0%
Kembali ke Blog Syarah Shahih Al- Bukhari : Makna Islam 02

Syarah Shahih Al- Bukhari : Makna Islam 02

12/01/2025 102 kali dilihat 6 mnt baca

Dari Abdullah bin ‘Amr, bahwasanya ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Islam manakah yang lebih baik?” Beliau menjawab, “تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ” (Engkau memberi makan, dan engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal).

Di dalam Fathul Bari, disebutkan ada tambahan dalam riwayat lain: “إِفْشَاءُ السَّلَامِ مِنَ الْإِسْلَامِ” (Menebarkan salam adalah bagian dari Islam). Menebarkan salam maksudnya adalah secara diam-diam dan terang-terangan, kepada orang yang engkau kenal dan yang belum engkau kenal. Ini adalah penjelasan bahwa amalan ini merupakan bagian dari Islam.

Telah berlalu di dalam bab “إِطْعَامُ الطَّعَامِ مِنَ الْإِسْلَامِ” (Memberikan makanan bagian dari Islam), bahwa makna dari “أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ” adalah sifat-sifat atau amalan-amalan Islam apa yang paling baik. Sebelumnya, dalam bab “أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ“, Rasulullah menjawab, “الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ” (Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya).

Antara kedua hadis ini ada keserasian. Islam yang paling afdal adalah menjadikan kaum muslimin selamat dari lisan dan tangan. Islam yang baik adalah yang membagikan makanan dan menebarkan salam. Keduanya saling berhubungan, karena memberi makan menunjukkan selamatnya tangan (dari mengganggu), dan menebarkan salam menunjukkan selamatnya lisan. Seseorang tidak akan mau memberi makan orang lain kecuali karena dia adalah orang baik yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan tangan dan lisannya.

Imam Al-Bukhari mencantumkan hadis yang sama di dalam bab yang berbeda. Ini merupakan ciri khas beliau untuk memvariasikan faedah dan kesimpulan. Di sini, beliau ingin menyebutkan bahwa menebarkan salam adalah bagian dari Islam. Islam adalah agama yang damai, dan salam yang diucapkan adalah doa keselamatan. Ini menunjukkan bahwa menebarkan keselamatan adalah ciri-ciri dari Islam. Kita yang sudah mengaji hendaknya menjadi orang yang lebih dahulu melaksanakan penebaran salam, baik kepada kawan pengajian maupun yang belum kita kenal, selama ia seorang muslim.

Bahkan, ciri-ciri akhir zaman adalah orang hanya menyampaikan salam kepada orang yang ia kenal saja.


Tiga Pilar Keimanan

Imam Bukhari mencantumkan perkataan ‘Ammar bin Yasir, beliau mengatakan: “ثَلَاثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ الْإِيمَانَ” (Ada tiga hal, siapa yang telah menggabungkannya, maka sungguh dia telah menggabungkan iman). Artinya, ia telah menyempurnakan iman, karena iman berporos pada tiga hal ini:

1. Al-Inshaf min Nafsik (Jujur dan Sportif Terhadap Diri Sendiri)

Seorang hamba yang memiliki sifat inshaf (sportif) pada dirinya, maka tidak ada satu pun kewajiban kepada Allah kecuali dia tunaikan, dan tidak ada satu pun larangan dari Allah kecuali dia tinggalkan. Ini mengumpulkan seluruh rukun iman. Orang yang sportif terhadap dirinya sadar akan kewajiban yang harus ia tunaikan, maka ia akan mengerjakannya sebelum dituntut. Inilah hakikat takwa: menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

2. Badzlus Salam lil ‘Alam (Memberikan Salam Kepada Semua)

Maksud dari al-‘alam di sini adalah semua manusia (yang muslim). Menebarkan salam terkandung di dalamnya akhlak mulia, rendah hati, dan tidak meremehkan orang lain. Ketika seseorang menebarkan salam kepada semua orang, baik yang dikenal maupun tidak, ini menunjukkan hatinya bersih dan tidak ada masalah dengan orang lain.

Menurut Ibnu Mubarak, akhlak mulia adalah بَسْطُ الْوَجْهِ (wajah yang ramah), وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ (memberikan kebaikan), dan وَكَفُّ الْأَذَى (tidak menyakiti orang lain). Semua ini terkandung dalam salam. Dengan salam, terwujudlah kedekatan hati (ta’aluf) dan rasa saling mencintai (tahabbub). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ” (Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amalan yang jika kalian kerjakan, kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian).

3. Al-Infaq minal Iqtar (Berinfak Saat Membutuhkan)

Memberi pada saat kita butuh adalah bagian dari iman. Perbuatan ini mengandung puncak kemurahan hati. Karena apabila dia berinfak pada saat dia butuh, maka barang tentu pada saat memiliki kelapangan, dia akan lebih banyak berinfak. Infak di sini lebih umum daripada nafkah kepada keluarga yang hukumnya wajib.

