0%
Kembali ke Blog Rumah yang Dijauhi Malaikat Rahmat.

Rumah yang Dijauhi Malaikat Rahmat.

06/03/2025 96 kali dilihat 4 mnt baca

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kembali kita melanjutkan pembacaan hadis-hadis dari kitab Sahih Muslim dalam Bab haramnya membuat gambar (التَّصْوِير) dan membuat gambar-gambar dari hewan (حَيَوَان), haramnya memiliki sesuatu yang di dalamnya gambar bukan pada tempat yang dihinakan (مُمْتَهَن), dan para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar dan anjing.

Hadits dari Abu Thalhah Al-Anshari:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ أَبِي الْحُبَابِ مَوْلَىٰ بَنِي النَّجَّارِ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ عَنْ أَبِي طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا تَمَاثِيلُ.

(Dengan sanadnya kepada Abi Thalhah Al-Anshari radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dia mengatakan: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing (كَلْبٌ) dan ada patung-patung/gambar (تَمَاثِيلُ).”)

قَالَ فَأَتَيْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقُلْتُ: إِنَّ هَٰذَا يُحَدِّثُنِي أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا تَمَاثِيلُ. فَهَلْ سَمِعْتِ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ ذَكَرَ ذَٰلِكَ؟ فَقَالَتْ: لَا، وَلَٰكِنْ سَأُحَدِّثُكُمْ مَا رَأَيْتُ فَعَلَ.

(Zaid bin Khalid berkata: Lalu aku mendatangi Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha, lalu aku katakan, “Orang ini (Abu Thalhah) memberitahukan kepadaku bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, ‘Malaikat tidak masuk ke dalam rumah di dalamnya ada anjing dan tidak juga patung-patung/gambar.’ Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengucapkan itu?” Aisyah menjawab, “Tidak, tetapi aku akan beritahukan kepadamu apa yang aku lihat beliau lakukan.”)

رَأَيْتُهُ خَرَجَ فِي غَزَاتِهِ فَأَخَذْتُ نَمْرُقَةً فَسَتَرْتُهُ عَلَى الْبَابِ. فَلَمَّا قَدِمَ فَرَأَى النَّمْرُقَةَ عَرَفْتُ الْكَرَاهِيَةَ فِي وَجْهِهِ. فَجَبَذَهُ حَتَّىٰ هَتَكَهُ أَوْ قَطَعَهُ وَقَالَ:‏ إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَأْمُرْنَا أَنْ نَكْسُوَ الْحِجَارَةَ وَالطِّينَ. قَالَتْ فَقَطَعْنَا مِنْهُ وِسَادَتَيْنِ وَحَشَوْتُهُمَا لِيفًا فَلَمْ يَعِبْ ذَٰلِكَ عَلَىَّ.

(Aisyah melanjutkan: Aku melihat beliau keluar dalam salah satu peperangannya (غَزَاتِهِ). Lalu aku mengambil sebuah نَمْرُقَةً (permadani tipis/semacam kasur tipis) dan aku gunakan sebagai tirai penutup pintu (فَسَتَرْتُهُ عَلَى الْبَابِ). Ketika beliau pulang (فَلَمَّا قَدِمَ) dan melihat permadani itu, aku melihat ada ketidaksukaan (الْكَرَاهِيَةَ) di wajahnya. Lalu beliau ﷺ menarik kain itu (فَجَبَذَهُ) sehingga sampai merobeknya atau memotongnya (حَتَّىٰ هَتَكَهُ أَوْ قَطَعَهُ) dan bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk memakaikan kain pada bebatuan dan tanah (dinding) (إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَأْمُرْنَا أَنْ نَكْسُوَ الْحِجَارَةَ وَالطِّينَ).” Aisyah berkata, “Lalu kami pun memotong dari kain itu menjadi dua bantal (وِسَادَتَيْنِ) dan aku isi dengan serabut kurma (لِيفًا). Beliau tidak mencelaku atas perbuatan itu (فَلَمْ يَعِبْ ذَٰلِكَ عَلَىَّ).”)

