Kajian KitabSyarah Shahih Muslim

Syarah Shahih Muslim: Di Antara Keutamaan-Keutamaan Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ta’ala ‘anhu #2


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

Kaum muslimin dan muslimat رحمني ورحمكم الله. Pemirsa Surau TV yang berbahagia. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan taufik kepada kita semua. Kita kembali melanjutkan kajian kita dari Shahih Muslim, Kitab فضائل الصحابة (Keutamaan-Keutamaan Para Sahabat). Kita sedang membahas tentang hadis-hadis yang berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Abu Bakar As-Siddiq رضي الله عنه.

Terakhir kita telah mengambil makna dari الخُلَّة (al-khullah), yaitu tingkat المَحَبَّة (al-mahabbah) yang paling tinggi, yaitu kekasih yang spesial, sehingga tidak membuka peluang bagi hatinya kecuali kepada kekasihnya itu. Makanya, Nabi صلى الله عليه وسلم tidak memilih seorang sahabatnya sebagai خَلِيْل (khalil) karena beliau adalah خَلِيْلُ اللهِ (Khalilullah).

Adapun مَحَبَّةُ اللهِ لِعَبْدِهِ (cinta Allah kepada hamba-Nya): kalau Allah sudah mencintai hamba-Nya, Allah berikan keleluasaan bagi hamba-Nya untuk menaati-Nya. Diberikan keleluasaan untuk berada di bawah perlindungan Allah, diberi taufik oleh Allah, diberikan kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan kelembutan Allah, mendapatkan hidayah Allah, dan tertuangnya rahmat Allah kepadanya. Ini adalah dasar-dasar dari cinta Allah سبحانه وتعالى kepada si hamba. Kalau tingkat tingginya, Dia bisa menyingkap hijab dari hati seorang hamba sehingga dia melihat Allah سبحانه وتعالى dengan mata hatinya. Maka dia bagaikan sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam hadis: فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ (Apabila Aku telah mencintainya—yakni mencintai hamba—maka Aku adalah pendengarannya yang dia pakai untuk mendengar), وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ (dan pandangan atau matanya yang dia melihat dengannya), dan seterusnya. Yakni apabila Dia adalah pendengarannya yang akan mendengar, berarti dia tidak mendengar kecuali apa yang diridhai oleh Allah dan apa yang dicintai oleh Allah. Dia tidak melihat kecuali apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah سبحانه وتعالى.

Baik. Kemudian di dalam hadis yang pernah kita baca, sabda beliau صلى الله عليه وسلم: لَا تَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ خَوْخَةٌ إِلَّا خَوْخَةُ أَبِي بَكْرٍ. خَوْخَة (khaukhah) dengan fathah pada huruf kha (بِفَتْحِ الْخَاءِ) adalah pintu kecil antara dua rumah (وَهُوَ بَابٌ صَغِيْرٌ بَيْنَ الْبَيْتَيْنِ). Jadi, janganlah dibiarkan ada pintu ke Masjid Nabawi kecuali pintu kecil miliknya Abu Bakar رضي الله عنه. Yang lain disuruh ditutup oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم kecuali punya Abu Bakar رضي الله عنه.

Maka di sini ada faedah yang bisa diambil: وَفِيْهِ فَضِيْلَةٌ وَخَصِيْصَةٌ ظَاهِرَةٌ لِأَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رضي الله عنه. Dalam hadis ini terdapat penjelasan tentang keutamaan dan keistimewaan Abu Bakar As-Siddiq رضي الله عنه. Ini faedah yang pertama. Faedah yang kedua: وَفِيْهِ أَنَّ الْمَسَاجِدَ تُصَانُ عَنْ طُرُقِ النَّاسِ إِلَيْهَا، وَلَا يُدْخَلُ إِلَيْهَا إِلَّا مِنْ أَبْوَابِهَا لِحَاجَةٍ مُهِمَّةٍ. Faedah kedua yang bisa diambil dari hadis ini adalah bahwa masjid-masjid harus dijaga agar tidak ada orang yang lalu-lalang masuk ke dalam masjid. Jadi, kalau seandainya pintunya terbuka semua, terkadang orang menjadikan ruang masjid itu fasilitas umum untuk lewat, maka itu dijaga agar tidak dijadikan sebagai jalan pintas atau jalan singkat. Karena masjid dahulu tidak seperti ini; tidak ada tikar, tidak ada karpet, tidak ada keramik. Sama seperti di luar, baik pasir atau tanah, di dalam juga tanah. Maka ditutuplah celah itu agar masjid terhormat dan terjaga. Tidaklah masuk ke dalam masjid kecuali dari pintu-pintu yang sudah ditentukan, kecuali kalau seandainya ada kepentingan tersendiri.

