0%
Kembali ke Blog Kitab Al-Mulakhash Al-Fiqhi : BAB – Anjuran Meletakkan Tangan di Tempat yang Sakit Disertai Doa

Kitab Al-Mulakhash Al-Fiqhi : BAB – Anjuran Meletakkan Tangan di Tempat yang Sakit Disertai Doa

05/08/2025 98 kali dilihat 4 mnt baca

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ وَتَمَسَّكَ بِشَرِيعَتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ.

Kaum muslimin dan muslimat, rahimani wa rahimakumullah. الحمد لله, kita memuji dan memuja Allah atas segala nikmat dan karunia yang Allah limpahkan. Selawat beriring salam semoga dianugerahkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.

إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزَنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.

Bab: Meletakkan Tangan di Tempat yang Sakit Disertai Doa

بَابٌ اسْتِحْبَابُ وَضْعِ يَدِهِ عَلَى مَوْضِعِ الْأَلَمِ مَعَ الدُّعَاءِ (Bab anjuran untuk meletakkan tangannya di tempat yang sakit diiringi dengan doa).

Diriwayatkan dengan sanadnya kepada Utsman ibn Abil Ash ats-Tsaqafi, أَنَّهُ شَكَى إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ (bahwasanya dia mengeluhkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم akan sebuah sakit yang dia rasakan di tubuhnya semenjak dia masuk Islam). فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم (lalu Rasulullah mengatakan kepadanya), “ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ: بِسْمِ اللهِ ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ” (Letakkanlah tanganmu di bagian yang sakit dari jasadmu, ucapkanlah بِسْمِ اللهِ tiga kali. Kemudian bacalah tujuh kali: أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ / Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan).

Imam an-Nawawi mengatakan bahwa maksud dari hadis ini adalah anjuran untuk meletakkan tangan di tempat yang dirasakan sakit, lalu diucapkan doa yang telah disebutkan tadi. والله أعلم.

Bab: Berlindung dari Waswas Setan dalam Salat

بَابٌ التَّعَوُّذُ مِنْ شَيْطَانِ الْوَسْوَسَةِ فِي الصَّلَاةِ (Bab berlindung dari setan yang menimbulkan rasa waswas di dalam salat).

Diriwayatkan dengan sanadnya kepada Abu al-‘Ala, bahwasanya Utsman bin Abi Ash mendatangi Nabi صلى الله عليه وسلم lalu dia mengatakan, “يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي، يَلْبِسُهَا عَلَيَّ” (Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah menghalangi antaraku dengan salatku dan bacaanku, ia membuatku ragu). Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ وَاتْفُلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا” (Itu adalah setan yang disebut dengan خِنْزَبٌ atau خِنْزِبٌ. Jika engkau merasakannya, maka berlindunglah kepada Allah dari setan tersebut dan meniup atau meludahlah seperti meludah kering tiga kali ke arah kirimu). Utsman bin Abi Ash berkata, “فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي” (Lalu aku melakukan hal itu, maka Allah menghilangkan waswas tersebut dariku).

Imam Nawawi menjelaskan bahwa nama setan tersebut bisa dibaca خِنْزِب atau خِنْزَب, dan ada juga yang membacanya خَنْزَب atau خُنْزَب. Faedah dari hadis ini adalah anjuran untuk berlindung dari setan ketika datang waswas yang mengganggu, diiringi dengan meniup atau meludah kering ke arah kiri tiga kali. Makna “يَلْبِسُهَا عَلَيَّ” adalah setan itu mencampuradukkan dan membuat ragu dalam salat dan bacaan. Adapun makna “حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَهَا” adalah setan telah menyulitkan dan menghalangiku dari merasakan lezatnya salat dan konsentrasi untuk khusyuk.

