Menjadi Pekerja Yang Amanah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa mencurahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Selawat beriring salam semoga dianugerahkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepada nabi kita Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.
Bapak Ibu yang dimuliakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, kita bersyukur kepada Allah bahwasanya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengumpulkan kita di Yayasan Luqmanul Hakim ini sebagai pengabdian kita kepada masyarakat dalam rangka beribadah kepada Allah, mencari peluang-peluang pahala, terutama di dalam pendidikan. Di mana dalam pendidikan ini pahalanya luar biasa, pahala yang sangat luar biasa. Dia adalah pahala yang tidak pernah terputus. Dia adalah bagian dari yang dikatakan oleh Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang mendoakannya.”
Kita sekarang ini berada pada tiga titik itu. Kita mengorbankan waktu kita, dan kita mungkin boleh jadi di antara kita mengeluarkan hartanya, sedekah jariah, membelikan bangku, atau ikut membelikan semen, atau ikut membebaskan 1 meter dari tanah. Walaupun kita sebagai pegawai di sini, walaupun kita sebagai guru di sini, itu adalah pahala kita yang akan mengalir insya Allahu taala, karena kita tahu persis bahwa pendidikan yang kita bangun sekarang ini adalah untuk akhirat.
Yang kedua, ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu agama. Ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu yang mengajarkan seseorang untuk membaca Al-Qur’an. Di antara para salaf mengatakan, “Dekatkanlah dirimu kepada Allah semaksimalnya, tidak ada yang paling baik untuk mendekatkan diri kepada Allah melebihi dari firman-Nya.” Kita tahu setiap huruf yang kita baca mendapatkan 10 kali lipat. Kita tahu dengan hadis Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ.
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Kita yang belajar termasuk orang-orang yang terbaik dari antara lain. Kita yang mengajarkan adalah orang-orang yang terbaik daripada orang yang mengajar yang lain.
Kemudian kita juga dalam rangka mendidik generasi, amal yang tidak putus juga adalah وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (anak yang saleh mendoakan orang tuanya). Kita sedang mendidik generasi saleh.
Maka dalam hal ini, kita ingatkan diri kita masing-masing, bagaimana sebenarnya etos kerja seorang pegawai? Bagaimana seorang pegawai menunaikan amanatnya? Apa yang kita presentasikan ini adalah ringkasan atau cuplikan dari kitab Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad tentang كَيْفَ يُؤَدِّي الْمُوَظَّفُ الْأَمَانَةَ (Bagaimana Pegawai Menunaikan Amanat). Karena kita ketika kita berada di lingkungan pendidikan atau berada di lingkungan kerja, ya, kita berada di manapun, baik di Luqmanul Hakim atau di yayasan yang lain pun, kita tidak akan terlepas dari apa yang akan kita sampaikan ini. Bukan mentang-mentang, “Oh, ini karena Luqman Al-Hakim.” Enggak, ini semua pegawai yang merasa dia adalah pegawai, merupakan kontrak kerja dengan lembaga tertentu, dia harus menunaikan hal yang sama.
Asas dalam bekerja. Asas dalam bekerja adalah amanah. Amanah dalam melaksanakan kerja kita. Dalam Surat An-Nisa ayat 58:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا.
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanat-amanat kepada pemilik-pemiliknya.” Yakni, tunaikanlah amanah sesuai yang diembankan kepada kita. Ketika kita kerja, kita kontrak kerja, kita punya kewajiban untuk menunaikan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ.
“Hai orang yang beriman, penuhilah janji.” Di antara janji di dalam bekerja adalah kontrak kerja itu sendiri. Ini adalah tanggung jawab kita di hadapan Allah, kemudian tanggung jawab kita kepada (yang) memberikan amanah kepada kita.
Dan Surat Al-Anfal ayat 27, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
“Hai orang-orang beriman…” Ingat Ibnu Mas’ud, dia mengatakan, “Jika kamu mendengar يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا, maka fokuskan pendengaranmu. Karena setelah يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا, boleh jadi sebuah kebaikan yang paling baik Anda diperintahkan untuk itu, atau keburukan yang akan dilarang.” Di sini ada larangan, لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ. Jangan khianati Allah dan Rasul. Jika seandainya kita mengkhianati Allah dan Rasul, pasti amanat kepercayaan antara kita dengan kita pasti akan terkhianati. Kalau amanat kepada Allah saja tidak tertunaikan, ya, maka amanat kepada manusia lebih mudah untuk diplesetkan, tidak ditunaikan. Maka kita lihat orang-orang yang tidak salat, yang itu adalah amanah dia dengan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, sudah dikhianati, jangan harap ada kepercayaan dengan mereka. Ya, ini dua ayat ini sebagai dasar kita, dan banyak lagi di dalam Al-Qur’an tentang amanah.
Di dalam hadis Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menegaskan kepada kita untuk menjaga amanah dan mengingatkan kita jangan kita menyia-nyiakan amanah. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda ketika seorang bertanya kepada Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, “مَتَى السَّاعَةُ؟” (Kapan terjadinya kiamat?). Lalu beliau menjawab:
إِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Apabila amanah itu disia-siakan, maka tunggulah (kiamat).” Bagaimana kita menyia-nyiakan amanah itu? Menyia-nyiakan amanah itu adalah:
إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Apabila diserahkan sebuah urusan itu kepada yang bukan yang kompeten, maka tunggulah hari kiamat.” Artinya akan terjadi kehancuran di situ. “Oh, karena dia adalah orang dekat kita atau siapa, tapi dia tidak punya kompetensi di dalam masalah itu, lalu kita serahkan.” Ini adalah di antara menyia-nyiakan amanah.
Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga mengatakan:
أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ.
