0%
Kembali ke Blog Syarah Shahih Muslim: Bab – Mukjizat Mukjizat Nabi

Syarah Shahih Muslim: Bab – Mukjizat Mukjizat Nabi

22/10/2025 132 kali dilihat 7 mnt baca

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, waṣṣalātu wassalamu ‘alā asyrofil anbiya’i wal mursalīn, wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma’īn. Amma ba’du.

Allahumma la ilma lana illa ma ‘allamtana innaka antal ‘alimul hakim. Allahumma ‘allimna ma yanfa’una wanfa’na bima ‘allamtana wa zidna ‘ilma.

Bab: Mukjizat-Mukjizat Nabi ﷺ

(بَابٌ فِي مُعْجِزَاتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)

Hadis Pertama: Air Memancar dari Jemari (60-80 Orang)

Haddatsanī Abū Rabī’ Sulaimān ibnu Dāud al-‘Atakī qāla haddatsanā Hammādun yakni ibna Zaidin qāla haddatsanā Tsābit an Anasin: Kāna Nabi ﷺ da’ā bimāin fautiya biqadahin raḥrāḥin, faja’alal qaumu yatawadhdha’ūn. Fahazartu mā bainas-sittīna ilats-tsamānīn. Qāla faja’altu anẓuru ilal mā’i yanbu’u min baini aṣābi’ihi.

Terjemahan: (Imam Muslim meriwayatkan) … dari Tsabit, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: Bahwasanya Nabi ﷺ meminta sejumlah air (da’ā bimāin). Lalu diberilah kepada beliau satu mangkok air yang lebar (biqadahin raḥrāḥin). Kemudian, mulailah orang-orang berwudu.

Anas berkata, “Aku perkirakan jumlah mereka antara 60 sampai 80 orang.” Ia melanjutkan, “Aku mulai memperhatikan air yang mengalir (memancar) keluar dari sela-sela jemari beliau ﷺ.”

Maksudnya, mangkuk tadi terus terisi oleh air yang keluar dari jari-jemari Rasulullah ﷺ.

Hadis Kedua: Air di Waktu Asar

Wa haddatsanī Ishāq bin Mūsā al-Anṣārī qāla haddatsanā Ma’nun qāla haddatsanā Mālik; wa haddatsanī Abū Thāhir akhbaranā Ibnu Wahbin an Mālik bin Anas an Ishāq bin ‘Abdillāh bin Abī Ṭalḥah an Anas bin Mālik annahu qāla: Ra’aitu Rasulullah ﷺ wa ḥānat ṣalātul ‘aṣri, faltamasal wadū’a falam yajidūhu. Fautiya Rasulullah ﷺ biwadū’in. Fawadha’a Rasulullah ﷺ fī dzālikal inā’i yadahu, wa amaran-nāsa an yatawadhdha’ū minhu. Qāla: Fara’aitul mā’a yanbu’u min taḥti aṣābi’ihi, ḥattā tawadhdha’ū min ākhirihim.

Terjemahan: …dari Anas bin Malik, ia mengatakan: “Aku pernah melihat Rasulullah ﷺ ketika waktu salat Asar telah datang. Orang-orang mencari air wudu (faltamasul wadū’), namun mereka tidak mendapatkannya. Lalu, dibawakanlah air wudu kepada Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ meletakkan tangan beliau di bejana itu dan memerintahkan orang-orang untuk berwudu darinya.”

Anas bin Malik berkata, “Aku melihat air itu keluar dari bawah jari-jemari beliau, hingga mereka semua dapat berwudu sampai orang yang terakhir.”

Hadis Ketiga & Keempat: Peristiwa di Zaura (± 300 Orang)

Haddatsanā Abū Ghassān al-Mis’ma’ī… (dst) … qāla haddatsanā Anas bin Mālik: Anna Nabiyallāh ﷺ wa aṣḥābahu bizzawr-rā’i (Qāla: waz-Zawrā’u bil Madīnati ‘indas-sūqi wal masjid…) … da’ā biqadaḥin fīhi mā’un, fawadha’a kaffahu fīhi. Faja’ala yanbu’u min baini aṣābi’ihi. Fatawadhdha’a jamī’u aṣḥābihi. Qultu (perawi): Kam kānu yā Abā Ḥamzah? Qāla: Kānu zuhā’a tsalātsi mi’ah.