Jika pikiran kita mulai menerawang dan tidak ada khusyuk di dalam salat, maka itulah tanda gangguan setan. Apa yang diajarkan oleh Nabi adalah bertaawud dengan mengucapkan أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ, kemudian meludah kering ke kiri tiga kali. Adapun amalan seperti membaca surah An-Nas atau ayat dari surah Al-Mu’minun (وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ) sebelum salat dengan tujuan ini, maka tidak ada dalilnya dari Nabi. Ketika mengajarkan orang yang salatnya keliru (al-musii’ shalatuhu), Nabi hanya bersabda, “Apabila kamu ingin mengerjakan salat, sempurnakan wudu, menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah.” Beliau tidak menyuruh membaca ayat-ayat tertentu terlebih dahulu. Jadi, yang disyariatkan untuk menghilangkan waswas di dalam salat adalah atta’awwudz dan at-tafl ke kiri tiga kali, sesuai yang diajarkan Nabi صلى الله عليه وسلم.

Bab: Setiap Penyakit Ada Obatnya dan Anjuran untuk Berobat

بَابٌ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ وَاسْتِحْبَابُ التَّدَاوِي (Bab bagi setiap penyakit ada obatnya, dan anjuran untuk berobat).

Diriwayatkan dari Jabir رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ” (Bagi setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat mengenai penyakitnya—artinya sesuai dengan penyakit dan dosisnya—maka ia akan sembuh dengan seizin Allah). Hadis ini merupakan isyarat dianjurkannya untuk berobat, dan ini adalah mazhab para sahabat kami (ulama Syafi’iyah), mayoritas ulama salaf, dan umumnya ulama khalaf.

Hadis ini dan hadis-hadis sejenisnya mengandung ilmu agama dan dunia, di antaranya adalah keabsahan ilmu kedokteran dan anjuran untuk berobat secara umum. Ini juga merupakan bantahan kepada sebagian kalangan sufi ekstrem yang mengingkari anjuran berobat dengan alasan tawakal. Mereka berkata, “Segala sesuatu sudah ditakdirkan, maka tidak perlu berobat.” Hujah para ulama adalah hadis-hadis ini, yang menegaskan bahwa berobat itu sendiri adalah bagian dari takdir Allah, sama seperti kita diperintahkan berdoa, memerangi orang kafir, dan tidak mencampakkan diri ke dalam kebinasaan, meskipun ajal dan takdir telah ditetapkan.

Dalam hadis lain, Jabir bin Abdillah mengunjungi seseorang yang sakit borok (خُرَاجٌ) dan merasa sangat tersiksa. Jabir berkata, “لَا أَبْرَحُ حَتَّى تَحْتَجِمَ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: إِنَّ فِيهِ شِفَاءً” (Saya tidak akan beranjak dari sini sampai engkau berbekam, karena aku mendengar Rasulullah bersabda bahwa di dalam bekam itu terdapat kesembuhan). Dalam hadis lain, Nabi bersabda, “إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ، أَوْ شَرْبَةٍ مِنْ عَسَلٍ، أَوْ لَذْعَةٍ بِنَارٍ” (Jika ada kebaikan dalam obat-obatan kalian, maka itu ada pada sayatan pisau bekam, atau seteguk madu, atau sengatan besi panas). Namun, Nabi menambahkan, “وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ” (Dan aku tidak suka dengan kay, yakni pengobatan dengan besi panas). Setelah orang yang sakit borok itu dibekam, maka hilanglah rasa sakit yang ia rasakan.

Diriwayatkan pula bahwa Ummu Salamah, istri Rasulullah, pernah meminta izin untuk berbekam, lalu Nabi صلى الله عليه وسلم menyuruh Abu Thaybah untuk membekamnya. Perawi hadis menjelaskan bahwa Abu Thaybah adalah saudara sepersusuan Ummu Salamah atau seorang anak kecil yang belum baligh, sehingga tidak ada masalah dalam hal aurat.

Para ulama meyakini bahwa Allahlah penyembuh yang hakiki, dan berobat adalah bagian dari ketetapan Allah. Maka kita perlu mengetahui penyakit dan cara menanganinya. Jika bakteri tifus dibiarkan tanpa diobati, ia bisa merusak usus. Maka, jika kita hanya pasrah pada takdir tanpa berobat, itu bukanlah tawakal, melainkan tawakul (sikap pasrah yang keliru tanpa usaha).

Insyaallah, faedah-faedah dari hadis ini akan kita ambil pada pertemuan besok insyaallah taala. Kita cukup sampai di sini dulu. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


98