“Tunaikan amanah kepada orang yang telah mempercayakanmu, dan jangan kamu mengkhianati orang yang pernah mengkhianatimu.” Jadi enggak bisa khianat lawan khianat, enggak boleh. Karena khianat itu adalah sifat yang sangat keji, maka orang mukmin tidak boleh memiliki sifat khianat, karena khianat itu adalah sifat munafik. Maka orang mukmin tidak boleh, walaupun kita dikhianati, tidak boleh kita balas dengan khianat. Sebagaimana jika kita dizalimi, kita tidak boleh menzaliminya, kenapa? Karena perbuatan kezaliman sudah diharamkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Kalau seandainya, bolehkah kita membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama? Jawabannya boleh, ya.
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا.
“Balasan yang jelek (bukan zalim ya), balasan yang jelek dengan yang jelek yang setimpal, ya, yang setimpal.” Kalau misal, makanya terjadinya qisas. Terjadinya qisas adalah pembalasan yang jelek dengan yang jelek yang sama.
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ.
“Siapa yang memaafkan ketika dia disakiti oleh orang, lalu dia maafkan, dan dia mau berdamai, Allah yang akan memberinya balasan pahala.” Dia maafkan, berapapun sakitnya, dia maafkan, berapapun susahnya dia untuk memaafkan, dia usahakan memaafkan dan mau dia berdamai, berbuat baik, pahalanya Allah akan beri. Kalau balasan dibalas jelek dengan yang jelek setimpal, dapat pahala? Enggak dapat pahala, enggak. Enggak dapat, kita akan tidak akan dapat balasan dari Allah.
Setelah kita membalas dengan keburukan yang sama, apakah hubungan kita dengan orang tadi baik atau putus atau buruk? Pasti akan terjadi hubungan yang tidak baik setelah itu, minimal ya, terputus komunikasi. Tapi ketika kita disakiti, kita maafkan, kita berdamai, pahala Allah memberikan kepada kita, hubungan kita dengan dia baik atau tidak? Pasti baik, malahan kita terhormat, dia akan salut kepada kita, hormat kepada kita.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ.
“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang zalim.” Karena pihak yang ketiga adalah pihak yang zalim, melakukan kezaliman. Kalau dia membalas, kalau tidak membalas dengan setimpal, berarti dia melakukan yang lebih besar. Contoh, misalkan kaki kita terinjak oleh orang, enggak ada kesengajaan, dia minta maaf. Kadang kita balas, “Mamang tuang!” diinjak lagi. Kemudian, “Kamari mamang!” itu udah dua tuh. Di dalam menegakkan qisas, ya, itu tidak boleh kita iringi dengan لَوْمٌ (celaan), tidak boleh kita iringi dengan celaan, karena celaan itu ada satu hukuman lagi. Nah, kadang-kadang jiwa ini tidak mau bodoh, ya, draw enggak mau, pengin naik di atas, enggak apalagi di bawah. “Cie, awak di orang, awak baleh duo!” Itu zalim, ya. Diinjak seketika enggak sengaja, dibalas dengan kuat malahan, zalim. Nah, kezaliman adalah haram, khianat adalah haram.
Nabi juga mengingatkan bahwa:
أَوَّلُ مَا تَفْقِدُونَ مِنْ دِينِكُمُ الْأَمَانَةُ، وَآخِرُ مَا يَبْقَى الصَّلَاةُ.
“Yang pertama yang akan kalian akan hilang di agama kalian pertama itu adalah amanah, yang terakhir adalah salat.”
Kemudian Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga mengatakan:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.
“Tanda orang nifak itu ada tiga: apabila dia berbicara dia berbohong, apabila dia berjanji dia mungkir (termasuk juga janji sini adalah kontrak, ketika dia kontrak kerja dia mungkir ya), apabila dia diamanati, diberikan tanggung jawab, maka dia menyelewengkan, dia mengkhianati.”
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
“Masing-masing kalian adalah diberikan tanggung jawab, رَاعٍ (penggembala).” Ada yang menterjemahkan dia adalah pemimpin, karena dia pemimpin. رَاعٍ itu asalnya apa? Menggembala. Biasa orang menggembala apa? Menggembala kambing. Apa tugas pokok penggembala? Bagaimana ternaknya kenyang dan tidak ada yang berkurang. Itu pokoknya. Maka apapun pekerjaan yang dilakukan dalam rangka mengenyangkan ternaknya, itu adalah tupoksinya. Apapun bentuk yang bisa dalam menjaga bagaimana ternaknya tidak kurang, itu adalah tupoksinya. Diserang oleh serigala atau sakit atau yang lain, itu adalah tupoksinya, ya. Dia memimpin, tapi dia punya tanggung jawab. Maka saya sering menterjemahkan رَاعٍ ini adalah diberi tanggung jawab. Kalau pemimpin nanti, الرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ. Oke, laki-laki pemimpin dalam rumah tangganya, dia akan bertanggung jawab apa yang dipimpinnya.
وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا.
Apa terjemahannya? “Wanita adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya.” Makanya dualisme kepemimpinan jadinya, ya. Istri menjadi pemimpin katanya, ngatur suami, tapi bertanggung jawab, ya, bertanggung jawab rumah tangganya, hartanya, anaknya, anak suaminya, baik dari rahim dia atau dari rahim istrinya yang lain, dia punya tanggung jawab, ya, untuk memeliharanya dengan baik. Tadi memelihara bagaimana ee apa namanya, kesehatannya baik, kemudian tidak sakit, dan seterusnya, ya, tanggung jawab itu. Ini, ini adalah dalam hadis tentang amanah.