Terjemahan: …kepada Anas bin Malik, bahwasanya Nabi ﷺ dan para sahabatnya berada di Zaura. (Zaura adalah satu tempat di Madinah, di dekat pasar dan masjid).

Nabi meminta bejana yang di dalamnya ada air, lalu Nabi meletakkan telapak tangannya di sana. Mulailah air itu keluar dari jari-jemari beliau. Seluruh sahabatnya pun berwudu.

Perawi (Qatadah) bertanya, “Berapa jumlah mereka, wahai Abu Hamzah (kunyah Anas bin Malik)?” Beliau menjawab, “Mereka kurang lebih 300 orang.”

Haddatsanā Muḥammad bin Mutsannā… (dst) … an Anas: Annan-Nabī ﷺ kāna biz-Zawrā’i, fautiya bi’inā’i mā’in lā yughammiru aṣābi’ahu… (lalu disebutkan hadis yang sama dengan sebelumnya).

Terjemahan: …dari Anas, bahwasanya Rasulullah ﷺ berada di Zaura, lalu beliau diambilkan mangkok yang berisi air yang (sedikitnya) tidak sampai menutupi (membenamkan) jemari beliau… (lalu disebutkan hadis serupa, bahwa air keluar dari jemarinya dan para sahabat berwudu, yang jumlahnya kurang lebih 300 orang).

Penjelasan Ulama (Syarah) atas Hadis-Hadis Tersebut

Imam Nawawi rahimahullah menempatkan hadis-hadis ini dalam “Bab tentang Mukjizat-Mukjizat Nabi ﷺ”.

Definisi Mukjizat dan Karamah Apa itu mukjizat? Mukjizat adalah kejadian luar biasa yang dianugerahkan oleh Allah kepada para nabi dan rasul, dalam rangka membenarkan dan memperkuat ajaran yang mereka bawa.

Ada pula kejadian luar biasa yang terjadi pada kaum mukminin (wali Allah), yang disebut karamah. Karamah adalah kejadian luar biasa yang terjadi pada seorang wali dalam rangka memberikan kemuliaan kepadanya.

Keduanya adalah anugerah dari Allah, bukan sesuatu yang bisa didatangkan sekehendak nabi atau wali tersebut, melainkan Allah-lah yang memunculkannya.

Tingkat Keriwayatan (Mutawatir) Imam Nawawi menjelaskan, hadis-hadis ini menunjukkan keluarnya air dari sela-sela jari Nabi ﷺ dan bertambah banyaknya air tersebut. Kejadian ini juga diikuti oleh hadis-hadis tentang bertambah banyaknya makanan.

Semua ini adalah mukjizat yang tampak (zahira) pada Nabi ﷺ, yang terjadi di tempat dan kondisi yang berbeda-beda (‘alā aḥwālin mutaghayyirah). Jumlah riwayat dari kejadian-kejadian ini telah mencapai tingkat mutawatir (diriwayatkan oleh sangat banyak perawi sehingga mustahil mereka bersepakat dusta).

Riwayat tentang bertambah banyaknya air ini telah sahih dari Anas bin Malik, Ibnu Mas’ud, Jabir, dan ‘Imran bin Husain. Begitu pula mukjizat bertambah banyaknya makanan.

Makna “Raḥrāḥin” Dalam hadis pertama, disebutkan biqadahin raḥrāḥin. Maknanya adalah bejana atau mangkuk yang luas namun dindingnya pendek, serupa dengan baskom.

Dua Tafsiran Mengenai Keluarnya Air Para ulama menjelaskan makna “air keluar dari jemari beliau”:

  1. Pendapat Mayoritas: Air itu benar-benar keluar (memancar) dari jari-jemari beliau ﷺ. Pendapat ini menyatakan bahwa mukjizat ini lebih luar biasa dibandingkan keluarnya air dari batu (seperti mukjizat Nabi Musa).
  2. Pendapat Kedua: Kemungkinan Allah memperbanyak air yang sudah ada di dalam bejana. Karena air itu bertambah, air tersebut meluap dari sela-sela jari beliau (bukan memancar dari dalam jarinya).

Kedua makna tersebut (baik memancar dari jari atau meluap karena diperbanyak) adalah mukjizat yang tampak (mukjizatun ẓāhirah wa āyatun bāhirah).

Penjelasan Perbedaan Jumlah Jamaah Dalam hadis pertama, jumlahnya antara 60-80 orang, sedangkan dalam hadis di Zaura jumlahnya 300 orang. Para ulama (Qāla al-‘ulamā’) mengatakan bahwa ini adalah dua peristiwa berbeda (qadhiyatāni) yang terjadi pada dua waktu yang berbeda, dan keduanya diriwayatkan oleh Anas bin Malik.

