Syarah Sahih Muslim: Bab – Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على أمور الدنيا والدين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد. اللهم لا علم لنا إلا ما علمتنا إنك أنت العليم الحكيم. اللهم علمنا ما ينفعنا وانفعنا بما علمتنا وزدنا علما. اللهم إنا نسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا. اللهم لا سهل إلا ما جعلته سهلا وأنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا.
Kaum muslimin dan muslimat, رحمني ورحمكم الله. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa mencurahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Selawat dan salam semoga dianugerahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد.
Kembali kita melanjutkan pelajaran kita dari bab: لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَلَا نَوْءَ وَلَا غُولَ، وَلَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ. Yaitu bab tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada anggapan sial, tidak ada burung hantu, tidak ada bulan Safar, tidak ada bintang yang bisa menurunkan hujan, tidak ada hantu, dan unta yang sakit tidak boleh dikumpulkan kepada unta yang sehat.
Kita sudah mengambil dua makna: لَا عَدْوَى dengan لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ. Yang sudah kita pelajari bahwa لَا عَدْوَى maksudnya adalah menafikan apa yang diyakini oleh orang-orang jahiliyah dahulunya, bahwa penyakit bisa dengan sendirinya menular bukan karena perbuatan dan kehendak Allah. Maka Nabi menafikan keyakinan itu. Karena Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, ketika beliau mengatakan tidak ada penyakit yang menular, lalu seorang Arab Badui berkata, “Wahai Rasulullah, ini kenapa unta yang tadinya sehat-sehat semua, lalu datang unta yang punya penyakit kulit, berkumpul dengan unta-unta yang sehat, sehingga menjadikan semuanya juga tertular penyakit kulit?” Lalu Nabi mengatakan, “فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ؟” “Unta yang pertama tadi siapa yang menularkannya?” Jadi Nabi صلى الله عليه وسلم ingin membantah bahwa tidak ada penyakit yang menular kecuali dengan kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala.
Adapun لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ (pemilik unta yang sakit jangan memasukkan untanya kepada pemilik unta yang sehat), maknanya adalah bimbingan atau arahan untuk menjauhi apa yang memungkinkan terjadinya kemudaratan. Karena takdir itu juga dikaitkan dengan sebab dan akibat.
Jadi kedua lafaz di atas tidaklah bertentangan. Hadis yang pertama menafikan adanya penyakit yang menular dengan sendirinya. Hadis yang kedua memberikan bimbingan bahwa hendaklah waspada atau hati-hati menghindari apa yang memungkinkan terjadinya kemudaratan dengan kehendak dan takdir Allah.
Penjelasan Lafaz “Wala Safara” (Tidak Ada Safar)
Terdapat dua penafsiran utama:
Penafsiran Pertama: Maksudnya adalah menafikan praktik orang-orang jahiliyah dahulu yang mengakhirkan keharaman bulan Muharram kepada bulan Safar. Orang Arab dahulunya meyakini ada 4 bulan haram, tapi mereka mengharamkannya sekehendak hatinya, diundur atau dimajukan. Itu adalah An-Nasi’ yang mereka lakukan dahulu.
Penafsiran Kedua (yang lebih populer): Menafikan anggapan sial (التَّشَاؤُم) dengan bulan Safar. Syekh bin Baz رحمه الله تعالى mengatakan, orang-orang jahiliyah dahulu beranggapan sial dengan bulan Safar, lalu Nabi membatalkan hal itu. Nabi menjelaskan bahwa bulan Safar itu sama dengan bulan-bulan yang lain, tidak ada satu pun di dalamnya yang bisa menyebabkan anggapan sial.
Sebagian masyarakat kita menjadikan bulan Safar ini bulan “basapa”. Apa ini? Bulan pergi mendatangi kuburan yang dikeramatkan dan mereka melakukan safar dalam rangka mencari keberkahan. Kadang-kadang mereka juga berwukuf di sana. Safar yang seperti itu tidak boleh, karena safar yang tujuannya mendekatkan diri kepada selain Allah. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدٍ.” “Tidak boleh melakukan perjalanan (dengan niat ibadah khusus) kecuali kepada tiga masjid.” Kalau kita mau meningkatkan ibadah dan ketakwaan, itu hanya di tiga tempat: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa. Ketiga-tiga masjid ini dibangun oleh para nabi dan memiliki keutamaan khusus. Adapun masjid-masjid yang lain, keutamaannya adalah salat tahiyatul masjid. Masjid Quba keutamaannya sama dengan umrah, Nabi صلى الله عليه وسلم mendatanginya setiap hari Sabtu.