Kemudian di dalam kita bekerja, perlu kita mengetahui ada visi dan misi dalam kita bekerja. Maka perlu kita di dalam kita bekerja juga ada tujuan juga. Kenapa kita berada di Luqman Al-Hakim ini, ya? Apa tujuan kita? Lalu apa visi dan misi kita dalam bekerja? Tujuan berbeda dengan visi dan misi. Visi boleh jadi dia akan berubah, tapi tujuan adalah tujuan yang diharapkan ketika keberadaan sesuatu yang dimunculkan. Maka oleh karena itu, di yayasan pun, apa tujuan yayasan didirikan? Kemudian yayasan sudah didirikan dengan tujuan untuk dakwah, pendidikan, sosial. Lalu pendidikan, apa tujuan pendidikan kita? Mencetak generasi ya, yang paham dengan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf saleh. Tujuan kita bagaimana kita menyebarkan kebenaran melalui pendidikan itu, misalkan tujuan, ya. Dan itu tidak akan berubah terus, bagaimanapun visi kita berubah, dia tidak akan, tujuan kita tidak akan berubah.
Adapun visi, mungkin visi kita pendidikan SD misalkan, di tahun 2030 menjadi SD yang unggul. Nah, itu visi, ya, target kita unggulnya. Target sekolah kita tidak keluar dari tujuan, ya, tapi ada target tertentu dalam tahap 5 tahun yang akan datang kita begini, misal. Lalu misinya, tentu cara-cara untuk mencapai visi.
Nah, kita sebagai pegawai begitu juga. Kita punya visi menjadi pegawai yang disiplin, bekerja profesional, berakhlak, dan tepat janji. Ini kita sebagai menjadi seorang pegawai. Misinya, ya, misi kita ini dalam bagian dari menempatkan janji, menjadi disiplin, jadi kerja profesional. Hadis Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ya:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ.
“Sesungguhnya Allah mencintai jika seorang hamba bekerja sebuah pekerjaan, dia betul-betul tekun dan secara profesional.” إِتْقَانٌ. يُتْقِنَهُ. إِتْقَانٌ itu apa? Betul-betul menunaikan عَلَى أَكْمَلِ وَجْهٍ (menunaikan amalan pekerjaan itu sesuai dengan yang dituntut). Dia إِتْقَانٌ tidak akan terpenuhi kecuali dengan tiga: yang pertama dengan rasa cinta, kemudian rasa خَوْفٌ dan رَجَاءٌ. Ada rasa cinta kita, ada rasa خَوْفٌ (takut), ada rasa harap. Secara profesional harus ada skill, harus ada pengetahuan (ilmu), dan harus ada akhlak, ya, akhlak di dalam menunaikan itu. Perlu juga akhlak, tidak hanya berpikir, “Oh, tuntas, tuntas,” tapi akhlaknya enggak ada, enggak.
Maka mengerjakan tugas harus dengan penuh ikhlas, mengharapkan ganjaran dunia dan akhirat. Ya, gimana maksud dunia dan akhirat ini? Kita bekerja pengin gaji, kan? Bagaimana gaji kita tidak dikurangi? Tunaikanlah sesuai dengan yang telah diamanati, ya. Apabila pegawai menunaikan tugasnya dengan sungguh-sungguh, mengharapkan pahala dari Allah, maka tanggung jawab yang diembankan kepadanya sudah tertunaikan, dan dia mendapatkan ganjaran upah terhadap pekerjaannya di dunia, apalagi akhirat.
Maka saya mengajak kepada kita semua, khususnya guru nih. Berapa gaji Antum di dunia ini? Gaji mungkin sesuai dengan UMR, kalau enggak di bawah UMR sedikit, atau di atas UMR sedikit. Apakah kita bekerja hanya untuk mencapai itu? Sangat rugi. Antum seharusnya diberi gaji jauh lebih dari itu, tapi yayasan belum mampu. Akan tetapi, jika yang Antum harapkan itu adalah pahala akhirat, gaji Antum di dunia ini tidak akan dikurangi, ya, enggak akan, yayasan tidak akan mengurangi gaji Antum jika Antum tidak mempersilakan yayasan untuk menguranginya. Ada enggak Antum meminta kepada yayasan, “Tolong kurangi gaji saya”? Enggak pernah, ya. Tapi sikap kita, absen, absen itu namanya, “Tolong kurangi gaji hari ini, enggak usah saya dikasih.” Nah, gitu. Terlambat, sama dengan, “Tolong kurangi gaji saya sekian menit karena saya terlambat.” Ya, karena kalau kita ambil juga, itu tidak hak kita, ya, tidak hak kita. Maka seharusnya guru-guru dan pegawai berterima kasih kepada keuangan, kepada HRD, ya, yang telah memotong gaji kita yang tidak hak kita. Harus berterima kasih. Jangan bilang, “Oh, kenapa gaji saya dikurangi?”
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan:
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ.
“Celaka bagi orang yang mengurangi takaran timbangan, ya. Di mana ketika dia meminta timbangan dengan orang, dia membeli untuk hak dia, dia minta disempurnakan. Ketika dia ingin menimbang untuk orang, menakar untuk orang, dia kurangi.” Ketika memberikan hak kepada anak-anak, terlambat. Coba terlambat 5 menit, ya, 5 menit. Berapa jam kita mengajar? Berapa kali pertemuan? Setiap kali pertemuan 5 menit, kalikan dalam 1 bulan, sudah berapa? Kita ngajar SD 35 menit sekali pertemuan, ya. 5 menit kurang di awal, cepat 5 menit, ah sudah 10 menit sekali pertemuan. Coba dikalikan. Ketika kita menunaikannya kita kurangi, tapi ketika naik gaji kita enggak mau dikurangi. يَسْتَوْفُونَ.
أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ لِيَوْمٍ عَظِيمٍ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ.
“Tidakkah mereka itu mengira bahwasanya mereka itu akan dibangkitkan, untuk hari yang maha agung, hari di mana manusia dibangkitkan di hadapan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Rabb semesta alam.”
Nah, tidak hanya dalam perdagangan. Kalau kita kan tahu, “Ah, itu apa, ayat-ayat bagi orang-orang penimbang, orang yang berdagang.” Juga kita pegawai, ya. Ketika dikurangi gaji kita, “Alhamdulillah, ini yang dikurangi ini memang tidak hak saya, ini hak saya karena inilah saya menunaikannya.” Bersyukur kita kepada yang mengurangi, gitu lho, sehingga kita membawa harta yang halal ke rumah. Maka itulah yang menjadikan keberkahan.