(Imam Nawawi mengatakan النَّمْرُقَةُ yang dimaksud adalah بِسَاطٌ لَطِيفٌ – permadani yang tipis).

Hadits Lain dari Aisyah:

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ دَاوُدَ عَنْ عَزْرَةَ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَٰنِ عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:‏ كَانَ لَنَا سِتْرٌ فِيهِ تِمْثَالُ طَائِرٍ وَكَانَ الدَّاخِلُ إِذَا دَخَلَهُ اسْتَقْبَلَهُ. فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:‏ حَوِّلِي هَٰذَا، فَإِنِّي كُلَّمَا دَخَلْتُ فَرَأَيْتُهُ ذَكَرْتُ الدُّنْيَا. قَالَتْ:‏ وَكَانَتْ لَنَا قَطِيفَةٌ كُنَّا نَقُولُ عَلَمُهَا حَرِيرٌ فَكُنَّا نَلْبَسُهَا.

(Dari Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha, ia berkata: Dahulu kami memiliki tirai (سِتْرٌ) yang padanya terdapat gambar (تِمْثَالُ) burung (طَائِرٍ). Apabila orang hendak masuk, maka ia pasti melihatnya (اسْتَقْبَلَهُ). Lalu Rasulullah ﷺ berkata kepadaku, “Pindahkan/ubahlah ini (حَوِّلِي هَٰذَا), sebab setiap kali aku masuk aku melihatnya, dan setiap aku melihatnya aku teringat dengan dunia (ذَكَرْتُ الدُّنْيَا).” Aisyah juga mengatakan: Dahulu kami memiliki sepotong kain beludru (قَطِيفَةٌ), dahulu kami katakan hiasannya (عَلَمُهَا) terbuat dari sutra (حَرِيرٌ), dan dahulu kami selalu memakainya.)

Komentar Imam Nawawi tentang Pengecualian إِلَّا رَقْمًا فِي ثَوْبٍ

(Pengecualian “kecuali gambar/corak pada kain” yang ada di riwayat lain): Sebagian ulama menafsirkan ini sebagai gambar hasil tenunan (نَسْج) seperti songket, bukan gambar lukisan. Mereka berpendapat ini boleh. Namun, Mazhab Syafi’i dan Jumhur Ulama (جُمْهُور) memandang bahwa pengecualian itu hanya berlaku jika gambar tersebut berupa شَجَر (pohon) atau مَا لَيْسَ بِرُوحٍ/مَا لَيْسَ بِحَيَوَانٍ (makhluk tidak bernyawa). Gambar makhluk bernyawa tetap haram, baik tenunan, lukisan, maupun cetakan (print), kecuali jika berada pada barang yang dihinakan.

Penjelasan Lebih Lanjut Kisah Tirai Aisyah

Tirai (النَّمْرُقَةُ) yang ditarik oleh Nabi ﷺ hingga robek itu, dalam riwayat lain disebutkan bergambar خَيْلٌ لَهَا أَجْنِحَةٌ (kuda yang memiliki sayap).

Faedah dari Hadits:

