Tematik

Semangat Istiqomah Setelah Ramadhan

…ربك حتى يأتي بكلمة اليقين. سبحانه وتعالى adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Tidak ada satu pun manusia yang bisa mengalahkan keyakinan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada Allah. Namun, beliau tetap beribadah sampai kaki beliau membengkak. Ketika ditanya oleh Aisyah, beliau mengatakan, “أفلا أكون عبدا شكورا” (Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?). Sebagaimana kita diperintahkan untuk memohon kepada Allah setiap hari minimal 17 kali agar diberikan keteguhan di atas jalan yang lurus: إهدنا الصراط المستقيم (Tunjukilah kami jalan yang lurus), atau maknanya adalah “kokohkanlah kami di atas jalan yang lurus.”

Tentu dalam upaya menumbuhkan semangat beristiqamah dan kokoh di atas ketaatan, kita harus menyadari bahwa istiqamah memiliki penghalang-penghalang sebagaimana ia juga memiliki faktor-faktor pendukung. Jika seorang manusia dapat menjauhkan dirinya dari penghalang dan memaksimalkan faktor pendukung tersebut, maka ia akan tetap istiqamah di atas ketaatan kepada Allah dengan izin-Nya.

Maka dalam kesempatan ini, saya mengajak diri saya sendiri dan kita semua, mari kita mempelajari apa saja penghalang istiqamah agar dapat kita jauhi, dan apa saja faktor pendorong istiqamah agar dapat kita laksanakan.

Poin Pertama: Penghalang-Penghalang Istiqamah

1. Panjang Angan-Angan (Thulul Amal) Hakikat dari panjang angan-angan adalah antusiasme yang terlalu tinggi terhadap dunia hingga bergelimang di dalamnya, mencintai dunia, dan berpaling dari akhirat. Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan orang yang ditimpa penyakit ini melalui firman-Nya: وغرتكم الأماني (Dan kalian telah terpedaya oleh angan-angan kosong), yakni thulul amal. Allah سبحانه وتعالى juga menjelaskan: ذرهم يأكلوا ويتمتعوا ويلههم الأمل فسوف يعلمون (Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang serta dilalaikan oleh angan-angan, maka kelak mereka akan mengetahui). Ini merupakan penyakit besar yang mengakibatkan seseorang berbuat buruk dalam amalannya. Hasan Al-Basri benar ketika mengatakan bahwa angan-angan melahirkan kemalasan, mewariskan sikap menunda-nunda (taswif), dan menjadikan kita lalai dari kewajiban. Sebaliknya, angan-angan yang pendek akan mendorong seseorang berpacu mencari kebaikan dunia dan akhirat.

2. Berlebih-lebihan dalam Hal Mubah (Tawassu’ fil Mubahat) Sikap berlebih-lebihan dalam perkara mubah seperti makan, minum, dan pakaian dapat menyebabkan kelalaian dalam ketaatan. Hal ini mewariskan sikap malas, keinginan untuk terus santai, dan tidur berlebihan. Sebagai contoh, menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari tempat makan enak yang jauh dari masjid, sehingga ketika azan berkumandang, muncul berbagai alasan yang menghalangi ketaatan. Ulama menyebutkan bahwa hal mubah bisa menjadi pintu syahwat yang tidak berbatas dan menjerumuskan seseorang pada hal makruh. Allah سبحانه وتعالى berfirman: كلوا من طيبات ما رزقناكم ولا تطغوا فيه (Makanlah dari hal-hal baik yang Kami rezekikan kepadamu dan janganlah melampaui batas). Juga firman-Nya: كلوا واشربوا ولا تسرفوا (Makan dan minumlah, namun jangan berlebihan). Israf atau thughyan adalah melampaui batas yang ditentukan. Ini bukan berarti mengharamkan yang halal, karena Nabi صلى الله عليه وسلم pun menyukai madu dan daging, namun beliau mengonsumsinya secara wajar.

3. Menjauh dari Suasana Imaniah Menjauh dari lingkungan yang baik bertentangan dengan pokok akidah kita bahwa iman itu bertambah dan berkurang (الإيمان يزيد وينقص). Iman akan melemah apabila seorang hamba menjerumuskan dirinya ke lingkungan maksiat, dosa, atau lingkungan tabarruj yang menyibukkan hati dengan dunia. Nabi صلى الله عليه وسلم menjelaskan bahwa tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid (rumah ketaatan dan rahmat), sedangkan yang paling dibenci adalah pasar (tempat penipuan, sumpah palsu, dan kecurangan). Syariat mendorong kita berteman dengan orang saleh agar terbiasa dengan ketaatan. Lingkungan sangat memengaruhi iman, sebagaimana kisah pembunuh 100 nyawa yang disarankan oleh seorang alim: إنطلق إلى أرض كذا وكذا فإن بها أناسًا يعبدون الله فاعبد الله معهم (Pergilah ke negeri anu, karena di sana terdapat orang-orang yang menyembah Allah, maka sembahlah Allah bersama mereka), dan melarangnya kembali ke negeri asal yang buruk: ولا ترجع إلى أرضك فإنها أرض سوء.


