.
Dengan sanadnya kepada Abu Musa, yakni أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا (Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang mana Allah ‘Azza wa Jalla mengutusku dengannya, perumpamaannya seperti hujan yang membasahi bumi).
فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ (Sebagian tanah bumi itu ada yang subur, ada yang baik, sehingga dapat menerima air, menyerap air, lalu menumbuhkan rerumputan dan tetumbuhan yang banyak).
وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا (Dan sebagian lagi merupakan tanah-tanah yang bisa menahan air. Lalu Allah berikan manfaat kepada manusia dengan air tadi sehingga mereka dapat meminum darinya, memberikan minum [ternak], dan menggembalakan ternak mereka di tempat itu).
وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ (Dan yang lain menimpa tanah-tanah datar yang gersang. Tanah-tanah yang lain, dia adalah tanah yang gersang).
لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً (Dia tidak bisa menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rerumputan).
فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ (Itulah perumpamaan orang yang dapat memahami agama Allah, dan memanfaatkannya sesuai dengan ajaran yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusku, di mana orang itu tahu dan mau mengajarkannya).
وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا (Dan juga perumpamaan orang yang tidak mau mengambil manfaatnya, tidak mau mengangkat kepalanya sama sekali, yakni tidak tertarik dia).
وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ (Dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya).
Jadi, hadis ini menjelaskan kepada kita bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan ilmu dan petunjuk yang dibawa oleh beliau. Di mana ilmu dan petunjuk itu dilihat kepada orang yang menerimanya. Diberikanlah perumpamaan ilmu dan petunjuk itu seperti air hujan. Jadi ilmu dan petunjuk itu seperti hujan. Hujan ini ada yang menyiram tanah, mengenai tanah. Ternyata tanah yang terkena hujan ini adalah tanah yang subur, tanah yang baik. Ini sama dengan ilmu dan petunjuk ini didengar oleh orang yang hatinya baik.
Sehingga apa? Air hujan tadi diserap oleh tanah, lalu tanahnya subur kemudian menumbuhkan rumput-rumput. Sehingga bermanfaatlah bagi manusia yang banyak. Begitu juga dengan petunjuk, ilmu dan petunjuk ketika sampai kepada seorang yang hatinya dibukakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ilmu dan petunjuk itu berguna untuk dirinya dan juga dia bisa memberikan kepada orang lain. Inilah perumpamaan orang yang memahami agama Allah, lalu ini bermanfaat pada dirinya sendiri. Dia mengetahui dan dia ajarkan.
Kelompok yang kedua adalah kelompok yang dia itu seperti tanah liat (tanah yang menahan air). Dia bisa menahan air, bisa memberikan manfaat kepada orang lain karena air tadi ditampungnya. Tapi apakah air itu bermanfaat untuk tanah liat itu sendiri? Tidak. Dia hanya untuk memberikan kepada orang lain sehingga manusia bisa mendapatkan ilmu darinya, tapi pada dirinya sendiri tidak memberikan manfaat.
Bagian yang ketiga adalah tanah yang gersang. Bagaimana dengan tanah yang gersang? Ketika datang hujan, dia tidak bisa menahan air, air itu mengalir begitu saja, sehingga dia juga tidak bisa menumbuhkan. Karena salah satu dari faktor penyebab bisa menumbuhkan adalah kesuburan. Kesuburan itu berasal dari air. Begitu juga dengan ilmu dan petunjuk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kirim kepada Nabi, yang dibawa oleh Nabi. Ada orang yang tidak mau mendengarnya, dia mengabaikannya. Maka ketika dia tidak mau menerimanya, tidak mau mendengarnya, berarti tidak memberikan manfaat pada dirinya sendiri dan juga tidak bisa memberikan manfaat kepada orang lain.
Sehingga dia ini tidak mau mendengar. Disebutkan: وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا (tidak mau mendengar) وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ (yang mana dia tidak bisa atau tidak mau menerima petunjuk Allah yang nabi diutus dengannya).
