Kajian KitabSyarah Shahih Muslim

Kitab Shahih Muslim: Keutamaan Nabi Zakaria


Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba’du.

اللهم لا علم لنا إلا ما علمتنا إنك أنت العليم الحكيم. اللهم علمنا ما ينفعنا وانفعنا بما علمتنا وزدنا علما.

اللهم إنا نسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا. اللهم لا سهل إلا ما جعلته سهلا وأنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا.

باب من فضائل زكريا عليه السلام

Bab di atas membahas keutamaan Nabi Zakaria ‘alaihissalam.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كان زكريا نجارا, yakni Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu. Apa faedah yang bisa kita ambil dari hadis ini?

Imam Nawawi mencantumkan: فيه جواز الصنعة. Di dalam hadis ini mengandung faedah, yang pertama adalah bolehnya berusaha dengan tangan sendiri, bolehnya berkarya, dan bolehnya melakukan aktivitas untuk bekerja sendiri. Apakah itu sebagai pedagang, sebagai tukang kayu, dan seterusnya.

وأن النجارة لا تسقط المروءة

Bahwa profesi tukang kayu tidaklah mengurangi kehormatan (muru’ah) seseorang, bahkan itu merupakan sebuah keutamaan bagi Nabi Zakaria.

فإنه كان صانعا يأكل من كسبه

Bahwasanya Nabi Zakaria ini adalah seorang yang bekerja, yang beraktivitas, dan memiliki profesi, yaitu sebagai tukang kayu. Dia bekerja mencari apa? Mencari mata pencarian sendiri. Tidak menempel (bergantung) kepada orang lain, tidak menunggu pemberian orang, tidak. Akan tetapi beliau beraktivitas sendiri, punya profesi sendiri.

يأكل من كسبه

Dia makan dari hasil usaha dia sendiri. وقد ثبت قوله صلى الله عليه وسلم (Dan sungguh telah sahih perkataan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam):

أفضل ما أكل الرجل من كسبه، وإن نبي الله داود كان يأكل من عمل يده

“Sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil jerih payahnya sendiri, hasil keringatnya sendiri.” Itu yang paling afdal (utama). Dan sesungguhnya Nabi Allah, Daud, beliau makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri. Sebagai apa? Hah? Pandai besi ya, membuat baju perang ya. Kalau kita tukang, ya pandai besilah ya. Kalau kami tidak memukul apa ya? Ini pak. Main besi, bikin pedang, bikin apa? Senjata. Ya, kalau sekarang kalau sudah masuk ke pabrik, ya sudah pabrik baja ya yang menghasilkan bermacam-macam.

Hadis yang senada juga Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan:

إن أطيب ما أكلتم من كسبكم وإن أولادكم من كسبكم

“Sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil upayanya. Dan sesungguhnya anaknya adalah dari hasil upaya dia.”

Memakan (harta) anak ya tidak apa-apa, apa yang dihasilkan oleh anaknya boleh orang tuanya mengambil. Di sini juga berhubungan dengan hadis ini, menunjukkan bahwa hak orang tua yang harus ditunaikan oleh anak merupakan hak-hak yang paling agung setelah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحسانا

“Rabb-mu telah mewajibkan, telah memutuskan: Tidaklah kalian beribadah kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (kecuali Dia saja).”

Kita tunaikan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah kita menunaikan hak Allah, maka datanglah hak orang tua kita. وبالوالدين إحسانا (Dan terhadap kedua orang tua berbuat baiklah). Di antara hak kedua orang tua itu ada pada harta anak-anaknya, yaitu tanggungan anak terhadap orang tuanya. Apalagi jika orang tuanya termasuk orang tua yang fakir atau orang miskin atau yang sangat membutuhkan.

Dan dari hadis ini yang tadi, كان زكريا نجارا (Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu), ini menunjukkan keutamaan bekerja dengan tangan sendiri untuk mencari dan mendapatkan rezeki dari Allah dengan keringat sendiri, dengan upaya, dan dia tentu lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia.