Nah, maka kalau kita lihat, ketika kita bekerja, apalagi pendidikan, masya Allah, keikhlasan akhirat kita yang harus kita lebih kedepankan. Kita ingin menjadikan anak-anak kita ini adalah anak-anak yang berguna, dia juga akan mengajar ke depan, maka kita dapatkan ilmu apa? عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ. Kita memberikan ilmu yang manfaat, ya.
Baik, kita bekerja 40 jam dalam sepekan. Kalau kita bekerja 40 jam dalam sepekan, dibagi 5 hari misalkan, berarti 1 hari itu kita kerja 8 jam. Dalam ketentuan 8 jam, ada istirahat 1 jam, berarti 9 jam hadir. Kerja maksimal kita 8 jam, 1 jam ada istirahat. Jam yang kita dapatkan ini, apa yang harus kita lakukan? Ya, pegawai wajib mempergunakan waktu yang telah ditentukan untuk pekerjaan yang ditugaskan. 8 jam nih, di luar dari waktu istirahat. 8 jam yang sudah ditentukan harus kita pergunakan untuk melaksanakan pekerjaan ditugaskan. Tidak boleh mempergunakan waktu itu untuk pekerjaan lain, sehingga enggak boleh dia bekerja di sini pada waktu yang sama bekerja juga tempat yang lain, ya. Tidak boleh dia mengerjakan pada waktu pekerjaan, ee waktu itu pekerjaan yang lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang telah ditentukan, baik untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain. Kenapa? Karena pegawai telah menjual waktunya kepada pekerjaan dengan kompensasi menerima gaji setiap bulan, ya. Jadi di manapun kita bekerja nih, kita sudah akad dengan bekerja dengan pekerjaan 8 jam, itu haknya kerja. Kita sudah bertransaksi, kita menjual waktu kita nih, 8 jam waktu saya, kompensasinya adalah gaji yang diterima. Seorang yang mengambil gajinya dengan sempurna tanpa dikurang sedikit pun, begitu juga dengan waktu kerja harus sempurna tanpa dikurang sedikit pun, ya.
Maka oleh karena itu, tunaikanlah. Selama kita bekerja di sini, harus sempurna dalam kita mengerjakan. Maka kalau seandainya di sekolah diberikan ee apa namanya, ee peraturan tidak boleh membawa HP ke lokal, itu benar. “Banyak bana aturan sekolah mah, yayasan mah.” Bukan banyak aturan, mengingatkan Anda agar menunaikan haknya yang sempurna, ya. Bekerja tempat lain itu, ya, seorang waktunya masuk kerja, misalkan di minimarket atau apa, itu masuk, HP ditaruh di laci, selama (kerja) tidak bisa makai HP. Lah, kita ingin mencontohkan kepada anak-anak kita bagaimana pekerjaan yang baik menunaikannya. Maka seperti HP tidak ada di kantung kita, atau misalkan apalagi pas saat kita belajar mengajar, datang telepon, hak anak kita kita kurangi, ya, lebih baik kita matikan, ya, lalu kita apa namanya, kita taruh di laci ee meja kita, lalu kita masuk ke ruangan kita, tunaikan. Waktu istirahat, nah boleh mungkin kita pergunakan, ya. Tapi waktu tugas, jangan kita lakukan. Kita menunaikan hak kerja kita agar Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berikan keberkahan dari kompensasi gaji yang diberikan, ya. Apabila Allah sudah memberikan keberkahan, yang sedikit itu bisa menunaikan yang banyak, ya. Kita gajinya sangat terbatas, tapi alhamdulillah kita enggak punya hutang. Apa yang harus kita tunaikan, terbayarkan. Bisa pula menabung walaupun sedikit, itu keberkahan. Ketimbang dari ada uangnya banyak, hutangnya ee selilit pinggang, ee kewajiban banyak yang harus ditunaikan, akhirnya terus minim terus walaupun uangnya banyak. Maka berbahagialah orang yang gajinya sedikit, tidak punya tanggungan, tidak punya hutang, ya, tidak punya beban, ketimbang orang gajinya berlimpah ruah, berlipat-lipat, tapi setiap bulan dia hutang, setiap bulan dia memikirkan tanggungan yang berat, ya. Jadi kebahagiaan itu sebenarnya tidak dinilai dengan banyak atau sedikit, ya. Dan kebahagiaan itu ada kembali kepada masing-masing.
Pimpinan. Dalam kita bekerja, pasti ada kita pimpinan adalah teladan. Di tingkat pimpinan dan pegawai senior menjalankan tugas dengan baik dan sempurna, maka bawahannya akan mencontoh. Dan setiap kepala dalam tugas akan diminta pertanggungjawabannya. كُلُّكُمْ رَاعٍ. Terkadang, ya, jika kita memerintahkan, jika engkau memerintahkan bawahanmu mengerjakan sesuatu, maka Anda lebih dahulu mengerjakannya, maka yang lain akan mendengar perintahmu, ya. Jadi, istilah-istilah orang, orang, orang-orang kita, jadilah seperti memandikan kuda, jangan seperti memandikan kerbau. Pernah lihat orang memandikan kerbau? Suruhnya mencabur ke dalam kolam, ini duduk di tapi, ya. Tapi kalau memandikan kuda beda, dia yang turun dulu ke bawah, ke sungai, lalu kudanya ikut, ya.
Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah menghadapi suatu kondisi yang berat, perkataan beliau tidak didengar oleh sahabat. Nabi menyuruh sahabat untuk bertahallul, kemudian enggak ada yang mendengar. Waktu kapan itu? Waktu Hudaibiyah. Nabi datang dengan niat umrah, sampai di Hudaibiyah, perbatasan ee tanah haram, dijegat oleh orang Quraisy, enggak boleh masuk, semuanya berihram. Akhirnya bagaimana solusinya supaya lepas dari pakaian ihram? Dia harus menyembelih, kemudian cukur, baru tahallul, baru boleh pakai baju. Disuruh oleh Nabi, enggak ada yang mau. Datanglah Nabi ke kemahnya Ummu Salamah, menceritakan bahwasanya tidak ada sahabatmu mau mendengar perkataannya. Coba lihat kondisi yang berat seperti itu, sudah ditahan lagi oleh orang Quraisy. Apa kata Ummu Salamah? Dia sarankan, “Keluar, Anda sembelih, Anda bercukur, dan tidak usah omong sama mereka, tidak usah berbicara, perintahkan mereka, lakukan aja begini, maka mereka akan melakukan yang sama.” فِعْلًا (Benar), ya, Nabi keluar, lalu Nabi menyembelih, Nabi bercukur, kemudian bertahallul, semuanya melakukan yang demikian, ya. Terkadang, ya, dengan kita sebagai pimpinan melakukan contoh yang terbaik, itu akan bisa menjadikan ya, bawahan kita akan mengikuti.
Kemudian di dalam bentuk kepemimpinan, ada ayat yang sangat bagus diambil sikap, ya. Ambillah sikap dalam Surah Ali Imran ayat 159. Ayat 159, apa bunyinya?
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ.
“Dengan rahmat Allah, engkau telah berlemah lembut.” Jadi sikap lemah lembut itu adalah anugerah dari Allah. Dengan kita manajemen, ya, ini juga manajemen nih, pimpinan kepada bawahan, perlu ada sikap lemah lembut.
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ.
“Jika engkau kasar, keras, keras hati, pasti dia akan lari darimu.” Kasar omongan, kasar yang keluar, ada di antara pimpinan carut-marut yang keluar, main tangan, orang akan lari, ya. Keras hati, pokoknya dia aja yang harus didengar, yang lain tidak, ya, ini pimpinan calon-calon pimpinan yang tidak sukses. Tapi seorang pemimpin harus memiliki sifat lemah lembut, لِنْتَ.
Lalu bagaimana? Apa yang harus didahulukan? Ada beberapa tahap:
فَاعْفُ عَنْهُمْ.
“Jika ada mereka yang salah, kita maafkan.”
وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ.
“Doakan ampunan untuk mereka.”
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ.
“Ajak mereka bermusyawarah.” Jangan pimpinan penginnya apa yang dalam pikirannya aja, tapi ajak. Ketika kita menjadi pemimpin, ketua, dan seterusnya, maka mungkin yang sebaiknya kita lakukan itu adalah banyak mendengar daripada banyak berbicara. Kita dengar, gimana satu ide yang kita munculkan, lalu kita dengar masing-masing, bermusyawarah.
وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ.
“Urusan mereka antara mereka adalah musyawarah.” Ya, kita harus ajak musyawarah. Kita mau PPDB nih, bagaimana PPDB yang bagus? Kita ajak orang-orang yang mungkin punya khalfiyah (latar belakang) yang baik, ide-ide yang baik, kita tahu pimpinan-pimpinannya, “Ayo kita ajak, gimana menurut Anda? Bagaimana menurut Anda? Gimana?” Ya, ketika kita sudah bermusyawarah, boleh jadi kita sebagai pimpinan punya ide A, ternyata ada ide yang lebih bagus, sudah, ide kita enggak mesti harus, harus ide A, tidak. “Oh, mungkin ini yang lebih, lebih ashlah (lebih tepat) untuk kemaslahatan umum.” Lalu setelah kita putuskan itu, ada keputusan rapat, bukan ide A, ide B, ide C, enggak. “Ah, engkau yang jalankan, ya kan, engkau yang mengusul.” Enggak, enggak ada lagi, dia sudah melebur, ini adalah keputusan yayasan, keputusan rapat, keputusan SD, atau keputusan TK, artinya keputusan rapat. Kita bekerja sama. Ingin merubahnya? Rubah lagi dengan rapat. Jangan ketika rapat kita sepakat, ternyata pada waktu menjalankan, pimpinan punya ide lain lagi, “Ayo, ini aja kita jalankan.” Enggak. Tapi kalau memang kita melihat bahwasanya ini yang lebih tepat, rapat lagi, rapat segera. “Saya berpandangan begini dengan alasan A, B, C, D.” Ya, jika disetujui, sudah, itu keputusan rapat. Tapi kita bubarkan pendapat yang pertama, sama dengan sidang dewan, keputusan mau dianulir lagi dengan keputusan baru lagi.
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ.
Ini pimpinan nih. Setelah bermusyawarah, kita mendapatkan kesimpulan, maka tekad. Jika kita sudah punya tekad, lanjutkan, jalankan.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ.
“Allah mencintai orang yang bertawakal.”
Ketika kita bersikap dengan atasan, bawahan, atau kita pegawai dengan yang lain, berlakukan orang lain dengan yang Anda senang orang lain memperlakukan kita. Inilah akhlak. Akhlak sama dengan peduli. Ada enggak di antara kita yang suka misalnya dibilang, “Anda kurang akhlak”? Hah? Ada enggak mau dikatakan gitu? “Ya, Ustaz itu kurang akhlak.” Enggak ada yang di antara kita yang mau dikatakan kurang akhlak. Tapi ada enggak di antara kita yang telinganya kurang sensitif, “Ustaz itu kurang peduli”? Hah? Ada. Tapi sebenarnya kurang peduli sama dengan kurang akhlak. Kenapa? Karena semua hal-hal yang berhubungan dengan akhlak itu adalah semuanya adalah kepedulian.
كَمَا تَدِينُ تُدَانُ.