Begitulah manusia terbagi kepada tiga bagian, hati manusia itu terbagi kepada tiga. Sebagaimana tanah terbagi kepada tiga. Ada tanah yang baik, ketika disiram oleh air dia bisa menyerap air itu sehingga memberikan manfaat kepada tanah itu sendiri, menjadikan tanahnya menjadi subur, dan memberikan manfaat kepada orang lain sehingga tanah itu menumbuhkan rerumputan.
Tanah yang kedua, dia bisa memberikan petunjuk dan ilmu ini (atau air ini) kepada orang lain, tetapi tidak bisa memberikan manfaat kepada dirinya sendiri.
Yang ketiga, ada tanah yang sama sekali tidak bisa mengambil manfaat dari hujan dan tidak juga bisa memberikan manfaat kepada yang lain. Sama dengan orang yang datang petunjuk kepadanya tapi dia tidak mau dengar, sehingga tidak memberikan manfaat kepada dirinya dan kepada orang lain.
Kita lihat syarah dari Imam Nawawi. أَمَّا الْغَيْثُ (Adapun al-ghait) وَهُوَ الْمَطَرُ (yaitu hujan). وَالْعُشْبُ وَالْكَلَأُ وَالْحَشِيشُ وَكُلُّهَا أَسْمَاءٌ لِلنَّبَاتِ (Al-usyb, al-kala, dan al-hasyisy itu adalah nama-nama dari tumbuh-tumbuhan atau nama dari jenis rumput). Kadang disebut rumput itu الْحَشِيشُ, kadang disebut namanya الْكَلَأُ, kadang disebut namanya الْعُشْبُ.
Tetapi ternyata itu ada pembagian. لَكِنَّ الْحَشِيشَ مُخْتَصٌّ بِالْيَابِسِ (Rumput hasyisy namanya, itu khusus untuk rumput yang kering). وَالْعُشْبُ وَالْكَلَأُ (مَقْصُورًا) مُخْتَصَّانِ بِالرُّطْبِ (Al-usybu dan al-kala [tanpa hamzah], dua nama itu, untuk rumput yang basah, yang hijau). وَالْكَلَأُ (بِالْهَمْزَةِ) يَقَعُ عَلَى الْيَابِسِ وَالرُّطْبِ (Al-kala’ [dengan hamzah] bisa dinamakan untuk rumput yang masih hijau dan rumput yang kering).
Al-Khattabi dan Ibnu Faris mengatakan الْكَلَأُ يَقَعُ عَلَى الْيَابِسِ (Nama rumput kala’ itu untuk yang kering) وَهَذَا شَاذٌّ ضَعِيفٌ (dan ini adalah makna yang syadz [aneh] dan lemah).
Jadi rumput itu dalam bahasa Arabnya berbeda-beda. Rumput yang kering yang agak menguning. Kalau kita lihat pertanian di Arab itu, setelah dia membuat gandum biasanya mereka membuat rumput, yakni menanam rumput. Rumput untuk makanan ternak. Nah, rumput ini juga bermacam-macam. Malahan ada rumput yang sudah menjadi kuning, itu masih dimakan oleh binatang ternaknya. Dikasih garam, garam untuk ternak, dan itu bisa dimakan. Kalau kita lihat, ya, seperti sudah sangat (kering), kalau kita nyalakan api cepat dimakannya. Nah, ini juga bisa dimakan oleh binatang ternak. Maka ini namanya الْحَشِيشُ.
وَأَمَّا الْأَجَادِبُ (بِالدَّالِ الْمُهْمَلَةِ) وَهِيَ أَرْضٌ لَا تُنْبِتُ كَلَأً (Adapun al-ajadib, dia adalah tanah yang tidak bisa menumbuhkan tanaman, tidak bisa menumbuhkan rumput). Qala Al-Khattabi, هِيَ الْأَرْضُ الَّتِي تُمْسِكُ الْمَاءَ (dia mengatakan ajadib itu adalah tanah yang dapat menahan air) hingga air itu tidak cepat meresap ke dalam tanah. Dia hanya menahan air. Qala Al-Khattabi, أَجَادِبُ (Ada yang mengatakan ajadib [dengan jim]), وَأَحَادِبُ (بِالْحَاءِ الْمُهْمَلَةِ) قَالَ: وَلَيْسَ بِشَيْءٍ (ada yang mengatakan ahadib [dengan ha], dan ini tidak benar. Yang benar itu adalah ajadib). Ada lagi mengatakan أَجَارِدُ… أَرْضٌ مَا لَا يُنْبِتُ الْكَلَأَ (yaitu tanah yang tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan). Yakni seperti tanah tandus. Dia bisa menahan air tapi tidak bisa menumbuhkan.
