0%
Kembali ke Blog Syarah Shahih Muslim – Bab penyebutan Nabi ﷺ sebagai penutup para nabi.

Syarah Shahih Muslim – Bab penyebutan Nabi ﷺ sebagai penutup para nabi.

30/10/2025 121 kali dilihat 6 mnt baca

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَيْنَ.

اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ.

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.

اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.

بَابُ ذِكْرِ كَوْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Bab penyebutan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai penutup para nabi.

Hadits Pertama:

حَدَّثَنَا عَمْرُو ابْنُ مُحَمَّدٍ النَّاقِدُ وَحَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَقُولُونَ: مَا رَأَيْنَا بُنْيَانًا أَحْسَنَ مِنْ هَذَا إِلَّا هَذِهِ اللَّبِنَةَ، فَكُنْتُ أَنَا تِلْكَ اللَّبِنَةَ.

Dengan sanadnya kepada Abu Hurairah radhiallahu ta’ala anhu, dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ beliau bersabda: مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ (Perumpamaanku dengan para nabi yang lain), كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ (seperti perumpamaan seorang laki-laki yang membangun sebuah bangunan. Dia menata dengan bagus dan indah). فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ (Banyak orang yang mengelilingi bangunan tersebut dan berkomentar). يَقُولُونَ (Mereka berkomentar): مَا رَأَيْنَا بُنْيَانًا أَحْسَنَ مِنْ هَذَا (Kami belum pernah melihat bangunan seindah bangunan ini). Ini bangunannya bagus sekali. إِلَّا هَذِهِ اللَّبِنَةَ (kecuali ada yang kurang, yakni ada satu batu bata yang belum diisi). Yang lain sudah bagus sekali cuma satu ini kosong. فَكُنْتُ أَنَا تِلْكَ اللَّبِنَةَ (Akulah batu bata tersebut).

Ini semuanya sudah bagus, tinggal satu. Nah, Nabilah yang menjadi perumpamaannya adalah batu bata sehingga lengkap sudah bangunan itu. Dan Nabilah yang menutup yang kosong tadi sehingga dia adalah penutup terakhir dari batu bata yang disusun untuk bangunan tersebut.

Hadits Kedua:

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اِبْتَنَى بُيُوتًا فَأَحْسَنَهَا وَأَجْمَلَهَا وَأَكْمَلَهَا إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَاهَا فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ وَيَعْجَبُونَ مِنْهُ وَيَقُولُونَ: أَلَا وَضَعْتُمْ هَذِهِ اللَّبِنَةَ فَيَتِمَّ بُنْيَانُكُمْ؟ قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَكُنْتُ أَنَا تِلْكَ اللَّبِنَةَ.

Dengan sanad kepada Abu Hurairah radhiallahu ta’ala anhu, dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan, “Perumpamaanku dengan nabi-nabi sebelumku seperti seseorang membangun bangunan rumah.” Lalu dia menatanya dengan bagus, dengan indah, dan sempurna. Kecuali satu tempat batu bata di salah satu pojok dari pojok bangunan itu. Yakni maksudnya ada satu tempat batu batanya kosong yang lainnya sudah sempurna.

Mulailah manusia mengelilingi bangunan tersebut dan mereka merasa terheran-heran dengan bangunan tersebut. Lantas mereka berkomentar, “أَلَا وَضَعْتُمْ هَذِهِ اللَّبِنَةَ (Tidakkah engkau letakkan batu bata yang kosong ini?). Isi batu bata kosong ini. فَيَتِمَّ بُنْيَانُكُمْ (Maka dengan demikian sempurnalah bangunanmu).”

قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَكُنْتُ أَنَا تِلْكَ اللَّبِنَةَ. Lalu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Akulah batu bata yang kosong tadi yang mengisi posisi yang kosong tadi.”

Hadits Ketiga:

وَحَدَّثَنَا يَحْيَى ابْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ: فَطَافَ النَّاسُ بِهِ فَعَجِبُوا لَهُ وَقَالُوا: هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَأَنَا تِلْكَ اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ.

Dengan sanadnya kepada Abu Hurairah radhiallahu ta’ala anhu, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Perumpamaanku dengan para nabi sebelumku seperti seorang membangun sebuah bangunan. Dia menata dengan baik, dengan indah, kecuali hanya satu tempat batu bata dari sebuah pojok dari bangunan itu.”

Mulailah manusia mengelilingi bangunan tersebut dan mereka تَعَجُّب (kagum) dengan bangunan tersebut. Dan mereka mengomentari kenapa tidak diletakkan atau tidak dipasang batu bata ini? Ini kosong. Semuanya sudah bagus tinggal ini satu, jadi sedikit tidak indah.

