PoligamiTematik

Mengoreksi Ucapan : “SAYA TIDAK BENCI POLIGAMI, ASAL BUKAN SUAMI SAYA”

بِسْمِ اللَّهِ

Ada pembahasan penting mengenai perkataan seorang istri: “Saya tidak membenci poligami, asalkan bukan suami saya yang melakukannya.”

Ini adalah ungkapan yang sering muncul dan sangat manusiawi dari sisi perasaan. Namun, ungkapan ini perlu diluruskan dari sisi keimanan, adab kepada syariat, dan cara bersikap terhadap takdir Allah.

1. Poligami adalah Syariat Allah, Bukan Sekadar Pilihan Manusia

Allah Ta‘ala berfirman: فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ “Maka nikahilah wanita-wanita yang kalian senangi, dua, tiga, atau empat.” (QS. An-Nisā’: 3)

Ayat ini bersifat umum, tidak ada pengecualian yang berbunyi “kecuali untuk suami saya” atau “hanya untuk suami orang lain”. Menerima syariat hanya ketika hukum itu tidak menimpa diri sendiri adalah ujian berat bagi kejujuran iman seseorang.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: الْعَبْدُ الصَّادِقُ هُوَ الَّذِي يَرْضَى بِحُكْمِ اللَّهِ عَلَيْهِ كَمَا يَرْضَاهُ لِغَيْرِهِ “Hamba yang jujur imannya adalah yang ridha terhadap hukum Allah atas dirinya sebagaimana ia ridha hukum itu berlaku atas orang lain.” (I‘lāmul Muwaqqi‘īn, 3/170)

2. Perasaan Berat Tidak Sama dengan Menolak Syariat

Perlu dibedakan antara dua hal:

  1. Berat secara tabiat manusia: Ini adalah sesuatu yang wajar (fitrah), tapi harus dilatih agar iman tetap dikedepankan.
  2. Menolak atau mensyaratkan syariat: Ini adalah sikap yang keliru dan berbahaya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang wanita seperti kecemburuanku kepada Khadijah.” (HR. Al-Bukhari no. 3818)

Aisyah merasa cemburu, merasa berat, bahkan menangis, namun beliau tidak pernah berkata: “Seandainya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikah lagi” atau menolak ketentuan Allah. Para Salaf merasakan beratnya ujian perasaan, tapi tidak menjadikan perasaan itu sebagai syarat untuk menerima syariat.

3. Kalimat “Asal Bukan Suami Saya” Perlu Dikoreksi dengan Adab Iman

Ucapan tersebut mengandung makna tersirat yang berbahaya: “Saya ridha hukum Allah berlaku pada orang lain, tapi tidak ridha jika berlaku pada saya.”

Padahal Allah Ta‘ala berfirman: أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ “Apakah kalian beriman kepada sebagian Kitab dan mengingkari sebagian yang lain?” (QS. Al-Baqarah: 85)

Imam Asy-Syathibi rahimahullah berkata: مِنْ شَرْطِ قَبُولِ الشَّرِيعَةِ التَّسْلِيمُ لَهَا عَلَى كُلِّ حَالٍ “Syarat diterimanya syariat adalah berserah diri kepadanya dalam setiap keadaan.” (Al-Muwāfaqāt, 2/302)

Berserah diri bukan berarti harus senang dan tertawa bahagia saat diuji, tetapi tidak boleh membuat pengecualian pribadi terhadap hukum Allah.

4. Sikap Wanita Salaf: Ridha Walau Berat

Lihatlah Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anha. Suaminya, Az-Zubair bin Awwam, memiliki tabiat yang keras dan berpoligami, namun ia berkata: كُنَّا نُؤْمَرُ بِالصَّبْرِ وَالطَّاعَةِ “Kami diperintahkan untuk bersabar dan taat.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad)

Demikian pula Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Ketika dinikahi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak mensyaratkan Nabi menceraikan istri lain, meskipun berat secara perasaan. Mereka tidak mengukur kebenaran dengan kenyamanan pribadi, tapi dengan keridhaan Allah.

5. Sikap yang Benar Ketika Hati Belum Siap

Sikap yang lebih selamat secara iman bukanlah menolak (“asal bukan suami saya”), melainkan mengatakan:

“Poligami adalah syariat Allah. Saya berusaha ridha kepada hukum-Nya, meskipun hati saya masih berat (karena fitrah kecemburuan), dan saya memohon pertolongan Allah agar diberi kekuatan.”

Ini sejalan dengan doa orang beriman: رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا “Wahai Rabb kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.” (QS. Āli ‘Imrān: 8)

Penutup & Kesimpulan

  1. Rasa berat dan cemburu adalah fitrah manusia yang dimaklumi.
  2. Namun, menolak syariat untuk diri sendiri bisa membahayakan iman.
  3. Ridha tidak harus tanpa rasa sakit; ketaatan seringkali harus mendahului kelapangan hati.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: الصَّبْرُ عَلَى أَحْكَامِ اللَّهِ مِنْ أَعْظَمِ مَقَامَاتِ الْإِيمَانِ “Bersabar atas hukum-hukum Allah adalah salah satu kedudukan iman yang paling agung.” (Majmū‘ Al-Fatāwā, 10/40)

Semoga bermanfaat.

Makkah Al-Mukarramah, 24 Januari 2026

Related Articles

Back to top button