Kemudian أَمَّا الْقِيعَانُ (Adapun al-qi’an), وَهِيَ أَرْضٌ مُسْتَوِيَةٌ (Dia adalah tanah yang datar) الَّتِي لَا نَبَاتَ فِيهَا (yang mana di situ tidak ada tumbuh-tumbuhan sama sekali). Jadi tadi disebutkan bahwa seperti yang ketiga adalah tanah yang datar, tidak bisa menahan air, tidak bisa menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan ilmu dan petunjuk yang datang itu seperti air, yang mana air akan memberikan pengaruh kepada tanah. Jika tanahnya baik, maka bermanfaatlah tanah itu dan memberikan manfaat kepada yang lain.
فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ (Adapun ungkapan yang mengatakan bahwa sebagiannya ada bagian tanah yang baik yang bisa menerima air). Itu adalah di mana tanah-tanah yang bisa menjadikan subur.
Makna dari hadis: أَمَّا مَعَانِي الْحَدِيثِ وَمَقْصُودُهُ فَهُوَ تَمْثِيلُ الْهُدَى الَّذِي جَاءَ بِهِ صلى الله عليه وسلم بِالْغَيْثِ (Maksud dari hadis ini adalah memberikan perumpamaan petunjuk yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hujan). Wa annahu (maksudnya) أَنَّ الْأَرْضَ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ (bahwasanya tanah itu terbagi kepada tiga jenis). Begitu juga manusia. Manusia ini juga terbagi kepada tiga bagian atau tiga jenis.
الْأَوَّلُ مِنَ الْأَرْضِ يَنْتَفِعُ بِالْمَطَرِ فَيَحْيَا بَعْدَ أَنْ كَانَ مَيِّtًا (Jenis yang pertama dari bumi itu atau dari tanah itu bisa mengambil manfaat dengan hujan, sehingga ketika turun hujan dia bisa hidup kembali setelah matinya tanah itu karena kering, disiram hidup dia, subur dia). فَيُنْبِتُ الْكَلَأَ (dia bisa menumbuhkan rumput). فَتَنْتَفِعُ بِهَا النَّاسُ وَالدَّوَابُّ وَالزَّرْعُ وَغَيْرُهَا (Maka tanah tersebut memberikan manfaat kepada manusia, kepada hewan-hewan, kepada tanaman cocok tanam).
وَكَذَلِكَ الْأَوَّلُ مِنَ النَّاسِ (Begitu juga jenis pertama dari manusia). يَبْلُغُهُ الْهُدَى وَالْعِلْمُ فَيَحْفَظُهُ فَيَحْيَا قَلْبُهُ بِهِ وَيَعْمَلُ بِهِ وَيُعَلِّمُهُ غَيْرَهُ فَيَنْتَفِعُ وَيَنْفَعُ (Ketika sampai kepadanya petunjuk dan ilmu, dia hafalkan, lalu menghidupkan hatinya, dia amalkan dan dia ajarkan orang lain, maka dia mengambil manfaat dan bisa memberikan manfaat).
وَالثَّانِي مِنَ الْأَرْضِ (Jenis yang kedua dari bumi ini) مَا لَا تَقْبَلُ الِانْتِفَاعَ فِي نَفْسِهَا لَكِنْ فِيهَا فَائِدَةٌ (Jenis kedua dari tanah ini adalah dia tidak bisa memberikan manfaat kepada dirinya sendiri, kepada tanah itu sendiri. Tidak memberikan pengaruh kepada tanah, tapi dia bisa memberikan manfaat kepada yang lain). Apa manfaatnya? وَهِيَ إِمْسَاكُ الْمَاءِ لِغَيْرِهَا فَيَنْتَفِعُ بِهَا النَّاسُ وَالدَّوَابُّ (Yaitu dia menahan air untuk yang lain, untuk orang, sehingga orang bisa mengambil manfaat. Hewan-hewan pun bisa mengambil manfaat dari tanah yang menahan air tadi).