Poin Kedua: Faktor Pendorong Istiqamah

1. Berdoa Memohon Keteguhan Sifat Ibadurrahman adalah senantiasa menghadap Allah dengan doa agar dikokohkan dalam ketaatan dan tidak disesatkan setelah mendapat hidayah. Mereka yakin hati manusia berada di antara jemari Allah (بين أصبعين من أصابع الله). Doa yang sering diucapkan Nabi adalah: يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك (Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, kokohkan hatiku di atas agama-Mu) dan اللهم يا مصرف القلوب صرف قلبي إلى طاعتك (Ya Allah, Zat yang mengarahkan hati, arahkanlah hatiku untuk taat kepada-Mu). Nabi juga mengajarkan doa: اللهم اهدني ويسر الهدى لي (Ya Allah, berilah aku petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagiku). Ibnu Umar juga berdoa: اللهم يسرني لليسرى وجنبني للعسرى.

2. Meragamkan Jenis Ketaatan Rahmat Allah memungkinkan adanya berbagai jenis ibadah: badaniah (fisik), maliah (harta), qauliah (ucapan/zikir), dan qalbiah (hati seperti tawakal, harap, dan takut). Keragaman ini bertujuan agar setiap jiwa dapat beribadah sesuai kemampuannya. Ada yang kuat fisiknya, ada yang berlimpah hartanya. Sebagaimana dalam hadis, setiap persendian harus disedekahkan melalui berbagai amal sosial dan ibadah fisik. Nabi bersabda kepada Abu Bakar yang telah melaksanakan berbagai amal dalam satu hari: ما اجتمعت في امرئ إلا دخل الجنة (Tidaklah amalan-amalan itu berkumpul pada seseorang melainkan ia akan masuk surga).

3. Membaca Kisah Orang-Orang Saleh Allah mengisahkan berita para Nabi bukan untuk hiburan, melainkan untuk mengokohkan hati: وكلا نقص عليك من أنباء الرسل ما نثبت به فؤادك (Dan semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu agar dengannya Kami teguhkan hatimu). Al-Qur’an terdiri dari kisah, syariat, dan tauhid. Membaca kisah ulama dan Salafus Shalih memberikan motivasi nyata bahwa ketaatan tinggi bukan hal mustahil. Jika kita belum bisa menyamai mereka, minimal kita meneladani sifatnya. Penyair Arab berkata: فتشبهوا إن لم تكونوا مثلهم إن التشبه بالكرام فلاح (Maka serupailah mereka jika kalian tidak bisa persis seperti mereka, sesungguhnya menyerupai orang-orang mulia adalah sebuah keberuntungan).

4. Menggantungkan Harapan pada Janji Allah (Akhirat) Keyakinan pada hari akhir memudahkan ketaatan, sesuai firman Allah: واستعينوا بالصبر والصلاة وإنها لكبيرة إلا على الخاشعين الذين يظنون أنهم ملاقوا ربهم وأنهم إليه راجعون (Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu…). Orang khusyuk adalah mereka yang yakin akan bertemu Rabb-nya. Nabi menjelaskan bahwa penghuni surga yang paling rendah pun mendapatkan kekuasaan lima kali lipat raja di dunia (أترضى أن يكون لك مثل ملك ملك من ملوك الدنيا؟), sementara bagi tingkatan tertinggi, Allah menyediakan nikmat yang: لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر (Belum pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terlintas di hati manusia).

Kesimpulan

Tiga penghalang istiqamah (panjang angan-angan, berlebihan dalam mubah, menjauh dari lingkungan iman) harus dihindari. Sebaliknya, lima faktor penguat (doa, ragam ketaatan, kedekatan dengan masjid, membaca kisah salaf, dan mengharap pahala akhirat) harus dipupuk. Amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit (أحب الأعمال إلى الله أدومها وإن قل).


Tanya Jawab

Pertanyaan: Adakah kitab khusus yang membahas seluk-beluk permasalahan shalat secara lengkap agar tidak bingung menghadapi persoalan fikih saat berjamaah (menjadi imam/makmum)?

Jawaban: Secara umum, buku-buku fikih telah menyelesaikan kasus-kasus tersebut. Masalah kekeliruan, lupa, penambahan, atau pengurangan dalam shalat dibahas dalam bab سجود السهو (Sujud Sahwi). Secara prinsip, rukun shalat tidak boleh ditinggalkan; jika tertinggal, rakaat tersebut dianggap gugur (ملغاة) dan harus ditambah. Untuk pemahaman mendalam, disarankan mempelajari kitab fikih yang sistematis atau berkonsultasi langsung mengenai kasus spesifik yang dialami.

ونكتفي بهذا، وصلى الله على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Related Articles

Back to top button