Syarah Shahih Muslim: Bab – Keringat Nabiﷺ Saat Menerima Wahyu

KAJIAN SAHIH MUSLIM: BAB KERINGAT NABI SAAT MENERIMA WAHYU
اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ سَهْلًا، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ
Kaum muslimin dan muslimat rahimani warahimakumullah.
Kembali kita melanjutkan kajian kita, pelajaran kita dari Sahih Muslim, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan-Keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
بَابُ عَرَقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْبَرْدِ وَحِينَ يَأْتِيهِ الْوَحْيُ
(Bab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Berkeringat Pada Waktu Dingin Ketika Wahyu Datang Kepadanya).
Hadis Pertama: Keringat Nabi Saat Menerima Wahyu di Musim Dingin
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا قَالَتْ:
إِنْ كَانَ لَيُنْزَلُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْغَدَاةِ الْبَارِدَةِ، ثُمَّ تَفِيضُ جَبْهَتُهُ عَرَقًا
Dengan sanadnya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha dia mengatakan: “Jika diturunkan wahyu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu subuh yang dingin, maka setelah itu biasa dahi beliau mengucurkan keringat.”
Hadis Kedua: Cara Datangnya Wahyu
وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ… عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا:
أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ؟
Dengan sanadnya kepada Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha, bahwasanya Harits bin Hisyam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bagaimana wahyu datang kepadamu?” Yakni bagaimana caranya? Seperti apa keadaannya?
فَقَالَ: أَحْيَانًا يَأْتِينِي فِي مِثْلِ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، ثُمَّ يَفْصِمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُهُ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng, dan keadaan seperti itu adalah yang paling berat bagiku. Kemudian malaikat menghilangkan dariku (yakni bunyi tadi), dan aku telah memahami apa yang disampaikan. Dan terkadang wahyu itu datang dibawa oleh malaikat yang menjelma dalam bentuk manusia. Dia menyampaikan wahyu dan aku paham apa yang disampaikannya.”
Hadis Ketiga: Kegelisahan Nabi Saat Menerima Wahyu
وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى… عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ:
كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ كُرِبَ لِذَلِكَ وَتَرَبَّدَ وَجْهُهُ
Dengan sanadnya kepada Ubadah bin Shamit radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dia mengatakan: “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila turun kepadanya wahyu, maka beliau tampak gelisah dan wajah beliau menjadi pucat.”
Hadis Keempat: Menundukkan Kepala Saat Wahyu Turun
وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ… عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ نَكَسَ رَأْسَهُ وَنَكَّسَ أَصْحَابُهُ رُءُوسَهُمْ، فَلَمَّا أُتْلِيَ عَنْهُ رَفَعَ رَأْسَهُ
Dengan sanad kepada Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu: “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila wahyu diturunkan kepada beliau, beliau menundukkan kepalanya. Para sahabat pun menundukkan kepalanya. Jika wahyu telah diangkat, maka beliau pun mengangkat kepalanya.”
Penjelasan (Syarah) Imam Nawawi
Imam Nawawi menjelaskan tentang hadis-hadis di atas, terutama hadis yang pertama. Bagaimana datangnya wahyu?
أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ (Terkadang datang wahyu itu bagaikan gemerincing lonceng).
وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ (Dan itu sangat berat bagiku).
ثُمَّ يَفْصِمُ عَنِّي (Kemudian berhenti bunyi itu).
وَقَدْ وَعَيْتُهُ (Dan aku telah paham apa yang disampaikan).
وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ (Terkadang malaikat menjelma bentuk manusia laki-laki, lalu aku memahami apa yang diucapkan).
قَالَ: أَمَّا الْأَحْيَانُ (Adapun ahyan / kadang-kadang), yakni فَالْأَزْمَانُ (maksudnya pada waktu-waktu tertentu). Yakni bisa juga diartikan sekali-kali begini, sekali-sekali begitu. وَالْقَلِيلُ (sedikit) itu ungkapan tentang zaman, tentang waktu yang bisa diungkapkan terkadang kejadian itu adalah sedikit atau banyak juga bisa disebutkan ahyan.
