Syarah Sahih Muslim : Bab Keutamaan Cuka sebagai Lauk dan Adab Saat Makan
Kajian Hadis: Keutamaan Cuka sebagai Lauk dan Adab Saat Makan
Pendahuluan
Kajian ini membahas dua hadis yang diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, yang menyoroti keutamaan cuka sebagai lauk-pauk serta adab mulia Rasulullah ﷺ dalam menjamu tamu dan berinteraksi dengan para sahabatnya. Pembahasan ini juga diperkaya dengan komentar dan analisis dari para ulama, khususnya Imam An-Nawawi rahimahullah.
Hadis Pertama: Pujian Nabi ﷺ terhadap Cuka
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari, Rasulullah ﷺ menggandeng tangan Jabir bin Abdillah menuju ke rumah beliau. Ketika pelayan mengeluarkan beberapa potong roti, beliau bertanya apakah ada lauk-pauk (أُدُم). Pelayan menjawab bahwa tidak ada apa-apa kecuali sedikit cuka (خَلّ). Mendengar itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ
“Sesungguhnya cuka adalah sebaik-baik lauk.”
Jabir bin Abdillah berkata, “Semenjak aku mendengar dari Nabi ﷺ tentang ini, aku menyukai cuka.” Perawi hadis ini dari Jabir, yaitu Thalhah bin Nafi’, juga mengatakan, “Semenjak aku mendengar dari Jabir ini, aku mencintai atau menyukai cuka.” Fenomena ini serupa dengan kisah Anas bin Malik yang menjadi menyukai labu (الدُّبَّاء) setelah melihat Nabi ﷺ memakannya.
Komentar dan Analisis Imam An-Nawawi
Imam An-Nawawi dalam penjelasannya terhadap hadis ini menguraikan beberapa faedah penting:
- Keutamaan Cuka: Hadis ini menunjukkan keutamaan cuka dan bahwa cuka termasuk dalam kategori lauk-pauk (أُدُم), yakni sesuatu yang disantap bersama roti atau nasi. Cuka adalah lauk-pauk yang baik dan utama (udumun fādhilun jayyid).
- Anjuran Berbicara Saat Makan: Terdapat anjuran untuk berbincang-bincang pada waktu makan (اِسْتِحْبَابُ الْحَدِيثِ عَلَى الْأَكْلِ). Tujuannya adalah untuk menarik hati dan menunjukkan keramahan kepada orang yang makan bersama (تَأْنِيسًا لِلْآكِلِينَ), agar suasana tidak hening. Tidak ada larangan berbicara saat sedang makan, kecuali saat makanan masih berada di dalam mulut.
- Makna Pujian Nabi ﷺ: Terdapat dua pandangan mengenai makna pujian Nabi ﷺ:
- Pandangan Al-Khattabi: Pujian tersebut adalah untuk makanan yang sederhana, sebagai dorongan untuk membatasi jiwa dari keinginan terhadap makanan yang lezat-lezat dan sulit didapat. Menurut pandangan ini, hadis ini mengajarkan untuk tidak memperturutkan hawa nafsu dalam urusan makan, karena hal tersebut dapat merusak agama dan membuat badan sakit.
- Pandangan Imam An-Nawawi (Pendapat yang Lebih Kuat): Imam An-Nawawi menegaskan bahwa makna yang benar adalah pujian terhadap cuka itu sendiri. Adapun anjuran untuk hidup sederhana dalam makanan dipahami dari kaidah-kaidah umum lainnya. Pendapat ini diperkuat oleh perkataan Jabir yang menjadi cinta kepada cuka setelah mendengar hadis ini, yang menunjukkan bahwa Jabir memahami pujian tersebut ditujukan secara spesifik kepada cuka. Penafsiran seorang perawi terhadap hadis yang ia riwayatkan wajib diterima selama tidak menyelisihi makna zahir hadis tersebut.
Hadis Kedua: Adab Nabi ﷺ dalam Menjamu Tamu
Dalam riwayat lain, Jabir bin Abdillah menceritakan: “Aku duduk di rumahku, lalu Rasulullah ﷺ lewat dan memberi isyarat kepadaku.” Jabir kemudian berdiri mendekati beliau, lalu Nabi ﷺ memegang tangannya dan mereka berjalan hingga sampai ke salah satu rumah istri beliau (حُجْرَة).
- Catatan tentang Hujrah: Hujrah di sini bermakna rumah tersendiri, bukan sekadar kamar. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa sunnah bagi orang yang berpoligami adalah menyediakan satu rumah untuk setiap istri.
Setelah diizinkan masuk, Nabi ﷺ bertanya apakah ada makanan siang. Kemudian dihidangkanlah tiga potong roti. Nabi ﷺ lalu mengambil satu roti dan meletakkannya di hadapan beliau, satu roti lagi di hadapan Jabir, dan roti yang ketiga beliau belah menjadi dua, separuh untuk beliau dan separuh lagi untuk Jabir, sehingga masing-masing mendapatkan satu setengah potong roti. Ketika ditanya lauknya, jawabannya adalah tidak ada kecuali sedikit cuka. Nabi ﷺ pun meminta cuka itu dihidangkan dan bersabda: “Dia adalah sebaik-baik lauk.”
Faedah dan Pelajaran dari Hadis
Dari kedua hadis di atas, dapat diambil beberapa pelajaran dan adab penting:
- Bolehnya seorang laki-laki memegang tangan kawannya saat berjalan bersama.
- Dianjurkan untuk membagikan makanan, seperti roti atau lainnya, di hadapan para tamu secara merata.
- Dianjurkan bagi tuan rumah untuk melayani tamunya secara langsung, seperti dengan meletakkan atau menyendokkan makanan untuk mereka.
- Motivasi untuk mencintai apa yang dicintai dan dipuji oleh Rasulullah ﷺ, sebagai bentuk pengamalan firman Allah dan sunnah Nabi-Nya.
