Kajian KitabSyarah Shahih Muslim

Kitab Shahih Muslim : Keutamaan Nabi Musa


Kajian Kitab Al-Fadhail (Sahih Muslim): Keutamaan Nabi Musa Alaihissalam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا

بَابٌ مِنْ فَضَائِلِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ

(Bab di Antara Keutamaan-keutamaan Nabi Musa Alaihissalam)


Hadis Pertama: Kisah Nabi Musa dan Batu yang Membawa Pakaiannya

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً، يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى سَوْءَةِ بَعْضٍ، وَكَانَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ

“Dahulu Bani Israil mandi dengan telanjang, sebagian mereka melihat aurat sebagian yang lain. Sementara Nabi Musa alaihissalam selalu mandi sendirian.”

Bani Israil kemudian menuduh: وَاللَّهِ مَا يَمْنَعُ مُوسَى أَنْ يَغْتَسِلَ مَعَنَا إِلَّا أَنَّهُ آدَرُ (Demi Allah, tidak ada yang menghalangi Musa mandi bersama kita kecuali karena ia memiliki penyakit adar—buah pelir yang besar).

Suatu hari, Nabi Musa pergi mandi dan meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Tiba-tiba, batu tersebut lari membawa pakaiannya. Nabi Musa mengejarnya sambil berseru: ثَوْبِي حَجَرُ، ثَوْبِي حَجَرُ (Bajuku wahai batu! Bajuku wahai batu!). Hingga akhirnya, Bani Israil melihat Nabi Musa dan menyadari bahwa fisik beliau sempurna: وَاللَّهِ مَا بِمُوسَى مِنْ بَأْسٍ (Demi Allah, tidak ada cacat pada Musa).

Setelah batu itu berhenti, Nabi Musa mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut dengan keras. Abu Hurairah berkata: وَاللَّهِ إِنَّهُ بِالْحَجَرِ نَدَبٌ سِتٌّ أَوْ سَبْعٌ مِنْ ضَرْبِ مُوسَى (Demi Allah, pada batu itu terdapat enam atau tujuh bekas pukulan akibat pukulan Nabi Musa).

Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian menurunkan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 69).


Hadis Kedua: Kisah Nabi Musa dan Malaikat Maut

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan:

أُرْسِلَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَلَمَّا جَاءَهُ صَكَّهُ فَفَقَأَ عَيْنَهُ

“Malaikat maut diutus kepada Nabi Musa alaihissalam. Ketika sampai, Nabi Musa menamparnya hingga mencungkil matanya.”

Malaikat maut kembali kepada Allah dan berkata: أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ (Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tidak ingin mati). Allah kemudian mengembalikan mata malaikat tersebut dan memerintahkannya kembali kepada Musa dengan pesan: “Letakkan tanganmu di atas punggung banteng. Setiap helai bulu yang tertutup oleh tanganmu, berarti tambahan satu tahun umur bagimu.”

Nabi Musa bertanya: أَيْ رَبِّ، ثُمَّ مَهْ؟ (Wahai Rabbku, setelah itu apa?)

Dijawab: ثُمَّ الْمَوْتُ (Kemudian kematian).

Mendengar itu, Nabi Musa berkata: فَالْآنَ (Kalau begitu, sekarang saja).

Beliau memohon kepada Allah agar didekatkan ke Tanah Suci sejarak lemparan batu: رَبِّ أَمِتْنِي مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَلَوْ كُنْتُ ثَمَّ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ تَحْتَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ

“Kalau seandainya aku ada di sana, tentu aku akan memperlihatkan kepada kalian makam Musa yang berada di pinggir jalan, tepatnya di bawah bukit pasir merah.”


Penutup

Nabi Musa pada awalnya menampar malaikat maut karena belum mengetahui bahwa itu adalah utusan Allah, namun setelah diberi pilihan umur yang panjang, beliau lebih memilih bertemu Allah sesegera mungkin. Inilah di antara kemuliaan dan kedudukan tinggi Nabi Musa di sisi Allah.

Insyaallah pada pertemuan berikutnya akan kita jelaskan faedah-faedah dari hadis ini, karena masih ada beberapa hadis lagi yang perlu kita baca namun terbatas oleh waktu.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Kisah Perselisihan Yahudi dan Muslim

Hadis kelima dalam bab ini diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Beliau menceritakan:

بَيْنَمَا يَهُودِيٌّ يَعْرِضُ سِلْعَةً لَهُ، أُعْطِيَ بِهَا شَيْئًا كَرِهَهُ أَوْ لَمْ يَرْضَهُ

(Ketika seorang Yahudi menawarkan barang dagangannya, ia diberikan penawaran harga yang tidak ia sukai atau tidak ia ridai).

Maka Yahudi itu bersumpah:

لَا وَالَّذِي اصْطَفَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى الْبَشَرِ

(Tidak, demi Zat yang telah memilih dan mengutus Musa Alaihissalam di atas seluruh manusia).