فَأَنَا تِلْكَ اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ (Akulah batu bata yang dimaksud itu. Aku adalah penutup para nabi). Sebagaimana batu bata ini adalah penutup untuk menyempurnakan bangunan tadi yang kosong satu bata. Maka nabi juga adalah penutup. Nabi-nabi sebelumnya sudah diutus. Lalu Nabilah adalah penutup. Kalau seandai bangunan sudah ditutup, berarti tidak perlu lagi dipasang batu bata lagi. Tidak perlu lagi ada nabi setelahnya.

Hadits Keempat:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا سَلِيمُ بْنُ حَيَّانَ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ فَأَتَمَّهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ، قَالَ جَابِرٌ: فَجَعَلَ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْبُنْيَانَ وَيَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ وَيَقُولُونَ: لَوْ لَا مَوْضِعُ تِلْكَ اللَّبِنَةِ، فَكُنْتُ أَنَا ذَلِكَ الْمَوْضِعَ وَخُتِمَتْ بِيَ الْأَنْبِيَاءُ.

Dengan sanad kepada Jabir bin Abdillah, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Perumpamaanku dengan para nabi seperti seorang yang membangun sebuah rumah. Dia sempurnakan, dia lengkapi, kecuali hanya satu batu bata.”

Mulailah manusia masuk ke rumah itu dan terheran-heran dengan rumah itu karena keindahannya. Dan mereka mengomentari, “Kalaulah tidak karena satu batu bata ini.” Yang kosong itu kurang jadinya. Maka ditutuplah ini supaya dia menjadi sempurna, lengkap.

Lalu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan, “Aku adalah tempat posisi batu bata yang kosong tadi dan aku datang dengan menutup para nabi.”

Penjelasan Imam Nawawi:

Imam Nawawi mengatakan hadis-hadis yang disebutkan tadi فِيهِ فَضِيلَتُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (dalam hadis di atas menunjukkan akan keutamaan Nabi). Karena kalau bangunan itu indah kecuali ada yang kurang. Maka dengan adanya Nabi, maka menjadi sempurnalah bangunan itu. Ini merupakan bagaimana keutamaan posisi Nabi.

Yang kedua, وَأَنَّهُ خَاتَمُ النَّبِيِّينَ (bahwasanya beliau adalah penutup para nabi).

Yang ketiga, وَجَوَازُ ضَرْبِ الْأَمْثَالِ فِي الْعِلْمِ وَغَيْرِهِ (Bolehnya membuat perumpamaan-perumpamaan di dalam ilmu dan yang lainnya).

Bāb idzā Arādallāhu Ta’ālā Rahmatan Ummatin Qabada Nabiyyahā Qablahā

Bab apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan kasih sayang terhadap satu umat, maka Allah wafatkan Nabinya sebelum umat itu. Jadi kalau Allah ingin menyayangi satu umat, maka Allah wafatkan dulu Nabinya sebelum umat itu. Kalau kita lihat sebelumnya, yang ada adalah Allah binasakan umat itu sebelum Nabinya diwafatkan. Nabi Nuh, umatnya binasa atau kaumnya binasa begitu seterusnya.

Hadits Kelima:

قَالَ مُسْلِمٌ: وَبَلَغَنِي عَنْ أَبِي أُسَامَةَ وَمِمَّنْ رَوَى ذَلِكَ عَنْهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا بُرَيْدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَرَادَ رَحْمَةَ أُمَّةٍ قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا وَإِذَا أَرَادَ هَلَاكَةَ أُمَّةٍ عَذَّبَهَا وَنَبِيُّهَا حَيٌّ فَأَهْلَكَهَا وَهُوَ يَنْظُرُ فَقَرَّ عَيْنَهُ بِهَلَاكَتِهَا حِينَ كَذَّبُوهُ وَعَصَوْا أَمْرَهُ.

Dengan sanadnya kepada Abi Musa Al-Asy’ari, dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, beliau bersabda, “إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَرَادَ رَحْمَةَ أُمَّةٍ (Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla apabila menginginkan rahmat terhadap satu umat dari hamba-hamba-Nya), maka Allah wafatkan Nabinya sebelum umat itu. Yakni sebelum mereka meninggal dunia.

فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا (Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan nabi itu orang yang lebih dahulu dan yang lebih cepat meninggal dunia daripada mereka). وَإِذَا أَرَادَ هَلَاكَةَ أُمَّةٍ عَذَّبَهَا وَنَبِيُّهَا حَيٌّ (Dan jika Allah berkehendak untuk membinasakan satu kaum, maka Dia akan mengazab mereka ketika nabi yang diutus kepada mereka itu masih hidup). فَأَهْلَكَهَا وَهُوَ يَنْظُرُ (Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala binasakan mereka sementara nabi tersebut melihatnya, menyaksikannya).

فَقَرَّ عَيْنَهُ بِهَلَاكَتِهَا حِينَ كَذَّبُوهُ وَعَصَوْا أَمْرَهُ (Maka Allah menyejukkan mata Nabi itu dengan kebinasaan kaumnya di saat mereka mendustakannya dan melanggar perintahnya).

