0%
Kembali ke Blog Syarah Shahih Muslim: Bab – Kasih Sayang Nabi ﷺ terhadap Umatnya

Syarah Shahih Muslim: Bab – Kasih Sayang Nabi ﷺ terhadap Umatnya

30/10/2025 176 kali dilihat 4 mnt baca

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ. Kita masuk pada bab yang baru, yaitu:

Bab Kasih Sayang Nabi ﷺ terhadap Umatnya dan Kepedulian Beliau yang Sangat Tinggi dalam Memperingatkan Mereka dari Hal-hal yang Membahayakan

Hadis Pertama: Perumpamaan Nabi ﷺ sebagai Pemberi Peringatan

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ, dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ beliau bersabda:

“Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan apa yang Allah utus aku dengannya (kebenaran), adalah seperti seorang laki-laki yang mendatangi kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah melihat pasukan musuh dengan kedua mataku sendiri. Dan sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang tidak berpakaian (an-nadzirul ‘uryan). Maka, carilah keselamatan!’

Sebagian dari kaumnya menaatinya, lalu mereka berangkat di malam hari dengan tenang (tidak terburu-buru). Namun, sebagian yang lain mendustakannya dan tetap tinggal di tempat mereka hingga pagi hari. Maka, pada pagi harinya, pasukan musuh menyerbu, memusnahkan, dan membantai mereka semua.

Maka, demikianlah perumpamaan orang yang menaatiku dan mengikuti apa yang aku bawa, dan perumpamaan orang yang durhaka kepadaku serta mendustakan kebenaran yang aku bawa.”

Penjelasan Hadis:

Dalam hadis ini, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memberikan perumpamaan tentang dirinya dan risalah yang beliau bawa. Beliau diumpamakan seperti seorang pengintai yang melihat bahaya (pasukan musuh) secara langsung dan segera memberikan peringatan kepada kaumnya untuk menyelamatkan diri. Risalah Islam yang beliau bawa adalah peringatan dan jalan keselamatan bagi umat manusia di dunia dan akhirat.

  • Makna “An-Nadzirul ‘Uryan”Istilah ini, menurut para ulama, berasal dari kebiasaan orang Arab kuno. Jika seorang pengintai melihat bahaya yang sangat genting dari kejauhan, ia akan melepaskan pakaiannya dan melambai-lambaikannya sebagai isyarat darurat agar segera terlihat oleh kaumnya. Tindakan ini dilakukan untuk menarik perhatian secara maksimal dan menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang datang.
  • Dua Golongan Manusia:Sikap kaum terhadap peringatan tersebut terbagi menjadi dua, yang merepresentasikan sikap umat manusia terhadap dakwah Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
    1. Golongan yang Taat: Mereka yang membenarkan risalah Nabi, mengikuti petunjuknya, dan mempersiapkan diri untuk akhirat. Mereka akan selamat.
    2. Golongan yang Mendustakan: Mereka yang menolak kebenaran, mengabaikan peringatan, dan tetap berada dalam kelalaian. Mereka akan binasa, sebagaimana kaum yang diserbu musuh di pagi hari.

Hadis Kedua: Perumpamaan Nabi ﷺ yang Menyelamatkan Umatnya dari Api

Dalam beberapa riwayat dari Abu Hurairah dan Jabir رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda dengan makna yang serupa:

“Perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah seperti seorang laki-laki yang menyalakan api. Ketika api itu menerangi sekitarnya, mulailah laron, kupu-kupu, dan binatang-binatang kecil lainnya berdatangan dan menjatuhkan diri ke dalam api tersebut. Orang itu pun berusaha menghalangi dan mengusir mereka, namun binatang-binatang itu terus saja menerobos masuk.

Maka, demikianlah perumpamaanku dengan kalian. Aku memegang erat ikat pinggang kalian untuk menjauhkan kalian dari api (neraka) seraya berkata, ‘Menjauhlah dari api! Menjauhlah dari api!’ Namun, kalian mengalahkanku dan terus saja menceburkan diri ke dalamnya.”

Penjelasan Hadis:

Hadis ini menggambarkan betapa besar kasih sayang dan kepedulian Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk menyelamatkan umatnya dari neraka.

  • Api sebagai Perumpamaan Neraka: Api yang dinyalakan di dunia menjadi perumpamaan bagi api neraka di akhirat.
  • Binatang Kecil sebagai Perumpamaan Manusia Jahil: Laron dan kupu-kupu yang tertarik pada cahaya api—tanpa menyadari bahaya yang mematikan di dalamnya—adalah perumpamaan bagi orang-orang jahil yang terjerumus dalam maksiat dan syahwat. Mereka menganggapnya sebagai kenikmatan, padahal hal itu akan menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan.
  • Nabi sebagai Penyelamat: Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan sekuat tenaga, melalui peringatan dan ajaran-ajarannya, berusaha menahan umatnya agar tidak terjerumus ke dalam neraka. Namun, banyak manusia yang tetap mengikuti hawa nafsunya.

Penyebab Kebinasaan Manusia

Kehancuran manusia disebabkan oleh dua faktor utama:

  1. Syahwat: Keinginan hawa nafsu yang tidak terkendali, yang membuat seseorang menganggap keburukan sebagai kebaikan.
  2. Syubhat: Kerancuan atau kesamaran dalam berpikir, yang membuat seseorang tidak mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Ketika syubhat ini bertemu dengan syahwat, maka kebatilan akan tampak sebagai sebuah kebenaran.

Kesalahan manusia pada dasarnya muncul dari dua hal: salah dalam memahami (akibat kebodohan atau syubhat) atau salah dalam niat (akibat hawa nafsu).

Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ menjauhkan kita dari segala hal yang dapat menjerumuskan kita ke dalam api neraka dan semoga Dia memperkuat iman kita. Oleh karena itu, hendaknya kita sering berdoa:

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai suatu kebenaran dan anugerahkanlah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan perlihatkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai suatu kebatilan dan anugerahkanlah kami kekuatan untuk menjauhinya.”

Tanpa taufik dan pertolongan dari Allah, kita tidak akan mampu melakukan apa-apa, termasuk dalam beribadah. Maka, marilah kita senantiasa memohon bantuan-Nya dengan doa:

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ mengabulkan doa-doa kita.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


176