“Sebagaimana engkau melakukan (kepada) orang, engkau diberlakukan seperti itu.” Jika Anda peduli kepada orang lain, maka Anda menghormati orang lain, maka orang lain akan menghormati Anda, ya. Coba kita lihat ee dasar-dasar dari kepedulian ini apa? Empati. Empati itu rasa, kalau dalam bahasa Minangnya, raso jo pareso. Kenapa anak kita kadang cuek masuk ke lokal, kurang peduli kepada guru, enggak salam daripada guru? Karena tidak ada kepedulian, karena kurang raso jo pareso, ya. Ulama dahulu, ee kalau tidak salah Syu’bi, dia mengatakan bahwasanya, “Saya apabila mengambil dari seorang sebuah ilmu, saya menjadi hamba untuknya selama dia masih hidup, melayaninya.” Kenapa dia lakukan itu? Karena kepedulian, itulah akhlak. Coba lihat misalkan anak yang penuh raso jo pareso, enggak mau ngomong asal-asalan, memuliakan orang lain, ada orang yang susah dia kasih, itu kepedulian semuanya. Apapun yang berhubungan dengan akhlak, semuanya kembali kepada peduli. Nah, mungkin ini perlu kita jadikan semacam ee slogan juga, ya, kita tingkatkan kepedulian kita kepada orang lain.
Nah, di sini, perlakukan orang lain sebagaimana engkau senang orang lain memperlakukan Anda. Hadis Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.
“Tidaklah sempurna keimanan seseorang sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri.” Peduli, ya. Dia senang berbicara dengan baik, kata-kata yang baik, karena kepedulian dia itu, dia berbicara dengan orang dengan baik.
Saya rasa untuk sampai di sini dulu, nanti ada masih ada lagi pembahasan, ya, tentang kasih hadiah dan yang lainnya. Nah, keinginan kita ini bagaimana, insya Allah setelah salat kita akan ee tambah lagi, ya. Demikian dulu karena sudah masuk waktu. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Kembali kita masuk ke dalam pembahasan yang terakhir, yaitu akhlak kepedulian, memberlakukan orang sebagaimana kita senang orang lain memberlakukan kita. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
“Siapa yang senang atau siapa yang menginginkan dia dijauhi dari api neraka, dimasukkan dalam surga, maka hendaklah (kuncinya) kematiannya datang dalam keadaan dia beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang kedua, hendaklah dia memberikan kepada manusia apa yang dia senangi untuk diberikan kepadanya, hendaklah dia memperlakukan manusia seperti yang dia senangi orang lain memperlakukannya.”
Maka di sini kita mengajar, tentu ketika kita ingin anak-anak kita belajar, kita pengin anak kita sendiri diajar oleh guru-guru dengan sempurna, maka begitu juga hendaknya kita sebagai guru mengajarkan anak-anak orang lain dengan sempurna. Nah, begitu juga hubungan kita dengan wali murid, hendaklah kita memberikan layanan kepada mereka, kepedulian kepada mereka. Intinya adalah ketika kita menunaikan amanah ini sebagai seorang guru, sebagai seorang pegawai, kita pengin yang terbaik sebagaimana kita pengin orang lain memberlakukan kita yang terbaik.
Di sini Syekh, Syekh mencantumkan ayat:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا.
Itu adalah ayat dalam Surah An-Nisa, ya, Surah An-Nisa ayat 9. Apa terjemahannya? Ya, terjemahannya adalah, “Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” Sering dipakai oleh orang apa? Keluarga Berencana. “Takutlah, hendaknya orang ini takut, ya, ee meninggalkan keluarganya yang lemah, maka hendaklah menyiapkan keluarga yang kuat, keluarga yang berencana.” Tapi sebenarnya ini jauh dari itu, gitu lho, ya.
Saya bacakan kata Syekh sini, ketika beliau mengatakan:
وَقَدْ ذَمَّ اللَّهُ مَنْ يُعَامِلُ غَيْرَهُ عَلَى خِلَافِ مَا يُحِبُّ أَنْ يُعَامَلَ بِهِ.
“Allah telah mencela orang yang memberlakukan orang lain berbeda yang diberlakukan kepada dia.”
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ.
“Dengan orang lain dia minta dipenuhi, kepada orang lain dia kurangi.” Ya.
Lalu Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ، وَوَأْدَ الْبَنَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتِ.
“Allah mengharamkan kepada kalian durhaka kepada ibu-ibu (durhaka kepada orang tua, ibu khususnya), membunuh anak hidup-hidup, وَمَنْعًا وَهَاتِ (mengharamkan tidak mau memberi tapi minta).” Maksudnya apa? Memberi kepada orang dia kurangi, kepada dia dia penuhi, ya. Pilih sepilih lah mungkin, ya. Magiah dak namuah, tapi minta tarimo tadi. Rakus.
وَكَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ.
“Dan dimakruhkan, dibenci kepada kalian tiga: قِيلَ وَقَالَ (dikatakan dan berkata).” Maksudnya apa? Merumpi, magibah, berbicara dengan hal yang tidak ada ujung pangkalnya, ya, berprasangka buruk. Ini juga akan menyebabkan sebuah yayasan akan hancur kalau sudah pegawai satu sama lainnya suka menebarkan berita, isu-isu, berita burung, berita angin, ah apalah namanya, pokoknya tidak ada asal-muasalnya. Akhirnya bentuk kelompok, padusi guru, ustazah-ustazah kelompok dua saling anukan, yang laki-laki begitu juga, nanti membicarakan pimpinan, ya, membicarakan kepala sekolahlah, membicarakan kepala yayasanlah, ketua yayasanlah, bendahara, itu hancur nanti. Maka ini harus ditutup, ya, harus ditutup. قِيلَ وَقَالَ. “Orang, hamba mendengar begini.” Orang ini yang harus kita hindari, ya.
وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ.