Penafsiran Ketiga (kurang populer): Safar adalah sejenis cacing atau binatang di dalam perut. Mereka meyakini bahwa di dalam lambung itu ada cacing yang beraksi ketika lapar dan terkadang bisa membunuh pemiliknya. Orang Arab dulu memandang penularannya lebih berbahaya daripada penyakit kudis. Tafsir ini benar, dan banyak ulama yang menafsirkannya demikian.
Imam Nawawi menjelaskan, boleh jadi maksud dari وَلَا صَفَرَ mencakup kedua makna tersebut. Jika maknanya adalah cacing perut, maka ia kembali ke makna لَا عَدْوَى (tidak ada penyakit menular dengan sendirinya). Jika maknanya adalah bulan Safar, maka ia kembali ke makna لَا طِيَرَةَ (tidak ada anggapan sial). Kedua keyakinan tersebut adalah batil dan tidak ada dasarnya sama sekali.
Penjelasan Lafaz “Wala Hamah” (Tidak Ada Hamah)
Juga ada dua penafsiran utama:
Penafsiran Pertama: Orang Arab dulu beranggapan sial dengan hamah, yaitu sejenis burung malam yang dikenal, ada yang mengatakan burung hantu. Apabila burung ini hinggap di salah satu rumah mereka, mereka beranggapan ini adalah pertanda yang memberitahukan kematian untuk dirinya atau sebagian dari keluarganya.
Penafsiran Kedua (lebih masyhur): Orang Arab dulu meyakini bahwa hamah adalah jelmaan dari tulang atau ruh si mayat yang berubah menjadi burung yang berterbangan. Ada juga keyakinan bahwa hamah adalah binatang yang keluar dari kepala orang yang terbunuh, tercipta dari darahnya, dan selalu berteriak mencari pembunuhnya untuk balas dendam. Beginilah yang diyakini oleh orang Arab jahiliyah dahulu, lalu dibatalkan oleh syariat.
Semua keyakinan tersebut adalah batil. Nabi صلى الله عليه وسلم memberikan penjelasan tentang kebatilan hal itu dan kesesatan jahiliah pada apa yang mereka yakini.
Penjelasan Lafaz “Wala Naw’a” (Tidak Ada Bintang)
Maksudnya adalah, jangan katakan atau yakini, “Kita diberi hujan ini karena bintang ini.” Bukanlah bintang itu yang menurunkan hujan. Nabi صلى الله عليه وسلم sudah menjelaskan, ada di antara hamba Allah yang di pagi hari beriman dan ada yang kafir. Yang beriman adalah yang mengatakan, “Kita diturunkan hujan karena rahmat Allah.” Yang kafir adalah yang mengatakan, “Kita diturunkan hujan karena bintang ini dan itu.” Yang dibatalkan adalah keyakinan terhadap bintang tersebut.
Penjelasan Lafaz “Wala Ghula” (Tidak Ada Hantu)
Jumhur ulama mengatakan, orang Arab dahulunya beranggapan adanya hantu (ghul) di padang pasir. Mereka meyakini hantu adalah sejenis jin atau setan yang bisa berubah-ubah wujud dalam bentuk yang berbeda-beda, lalu menyesatkan manusia dari jalan dan membinasakan mereka. Nabi صلى الله عليه وسلم membatalkan keyakinan itu.
Ulama lain mengatakan, maksud hadis ini bukanlah menafikan eksistensi hantu, karena hantu itu ada dari jenis jin. Akan tetapi, yang dibatalkan adalah keyakinan jahiliyah tentang kemampuan hantu untuk berubah-ubah wujud, menyesatkan, dan membunuh. Ulama mengatakan, ini maksudnya adalah sa’ali, yaitu penyihir-penyihir dari kalangan jin yang memiliki kemampuan talbis (membuat keraguan) dan takhayyul (membuat ilusi).
Dalam hadis yang lain, Nabi bersabda, “إِذَا تَغَوَّلَتِ الْغِيلَانُ فَبَادِرُوا بِالْأَذَانِ.” “Apabila hantu itu menampakkan dirinya, maka azankanlah.” Karena hantu ini dari setan, dan setan apabila diazankan dia lari terbirit-birit. Ini menunjukkan bahwa yang dinafikan bukanlah keberadaan hantu, tetapi sifat-sifat berlebihan yang diyakini kaum jahiliyah.
Penutup
Hadis ini terdapat dalil yang pasti tentang batalnya perkataan kaum jahiliyah mengenai adanya penularan dengan sendirinya. Keyakinan bahwa penyakit, waktu, binatang, atau makhluk ghaib memiliki kekuatan independen untuk memberi manfaat atau mudarat adalah keyakinan yang batil dan bertentangan dengan tauhid. Semua terjadi atas kehendak dan takdir Allah semata.
Mudah-mudahan apa yang kita pelajari bermanfaat. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
