Syarah Sahih Muslim: Makna di Balik Hadis -Tidak Ada Penyakit Menular
Dalam syariat Islam, terdapat dua hadis sahih dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang sekilas tampak bertentangan mengenai penyakit menular. Memahami kedua hadis ini secara bersamaan adalah kunci untuk menyikapi wabah dengan benar.
Dua Hadis yang Dibahas
- Hadis Pertama (Penafian ‘Adwa): Rasulullah ﷺ bersabda, “لَا عَدْوَى” yang berarti “tidak ada penularan penyakit (yang terjadi dengan sendirinya)”.
- Hadis Kedua (Perintah Menjaga Jarak): Rasulullah ﷺ juga bersabda, “لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ” yang artinya “Janganlah (pemilik unta) membawa unta yang sakit kepada unta yang sehat”.
Bagaimana Memahami Kedua Hadis Ini?
Sebagian orang mungkin bingung; hadis pertama seolah menafikan adanya penyakit menular, sementara hadis kedua justru memerintahkan untuk melakukan tindakan pencegahan. Para ulama telah memberikan penjelasan untuk mengompromikan kedua hadis ini, dan pendapat yang paling benar adalah sebagai berikut:
- Makna Hadis “لَا عَدْوَى”: Hadis ini tidak menafikan adanya penularan penyakit secara mutlak. Namun, hadis ini menolak keyakinan jahiliah yang meyakini bahwa penyakit dapat menular dengan sendirinya, berdasarkan kekuatannya sendiri, tanpa campur tangan dan takdir Allah. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu, termasuk penularan penyakit, hanya dapat terjadi atas izin dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Makna Hadis Larangan Mencampur Unta Sakit dan Sehat: Hadis ini merupakan bimbingan syariat untuk mengambil sebab (ikhtiyar) dan melakukan tindakan kehati-hatian dengan menjauhi hal-hal yang dapat membahayakan. Ini adalah perintah untuk menjaga kesehatan dan tidak sengaja mendekatkan diri pada sumber penyakit, yang juga merupakan bagian dari ajaran agama.
Kesimpulan
Kedua hadis ini tidaklah bertentangan, melainkan saling melengkapi dan mengajarkan keseimbangan sempurna antara akidah dan ikhtiar:
- Seorang muslim wajib meyakini bahwa tidak ada satupun penyakit yang akan menimpanya kecuali atas takdir dan izin Allah. Keyakinan ini menenangkan hati dan menguatkan tawakal.
- Pada saat yang sama, seorang muslim juga diperintahkan untuk melakukan ikhtiar atau usaha pencegahan dengan menghindari sebab-sebab datangnya penyakit, seperti menjaga jarak dari yang sakit. Contoh praktisnya adalah pemisahan pasien dengan penyakit menular seperti TBC untuk melindungi mereka yang sehat.
Dengan demikian, sikap yang benar adalah meyakini takdir Allah sambil tetap menjalankan perintah-Nya untuk menjaga diri dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang disyariatkan.