“Banyak bertanya.” Maksud banyak bertanya ini apa? Banyak bertanya supaya untuk meringankan, ya, seperti pertanyaan orang Yahudi, ya, kepada Nabi Musa ketika disuruh untuk menyembelih ee sapi. “Nah, sapi seperti apa?” Tujuan dia bagaimana? Tidak menjalankan tugas, ya.
وَإِضَاعَةَ الْمَالِ.
“Menyia-nyiakan harta.” Menyia-nyiakan harta termasuk membelanjakan harta pada tidak pada tempatnya, ya, menempatkan harta tidak pada tempatnya, termasuk menyia-nyiakan harta.
Lalu, ya, ya, dari hadis Mughirah bin Syu’bah, eh, ini hadisnya dari Mughirah bin Syu’bah.
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ ذَمُّ الْجَمُوعِ الْمَنُوعِ الَّذِي يَأْخُذُ وَلَا يُعْطِي.
“Maka dalam hadis ini celaan terhadap orang yang suka mengambil tapi tidak mau memberi, ya. يَأْخُذُ وَلَا يُعْطِي (dia mengambil, tidak pernah memberi).”
Bapak Ibu yang dimuliakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, coba kita suka mulai kita pada diri kita, ya, bersedekah. Mulai suka bersedekah. Kalau kita sudah mulai bersedekah, lapang dunia kita, ya, lapang dunia, tidak ada beban hidup rasanya kalau kita suka bersedekah. Ada yang perlu kita bantu di sekolah kita, memotivasi anak-anak kita, kita pengin dari gaji kita sudah, sudah kita mau memberikan motivasi anak, beli permen kek, hadiah untuk anak-anak. “Oh, dia bagus, kasih hadiah.” Ya, itu akan memberikan motivasi anak, walaupun tidak perlu dianggarkan, ya, dari uang sendiri.
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ.
“Apa yang infakkan, Allah akan ganti.”
Lalu disebutlah:
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ.
Allah mengingatkan para wali-wali yatim yang mengurus anak yatim, ya. لَوْ تَرَكُوهُمْ. Ingatlah wahai wali-wali yatim, orang yang menjaga yatim. Siapa yang dijaganya? Anak yatim. Bagaimana kondisi anak yatim? Orang-orang yang lemah. Hendaklah dia memberikan perhatian yang dalam kepada mereka. Diingatkan, diingatkan. Bagaimana diingatkan? Kalau kekhawatirannya terhadap anak-anaknya, keturunannya, kalau lemah bagaimana nanti, ya? Jika mereka lemah pun akan diberlakukan orang seperti itu juga. Maka berlakukanlah anak-anak yatim dengan baik sebagaimana bentuk kekhawatiran Anda ketika meninggalkan anak-anak keturunanmu yang lemah akan diberlakukan orang yang sama. Itu maksudnya, ya. Jadi Allah mengingatkan kepada wali-wali yatim, orang-orang yang memelihara anak-anak yatim, jangan lecehkan mereka, jangan ditelantarkan mereka, berikanlah perhatian, anggap kalau seandainya mereka anak-anak kita seperti itu juga. Tidakkah kita takut diperlakukan yang sama? Ya.
Maka Allah berfirman:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ.
“Hendaklah khawatir orang-orang yang kalau mereka meninggalkan keturunan mereka yang lemah, khawatir karena mereka.”
فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ.
“Maka oleh karena itu, hendaklah mereka itu takut kepada Allah menyikapi anak-anak yatim yang ada pada dia sekarang, sebagaimana dia khawatir kalau seandainya perlakuan yang sama kepada anak keturunannya.”
وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا.
“Hendaklah kuucapkan ucapan yang benar.” Bukan maksudnya ayat ini adalah ya, menyuruh kita menyiapkan ekonomi anak nantinya, gitu ya, bukan itu tujuannya.
كَمَا أَنَّهُمْ يُحِبُّونَ أَنْ يُحْسَنَ إِلَى ذَرَارِيِّهِمْ مِنْ بَعْدِهِمْ، فَكَذَلِكَ يَجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يُحْسِنُوا إِلَى مَنْ لَهُمْ وِلَايَةٌ عَلَيْهِمْ.
“Sebagaimana mereka pengin diberlakukan baik kepada keturunan-keturunan mereka yang lemah setelah mereka, maka wajib terhadap mereka, hendaklah mereka juga berbuat baik kepada anak-anak yatim yang telah diamanatkan kepada mereka.” Itu maksudnya. Selama ini kita kan diambil gitu aja, “Hendaklah khawatir orang yang meninggalkan keturunannya yang lemah, maka oleh karena itu siapkanlah keturunan yang kuat-kuat, ekonominya harus kuat.” Bukan itu maksudnya, ya.
Baik, artinya apa? Kita memperlakukan orang sebagaimana kita pengin orang lain memperlakukan kita. Kemudian di sini tentu kita akan bisa mengambil kebijakan, mendahulukan orang yang lebih dahulu antrian, ya. Lalu terkadang ada orang yang pada saat itu perlu kita kedepankan, orang-orang yang butuh perhatian. Nah, di sinilah yang kita sebutkan tadi, peduli, ya, harus ada sensitivitas kita, kepekaan itu harus ada. Nah, bagaimana rasa kita sekarang ini menanamkan kepada anak kita raso jo pareso, ya, sensitif dia, sensitif. “Ah, enggak enak, ada yang tua berdiri, saya duduk.” Ya sudah, berikan duduk untuk (orang) yang tua, dia berdiri.
Saya pernah dikisahkan oleh seorang, dia di Australia, dia wali murid kita. Dia cerita, “Saya waktu kuliah, Ustaz, kami antrian, kalau enggak salah di mana gitu, pokoknya antrian deh. Memang mereka ee apa namanya, disiplin dalam antrian itu.” Malah saya pernah membaca, orang Barat itu lebih penting mengajarkan disiplin anak antrian ketimbang mengajarkan matematik. Karena antrian ini banyak sekali akhlak tertanam di dalamnya: kesabaran, menghormati orang lain yang didahulukan, ya, tidak ada nepotisme, ya. Anak si fulan, muka enggak.
