0%
Kembali ke Blog Hadits Arbain 47: Bahaya Memenuhi Perut dan Anjuran Makan Secukupnya

Hadits Arbain 47: Bahaya Memenuhi Perut dan Anjuran Makan Secukupnya

17/10/2025 161 kali dilihat 5 mnt baca

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

Bapak, Ibu, dan jemaah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah atas segala nikmat yang dilimpahkan. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ.

Kita akan melanjutkan kajian kita pada hadis yang ke-47 dari kumpulan hadis Arbain An-Nawawiyah beserta tambahannya oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali.


Hadis ke-47: Bahaya Memenuhi Perut dan Anjuran Makan Secukupnya

Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus (makan lebih banyak), maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.”

(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan.”)

Penjelasan Hadis

Hadis ini merupakan salah satu landasan utama dalam ilmu pengobatan dan kesehatan. Ibnu Masawaih, seorang dokter terkemuka, pernah berkata setelah membaca hadis ini, “Jika manusia menerapkan kalimat-kalimat ini, niscaya mereka akan selamat dari berbagai macam penyakit, sehingga rumah sakit dan apotek akan tutup.”

Pernyataan ini didasari oleh fakta bahwa sumber segala penyakit adalah pencernaan yang buruk (at-tukhamah). Al-Harits bin Kaladah, seorang dokter Arab, juga menyatakan, الْحِمْيَةُ رَأْسُ الدَّوَاءِ، وَالْبِطْنَةُ رَأْسُ الدَّاءِ (“Diet adalah pangkal kesembuhan, dan perut buncit adalah pangkal penyakit”).

Manfaat Makan Secukupnya:

  1. Kesehatan Jasmani: Mengurangi makan akan membuat tubuh lebih bugar dan sehat.
  2. Kesehatan Hati dan Pikiran: Sedikit makan dapat melembutkan hati, menguatkan pemahaman (kecerdasan), menundukkan hawa nafsu, dan meredam amarah. Sebaliknya, banyak makan akan mengeraskan hati, melemahkan daya pikir, serta menguatkan hawa nafsu dan amarah. Muhammad bin Wasi’ berkata, “Siapa yang sedikit makannya, ia akan mudah paham, mudah memberi pemahaman, hatinya bersih, dan lembut.”
  3. Mengurangi Rasa Malas: Terlalu banyak makan akan membebani tubuh dan menimbulkan rasa kantuk, sehingga menghalangi seseorang dari melakukan aktivitas yang bermanfaat seperti membaca atau beribadah. Sufyan ats-Tsauri pernah menulis surat berisi nasihat, “Jika engkau ingin tubuhmu sehat dan tidurmu sedikit, maka kurangilah makan.”

Porsi Ideal Menurut Sunnah:

Nabi ﷺ menganjurkan porsi makan yang ideal jika memang harus makan lebih dari beberapa suap, yaitu dengan membagi kapasitas perut menjadi tiga bagian:

  • Sepertiga untuk makanan.
  • Sepertiga untuk minuman.
  • Sepertiga untuk bernapas.

Terlalu banyak minum setelah makan juga dapat menyebabkan kantuk, yang akhirnya mengganggu proses pencernaan. Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa makanan seperti daging baru akan mulai tercerna sempurna setelah sekitar 4 jam. Jika seseorang langsung tidur setelah makan, proses pencernaan tidak akan berjalan optimal.

Keteladanan Nabi ﷺ dan Para Sahabat:

Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya sering berada dalam kondisi lapar dan sangat membatasi diri dari makan untuk memuaskan syahwat. Keadaan ini adalah pilihan terbaik dari Allah untuk Rasul-Nya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah kenyang memakan roti gandum selama dua hari berturut-turut hingga beliau wafat. Beliau juga bersabda, نَحْنُ قَوْمٌ لَا نَأْكُلُ حَتَّى نَجُوعَ، وَإِذَا أَكَلْنَا لَا نَشْبَعُ (“Kami adalah kaum yang tidak makan hingga lapar, dan jika makan, kami tidak sampai kenyang.”).


Hadis ke-48: Tanda-Tanda Kemunafikan

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ.

