0%
Kembali ke Blog Syarah Sahih Muslim: Bab tentang Tiyarah (anggapan sial), Al-Fa’l (optimisme), dan hal-hal yang dapat menimbulkan rasa pesimis (Syu’m).

Syarah Sahih Muslim: Bab tentang Tiyarah (anggapan sial), Al-Fa’l (optimisme), dan hal-hal yang dapat menimbulkan rasa pesimis (Syu’m).

20/08/2025 140 kali dilihat 4 mnt baca

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين. اللهم لا علم لنا إلا ما علمتنا إنك أنت العليم الحكيم. اللهم علمنا ما ينفعنا وانفعنا بما علمتنا وزدنا علما. اللهم إنا نسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا. اللهم لا سهل إلا ما جعلته سهلا وأنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا.

Penulis رحمه الله تعالى berkata:

بَابُ الطِّيَرَةِ وَالْفَأْلِ وَمَا يَكُونُ فِيهِ مِنَ الشُّؤْمِ

Bab tentang Tiyarah (anggapan sial), Al-Fa’l (optimisme), dan hal-hal yang dapat menimbulkan rasa pesimis (Syu’m).

Hadis-hadis dalam Bab Ini

Dari Abu Hurairah رضي الله تعالى عنه, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: لَا طِيَرَةَ وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ.” “Tidak ada ramalan nasib sial (tiyarah), dan yang terbaik adalah optimisme (al-fa’l).” Lalu ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu optimisme?” Beliau menjawab, “الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ.” “Optimisme itu adalah ungkapan atau kalimat yang baik yang didengar oleh salah seorang di antaramu.”

Dari Anas bin Malik, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ: الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ، الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ.” “Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada anggapan sial, dan aku suka dengan optimisme, yaitu kalimat yang indah, ungkapan yang baik.”

Dari Abu Hurairah رضي الله تعالى عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “لَا عَدْوَى وَلَا هَامَةَ وَلَا طِيَرَةَ، وَأُحِبُّ الْفَأْلَ الصَّالِحَ.” “Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada Hamah (mitos burung hantu), tidak ada anggapan sial, dan aku menyukai optimisme yang baik.”

Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “الشُّؤْمُ فِي الدَّارِ وَالْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ.” “Kesialan itu ada pada rumah, pada istri, dan pada kuda.” Dalam riwayat lain disebutkan, “إِنْ يَكُنْ مِنَ الشُّؤْمِ شَيْءٌ حَقٌّ فَفِي الْفَرَسِ وَالْمَرْأَةِ وَالدَّارِ.” “Jika kesialan itu benar-benar ada pada sesuatu, maka adanya adalah di kuda, istri, dan rumah.”

Dalam riwayat Jabir bin Abdillah رضي الله تعالى عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ فَفِي الرَّبْعِ وَالْخَادِمِ وَالْفَرَسِ.” “Apabila kesialan itu ada pada sesuatu, maka ada pada rumah, pembantu, dan kuda.”

Penjelasan Makna Tiyarah dan Fa’l

Attiyarah (الطِّيَرَةُ) adalah at-tasya’um (التَّشَاؤُم), yaitu beranggapan sial. Asalnya adalah dari perbuatan orang-orang Jahiliyah yang mengambil ramalan dari arah terbangnya burung atau larinya hewan. Mereka akan mengusir atau mengejutkan seekor rusa atau burung. Jika hewan itu bergerak ke arah kanan, mereka menganggapnya sebagai pertanda baik dan melanjutkan perjalanan atau urusan mereka. Namun, jika hewan itu bergerak ke arah kiri, mereka menganggapnya sebagai pertanda buruk, lalu membatalkan perjalanan dan rencana mereka.

Perbuatan seperti ini seringkali menghalangi mereka dari kemaslahatan dan kebutuhan mereka. Maka syariat menafikannya, membatalkannya, serta melarangnya, dan memberitahukan bahwa anggapan sial ini sama sekali tidak memberikan pengaruh, baik manfaat maupun mudarat. Inilah makna dari sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: لَا طِيَرَةَ.