وَكَذَا الثَّانِي مِنَ النَّاسِ (Begitu juga jenis kedua dari manusia). لَهُمْ قُلُوبٌ حَافِظَةٌ (Mereka punya hati yang bisa menghafal ilmu) وَلَكِنْ لَيْسَتْ لَهُمْ أَفْهَامٌ ثَاقِبَةٌ وَلَا رُسُوخَ لَهُمْ فِي الْعَقْلِ يَسْتَنْبِطُونَ بِهِ الْمَعَانِيَ وَالْأَحْكَامَ وَلَيْسَ لَهُمْ اجْتِهَادٌ فِي الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ بِهِ (Akan tetapi dia tidak memiliki pemahaman yang tajam, tidak juga memiliki kekuatan di dalam akal yang bisa menyimpulkan, mengambil kesimpulan dari makna dan hukum, dan juga dia tidak memiliki kesungguhan di dalam ketaatan dan mengamalkan ilmu itu).
فَهُمْ يَحْفَظُونَهُ حَتَّى يَأْتِيَ طَالِبٌ مُحْتَاجٌ مُتَعَطِّشٌ لِمَا مَعَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ، أَهْلٌ لِلنَّفْعِ وَالِانْتِفَاعِ، فَيَأْخُذُهُ مِنْهُمْ فَيَنْتَفِعُ بِهِ. فَهَؤُلَاءِ نَفَعُوا بِمَا بَلَغَهُمْ (Sehingga mereka ini adalah orang-orang yang memelihara ilmu, hafal dia ilmu. Sehingga datanglah seorang penuntut ilmu yang membutuhkan ilmu, yang sangat haus dengan ilmu. Dia ambillah ilmu itu dari orang tadi, yang mana yang datang itu adalah orang yang dapat memberikan manfaat untuk dirinya dan orang lain, sehingga dia mengambil ilmu dari orang yang jenis kedua ini. Dia bisa mengambil manfaat dan orang yang menuntut ilmu tadi juga bisa memberikan manfaat kepada orang lain). Jadi yang nomor dua, dia hanya penjaga ilmu saja tapi tidak bermanfaat terhadap dirinya.
وَالثَّالِثُ نَوْعُ أَرْضٍ سِبَاخٍ الَّتِي لَا تُنْبِتُ وَنَحْوُهَا (Jenis ketiga dari tanah adalah tanah yang gersang yang tidak bisa menumbuhkan tanaman). فَهِيَ لَا تَنْتَفِعُ بِالْمَاءِ (Tanah ini tidak bisa mengambil manfaat dari hujan, dari air). وَلَا تُمْسِكُهُ لِيَنْتَفِعَ بِهِ غَيْرُهَا (Dia tidak bisa menahan air sehingga yang lain bisa mengambil manfaat).
وَكَذَلِكَ الثَّالِثُ مِنَ النَّاسِ (Begitu juga jenis yang ketiga dari manusia). لَيْسَتْ لَهُمْ قُلُوبٌ حَافِظَةٌ (Mereka tidak punya hati yang bisa menghafal ilmu). وَلَا أَفْهَامٌ وَاعِيَةٌ (Mereka juga tidak memiliki pemahaman yang bisa memahami ilmu). فَإِذَا سَمِعُوا الْعِلْمَ لَا يَنْتَفِعُونَ بِهِ (Apabila mereka mendengar ilmu, mereka tidak mengambil manfaat dari ilmu itu). Mengabaikannya begitu saja. وَلَا يَحْفَظُونَهُ (Dia tidak juga menghafalnya) لِيَنْفَعَ غَيْرُهُ (agar orang lain bisa mengambil manfaat). Ternyata tidak. Diberi ilmu atau tidak diberi ilmu sama saja, karena tidak bermanfaat pada dirinya dan dia tidak juga bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Karena (ibarat) masuk dari telinga kanan, keluar dari telinga kiri, tidak memberikan bekas sama sekali.