  1. Perbuatan Nabi ﷺ menarik tirai bergambar menunjukkan تَغْيِيرُ الْمُنْكَرِ بِالْيَدِ (merubah kemungkaran dengan tangan) bagi yang memiliki kekuasaan, sesuai hadits مَنْ رَأَىٰ مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ. Nabi ﷺ memotong-motong صُوَرُ الْمُحَرَّمَةِ (gambar yang diharamkan).
  2. جَوَازُ اتِّخَاذِ الْوَسَائِدِ (Bolehnya membuat bantal) dari kain tersebut setelah gambarnya dihilangkan/dipotong.
  3. كَرَاهَةُ سَتْرِ الْحِيطَانِ وَالتَّنْجِيدِ لِلْبُيُوتِ (Dimakruhkannya melapisi/menutupi dinding dengan kain). Dasar hukumnya adalah ucapan Nabi ﷺ إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَأْمُرْنَا أَنْ نَكْسُوَ الْحِجَارَةَ وَالطِّينَ. Statusnya كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ (makruh tanzih), bukan تَحْرِيم (haram), menurut jumhur. Meskipun Syekh Abul Fath Nashr Al-Maqdisi menganggapnya haram. Imam Nawawi menjelaskan bahwa ucapan Nabi ﷺ لَمْ يَأْمُرْنَا (Allah tidak memerintahkan kita) menunjukkan perbuatan itu لَيْسَ بِوَاجِبٍ وَلَا مَنْدُوبٍ (bukan wajib dan bukan sunnah), bukan berarti haram. Namun karena diucapkan dalam konteks menghilangkan kemungkaran (gambar), maka perbuatan melapisi dinding itu sendiri menjadi makruh. Jika ada kebutuhan (misal menutupi dinding jelek/bergambar), mungkin dibolehkan.

Penafsiran Hadits Tirai Burung

Adapun hadits Aisyah tentang tirai bergambar burung yang Nabi ﷺ hanya perintahkan untuk dipindahkan (حَوِّلِي هَٰذَا) karena mengingatkan dunia, ditafsirkan bahwa ini terjadi قَبْلَ تَحْرِيمِ التَّصْوِيرِ (sebelum datangnya pengharaman gambar secara tegas). Ketika larangan tegas sudah turun (seperti pada kasus tirai kuda bersayap), Nabi ﷺ memerintahkan untuk dihilangkan/dirobek (فَأَمَرَنِي فَنَزَعْتُهُ).

Kesimpulan tentang Gambar dan Patung:

  • Para malaikat (الْمَلَائِكَةُ) tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada كَلْبٌ (anjing) atau صُوَر (gambar) atau تَمَاثِيلُ (patung makhluk bernyawa). Hindari patung-patung (seperti gajah, Gatotkaca) di rumah atau gerbang.
  • Kain atau benda bergambar makhluk bernyawa, jika diletakkan di tempat yang dihormati (dinding, tirai), hukumnya haram. Jika diletakkan di tempat yang dihinakan (مُمْتَهَن) seperti alas kaki, kasur, bantal (وِسَادَة), maka memilikinya tidak apa-apa, tetapi malaikat rahmat tetap tidak masuk ke rumah tersebut karena keberadaan gambar itu.
  • Gambar mainan anak seperti mobil bermuka (Tayo) atau pensil berwajah tidak termasuk larangan ini.
  • Foto (فوتوغرافيا): Menurut Syekh Ibnu Utsaimin, hukumnya tergantung fungsi. Boleh untuk identitas, bukti, atau keperluan mendesak. Haram jika untuk kenang-kenangan (لِلذِّكْرَىٰ), apalagi jika dipajang di dinding.
  • Foto di HP: Termasuk مُصِيبَة (musibah) zaman sekarang karena sangat mudah. Hukumnya kembali ke fungsi penggunaannya. Jangan bermudah-mudah (تَسَاهُل).

Sikap Terhadap Kemungkaran (Misal Baliho Bergambar):

  • Individu: Jangan ikut-ikutan bermudah-mudah dalam masalah gambar.
  • Jika melihat مُنْكَر (kemungkaran): Ingkari minimal بِالْقَلْبِ (dengan hati). Mengingkari بِالْيَدِ (dengan tangan/kekuasaan) atau بِاللِّسَانِ (dengan lisan) memerlukan اسْتِطَاعَة (kemampuan) dan wewenang.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ. Demikian yang dapat kita sampaikan. Hadits masih panjang, insya Allah ada faedah lain di pertemuan berikutnya.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

96