0%
Kembali ke Blog Syarah Sahih Muslim: Bab – Haramnya Perdukunan dan Mendatangi Para Dukun

Syarah Sahih Muslim: Bab – Haramnya Perdukunan dan Mendatangi Para Dukun

21/08/2025 180 kali dilihat 6 mnt baca

اَللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اَللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. Allahumma la ilma lana illa ma ‘allamtana, innaka antal-‘alimul-hakim. Allahumma ‘allimna ma yanfa’una, wanfa’na bima ‘allamtana, wa zidna ‘ilma. “Ya Allah, tidak ada ilmu bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Ya Allah, ajarkanlah kami apa yang bermanfaat bagi kami, berikanlah kami manfaat dari apa yang telah Engkau ajarkan, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. Allahumma inna nas’aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan. “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.”

اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا. Allahumma la sahla illa ma ja’altahu sahlan, wa anta taj’alul-hazna idza syi’ta sahlan. “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki, menjadi mudah.”

Al-Musanif rahimahullahu ta’ala membawakan:

بَابُ تَحْرِيمِ الْكِهَانَةِ وَإِتْيَانِ الْكُهَّانِ Bab Tahrimil-Kahanati wa Ityanil-Kuhhan “Bab Haramnya Perdukunan dan Mendatangi Para Dukun.”

حَدَّثَنَا أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ الْحَكَمِ السُّلَمِيَّ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أُمُورًا كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ، قَالَ: فَلَا تَأْتُوا الْكُهَّانَ. قَالَ قُلْتُ: وَكُنَّا نَتَطَيَّرُ، قَالَ: ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ. Dengan sanadnya kepada Muawiyah bin Hakam as-Sulami, dia mengatakan, “قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أُمُورًا كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ” (“Wahai Rasulullah, ada beberapa perkara yang dahulu kami lakukan di masa jahiliah.”) “كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ” (“Dulu, kami sering mendatangi para dukun.”)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, “فَلَا تَأْتُوا الْكُهَّانَ” (“Janganlah kalian mendatangi para dukun.”)

Muawiyah bin Hakam as-Sulami melanjutkan, “قُلْتُ: وَكُنَّا نَتَطَيَّرُ” (“Aku mengatakan, ‘Dulu kami juga sering beranggapan sial atau meramal kesialan’.”) Hal ini merujuk pada keyakinan yang timbul ketika melihat sesuatu yang kemudian dianggap sebagai pertanda kesialan.

Nabi menjelaskan, “ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ” (“Itu adalah sesuatu yang dirasakan oleh salah seorang di antara kalian dalam dirinya, maka janganlah hal itu sampai menghalangi kalian.”) Maksudnya, ketika muncul perasaan tidak enak, khayalan, atau terkaan-terkaan, jangan biarkan hal itu menghalangi keinginan atau hajat kita. Sebagai contoh, ketika seseorang keluar rumah dan melihat sesuatu yang dianggap pertanda buruk, lalu muncul di dalam hati keraguan untuk melanjutkan perjalanan, maka perasaan tersebut tidak boleh diikuti. Perasaan tathayyur atau anggapan sial yang terlintas dalam pikiran harus diabaikan dan perjalanan harus dilanjutkan. Seseorang tidak boleh memercayai atau mengikuti firasat tersebut, karena sebagaimana telah dipelajari sebelumnya, ketika anggapan sial itu diikuti, maka itulah yang disebut tathayyur atau thiyarah, dan perbuatan tersebut dapat menjerumuskan kepada kesyirikan.

Dalam jalur riwayat yang lain, dengan sanad kepada Muawiyah:

قَالَ: قُلْتُ: وَمِنَّا رِجَالٌ يَخُطُّونَ، قَالَ: كَانَ نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ يَخُطُّ فَمَنْ وَافَقَ خَطَّهُ فَذَاكَ. Muawiyah berkata, “وَمِنَّا رِجَالٌ يَخُطُّونَ” (“Di antara kami ada orang-orang yang membuat garis (untuk meramal).”) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “كَانَ نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ يَخُطُّ فَمَنْ وَافَقَ خَطَّهُ فَذَاكَ” (“Dahulu ada seorang nabi yang membuat garis (untuk petunjuk). Barang siapa yang garisnya tepat (sesuai dengan garis nabi tersebut), maka itulah (yang benar).”)

وَحَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الْكُهَّانَ يُحَدِّثُونَنَا بِالشَّيْءِ فَنَجِدُهُ حَقًّا، قَالَ: تِلْكَ الْكَلِمَةُ الْحَقُّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقْذِفُهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ وَيَزِيدُ فِيهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ. Dengan sanad kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, “قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الْكُهَّانَ يُحَدِّثُونَنَا بِالشَّيْءِ فَنَجِدُهُ حَقًّا” (“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya para dukun terkadang memberitahukan kami tentang sesuatu, lalu kami mendapatinya benar-benar terjadi.’”)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “تِلْكَ الْكَلِمَةُ الْحَقُّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ” (“Itu adalah kalimat (perkataan) yang benar yang dicuri oleh jin.”) Jin tersebut adalah jin pencuri berita dari langit. “فَيَقْذِفُهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ” (“Lalu ia membisikkannya ke telinga walinya (dukun).”) “وَيَزِيدُ فِيهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ” (“Dan dalam berita yang benar itu, dukun tersebut menambahkan seratus kebohongan.”)

Informasi yang benar tersebut ditambah dengan bumbu-bumbu kebohongan yang lebih banyak. Jin mencuri dengar percakapan para malaikat mengenai wahyu atau perintah Allah SWT, kemudian berita itu disampaikan secara berantai dari langit hingga ke bumi. Pada saat itulah syihab atau meteor dilemparkan untuk menghalangi mereka; bintang-bintang itu berfungsi sebagai pelempar para setan (rujumun lisy-syayathin). Setan yang terkena lemparan tidak akan berhasil menyampaikan beritanya. Namun, dengan hikmah Allah SWT, ada setan yang tidak terkena lemparan, dan merekalah yang berhasil menyampaikan informasi tersebut kepada dukun. Informasi itulah yang kemudian disampaikan oleh dukun setelah ditambah dengan seratus kebohongan.

Jadi, ketika seorang dukun meramalkan sesuatu dan ramalannya terbukti benar, itu memang berasal dari informasi yang didapatkan oleh jin melalui cara mencuri dengar. Akan tetapi, bolehkah kita bertanya kepada dukun? Tentu tidak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “فَلَا تَأْتُوا الْكُهَّانَ” (“Janganlah kalian mendatangi para dukun atau tukang ramal.”)

Dalam riwayat lain dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai para dukun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “لَيْسُوا بِشَيْءٍ” (“Mereka itu tidak ada apa-apanya.”)

Mereka kembali bertanya, “يَا رَسُولَ اللهِ فَإِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ أَحْيَانًا بِالشَّيْءِ يَكُونُ حَقًّا” (“Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka terkadang menceritakan sesuatu yang ternyata benar.”)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنْ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ قَرَّ الدَّجَاجَةِ فَيَخْلِطُونَ فِيهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ” (“Itu adalah kalimat dari kebenaran yang dicuri oleh jin, lalu ia membisikkannya ke telinga walinya seperti suara kotekan ayam, kemudian mereka mencampurkannya dengan lebih dari seratus kedustaan.”)

Dari informasi yang dicuri tersebut, terkadang ada yang dapat ditangkap oleh dukun, namun ia selalu menambahinya dengan kebohongan-kebohongan yang sangat banyak.

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ… عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَّهُمْ بَيْنَمَا هُمْ جُلُوسٌ لَيْلَةً مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُمِيَ بِنَجْمٍ فَاسْتَنَارَ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَاذَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا رُمِيَ بِمِثْلِ هَذَا؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، كُنَّا نَقُولُ وُلِدَ اللَّيْلَةَ رَجُلٌ عَظِيمٌ وَمَاتَ رَجُلٌ عَظِيمٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّهَا لَا يُرْمَى بِهَا لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّ رَبَّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى اسْمُهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا سَبَّحَ حَمَلَةُ الْعَرْشِ… Dengan sanadnya kepada Abdullah bin Abbas, beliau berkata: “أَخْبَرَنِي رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَنْصَارِ” (“Seseorang dari kalangan Anshar, salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, memberitahukan kepadaku.”) “أَنَّهُمْ بَيْنَمَا هُمْ جُلُوسٌ لَيْلَةً مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُمِيَ بِنَجْمٍ فَاسْتَنَارَ” (“Bahwasanya, ketika mereka sedang duduk pada suatu malam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba sebuah bintang jatuh dengan cahaya yang terang.”)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “مَاذَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا رُمِيَ بِمِثْلِ هَذَا؟” (“Apa yang kalian katakan pada zaman jahiliah apabila ada bintang jatuh seperti ini?”) Nabi menanyakan keyakinan yang mereka anut pada masa jahiliah.