Mendengar hal itu, seorang laki-laki dari kaum Ansar merasa tersinggung, lalu menampar wajah Yahudi tersebut sambil berkata:

تَقُولُ: وَالَّذِي اصْطَفَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى الْبَشَرِ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَظْهُرِنَا؟

(Engkau berani berkata “Demi Zat yang memilih Musa di atas manusia”, padahal Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam ada di tengah-tengah kita?)

Orang Yahudi itu kemudian mengadu kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam:

يَا أَبَا الْقَاسِمِ، إِنَّ لِي ذِمَّةً وَعَهْدًا، فَقَالَ: فُلَانٌ لَطَمَ وَجْهِي

(Wahai Abul Qasim, sesungguhnya aku memiliki hak zimmah (jaminan keamanan) dan perjanjian. Si Fulan telah menampar wajahku).

Rasulullah bertanya kepada orang Ansar tadi alasannya, dan setelah mendengar penjelasannya, beliau marah hingga kemarahan itu tampak di wajah beliau (عُرِفَ الْغَضَبُ فِي وَجْهِهِ). Beliau bersabda:

لَا تُفَضِّلُوا بَيْنَ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ

(Janganlah kalian melebih-lebihkan (membeda-bedakan) antara para nabi Allah).


Peristiwa Tiupan Sangkakala dan Kebangkitan

Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan sabdanya:

فَإِنَّهُ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ، فَيَصْعَقُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ

(Sesungguhnya ketika sangkakala ditiup, maka binasalah semua makhluk di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah).

ثُمَّ يُنْفَخُ فِيْهِ أُخْرَى، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ بُعِثَ (أَوْ فِي أَوَّلِ مَنْ بُعِثَ)، فَإِذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ آخِذٌ بِالْعَرْشِ

(Kemudian ditiup sangkakala yang kedua (untuk kebangkitan). Maka aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan (atau di antara yang pertama). Tiba-tiba aku melihat Musa Alaihissalam sudah berpegang pada Arsy).

فَلَا أَدْرِي أَحُوسِبَ بِصَعْقَتِهِ يَوْمَ الطُّورِ أَوْ بُعِثَ قَبْلِي

(Aku tidak tahu apakah dia pingsan pada peristiwa di Gunung Tursina sudah dihitung sebagai kematiannya, ataukah dia telah dibangkitkan sebelumku).

وَلَا أَقُولُ إِنَّ أَحَدًا أَفْضَلُ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى عَلَيْهِ السَّلَامُ

(Dan aku tidak mengatakan bahwa ada seseorang yang lebih utama daripada Yunus bin Matta).


Penjelasan Para Ulama

1. Larangan Membedakan Para Nabi

Ulama menjelaskan bahwa larangan Nabi لَا تُخَيِّرُونِي عَلَى مُوسَى (Janganlah kalian mengutamakanku di atas Musa) memiliki beberapa kemungkinan makna:

  • Ini diucapkan sebelum Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui bahwa beliau adalah سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ (Penghulu anak Adam).
  • Larangan ini ditujukan agar tidak merendahkan nabi lain, atau membanding-bandingkan yang dapat memicu pertengkaran (fanatisme), seperti kasus Ansar dan Yahudi di atas.
  • Nabi mengucapkannya sebagai bentuk ketawadhu’an (kerendahan hati) beliau.

2. Status Nabi Musa di Hari Kiamat

Ketika Nabi Muhammad bangkit, beliau melihat Nabi Musa sudah berpegang di tiang Arsy.

  • Imam Nawawi berpendapat bahwa Musa alaihissalam mungkin termasuk golongan yang dikecualikan oleh Allah (إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ) sehingga beliau tidak pingsan saat tiupan sangkakala pertama, sebagai ganti pingsannya beliau saat di dunia (peristiwa Gunung Tursina).
  • Al-Qadhi Iyad berpendapat bahwa sa’qah (pingsan) di sini adalah pingsan karena ketakutan setelah kebangkitan, bukan kematian.

3. Keutamaan Nabi Yunus bin Matta

Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam secara khusus menyebutkan Nabi Yunus:

لَا يَنْبَغِي لِعَبْدٍ أَنْ يَقُولَ أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى

(Tidak pantas bagi seorang hamba mengatakan aku lebih baik daripada Yunus bin Matta).

Hal ini untuk mencegah orang awam merendahkan Nabi Yunus karena kisah beliau yang sempat “dihukum” (ditelan ikan paus). Peristiwa yang menimpa Nabi Yunus sama sekali tidak mengurangi derajat kenabian beliau.


Hadis Tambahan: Nabi Musa Salat di Kuburnya

Dalam riwayat lain dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ

(Aku melewati Musa pada malam aku di-isra’-kan di dekat bukit pasir merah, dan dia sedang berdiri melaksanakan salat di dalam kuburnya).

Ini menunjukkan kehidupan para nabi di alam barzakh yang berbeda dengan manusia biasa, serta kemuliaan Nabi Musa yang senantiasa beribadah kepada Allah.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Related Articles

Back to top button