Nah, membiarkan pintu kecil untuk Abu Bakar رضي الله عنه ini juga mengindikasikan bahwa keutamaan Abu Bakar As-Siddiq رضي الله عنه dibiarkan bagi beliau. Boleh jadi karena dalam kondisi tertentu, seharusnya yang menjadi imam adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, namun jika ternyata tidak bisa, maka Abu Bakar رضي الله عنه bisa masuk dari pintu itu.

Sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: أَلَا إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى كُلِّ خِلٍّ مِنْ خِلِّهِ. خِلّ (khill) dengan kasrah (بِكَسْرِ الخَاءِ) maknanya adalah الْخَلِيْل (al-khalil), yang artinya: “Ketahuilah sesungguhnya aku adalah orang yang berlepas diri dari setiap kekasih terhadap kekasihnya.” Beliau pernah mengutus seseorang untuk memimpin pasukan tentara dalam perang yang namanya ذَاتُ السَّلَاسِلِ (Dzatus Salasil). Ada yang bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم: أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ (Siapa manusia yang paling engkau cintai?). Beliau menjawab: عَائِشَةُ رضي الله عنها. Lalu aku bertanya lagi: مِنَ الرِّجَالِ؟ (Maksudku adalah dari kalangan laki-laki, siapa yang engkau cintai?). Beliau menjawab: أَبُوْهَا (yakni Abu Bakar رضي الله عنه). Lalu aku bertanya lagi: ثُمَّ مَنْ؟ (Setelah itu siapa?). Beliau menjawab: عُمَرُ رضي الله عنه. Lalu beliau menyebut orang-orang tertentu (فَعَدَّ رِجَالًا).

Dari ungkapan ini: هَذَا تَصْرِيْحٌ بِعَظِيْمِ فَضْلِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ. Ini menunjukkan penjelasan yang jelas dari Nabi صلى الله عليه وسلم akan besarnya kemuliaan dan keistimewaan Abu Bakar رضي الله عنه, Umar رضي الله عنه, dan Aisyah رضي الله عنها. وَفِيْهِ دَلَالَةٌ بَيِّنَةٌ لِأَهْلِ السُّنَّةِ فِي تَفْضِيْلِ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ عَلَى جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ. Di dalam hadis ini juga terdapat bukti dan argumen yang kuat bagi Ahli Sunnah di dalam mengutamakan Abu Bakar رضي الله عنه, kemudian setelah itu Umar رضي الله عنه, di atas para sahabat semuanya.

Sepakat Ahli Sunnah wal Jamaah bahwa orang paling mulia dari umat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah Abu Bakar رضي الله عنه, kemudian Umar رضي الله عنه. Itu sepakat. Kemudian terjadi perbedaan antara Utsman رضي الله عنه dengan Ali رضي الله عنه. Tapi kemudian sepakat Ahli Sunnah bahwa tertib mereka yang berempat itu sesuai dengan urutan kekhilafahan mereka: yang pertama Abu Bakar رضي الله عنه, yang kedua Umar رضi الله عنه, yang ketiga Utsman رضي الله عنه, dan yang keempat Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.