وَأَمَّا الصَّلْصَلَةُ (Adapun shalsalah), فَهِيَ الصَّوْتُ الْمُتَدَارِكُ (yaitu suara yang bertubi-tubi). Kalau kita kerincing, kita beginikan lonceng ya, dan suaranya satu sama lainnya saling berebut.
Al-Khaththabi mengatakan: أَنَّهُ صَوْتٌ مُتَدَارِكٌ يَسْمَعُهُ وَلَا يَثْبُتُهُ أَوَّلَ مَا يَقْرَعُ سَمْعَهُ حَتَّى يَفْهَمَهُ مِنْ بَعْدُ
(Dialah suara yang bertubi-tubi yang dia dengar. Pada awal beliau tidak mengetahui dari mana datang suara gemerincing lonceng yang mengganggu pendengaran beliau tersebut. Beberapa kemudian, barulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memahami bahwa itu pertanda datangnya wahyu).
Jadi datang saja suara. Lalu setelah berhenti suara itu, baru Nabi paham apa yang diturunkan.
قَالَ الْعُلَمَاءُ: وَالْحِكْمَةُ فِي ذَلِكَ أَنْ يَجْمَعَ قَلْبَهُ (Ulama mengatakan: Hikmah dari hal tersebut adalah agar terkumpul hatinya/konsentrasinya). Jadi suara tadi awal dia terdengar dia tidak paham, tapi setelah selesai baru dia paham apa yang disampaikan. Dan pemahaman itu baru bisa didapatkannya setelah suara tadi berhenti.
قَالَ الْخَطَّابِيُّ وَقَالَ الْعُلَمَاءُ: الْفَصْمُ هُوَ الْقَطْعُ مِنْ غَيْرِ إِبَانَةٍ
(Al-Khaththabi dan ulama mengatakan: Al-Fashm itu berhenti/terpotong tanpa terpisah).
وَأَمَّا الْقَصْمُ بِالْقَافِ فَهُوَ الْقَطْعُ بِإِبَانَةٍ (Adapun al-qashm dengan qaf, yaitu memotong yang berpisah).
وَالْحَدِيثُ أَنَّ الْمَلَكَ يُفَارِقُهُ لِيَعُودَ
(Maknanya dalam hadis adalah malaikat berpisah untuk kembali, berhenti untuk kembali, bukan berpisah perpisahan yang dia tidak kembali). Itu maknanya.
قَالَ الْعُلَمَاءُ: ذَكَرَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ حَالَيْنِ مِنْ أَحْوَالِ الْوَحْيِ
(Ulama mengatakan: Di dalam hadis ini disebutkan dua kondisi dari kondisi-kondisi turunnya wahyu).
- مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ (Dengan gemerincing seperti suara lonceng).
- تَمَثُّلَ الْمَلَكِ رَجُلًا (Menjelmanya malaikat seperti laki-laki).
وَلَمْ يُذْكَرِ الرُّؤْيَا فِي النَّوْمِ وَهِيَ مِنَ الْوَحْيِ أَيْضًا
(Tidak disebutkan mimpi di dalam tidur, padahal itu adalah bagian dari wahyu juga).
لِأَنَّ الْمَقْصُودَ سُؤَالُ الْبَيَانِ عَمَّا يَخُصُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(Kenapa dua itu disebutkan? Karena maksud dari yang bertanya adalah meminta keterangan yang itu khusus untuk Nabi. Yakni turunnya wahyu kepada beliau dengan cara yang khusus).
وَخَفِيَ عَلَى غَيْرِهِ فَلَا يَعْرِفُهُ (Jadi dia tidak mengetahui kecuali informasi itu datang dari Nabi). Adapun mimpi, ya semuanya paham kalau bagaimana mimpi. Jadi yang bertanya itu dia menanyakan tentang bagaimana turun wahyu yang lebih khusus kepada Nabi. Kalau tidak, ada beberapa (lebih dari dua cara turunnya wahyu).
Kemudian dalam hadis dikatakan bahwa apabila turun wahyu kepada Nabi:
كُرِبَ لِذَلِكَ (Menjadikan Nabi gelisah).
وَتَرَبَّدَ وَجْهُهُ (Dan wajah beliau menjadi pucat).
يَعْنِي تَغَيَّرَ وَصَارَ كَلَوْنِ الرَّمَادِ
(Yakni tarabbada maknanya berubah dan menjadi seperti warna abu-abu / pucat).



