0%
Kembali ke Blog Kisah Kesabaran Ummu Sulaim & Berkah Doa Nabi ﷺ

Kisah Kesabaran Ummu Sulaim & Berkah Doa Nabi ﷺ

12/05/2025 74 kali dilihat 3 mnt baca

(Pembahasan tentang tingkatan dalam menghadapi musibah)

Apa kata Nabi ﷺ (ketika putranya Ibrahim wafat)? إِنَّ الْقَلْبَ لَيَحْزَنُ وَإِنَّ الْعَيْنَ لَتَدْمَعُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يُرْضِي رَبَّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ (Sesungguhnya hati ini memang bersedih atas pergianmu wahai Ibrahim, mata pun berlinang, dan tidaklah kita mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita).

Ini adalah tingkatan صَبْرٌ (sabar), yaitu menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang dimurkai Allah.

Kemudian tingkatan ketiga adalah رِضًا (ridha), yaitu menerima musibah. Ulama mengatakan, bagi orang yang ridha, ada musibah atau tidak ada musibah sama saja baginya, tidak memberikan pengaruh signifikan. Yang keempat, dan ini tingkat yang tinggi, adalah شُكْرٌ (bersyukur) ketika mendapat musibah. Kenapa? Karena ia tahu itu adalah kebaikan dari Allah, Allah mencintainya, mengangkat derajatnya, dan menghapus dosa-dosanya.

Kisah Ummu Sulaim dan Abu Thalhah (Lanjutan):

أُمُّ سُلَيْمٍ (Ummu Sulaim), ketika anaknya yang bayi meninggal dunia, ia bersabar. Saat suaminya (أَبُو طَلْحَةَ) datang, bukan keluhan yang disampaikannya. Ia menyuguhkan makanan seakan tidak terjadi apa-apa. Ketika ditanya, “مَا فَعَلَ ابْنِي؟” (Bagaimana keadaan anakku?), ia menjawab, “هُوَ أَسْكَنُ مِمَّا كَانَ” (Dia lebih tenang daripada sebelumnya). Tentu, yang sudah meninggal lebih tenang. Abu Thalhah merasa nyaman, makan, lalu mereka berhubungan intim (أَصَابَ مِنْهَا).

Faedah dari Kisah Ummu Sulaim:

  1. حُسْنُ الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ (Indahnya keridhaan terhadap ketetapan Allah) dan kesabaran yang tinggi dari Ummu Sulaim. Serta جَزَالَةُ عَقْلِهَا فِي إِخْفَائِهَا مَوْتَهُ عَلَىٰ أَبِيهِ فِي أَوَّلِ اللَّيْلَةِ (kecerdasan akalnya yang luar biasa dalam menyembunyikan kematian anaknya dari suaminya pada awal malam itu). الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَىٰ (Sabar itu pada hentakan/kejadian pertama). Ummu Sulaim bersabar agar suaminya bisa beristirahat tenang (مُسْتَرِيحًا بِلَا حُزْنٍ) tanpa kesedihan.
  2. الْحُزْنُ يَشْغَلُ الْقَلْبَ (Kesedihan itu menyibukkan hati). Jika hati sibuk, tidak terpikir untuk melakukan hal lain, termasuk hubungan intim. Nabi ﷺ bersabda tentang keluarga Ja’far bin Abi Thalib setelah Ja’far syahid: ‏ اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ (Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far, karena sungguh telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkan mereka). Ummu Sulaim bahkan berdandan untuk suaminya (تَزَيَّنَتْ لَهُ وَتَعَرَّضَتْ لَهُ حَتَّىٰ وَقَعَ بِهَا).
  3. اسْتِعْمَالُ الْمَعَارِيضِ عِنْدَ الْحَاجَةِ (Bolehnya menggunakan kalimat-kalimat sindiran/kiasan ketika dibutuhkan), selama لَا يُبْطِلُ بِهَا حَقَّ أَحَدٍ (tidak digunakan untuk menghilangkan hak orang lain). Ucapan Ummu Sulaim هُوَ أَسْكَنُ مِمَّا كَانَ adalah كَلَامٌ صَحِيحٌ (ungkapan yang benar), meskipun dipahami berbeda oleh Abu Thalhah saat itu.
  4. Pertanyaan Nabi ﷺ أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ؟ (Apakah kalian ‘berpengantin’ tadi malam?) adalah كِنَايَةٌ عَنِ الْجِمَاعِ (kiasan untuk hubungan intim). (قَالَ الْأَصْمَعِيُّ وَالْجُمْهُورُ: أَعْرَسَ الرَّجُلُ بِأَهْلِهِ إِذَا بَنَىٰ بِهَا – Al-Asma’i dan jumhur mengatakan: أَعْرَسَ seorang laki-laki dengan istrinya jika ia telah membangun rumah tangga dengannya/berhubungan). Pertanyaan Nabi ﷺ ini juga menunjukkan تَعَجُّبٌ مِنْ صَبْرِهَا وَحُسْنِ رِضَاهَا بِقَضَاءِ اللَّهِ تَعَالَىٰ (kekaguman atas kesabaran dan indahnya keridhaan Ummu Sulaim).
  5. ثُمَّ دَعَا لَهُمَا بِالْبَرَكَةِ فِي لَيْلَتِهِمَا (Kemudian Nabi ﷺ mendoakan keberkahan (بِالْبَرَكَةِ) pada malam mereka itu). فَاسْتَجَابَ اللَّهُ تَعَالَىٰ دُعَاءَهُ (Lalu Allah Ta’ala kabulkan doa Rasulullah ﷺ).
  6. Hasilnya, وَحَمَلَتْ بِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ (Ummu Sulaim hamil dan melahirkan Abdullah bin Abi Thalhah). وَجَاءَ مِنْ أَوْلَادِ عَبْدِ اللَّهِ [...] تِسْعَةُ أَوْلَادٍ كُلُّهُمْ عُلَمَاءُ صَالِحُونَ (Dan dari anak-anak Abdullah ini lahir sembilan anak yang semuanya menjadi ulama saleh). Ini adalah بَرَكَة (berkah) dari doa Nabi ﷺ. Oleh karena itu, mohonlah selalu بَرَكَة dari Allah untuk usaha dan keluarga kita.

