Kajian KitabSyarah Shahih Muslim

Kitab Shahih Muslim: Keutamaan Nabi Yusuf

Kajian Kitab Al-Fadhail (Sahih Muslim): Keutamaan Nabi Yusuf Alaihissalam

Kajian Kitab Al-Fadhail (Sahih Muslim): Keutamaan Nabi Yusuf Alaihissalam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita masuk pada pembahasan baru dalam Sahih Muslim, yaitu:

بَابٌ مِنْ فَضَائِلِ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ

(Bab di Antara Keutamaan-keutamaan Nabi Yusuf Alaihissalam)


Hadis: Siapakah Manusia yang Paling Mulia?

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya oleh para sahabat:

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟

(Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?)

Rasulullah menjawab:

أَتْقَاهُمْ

(Orang yang paling bertakwa di antara mereka).

Ini sesuai dengan firman Allah:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

(Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu).

Para sahabat kemudian berkata:

قَالُوا: لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ

(Bukan tentang ini kami bertanya kepadamu).

Nabi kemudian menjawab lagi:

فَيُوسُفُ نَبِيُّ اللَّهِ ابْنُ نَبِيِّ اللَّهِ ابْنِ نَبِيِّ اللَّهِ ابْنِ خَلِيلِ اللَّهِ

(Maka Yusuf adalah Nabi Allah, putra Nabi Allah (Yakub), putra Nabi Allah (Ishak), putra Kekasih Allah (Ibrahim)).

Para sahabat kembali berkata:

قَالُوا: لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ

(Bukan tentang ini kami bertanya kepadamu).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda:

فَعَنْ مَعَادِنِ الْعَرَبِ تَسْأَلُونِي؟

(Kalau begitu, apakah tentang asal-usul (keturunan) Arab yang kalian tanyakan kepadaku?)

Lalu beliau menjawab:

خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقُهُوا

(Sebaik-baik mereka di masa Jahiliyah adalah sebaik-baik mereka di masa Islam, apabila mereka memahami agama (faqih)).


Penjelasan Hadis dan Makna Kemuliaan

1. Nasab Nabi Yusuf yang Mulia

Dalam riwayat Sahih Bukhari juga disebutkan lafaz yang serupa, yaitu: نَبِيُّ اللَّهِ ابْنُ نَبِيِّ اللَّهِ ابْنِ نَبِيِّ اللَّهِ ابْنِ خَلِيلِ اللَّهِ. Ini adalah nasab emas, di mana Nabi Yusuf adalah putra Yakub, cucu Ishak, dan cicit Ibrahim al-Khalil.

Ulama menjelaskan makna أَكْرَم (paling mulia) adalah كَثْرَةُ الْخَيْرِ (banyaknya kebaikan). Nabi Yusuf mengumpulkan tiga kemuliaan sekaligus:

  1. Kemuliaan Akhlak: Beliau memiliki akhlak yang sangat luhur.
  2. Kemuliaan Kenabian: Beliau adalah seorang nabi.
  3. Kemuliaan Nasab: Beliau adalah keturunan dari tiga nabi yang mulia secara berurutan.

Selain itu, Nabi Yusuf juga dikaruniai ilmu ta’bir mimpi (شَرَفُ عِلْمِ الرُّؤْيَا), kekuasaan dunia yang dijalankan dengan baik (رِيَاسَةُ الدُّنْيَا وَمُلْكُهَا), serta kemampuan mengurus rakyat dengan penuh kasih sayang (شَفَقَتُهُ عَلَيْهِمْ) hingga menyelamatkan mereka dari masa paceklik.

2. Takwa sebagai Puncak Kemuliaan

Ketika Nabi menjawab أَتْقَاهُمْ (yang paling bertakwa), beliau menunjuk pada kemuliaan yang paling sempurna dan universal. Orang yang bertakwa adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat di dunia. Pemimpin yang bertakwa tidak akan korupsi, curang, atau licik karena rasa takutnya kepada Allah. Di akhirat, mereka akan menempati derajat yang tinggi (الدَّرَجَاتُ الْعُلَى).

3. Kemuliaan Berdasarkan Karakter Asal (Maadin)

Nabi bersabda: خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقُهُوا. Maknanya, orang yang memiliki karakter baik, wibawa (مُرُوءَة), dan akhlak mulia di masa Jahiliyah (sebelum mengenal Islam atau sebelum hijrah), jika ia masuk Islam dan memahami agama dengan baik, maka karakter baik itu akan semakin kuat.

Contohnya, seseorang yang sebelum mengaji sudah memiliki sifat dermawan, berani, dan peduli. Setelah ia paham agama, sifat-sifat itu akan terarah menjadi amal saleh yang luar biasa. Sebaliknya, jika seseorang sebelum mengaji berakhlak buruk (misalnya pelit atau kasar), dan setelah mengaji tidak ada perubahan pada akhlaknya, maka pemahaman agamanya atau ketakwaannya perlu dipertanyakan. Seharusnya ilmu agama memperbaiki akhlak seseorang menjadi lebih lembut dan peduli, bukan sebaliknya.

Al-Qadhi Iyad menyimpulkan bahwa hadis ini merangkum tiga jenis kemuliaan:

  1. Agama dan Takwa (jawaban pertama Nabi).
  2. Kenabian dan Nasab (jawaban kedua tentang Nabi Yusuf).
  3. Ilmu dan Pemahaman Agama (jawaban ketiga tentang faqih).

Penutup

Inti dari kemuliaan adalah ketakwaan yang membuahkan banyak kebaikan. Semoga kita termasuk orang-orang yang memahami agama ini dan mengalami perubahan karakter menjadi lebih baik seiring bertambahnya ilmu kita.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Related Articles

Back to top button