Mereka menjawab, “اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ” (“Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”) “كُنَّا نَقُولُ وُلِدَ اللَّيْلَةَ رَجُلٌ عَظِيمٌ وَمَاتَ رَجُلٌ عَظِيمٌ” (“Dulu kami mengatakan, ‘Telah lahir seorang tokoh agung malam ini,’ atau ‘Telah wafat seorang tokoh agung.’”)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, “فَإِنَّهَا لَا يُرْمَى بِهَا لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ” (“Sesungguhnya bintang itu tidak dilemparkan karena kematian atau kehidupan seseorang.”) Bintang jatuh tidak memiliki hubungan dengan kematian atau kehidupan siapa pun. “وَلَكِنَّ رَبَّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى اسْمُهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا سَبَّحَ حَمَلَةُ الْعَرْشِ” (“Akan tetapi, Rabb kita yang Maha Suci dan Maha Tinggi nama-Nya, apabila menetapkan suatu perkara, maka para malaikat pemikul ‘Arsy bertasbih.”)

Kemudian, para malaikat di langit berikutnya ikut bertasbih hingga tasbih itu terdengar sampai ke malaikat di langit dunia. Para malaikat yang berada di dekat pemikul ‘Arsy bertanya kepada mereka, “مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟” (“Apa yang difirmankan oleh Rabb kalian?”) Malaikat pemikul ‘Arsy pun memberitahukan apa yang ditetapkan oleh Allah kepada lapisan malaikat berikutnya. Demikianlah para penduduk langit saling memberitahukan firman Allah tersebut.

“حَتَّى يَبْلُغَ الْخَبَرُ هَذِهِ السَّمَاءَ الدُّنْيَا” (“Hingga berita itu sampai ke langit dunia.”) “فَتَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ” (“Maka, jin pun mencuri dengar informasi tersebut.”) “فَيَقْذِفُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ” (“Kemudian, mereka menyampaikannya kepada wali-wali mereka (yaitu para dukun).”) “وَيُرْمَوْنَ بِهِ” (“Lalu mereka dilempari dengan bintang-bintang itu.”)

“فَمَا جَاءُوا بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فَهُوَ حَقٌّ” (“Apa yang mereka sampaikan sesuai dengan informasi asli (tanpa tambahan), maka itu adalah benar.”) “وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ” (“Akan tetapi, mereka mencampuradukkannya dengan kedustaan dan menambahkan-nambahkannya.”)

Dalam riwayat lain, dari hadis al-Auza’i disebutkan, “وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ” (“Akan tetapi, mereka mencampurnya dengan kedustaan dan menambah-nambahkannya.”) Sementara dalam hadis Yunus redaksinya adalah, “وَلَكِنَّهُمْ يَرْقُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ” (“Akan tetapi, mereka memperbanyak dan menambah-nambahkan di dalamnya.”)

Dalam hadis Yunus juga terdapat tambahan firman Allah: “حَتَّىٰٓ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا۟ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا۟ ٱلْحَقَّ” Hatta idza fuzzi’a ‘an qulubihim qalu madza qala rabbukum, qalul-haqqa. “Sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka (para malaikat), mereka bertanya, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’”

Hadis terakhir: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى الْعَنَزِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ صَفِيَّةَ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً. Dari Shafiyyah, dari salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً” (“Barang siapa mendatangi seorang ‘arraf (peramal atau orang pintar), lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu (seperti barang hilang atau perkara gaib), maka salatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari empat puluh malam.”)

Penjelasan lebih lanjut dari para ulama mengenai hadis-hadis ini akan kita bahas pada pertemuan berikutnya, insyaAllah. Wallahu ta’ala a’lam. Mudah-mudahan bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


180