Dalam hadis yang lain, beliau bersabda: “الطِّيَرَةُ شِرْكٌ.” “Beranggapan sial itu syirik.” Maksudnya, meyakini bahwa hal-hal tersebut bisa mendatangkan manfaat atau mudarat jika mereka melaksanakan konsekuensi dari apa yang mereka yakini, maka itu adalah syirik. Karena mereka telah menjadikan selain Allah memiliki pengaruh dalam perbuatan dan penciptaan.

Adapun al-fa’l (الْفَأْلُ) adalah optimisme. Nabi telah menafsirkannya sebagai kalimat yang baik, yang indah, dan yang elok. Para ulama mengatakan, tiyarah selalu berkaitan dengan anggapan buruk, sedangkan fa’l pada umumnya berkaitan dengan anggapan baik.

Kenapa al-fa’l disukai? Karena apabila seseorang mengharapkan nikmat dan karunia dari Allah, ketika ada sebab untuk mendapatkannya (baik sebab itu kuat atau lemah), maka ia berada di atas kebaikan karena ia mendahulukan harapannya kepada Allah. Berprasangka baik itu sendiri sudah merupakan kebaikan. Sebaliknya, tiyarah mengandung prasangka buruk (سُوءُ الظَّنِّ) kepada Allah dan menerka-nerka datangnya bencana.

Di antara contoh fa’l adalah ketika seseorang menjenguk orang sakit, lalu ia mendengar ada yang memanggil, “Ya Salim!” (Wahai yang selamat/sehat). Atau ketika ia sedang mencari sesuatu, lalu ia mendengar ada yang berkata, “Ya Wajid!” (Wahai yang menemukan). Ucapan-ucapan baik ini dapat menumbuhkan harapan dan rasa optimis di dalam hati.

Penjelasan Makna “Kesialan pada Tiga Hal”

Lalu, bagaimana memahami hadis “الشُّؤْمُ فِي الدَّارِ وَالْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ” (Kesialan itu ada pada rumah, istri, dan kuda)?

Imam Malik dan sekelompok ulama mengatakan hadis ini dipahami sesuai dengan zahirnya. Ini adalah pengecualian dari larangan tiyarah. Maksudnya, jika memang ada kesialan yang nyata, maka itu bisa terjadi pada tiga hal ini, dan ini tidak dilarang untuk diwaspadai. Makna kesialan di sini bukanlah takhayul, melainkan kemudaratan atau ketidaknyamanan yang nyata dan dirasakan langsung. Para ulama menafsirkannya sebagai berikut:

  • Kesialan rumah: Rumahnya sempit, atau memiliki tetangga yang buruk dan suka menyakiti.
  • Kesialan istri: Tidak memberikan keturunan (mandul), lidahnya tajam (suka menyakiti suami), atau perbuatannya menimbulkan kecurigaan.
  • Kesialan kuda (atau kendaraan): Sulit ditunggangi, tidak mau dipakai untuk berperang, atau harganya terlalu mahal.
  • Kesialan pembantu: Akhlaknya jelek, tidak becus bekerja, atau kurang perhatian terhadap tugas yang diberikan (misalnya sering merusak barang).

Maksud hadis ini adalah jika seseorang merasakan ketidaknyamanan dan kemudaratan yang terus-menerus dari salah satu dari hal-hal ini, maka syariat memberikan solusi: فَلْيُفَارِقْهُ (hendaklah ia meninggalkannya). Jika rumahnya yang bermasalah, juallah. Jika kudanya, juallah. Jika istrinya, ceraikanlah. Ini adalah cara untuk melepaskan diri dari sumber kemudaratan tersebut, bukan karena percaya pada takhayul.

Kesimpulannya, ulama membagi hal-hal ini menjadi tiga kategori:

  1. Sesuatu yang tidak menyebabkan mudarat sama sekali (seperti arah terbang burung, angka sial, hari sial). Ini adalah tiyarah yang dilarang keras dan tidak boleh dipercaya.
  2. Sesuatu yang menyebabkan kemudaratan secara umum tapi jarang terjadi (seperti wabah penyakit). Syariat memerintahkan untuk mengambil sebab dan menghindarinya (karantina).
  3. Sesuatu yang menyebabkan kemudaratan secara khusus pada pribadi (rumah yang tidak nyaman, istri yang buruk akhlaknya, kendaraan yang selalu bermasalah). Syariat memperbolehkan untuk meninggalkannya.

والله تعالى أعلم.
Demikian yang dapat kita sampaikan, semoga bermanfaat.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.


140