0%
Kembali ke Blog Syarah Sahih Muslim : Bab – Sihir

Syarah Sahih Muslim : Bab – Sihir

17/07/2025 80 kali dilihat 4 mnt baca

Bab Sihir (Babun as-Sihr)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.

Imam an-Nawawi berkata, قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: بَابٌ السِّحْرُ (Bab tentang Sihir).

Narasi Hadis ‘Aisyah tentang Sihir yang Menimpa Rasulullah ﷺ

Diriwayatkan dengan sanad dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: سَحَرَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهُوْدِيٌّ مِنْ يَهُوْدِ بَنِي زُرَيْقٍ يُقَالُ لَهُ لَبِيْدُ بْنُ الْأَعْصَمِ

“Rasulullah ﷺ pernah disihir oleh seorang Yahudi dari kabilah Bani Zuraiq yang bernama Labid ibn al-A’sham.”

‘Aisyah melanjutkan,

حَتَّى كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ (Sehingga Rasulullah ﷺ membayangkan seolah-olah beliau melakukan sesuatu, padahal beliau tidak melakukannya) . Ini adalah pengaruh dari sihir tersebut.

حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ، دَعَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ دَعَا، ثُمَّ دَعَا (Hingga pada suatu hari atau suatu malam, Rasulullah ﷺ berdoa, kemudian berdoa lagi, kemudian berdoa lagi) . Setelah itu, beliau bersabda,

يَا عَائِشَةُ، أَشَعَرْتِ أَنَّ اللهَ أَفْتَانِي فِيْمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيْهِ؟ (Wahai ‘Aisyah, apakah kamu merasakan bahwa Allah telah memberikan petunjuk kepadaku tentang perkara yang aku tanyakan kepada-Nya?) .

جَاءَنِي رَجُلَانِ، فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ (Datang kepadaku dua orang (malaikat), yang satu duduk di dekat kepalaku dan yang lainnya di dekat kedua kakiku) . Lalu malaikat yang berada di dekat kepala berkata kepada yang di dekat kaki, atau sebaliknya ,

مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ (Apa penyakit orang ini?). Salah satunya menjawab,

مَطْبُوْبٌ (Dia tersihir). Ia bertanya lagi, مَنْ طَبَّهُ؟ (Siapa yang menyihirnya?). Dijawab,

لَبِيْدُ بْنُ الْأَعْصَمِ (Labid bin al-A’sham) .

Malaikat itu bertanya lagi, فِي أَيِّ شَيْءٍ؟ (Pada media apa sihir itu diletakkan?). Dijawab,

فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ (Di dalam sebuah sisir, rambut yang rontok pada sisir itu, dan di dalam kantong mayang kurma jantan) .

فَأَيْنَ هُوَ؟ (Lalu di manakah benda itu berada?). Dijawab,

فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ (Benda itu berada di sumur Dzi Arwan) .

‘Aisyah berkata, kemudian Rasulullah ﷺ mendatangi sumur itu bersama beberapa orang sahabatnya. Setelah kembali, beliau bersabda,

يَا عَائِشَةُ، وَاللهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ، وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُؤُوْسُ الشَّيَاطِيْنِ (Wahai ‘Aisyah, demi Allah, sungguh air sumur itu bagaikan perasan daun inai, dan seakan-akan pohon kurma di sekitarnya bagaikan kepala-kepala setan) .

‘Aisyah lalu bertanya,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَلَا أَحْرَقْتَهُ؟ (Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak membakarnya saja?). Nabi ﷺ menjawab,

لَا، أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِي اللهُ، وَكَرِهْتُ أَنْ أُثِيْرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا (Tidak. Adapun aku, Allah telah menyembuhkanku, dan aku tidak suka menimbulkan keburukan di tengah-tengah manusia) . Beliau tidak ingin membuat kegaduhan.

فَأَمَرْتُ بِهَا فَدُفِنَتْ (Lalu aku memerintahkan agar sumur itu ditimbun/dikubur) .