Kita ambil hadis yang baru:

حدثنا يحيى بن يحيى، قال: أخبرنا خالد بن عبد الله، عن خالد، عن أبي عثمان، قال: أخبرني عمرو بن العاص رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بعثه…

Dari Amr bin Ash رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengutus Amru bin Ash رضي الله عنه di dalam pasukan tentara Dzatus Salasil. فَأَتَيْتُهُ (Lalu aku mendatangi beliau). Aku bertanya: أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ (Siapa manusia yang paling kau cintai?). Beliau mengatakan: عَائِشَةُ رضي الله عنها. قُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ (Aku bertanya lagi dari kalangan laki-laki). Beliau menjawab: أَبُوْهَا. قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ (Setelah itu siapa lagi?). Beliau menjawab: عُمَرُ رضي الله عنه.

وحدثنا حسن بن علي الخولاني، قال: حدثنا جعفر بن عون، عن أبي عميس، حدثنا عبد بن حميد، قال: أخبرنا جعفر بن عون، أخبرنا أبو عميس، عن ابن أبي مليكة، عن عائشة رضي الله تعالى عنها أنها سئلت: من كان رسول الله صلى الله عليه وسلم مستخلفًا لو استخلفه؟ قالت: أبو بكر. فقيل لها: ثُمَّ مَنْ بعد أبي بكر؟ قالت: عُمَرُ. ثم قيل لها: مَنْ setelah عُمَرَ؟ قالت: أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ رضي الله عنه.

Aisyah رضي الله عنها ditanya: مَنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَخْلِفًا لَوِ اسْتَخْلَفَهُ؟ (Siapa orang yang sekiranya akan diamanatkan oleh Nabi sebagai penggantinya?). Beliau menjawab: أَبُوْ بَكْرٍ رضي الله عنه. Lalu ditanya lagi: ثُمَّ مَنْ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ؟. Beliau mengatakan: عُمَرُ رضي الله عنه. Lalu ditanya lagi: “Setelah Umar ini siapa?” Beliau menjawab: أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ رضي الله عنه.

Di dalam ungkapan ini, Imam Nawawi mengatakan: وَقَفْتُ عَلَى أَبِي عُبَيْدَةَ. وَفِي قَوْلِهَا هَذَا دَلِيلٌ لِأَهْلِ السُّنَّةِ فِي تَقْدِيْمِ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ لِلْخِلَافَةِ مَعَ إِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ. Ini adalah dalil bagi Ahli Sunnah di dalam mengedepankan Abu Bakar رضي الله عنه, kemudian setelah itu Umar رضي الله عنه di dalam kekhilafahan. وَفِيْهِ دَلَالَةٌ لِأَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّ خِلَافَةَ أَبِي بَكْرٍ لَيْسَتْ بِنَصٍّ مِنَ النَّبِيِّ عَلَى خِلَافَتِهِ صَرِيْحًا، بَلْ أَجْمَعَ الصَّحَابَةُ عَلَى خِلَافَتِهِ لِفَضِيْلَتِهِ. Kekhilafahan Abu Bakar As-Siddiq رضي الله عنه bukanlah penunjukan langsung secara teks (nash) dari Nabi صلى الله عليه وسلم, akan tetapi para sahabat semuanya sepakat karena keutamaan beliau.

Semenjak dahulu kepemimpinan itu berada pada orang Quraisy. Arab secara umum berkiblat kepada Makkah dan kepada Arab Quraisy. Abu Bakar As-Siddiq رضي الله عنه secara sinyal-sinyal sudah menunjukkan bahwasanya beliau adalah orang yang lebih pantas untuk menjadi pengganti Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang disematkan dengan gelar “Khalifah” (Pengganti). Lalu ketika datangnya Umar bin Khattab رضي الله عنه, beliau mengubah sebutan menjadi أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ (Amirul Mukminin). Sejak zaman Umar رضي الله عنه, tingkat keberapa pun pemimpinnya, tetap panggilannya adalah Amirul Mukminin.

Sama halnya dengan di Arab Saudi, pemimpin mereka diberi gelar dengan خَادِمُ الْحَرَمَيْنِ الشَّرِيْفَيْنِ (Pelayan Dua Tanah Suci). Dimulai dari Raja Fahad, Raja Abdullah, hingga Raja Salman sekarang ini, karena tujuan kerjanya adalah memberikan perhatian kepada kedua tanah suci tersebut.

Semoga bermanfaat. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Related Articles

Back to top button