Kalau yang kedua, masuk (ilmunya), tersimpan. Tapi untuk dirinya sendiri tidak memberikan manfaat, walaupun dia bisa memberikan ilmu kepada orang lain. Adapun yang pertama, ilmu itu masuk ke telinganya, tersimpan di hatinya, diamalkan dengan anggota tubuhnya.
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنْوَاعٌ مِنَ الْعِلْمِ (Di dalam hadis ini banyak sekali ilmu yang di dalamnya ya kalau dikupas). مِنْهَا ضَرْبُ الْأَمْثَالِ (Di antaranya memberikan perumpamaan). Boleh kita di dalam memberikan pendekatan pemahaman dengan memberikan permisalan-permisalan, perumpamaan-perumpamaan. Al-Qur’an dan hadis banyak sekali itu, dalam rangka memberikan pendekatan pemahaman kepada manusia.
وَمِنْهَا فَضْلُ الْعِلْمِ وَالتَّعْلِيمِ (Di antara faedah dari hadis di atas adalah keutamaan ilmu dan keutamaan mengajarkan ilmu). Yang ketiga, faedah yang lain adalah وَشِدَّةُ الْحَثِّ عَلَيْهِمَا (Dorongan yang kuat atas ilmu dan mengajarkan). وَذَمُّ الْإِعْرَاضِ عَنِ الْعِلْمِ (Terdapat celaan terhadap orang yang berpaling dari ilmu). Tidak mau belajar, diajak tidak mau, segan, mengatakan tidak mau, bilang ada alasan, ada pekerjaan. وَاللَّهُ أَعْلَمُ (Allah yang lebih mengetahui).
Dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ (Siapa yang Allah inginkan kebaikan pada orang itu, Allah berikan kepadanya pemahaman terhadap agama).
Kalau seandainya sudah tergugah hati kita untuk memahami agama, maka ini adalah indikator Allah menginginkan kebaikan pada kita. Pemahaman agama adalah dengan cara di antaranya menghadiri majelis ilmu. Kita catat apa yang faedah pagi ini kita ambil, faedah dua. Kalau setiap hari faedahnya dua, berarti satu (pekan) kita kajiannya empat kali dalam sepekan. Sudah berapa faedahnya? (Delapan) faedah. [Koreksi hitungan: 4×2=8, bukan 12]. Dikalikan dengan 4 (pekan) sudah (32) faedah. Kalau seandainya setiap kajian itu kita ambil saja faedahnya tiga saja misalnya, itu luar biasa. Lalu faedah yang bisa kita catat tadi kita amalkan. Di samping itu juga kita ajarkan.
Nah, inilah jenis dari orang yang (jika) diberikan perumpamaan tadi adalah tanah yang pertama, yang dia ketika turun hujan dia bisa menyerap, dia bisa menjadi subur, dan dia bisa menumbuhkan tanaman.
Bagian yang kedua masih mending juga. Dia datang menuntut ilmu, ilmunya bisa dia simpan. Dia bisa memberikan kepada yang lain, tapi pada dirinya tidak memberikan manfaat, rugi. Tapi masih mending.
Yang ketiga, tanah gersang. Tanah gersang yang tidak bisa menahan air, tidak bisa menumbuhkan tanaman. Begitu juga dengan hati yang gersang. Hati yang gersang yang mana dia tidak menerima petunjuk yang datang kepadanya. Dan dia juga tidak bisa mengajarkan. فَاقِدُ الشَّيْءِ لَا يُعْطِيهِ (Orang yang tidak memiliki sesuatu, dia tidak bisa memberi). Orang yang bagaimana dia akan mengajarkan kalau seandainya dia belum berilmu?
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan kita dari golongan yang pertama, yaitu orang yang bermanfaat dengan petunjuk dan ilmu yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bermanfaat untuk dirinya sendiri dan bermanfaat kepada orang lain.
وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.
Demikian yang dapat kita sampaikan. Semoga bermanfaat.
صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