Hadis Kelima: Mukjizat Minyak Samin Ummu Malik

Haddatsanā Salamah ibnu Syabīb… (dst) … an Jābir: Anna Umma Mālikin kānat tuhdī lin-Nabī ﷺ fī ‘ukkatin lahā samnan. Faya’tīhā banūhā fayas’alūnal udma… Fatamidu ilal-latī kānat tuhdī fīhā lin-Nabī ﷺ, fatajidu fīhā samnan. Famā zāla yuqīmu lahā udma baitihā ḥattā ‘aṣarathu. Fa’atat-Nabī ﷺ, faqāla: “Aṣartihā?” Qālat: Na’am. Qāla: “Lau taraktīhā mā zāla qā’iman.”

Terjemahan: …dari Jabir: Bahwasanya Ummu Malik pernah bermaksud menghadiahkan wadah dari kulit (‘ukkatin) yang berisi minyak samin kepada Nabi ﷺ. Suatu ketika, anak-anaknya datang dan meminta lauk (udm), sementara tidak ada apapun di rumahnya.

Ummu Malik kemudian beranjak menuju wadah yang (bekas) ia gunakan untuk memberi hadiah kepada Nabi ﷺ. Ternyata, ia mendapati masih ada minyak samin di dalamnya.

Minyak samin tersebut terus ia gunakan untuk lauk keluarganya (dan tidak habis-habis), sampai akhirnya (suatu hari) ia memeras wadah tadi (ḥattā ‘aṣarathu).

Ia lalu datang kepada Nabi ﷺ. Nabi bertanya, “Apakah engkau memerasnya?” Ia menjawab, “Iya.” Beliau bersabda, “Jika engkau membiarkannya (tidak memerasnya), minyak tersebut pasti akan tetap ada (tidak habis).”

(Penjelasan): Maksudnya, pada awalnya minyak itu tidak berkurang (tidak terhitung). Namun, ketika timbul rasa waswas atau khawatir habis, ia pun memerasnya untuk mengambil sisa terakhir, dan setelah itu minyak tersebut pun habis.

Hadis Keenam: Mukjizat Setengah Wasak Gandum

Wa haddatsanā Salamah bin Syabīb… (dst) … an Jābir: An rajulan atā-Nabī ﷺ yastaṭ’imuhu, fa’aṭ’amahu syaṭra wasqin sya’īrin. Famā zāla ya’kulu minhu wamra’atuhu wa ḍaifuhumā ḥattā kālahu. Fa’atān-Nabī ﷺ, faqāla: “Lau lam takilhu, la’akaltum minhu, wa laqāma lakum.”

Terjemahan: …dari Jabir: Bahwasanya Nabi ﷺ didatangi seseorang yang meminta makanan. Nabi memberinya setengah wasaq gandum. Laki-laki itu, istrinya, dan tamu mereka terus-menerus makan dari gandum tersebut (dan gandum itu tidak berkurang).

Sampai (suatu hari) ia menakarnya (ḥattā kālahu). Ia lalu datang kepada Nabi ﷺ (menceritakannya). Beliau bersabda, “Jika kamu tidak menakarnya, pasti engkau masih akan terus memakannya dan gandum itu akan mencukupi kalian.”

Penutup: Hikmah Keberkahan

Ini adalah bukti-bukti mukjizat yang sangat jelas yang datang dari Nabi ﷺ. Hadis-hadis ini juga mengingatkan kita pada adab dan keberkahan makan bersama.

Keberkahan itu turun di tengah-tengah makanan (wadah). Jika kita mengambil dari tengahnya, bisa jadi keberkahan itu hilang. Itulah mengapa makan bersama menggunakan nampan (talam) seringkali terasa lebih berkah dibandingkan makan di piring masing-masing. Makanan yang tampak sedikit, dengan izin Allah, bisa mencukupi banyak orang.

Adapun yang terjadi pada hadis-hadis di atas adalah murni mukjizat dari Nabi ﷺ.

Wallahu ta’ala a’lam. Sampai di sini pembahasan kita. Insyaallah kita akan melanjutkan pembahasan mukjizat Nabi ﷺ lainnya di pertemuan mendatang.

…Waṣallallāhu ‘alā Muhammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma’īn. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

132