Komentar dan Penutup:

Imam Nawawi mencantumkan: قَالَ الْقَاضِي هَذَا حَدِيثٌ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُنْقَطِعَةِ فِي مُسْلِمٍ (Ini adalah hadis salah satu dari hadis munqati’, hadis yang sanadnya terputus yang terdapat di dalam Sahih Muslim). فَإِنَّهُ لَمْ يُسَمِّ الَّذِي حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ (Karena dia tidak menyebutkan nama orang yang meriwayatkan dari Abi Usamah).

Imam Nawawi mengatakan: وَلَيْسَ حَقِيقَةُ الْإِنْقِطَاعِ (Ini bukanlah keterputusan yang hakiki). وَإِنَّمَا هُوَ رِوَايَةُ مَجْهُولٍ (Tapi ini adalah riwayat orang yang tidak dikenal). وَقَدْ وَقَعَ فِي آخِرِ بَعْضِ النُّسَخِ الْمُعْتَمَدَةِ قَالُوا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُسَيَّبٍ الْأَرْيَانِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ بِهَذَا الْحَدِيثِ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ بِإِسْنَادِهِ. (Di dalam sebagian naskah yang dijadikan sebagai naskah yang diakui di catatan pinggirnya… [sanad penuh disebutkan]). Artinya Imam Nawawi menjelaskan bahwa tidak ada yang terputus sanadnya, ada riwayatnya.

Dalam hadis di atas menunjukkan kepada kita bahwa apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan kasih sayang kepada satu umat dari hamba-hamba-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala wafatkan nabi mereka sebelum mewafatkan umat-umat tersebut. Sehingga nabi itu sebagai pendahulu, mendahului mereka. Tapi kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan untuk kebinasaan satu kaum, Allah azab mereka, Allah binasakan mereka, sementara nabi mereka melihat dan menyaksikan. Yakni nabi mereka masih hidup. Nabi-nabi sebelumnya umatnya dibinasakan, mati semuanya dan nabinya masih hidup sebagai bentuk juga penyejuk mata ketika umatnya mendustai nabi tersebut sehingga penyejuk mata, yakni obatlah untuk dia. Obat untuk dia yang didakwahi.

Coba kita lihat bagaimana dakwahnya Nabi Nuh: رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (Wahai Rabbku, aku mendakwahi umatku siang dan malam. Tidaklah menambah mereka kecuali mereka semakin lari). Kemudian didakwahi oleh Nabi Nuh dengan cara terang-terangan, dengan cara sembunyi-sembunyi, dengan cara terang-terangan. Berapa lama dakwahnya? 950 tahun.

Kalau kita berdakwah 10 tahun, 20 tahun belum ada pengikut kita yang mengikuti kebenaran, tidak usah bersedih. Malah Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan, “عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ (Ditampakkan kepadaku umat-umat). مِنْهُمُ النَّبِيُّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ (Ada nabi di antara yang dilihat itu ada nabi bersamanya hanya 3 sampai 9 orang). وَمِنْهُمْ مَعَهُ رَجُلٌ وَرَجُلَانِ (Ada nabi yang sama dia hanya seorang atau dua orang). وَمِنْهُمُ النَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ (Ada juga nabi tidak bawa pengikut). Sukseskah Nabi ini menyampaikan dakwahnya? Sukses. Karena kesuksesan itu bukan dilihat kepada hasil, tapi dilihat kepada cara. Nabi sudah menyampaikan cara yang baik, cara yang benar. Adapun diterima atau tidak diterima itu kembali kepada kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ (Sesungguh engkau tidak bisa memberi hidayah kepada siapa yang engkau senangi. Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya). Jadi jangan bersedih dengan sedikitnya yang datang kajian, sedikitnya datang berdakwah, jangan bersedih. Apalah nilainya nabi yang diberikan wahyu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bimbingan Allah, ada yang tidak punya pengikut.

Lalu diperlihatkan kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوَادُ الْأَعْظَمِ (bayangan hitam yang banyak sekali). Nabi mengatakan, “Wah, ini mungkin umatku.” Ternyata dia adalah umatnya Nabi Musa. Lalu muncul lagi setelah itu bayang yang lebih banyak lagi. Lalu malaikat mengkata, “Ini umatmu.” Di dalam umat itu ada 70.000 ribu orang yang masuk ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Lalu sahabat bertanya, “Siapa mereka?” Lalu dijawab oleh Nabi, “هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (Mereka itu adalah orang yang tidak minta dirukiah. Mereka itu adalah orang yang tidak berobat dengan kai [besi panas]. Mereka itu adalah orang yang tidak beranggapan sial karena melihat burung, melihat sesuatu. Mereka itu adalah orang yang bertawakal sempurna kepada Rabb mereka).”

Nah, kalau kita lihat Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Umat Nabi Muhammad dirahmati oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala wafatkan Nabinya sebelum diwafatkan umatnya.

Wallahu Ta’ala a’lam. Mudah-mudahan bermanfaat.

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَيْنَ.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


121