Bagaimana Atha bin Abi Rabah ketika datang kepadanya Sulaiman bin Abdul Malik, haji ini ya, haji. Yang mana Sulaiman bin Abdul Malik mengatakan, “Tidak ada yang boleh memfatwa (di) Makkah kecuali Atha.” Atha adalah keturunan seorang budak, tapi Allah angkat derajatnya dengan ilmu. Setelah ketika Sulaiman bin Abdul Malik datang, dia punya orang sudah panjang nih antrian, lalu ajudannya datang menanyakan Atha, eh kepada Atha, “Nih khalifah nih mau mengajukan pertanyaan.” Atha bilang, “Ini urusan negara atau urusan pribadi?” “Urusan pribadi.” “Kalau urusan pribadi, berdiri di belakang, paling ujung. Kalau misalkan urusan negara, silakan.” Ya.
Nah, jadi dia berdiri sama anaknya di depan saya, katanya ada anak umur SMA, SMP, dia melihat saya ada dengan anak kecil, dia dipersilakan saya dulu di depan, ya. Lalu saya tanya, “Kenapa kok Anda kan anu depan?” “Enggak, karena sama Anda ada anak kecil.” Itu apa? Raso jo pareso, empati muncul, kepedulian, ya, itu akhlak. Dia dulukan orang yang membutuhkan. Ini anak yang bukan, pokoknya dennya lah. Orang yang tidak peduli itu orang yang tidak berakhlak, gitu lho, ya, cuek, ya, orang yang tidak ada raso jo pareso.
Nah, jadi di sini ketika kita melihat ada orang yang perlu, memang ada yang perlu kita tangani lebih awal, ah di situ ada kebijakan, ya, bahwasanya ada alasan dia lebih didahulukan.
Kemudian yang terakhir dari pembahasan kita adalah pegawai hendaklah dia menghindari menerima hadiah. Pegawai wajib menjaga wibawa dan kehormatan dirinya serta memiliki sifat kaya hati, ya, hati itu kaya, gitu. Kata Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ apa?
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.
“Bukanlah orang yang kaya itu banyak perbendaharaan hartanya, akan tetapi yang kaya itu kaya jiwa, kaya hati, ya.” Tidak mau memakan harta secara batil. Berapa uang sogok, walau dinamakan dengan hadiah, jika memakan harta orang secara batil, maka itu menjadi haram dan penyebab doa tidak dikabulkan, apalagi meminta bayaran, ya.
Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:
هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ.
“Harta yang diterima pegawai adalah, hadiah yang diterima oleh pegawai adalah harta haram.”
Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:
مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Siapa yang kami tugaskan di antara kalian satu pekerjaan, tugas, dia sembunyikan sebesar benang atau lebih, ya, itu adalah غُلُولٌ (harta haram) yang akan dia pikul nanti pada hari kiamat.”
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى setelah ee berfirman tentang فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ dalam Surah Ali Imran tadi 159, ya, pada ayat 161 (bukan 166) Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ، وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Nabi tidak pernah mengambil harta haram. Siapa mengambil harta haram (rampasan perang yang belum dibagi, harta haram), maka dia akan pikul nanti pada hari kiamat.”
Maka ini berlaku di manapun kita. Sekali lagi saya katakan, tidak hanya di Yayasan Luqmanul Hakim saja. Jangan nanti bilang, “Sudah, kalau gitu kita keluar ajalah dari Luqmanul Hakim, masa enggak boleh kita menerima hadiah, ya. Di sekolah sana boleh menerima hadiah dari pegawai, dari wali murid, dan yang lainnya.” Kita mengingatkan dari sejarah hukum agama, ya. Di situ dibolehkan katanya, terserah aja. Enggak, kita mengingatkan. Kalau seandainya ada orang yang memberikan hadiah, laporkan ke atasan kita, ke yayasan. Nanti yayasan akan lihat kebijakan. “Oh, sudah, ini kita bagi bareng.”
Pernah kita juga, pegawai kita, wali murid minta dibagikan ke sekolah SD 2 misalkan, lalu kita sampaikan, “Jangan SD 2 saja, berikan kepada kami yang sedikit, bisa dibagi sama-sama sedikit.” Ya, dan sehingga alhamdulillah ada di antara wali murid kita memberikan bingkisan THR untuk seluruh pegawai, sampai 30, 40, ya, kita bagikan rata, ya. Sehingga semuanya merasa mendapatkan. Dan ini tujuan kan bagaimana kita, anak-anak ini tidak disikapi dengan dengan berbeda-beda. Karena الْمُنْعِمُ يُحَبُّ (orang yang memberi nikmat itu dicintai), enggak bisa ditolak tuh, ya. Maka khawatir nanti akan muncul kecenderungan untuk memberikan, memperhatikan anaknya saja ketimbang dengan yang lain.
Bagaimana kalau seandainya setelah selesai mereka ngasih hadiah? Sebagian ulama mengatakan enggak apa-apa, karena sudah selesai, sudah, ya. Tapi yang enggak boleh itu adalah, atau misalkan memang selama ini kita ada hubungan baik, saling memberi, ya, itu tidak ada masalah, ya, karena bukan gara-gara kedudukannya, tapi gara-gara hubungannya selama ini baik, ya, tidak ada masalah. Tapi ketika gara-gara kita mengajar, ee wali murid dari anaknya, eh wali kelas dari anaknya misalkan, lalu kita diberikan bermacam-macam, maka ini harus kita hindari, ya. Nah, ini bukan apa-apanya, tetapi ini dalam rangka kita tanggung jawab kita di hadapan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, karena Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ (hadiah-hadiah yang didapatkan oleh pekerja itu adalah harta haram).
Demikian yang dapat saya sampaikan, Mohon maaf atas segala kurang kesalahan, terima kasih atas segala perhatian.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