Berinfak pada saat membutuhkan juga memunculkan rasa kepercayaan kepada Allah, keyakinan bahwa Allah akan mengganti dan mencukupinya. Di dalamnya juga terdapat sikap zuhud, memendekkan angan-angan, dan hal-hal penting lainnya terkait akhirat. Allah berfirman: “وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ” (Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan). Allah juga berfirman: “الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ” (Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit).

Dalam sebuah hadis disebutkan, ada tiga orang bersedekah:

  • Orang pertama punya 1.000 dirham, bersedekah 100 dirham (10%).
  • Orang kedua punya 100 dirham, bersedekah 10 dirham (10%).
  • Orang ketiga punya 10 dirham, bersedekah 1 dirham (10%).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalian di dalam pahalanya sama.” Berarti pahala tidak dilihat dari nominalnya, tapi dari persentasenya, karena persentase itu berkaitan dengan kebutuhan dan kondisi hatinya. Yang dijadikan nilai adalah apa yang tersisa setelah bersedekah.

Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ” (Satu dirham telah mendahului seratus ribu dirham). Para sahabat bertanya bagaimana bisa. Beliau menjelaskan, seseorang yang memiliki dua dirham lalu menyedekahkan yang terbaiknya (satu dirham), lebih utama daripada orang yang memiliki harta melimpah lalu menyedekahkan seratus ribu dirham dari hartanya tersebut.

Jadi, jika kita ingin dapat pahala yang banyak, lihatlah persentase yang tersisa. Semakin minim yang tersisa, semakin banyak pahalanya di sisi Allah.


Tanya Jawab

  • Bagaimana salam kepada non-muslim?Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ” (Janganlah kalian memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani). Jika mereka yang memulai salam, cara menjawabnya ada perbedaan pendapat. Pendapat terkuat: jika ucapan salamnya jelas “Assalamu’alaikum”, maka jawab dengan “Wa’alaikumussalam”. Jika tidak jelas (seperti ucapan Yahudi “As-saamu ‘alaik” yang berarti “kematian atasmu”), cukup jawab dengan “Wa’alaikum” (atasmu juga). Jika kita berpidato di hadapan hadirin muslim dan non-muslim, cukup ucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” ditujukan untuk kaum muslimin. Jika hadirin semuanya non-muslim, ucapkan “السَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى” (Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk).
  • Bolehkah memindahkan kuburan?Jumhur fuqaha berpendapat haram hukumnya membongkar kuburan untuk memindahkan mayat, kecuali karena sebab yang syar’i. Misalnya, dikuburkan tidak menghadap kiblat, di tanah rampasan, atau tanpa dimandikan. Memindahkannya hanya karena alasan ziarah lebih mudah tidak diperbolehkan. Ziarah bertujuan untuk mendoakan (bisa dari mana saja) dan mengingat kematian.
  • Apakah keluarga wajib menjaga kuburan?Menjaga dan merawatnya adalah sebagai bentuk penghormatan, seperti memagari agar tidak diinjak-injak atau dimasuki hewan, dan membersihkannya bila perlu. Namun, tidak boleh ditembok atau dibangun di atasnya.
  • Apakah harus melepas sandal di area kuburan?Sunahnya adalah melepas sandal, berdasarkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seseorang yang memakai sandal di kuburan. Namun, jika diperlukan karena kondisi yang membahayakan (misalnya tanah yang panas, banyak duri atau pecahan kaca), maka boleh tetap memakai sandal.
  • Bagaimana jika ada ustadz/ustazah yang sombong dan jarang menebarkan salam?Ini adalah nasihat untuk kita semua, terutama di lingkungan lembaga pendidikan, untuk menginstruksikan para guru agar menyebarkan salam. Insyaallah, banyak masalah akan selesai dengan menebarkan salam.
  • Bagaimana jika orang yang masuk rumah tidak terdengar mengucapkan salam?Bagi yang datang, hendaklah mengucapkan salam dengan suara yang terdengar oleh orang di dalam (namun tidak mengganggu). Bagi yang di dalam, jika tidak mendengar salam, maka tidak ada kewajiban menjawab.
  • Adakah tips bagi orang pendiam (introvert) yang segan mengucapkan salam?Caranya adalah dengan mengingat besarnya pahala menebarkan salam. Ini adalah tanda keimanan, penebar doa, dan kunci untuk saling mencintai. Diri kita harus kita ubah dan latih. Ucapkan salam dengan jelas agar didengar. Jangan berasumsi, “Orang tidak akan menjawab, nanti dia berdosa.” Kita tetap sebarkan salam sesuai sunah.

102