Validitas dan Hakikat Sihir Menurut Ahlus Sunnah

Hadis ini menjadi salah satu dalil utama mengenai keberadaan sihir. Imam al-Maziri rahimahullah berkata bahwa

مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَجُمْهُوْرِ عُلَمَاءِ الْأُمَّةِ عَلَى إِثْبَاتِ السِّحْرِ (mazhab Ahlus Sunnah dan mayoritas ulama umat ini adalah menetapkan adanya sihir) .

وَأَنَّ لَهُ حَقِيْقَةً كَحَقِيْقَةِ غَيْرِهِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الثَّابِتَةِ (dan bahwasanya sihir memiliki hakikat sebagaimana hakikat benda-benda lain yang ada) , berbeda dengan pandangan mereka yang mengingkarinya.

Orang-orang yang mengingkari sihir meniadakan hakikatnya dan menganggapnya hanya sebagai

خَيَالَاتٍ بَاطِلَةٍ لَا حَقَائِقَ لَهَا (khayalan-khayalan batil yang tidak memiliki hakikat) . Pandangan ini jelas bertentangan dengan Al-Qur’an. Allah SWT telah menyebutkan sihir di dalam kitab-Nya dan mengabarkan bahwa sihir termasuk sesuatu yang bisa dipelajari (

مِمَّا يُتَعَلَّمُ) . Sebagaimana dalam Surah al-Baqarah ayat 102, Allah berfirman bahwa setan-setan mengajarkan sihir kepada manusia (

يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ) . Ayat tersebut juga memberikan isyarat bahwa sihir dapat menyebabkan kekufuran (

مِمَّا يُكْفَرُ بِهِ) dan dapat menimbulkan dampak nyata seperti memisahkan antara suami dan istri (

يُفَرِّقُوْنَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ) . Semua dampak ini tidak mungkin terjadi jika sihir tidak memiliki hakikat dan hanya sebatas khayalan.

Hadis ini juga secara gamblang menyatakan adanya sihir, di mana ada benda-benda sihir yang dikubur lalu kemudian dikeluarkan . Ini semua membatalkan klaim orang-orang yang mengingkari keberadaan sihir.

Menjawab Keraguan terhadap Hadis

Sebagian ahli bidah mengingkari hadis ini dengan alasan bahwa jika Nabi ﷺ bisa terkena sihir, maka hal itu dapat

يَحُطُّ مَنْصِبَ النُّبُوَّةِ وَيُشَكِّكُ فِيْهَا (menjatuhkan martabat kenabian dan menimbulkan keraguan padanya). Mereka beranggapan, jika Nabi saja bisa tersihir, maka kepercayaan terhadap syariat yang beliau bawa bisa goyah.

Klaim ini adalah batil. Dalil-dalil yang qath’i (pasti) telah menunjukkan kebenaran, keabsahan, dan keterpeliharaan (maksum) Nabi ﷺ dalam hal-hal yang berkaitan dengan penyampaian risalah dan wahyu. Namun, untuk urusan-urusan duniawi yang biasa dialami oleh manusia, beliau bisa saja mengalaminya. Pengaruh sihir yang menimpa beliau bersifat duniawi, bukan terkait agamanya. Al-Qadi ‘Iyadh menjelaskan bahwa sihir tersebut hanya berpengaruh pada jasad dan anggota tubuh beliau, bukan pada akal, hati, dan keyakinan beliau (

لَا عَلَى عَقْلِهِ وَقَلْبِهِ وَاعْتِقَادِهِ).

Makna dari “beliau membayangkan seolah-olah mendatangi istrinya” adalah munculnya hasrat dan kemampuan fisik untuk melakukannya, namun ketika beliau mendekati istrinya, pengaruh sihir itu menghalanginya . Ini adalah khayalan pada indra penglihatan, bukan kekeliruan pada akal (

تَخَيُّلٌ بِالْبَصَرِ لَا لَبْسٌ عَلَى الْعَقْلِ) . Dengan demikian, tidak ada celah sedikit pun untuk meragukan risalah beliau akibat kejadian ini.

Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan pengaruh sihir, dan insyaAllah akan dibahas pada pertemuan berikutnya, termasuk pembahasan mengenai hukuman bagi para penyihir.


80