“Ada empat sifat, barangsiapa keempatnya ada pada dirinya, maka ia adalah seorang munafik sejati. Dan barangsiapa yang memiliki salah satu dari sifat-sifat tersebut, maka pada dirinya terdapat satu sifat kemunafikan hingga ia meninggalkannya: (1) apabila berbicara, ia berbohong; (2) apabila berjanji, ia mengingkari; (3) apabila berselisih, ia berbuat zalim (melampaui batas); dan (4) apabila membuat perjanjian, ia berkhianat.”

(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan Hadis

Secara syariat, nifaq (kemunafikan) terbagi menjadi dua:

  1. Nifaq Akbar (Kemunafikan Besar): Yaitu menampakkan keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, dan hari akhir, namun menyembunyikan kekufuran di dalam hati. Ini adalah nifaq yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, seperti yang terjadi pada Abdullah bin Ubay bin Salul. Pelakunya diancam akan berada di kerak neraka. Tanda-tandanya antara lain: mendustakan Rasulullah ﷺ atau ajarannya, membenci Rasulullah ﷺ atau ajarannya, senang jika agama Islam kalah, dan benci jika agama Islam menang.
  2. Nifaq Asghar (Kemunafikan Kecil/Amali): Yaitu kemunafikan dalam perbuatan. Seseorang menampakkan kesalehan di hadapan orang lain, namun melakukan hal sebaliknya saat sendirian. Dasarnya adalah sifat-sifat yang disebutkan dalam hadis ini:
    • Berbohong saat berbicara: Sengaja menyampaikan informasi yang tidak benar kepada orang yang memercayainya.
    • Mengingkari janji: Ini terbagi dua; yang terburuk adalah berjanji dengan niat sejak awal untuk tidak menepatinya.
    • Berbuat zalim saat berselisih (fujur): Sengaja keluar dari kebenaran saat bersengketa, memutarbalikkan fakta sehingga yang benar tampak salah dan sebaliknya.
    • Berkhianat saat membuat perjanjian (ghadar): Melanggar kesepakatan atau kontrak yang telah dibuat.
    • Berkhianat saat diberi amanah: Dalam riwayat lain disebutkan, إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ (“apabila diberi amanat, ia berkhianat”).

Ketakutan Para Salaf terhadap Nifaq:

Para sahabat dan salafus saleh sangat khawatir jika sifat nifaq ada pada diri mereka.

  • ‘Umar bin Al-Khattab pernah bertanya kepada Hudzaifah ibnul Yaman (pemegang rahasia nama-nama munafik) apakah namanya termasuk di antara mereka.
  • Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Aku bertemu dengan 30 sahabat Nabi ﷺ, semuanya khawatir akan nifaq pada diri mereka.”
  • Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Tidak ada yang khawatir terhadap nifaq kecuali seorang mukmin, dan tidak ada yang merasa aman darinya kecuali seorang munafik.”

Kisah Hanzalah Al-Asadi yang merasa dirinya munafik karena imannya terasa berbeda saat bersama Nabi ﷺ dan saat bersama keluarga menunjukkan betapa sensitifnya para sahabat terhadap kondisi hati mereka. Namun, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa fluktuasi iman adalah hal yang wajar (وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً – “Akan tetapi wahai Hanzalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu.”).


Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan 1: Saya pernah mendengar hadis bahwa siapa yang salat di Masjid Nabawi selama 40 kali berturut-turut akan terbebas dari nifaq. Bagaimana status hadis ini?

Jawaban: Hadis tersebut dinilai dha’if (lemah) oleh para ulama hadis. Namun, ada hadis lain yang sahih terkait angka 40, yaitu siapa yang salat berjemaah dan mendapatkan takbiratul ihram bersama imam selama 40 hari, maka ia akan mendapatkan dua kebebasan: kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat nifaq. Ini membutuhkan konsistensi selama 200 waktu salat.

Pertanyaan 2: Apa hubungan antara musik dengan nifaq?

Jawaban: Musik dapat mengeraskan hati. Jika hati sudah keras, ia akan mudah terjangkit penyakit nifaq. Seorang musisi terkenal di Indonesia bahkan mengakui bahwa musik tidak bisa disatukan dengan Al-Qur’an, karena sering mendengar musik membuatnya menjadi pelupa dan sulit menghafal Al-Qur’an. Ini adalah pengakuan dari pelakunya sendiri, dan agama kita telah menjelaskan hukum musik sebelumnya.

Wallahu ta’ala a’lam.


Demikian yang dapat kita sampaikan, semoga bermanfaat.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

161