Hadits Abu Musa Al-Asy’ari tentang Tahnik dan Nama:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَرَّادٍ الْأَشْعَرِيُّ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَىٰ قَالَ: وُلِدَ لِي غُلَامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ.

(Abu Musa Al-Asy’ari berkata: Telah lahir bagiku seorang anak laki-laki (غُلَامٌ), lalu aku membawanya kepada Nabi ﷺ. Beliau menamainya Ibrahim (إِبْرَاهِيمَ) dan mentahniknya (وَحَنَّكَهُ) dengan kurma (بِتَمْرَةٍ).)

Faedah dari Hadits Abu Musa:

  1. Disunnahkannya التَّحْنِيك (tahnik) bagi bayi baru lahir.
  2. جَوَازُ التَّسْمِيَةِ بِأَسْمَاءِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ (Bolehnya memberi nama dengan nama-nama para nabi عليهم السلام). قَدْ سَبَقَتِ الْمَسْأَلَةُ وَذَكَرْنَا أَنَّ الْجَمَاهِيرَ عَلَىٰ ذَٰلِكَ (Permasalahan ini telah berlalu dan kami telah sebutkan bahwa jumhur ulama berpendapat demikian).
  3. جَوَازُ التَّسْمِيَةِ يَوْمَ الْوِلَادَةِ (Bolehnya memberi nama anak pada hari ia dilahirkan), walaupun belum di-عَقِيقَة (akikah).
  4. Sabda Nabi ﷺ أَحَبُّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَٰنِ (Nama-nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman) لَيْسَ بِمَانِعٍ مِنَ التَّسْمِيَةِ بِغَيْرِهِمَا (bukan berarti dilarang memberi nama selain keduanya). Buktinya, putra Abu Usaid dinamai oleh Nabi ﷺ الْمُنْذِر (Al-Mundzir).

Tentang Tabarruk dengan Orang Saleh:

  • Pertanyaan: Apakah boleh kita (mencari berkah dari orang saleh) sebagaimana para sahabat kepada Nabi?
  • Jawaban: الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ (Para ulama adalah pewaris para nabi). فَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ1 (Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang beruntung). Nabi tidak mewariskan keberkahan (بَرَكَة) pada zatnya untuk diambil orang lain. التَّبَرُّك (mencari berkah) dengan bekas-bekas fisik (rambut, air liur/رِيق) khusus bagi Rasulullah ﷺ.
  • Adapun meminta دُعَاء (doa) keberkahan dari orang yang kita anggap صَالِحٌ (saleh), maka ini termasuk تَوَسُّلٌ بِدُعَاءِ الصَّالِحِينَ (bertawassul dengan doa orang saleh) yang dibolehkan. Bukan mencari berkah dari zatnya, tapi meminta didoakan agar Allah memberikan keberkahan.

وَاللَّهُ تَعَالَىٰ أَعْلَمُ. Sampai di sini dulu pembahasan kita.

صَلَّى اللَّهُ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.


74