Dalam hadis yang lain, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده

“Tidak ada seorang pun yang memakan sebuah makanan yang lebih baik, melebihi dari apa yang dia makan dari hasil usahanya sendiri.”

Dari hadis ini juga menunjukkan kepada kita bahwa tradisi para nabi, kebiasaan para nabi, bahwasanya para Nabi ‘alaihimussalam mereka berusaha sendiri untuk mendapatkan penghasilan yang akan mereka makan sendiri. Jadi kita sebutkan Nabi Daud حدادا (pandai besi), tukang besi ya. Tukang besi sekarang bisa dirinci menjadi tukang las ya, atau tukang membuat baju besi tadi, pandai pedang, dan yang lainnya. Nabi Zakaria نجارا (tukang kayu). Nabi kita Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu beliau adalah pemelihara kambing, penggembala kambing.

Kemudian beliau seorang pedagang ulung, sehingga itu adalah penyebab dari pertemuannya—artinya pernikahannya—dengan Ibunda Khadijah sebelum beliau menjadi Nabi. Beliau sebagai pedagang. Setelah beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul, beliau sudah bertugas, jadi dagangnya sudah sedikit. Kehidupan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya adalah melalui hasil perang. Kata Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:

وجعل رزقي تحت ظل سيفي

“Dan Allah menjadikan rezekiku di bawah naungan pedangku.”

Dari hadis ini juga, tentang Nabi Zakaria sebagai seorang tukang kayu, menunjukkan akan ketawadukan Nabi Zakaria ‘alaihissalam. Walaupun beliau menjadi seorang Nabi, dengan kedudukan beliau yang tinggi di sisi Allah, beliau juga melakukan sebuah pekerjaan profesi yang mana pekerjaannya adalah mengolah kayu, memahatnya, membuat—tentu kalau kayu membuat perabot ya—pintu, lemari, ranjang, dan yang lainnya. Nah, ini menunjukkan bahwa Nabi Zakaria berada di tingkat ketawadukan yang tinggi dan dia merasa untuk tidak bergantung kepada selain-Nya, kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan kemudian dari hadis ini juga terdapat keutamaan pekerjaan yang halal. Di mana hadis ini memberikan dorongan kepada kita untuk mencari rezeki yang halal, jauh dari jasa dan budi orang lain. Karena dia bekerja, dia menawarkan jasa atau dia menawarkan sebuah produk ya, sebuah produk yang itu menjadikan dirinya tidak tunduk kepada orang lain. Dia punya kebebasan.

Dan hadis ini juga menunjukkan bahwa para nabi itu adalah manusia. Mereka itu berbaur dengan manusia, bekerja, bahwasanya ibadah mereka tidak menghalangi mereka untuk beraktivitas di permukaan bumi.

Maka oleh karena itu, apapun kedudukan kita, setinggi apapun kedudukan kita, maka bekerjalah dengan upaya kita sendiri dan itu adalah sebuah kehormatan. Tidak akan mengurangi dia seorang ustaz sebagai seorang pedagang. Seorang ustaz mungkin dia adalah sebagai apa? Jual makanan ya, tebak ya apa namanya? Tukang masak ulung misalkan ya, masakannya enak-enak, maka itu adalah suatu hal yang tidak mengurangi kedudukan kehormatannya. Malahan menjadi sebaliknya ya, dia berada posisi yang mulia karena dia hanya menggantungkan dirinya, usahanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak kepada manusia dan tidak meminta-minta.

Dari sini juga bagian dari hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika setiap pagi Nabi berdoa:

اللهم إني أسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا

Rizqan thayyiban” (rezeki yang baik), ini menunjukkan bahwa seseorang itu jangan hanya duduk atau jangan dia berpangku tangan saja, tapi hendaklah dia berupaya berusaha agar diberi rezeki yang baik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kita harus melakukan aktivitas sebab dan akibat dari perbuatan kita.

Wallahu Ta’ala A’lam. Demikian yang dapat kita sampaikan, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Related Articles

Back to top button