Tematik

Jangan Seperti Main Karambol Saat Membaca Buku atau Mendengar Kajian

“Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah rasa takut kepada Allah.”

Jangan Seperti Main Karambol Saat Membaca Buku atau Mendengar Kajian

Maksud dari perumpamaan ini adalah fenomena yang sering kita temui di tengah kawan-kawan pengajian. Sering kali terdengar ucapan: “Hai kawan, kajian ini sudah didengar oleh si fulan belum?” atau “Tulisan ini sudah dibaca oleh si fulan?”

Pertanyaan besarnya: Apakah ketika kita hadir di kajian atau membaca sesuatu, itu ditujukan untuk orang lain?

1. Hukum Asal Menghadiri Kajian dan Membaca Tulisan

Hukum asalnya adalah untuk diri sendiri. Ilmu itu pertama kali ditujukan untuk memperbaiki hati, iman, dan amal orang yang mendengar serta membaca, bukan untuk menjadi “senjata” guna menilai orang lain. Para salaf sangat keras dalam hal ini.

Al-Hasan Al-Bashri رَحِمَهُ اللهُ berkata: لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، وَلَكِنَّ الْعِلْمَ الْخَشْيَةُ

“Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah rasa takut kepada Allah.”

Sufyan ats-Tsauri رَحِمَهُ اللهُ berkata: مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي

“Aku mempelajari ilmu, namun tidak ada yang lebih berat bagiku daripada memperbaiki niat.”

Maka, ketika seseorang hadir dalam kajian, membaca buku, atau menyimak tulisan, pertanyaan utamanya bukanlah “Sudahkah si fulan dengar ini?”, melainkan: “Sudahkah aku mengamalkan ini?”

2. Bahaya Menjadikan Ilmu untuk Orang Lain

Ucapan seperti “Ini sudah didengar si fulan belum?” atau “Coba si fulan baca tulisan ini”, jika niatnya lurus, bisa menjadi تَعَاوُنٌ عَلَى الْبِرِّ (ta’awun ‘ala al-birr atau tolong-menolong dalam kebaikan). Namun, sering kali—tanpa sadar—ia berubah menjadi sindiran, merasa lebih paham, merasa di posisi “mengajari”, bahkan merendahkan.

Ibn Mas‘ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata: كَفَى بِالْمَرْءِ عِلْمًا أَنْ يَخْشَى اللَّهَ، وَكَفَى بِالْمَرْءِ جَهْلًا أَنْ يُعْجَبَ بِعِلْمِهِ

“Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ia takut kepada Allah, dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia bangga dengan ilmunya.”

Ilmu yang benar akan membuahkan sifat tawadhu, bukan kesibukan menunjuk orang lain.

3. Prinsip Emas dari Al-Qur’an

Allah menegur dengan keras orang yang ilmunya tidak kembali kepada dirinya sendiri:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ

“Apakah kalian menyuruh manusia berbuat baik, sementara kalian melupakan diri kalian sendiri?” (QS. Al-Baqarah: 44)

Ayat ini bukan hanya tentang menyuruh kebaikan, tetapi tentang mendahulukan perbaikan diri sebelum berbicara mengenai orang lain.

4. Bagaimana Ilmu Itu Benar-benar Mendidik?

Para salaf memiliki manhaj yang sangat indah dalam memproses ilmu:

a. Ilmu → Amal → Akhlak Ilmu tidak langsung menuju lisan, melainkan masuk ke hati, kemudian diamalkan, hingga terlihat dalam akhlak. Imam Malik رَحِمَهُ اللهُ berkata: تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

Jika seseorang semakin lembut, semakin rendah hati, dan semakin takut kepada dosa, itu adalah tanda ilmunya “hidup”.

b. Dakwah dengan Keadaan, Bukan Sindiran Orang lebih mudah berubah karena melihat akhlak, kesabaran, dan keteladanan kita, bukan karena ucapan seperti “Eh, kajian ini cocok buat kamu” atau “Ini sindirannya pas banget”.

Fudhail bin ‘Iyadh رَحِمَهُ اللهُ berkata: الْعَالِمُ مَنْ يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ قَبْلَ غَيْرِهِ

“Seorang alim adalah yang ilmunya memperbaiki dirinya sebelum orang lain.”

c. Jika Ingin Menyampaikan, Jaga Niat dan Cara Jika memang ingin menyampaikan kepada orang lain, maka niatkanlah sebagai kasih sayang, pilih waktu yang tepat, gunakan bahasa yang lembut, dan tanpa merasa lebih tinggi. Rasulullah bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.” (HR. Muslim)


Nasehat Penutup

Ilmu itu seperti cermin, bukan teropong.

  • Cermin: Untuk melihat kekurangan diri sendiri.
  • Teropong: Untuk mencari-cari kesalahan orang lain.

Siapa yang ilmunya benar, ia akan sibuk berkata: “Ini tamparan buat saya”, bukan “Ini cocok buat si fulan”. Semoga Allah menjadikan ilmu yang kita dengar dan baca sebagai hujjah (pembela) untuk kita, bukan hujjah (penuntut) atas kita.

Padang, 27 Januari 2026

Related Articles

Back to top button